Jurnal

Saran Seorang Pendakwah

Wajahnya tirus, keriput, dengan kumis yang mulai jarang dan diselingi uban. Lidahnya menghitam karena tua, bukan karena rajin mengisap nikotin. Sebagai guru mengaji, dia memakruhkan merokok. Meski kiai tempat dahulu dia menimba ilmu agama, mampu menghabiskan sebungkus rokok atau sekitar dua belas batang di sela-sela kegiatan sehari-hari di pondok pesantren.

Diam-diam dia mulai mengutuk keadilan Tuhan. Bagaimana mungkin Tuhan lena akan firman-Nya sendiri, yang tertulis bahwa Dia akan menolang hamba takzim yang menolong agama-Nya. “Apa diam-diam Tuhan meniru para politisi dewan, yang mudah lupa apa yang dikatakan?” katanya sambil menaiki motor bebek merah yang mulai sering batuk karena sudah harus turun mesin. “Tidak!” sanggahnya sendiri. “Tapi bagaimana mungkin, hidupku selalu begini-begini saja.”

Dia saban sore mengajar anak-anak kecil belajar membaca dan menulis hijaiyah. Tiga atau empat kali seminggu dia juga berpindah-pindah masjid kampung memberika ceramah, mendedah kaidah hukum dalam alquran dan alhadist, belum cukup dengan keringat berpeluh dia membuka kelas membaca bagi para lansia yang sudah kadung terlambat belajar membaca alquran, setiap usai subuh. Tapi pengorbanan selama ini hampir dilupakan oleh Tuhan. 

“Apakah Tuhan mulai menutup semua doaku?” tanyanya hampir-hampir putus asa. Dia bukan pemakan haram, pemakai haram, dan peminum hal-hal haram yang menyebabkan Tuhan berpaling. Tapi bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi?

Dahulu dia mengikuti apa yang diamanahkan kiai di pondok pesantrennya. Ilmu agama hendak ditularkan, bukan disimpan sendiri. Ilmu tidak akan habis bila dibagikan. Lalu kiai menyarankan agar dia menjadi guru alquran. “Tuhan akan memberikan rejeki dari pintu yang tidak kau sangka-sangka.,” kata kiai menguatkannya.

Lepas pondok pesantren, dia mengajar di masjid dekat kompleksnya. Anak-anak menyukainya karena selain dia tidak memanjangkan kumis dan jenggot yang dinilai sebagai teroris oleh anak-anak, dia juga memiliki selera humor dan cerita-cerita lucu kesukaan anak-anak TPA. Orang tua dan wali murid memercayainya sepenuh hati, bahkan terang-terangan mengatakan bahwa mereka titip pendidikan agama anak-anak kepadanya. “Atas izin dan perkenaan Tuhan,” dia menjawab tidak pongah.

Dalam hati dia begitu senang. Mungkin demikian dia menyiapkan rumah di surga, karena ilmu bermanfaat akan terus mengalir dan memberikan manfaat baginya. Dan selama ini dia menikmati ikhlas yang dipupuk semenjak mondok di pesantren.

Sebulan usai mengajar, dia menerima sebuah bingkisan dari lembaga pendidikan agama dan para orang tua siswanya. Uang beberapa lembaran warna merah, pecahan terbesar di negaranya. Matanya berbinar, “mungkin ini adalah buah keikhlasan.”

Demikian terus hingga diam-diam dia mulai menikmati mengajar TPA dan merasakan ada manfaat duniawi yang diterimanya. Hidupnya cukup –meski tidak bisa dikategorikan mewah. “Mungkin aku harus serius menjalani profesi sebagai guru agama.” Katanya kalau fokus dan serius maka mestakung. Semesta akan menolongnya.

Dia mulai merancang, hal-hal yang bisa dibeli bila dia sekian kali mengisi pengajian. Sebaiknya dia menyasar ke beberapa pengajian elit, pengajian artis, pengajian ibu-ibu PKK, pejabat, dan kompleks perumahan mewah. Dia juga mulai mematok sekian rupiah bila mengisi pengajian dan mulai melupakan mengajar TPA dan memenuhi undangan pengajian di kampung sekitarnya.

Uang terkumpul. Harta tidak bergerak sempat dia beli. Namun puncak keemasannya sudah redup dan matahari sorenya sudah hampir terbenam. Dia mulai kehabisan hal-hal yang menarik untuk disampaikan. Karena dia hampir lupa, pengajian elit, pengajian artis, pengajian pejabat lebih menyukai forum yang didominasi humor dengan dosis lumayan tinggi. Lima menit membedah hadist, 1115 menit diselingi guyonan dan lelaguan. Sayang dia melupakan ini. Jamaah yang memberinya banyak uang mulai menyingkir, dan diam-diam menggantinya dengan ustaz muda yang lebih ganteng seperti Anjasmara, gagah seperti Rio Dewanto, dan selera humornya selucu Raditya Dika.

Dia tersisih. Lalu dia kembali hendak mengisi kembali jadwal mengaji di masjid kampungnya. Tapi bubur sudah tumpah di meja, anak-anak muda yang mengisi sela-sela sorenya lebih atraktif mengajar TPA. Juga anak-anak TPA tidak sebanyak dulu lagi. Mungkin peralatan canggih di tangan mereka sudah memenuhi segala dahaga ilmu agama. Terpaksalah dia sekadar mengisi waktu luang saban sore dengan sekadar membantu mengajar ustaz/ah TPA yang lebih muda.

Sesekali dia menyadari, “ternyata kesalahanku adalah perihal ikhlas.”

Di masa-masa yang sudah terlambat ini, dia menyadari bahwa Tuhan tidak melupakannya. Meski protesnya sering dilontarkan, Tuhan masih murah ampun tidak menurunkan azab baginya. Karena dia di awal dia menginginkan uang, maka dia dapatkan. Sekarang dia diberi jeda waktu lebih lama agar menyiapkan ilmu yang bermanfaat yang diajarkannya dengan penuh ikhlas. Mengajar TPA yang tidak seberapa, kembali mengisi pengajian kampung, dan mengajari manula membaca ayat suci. Tak lagi memedulikan uang, upah, gaji, amplopan usai mengisi pengajian. Sang pendakwah itu duduk termangu, menyaksikan anak-anak yang riang di ruang kelas TPA.(*)

NB: Catatan ini dibuat sekenanya, karena sore tadi aku mendapatkan sebuah amplop berisikan uang usai mengisi pelatihan menulis. Memang ini bukan yang pertama mendapatkan ‘hadiah’ rupiah usai memberi pelatiham, tapi ada yang mengganjal. Karena selama ini, forum itu dibuat setiap pekan dengan dasar saling berbagi dan menyiapkan rumah surga lantaran ilmu bermanfaat yang dibagikan. Hati-hati perihal hati, kadang hati bisa lebih menggurui daripada nurani. Semoga apa-apa yang bergerak dalam hati, bisa kita pikir hati-hati. Judul ini meminjam tulisan Sori Siregar “Saran Seorang Pengarang”. Bukankah demikian nasihat kepada semua orang, tetap bersahaja pada dunia. Tapi tidak bermalas-malasan mengejarnya.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s