Cerpen

Kuncup Pu Tao Bersemi

(Suatu sore, aku iseng-iseng ikut kelas fitness. Dan membaca majalah Men Health. Dalam salah satu artikel disebutkan beberapa manfaat pohon pu tao. Nama pohon itu menggelitik dan setelah saya baca sampai selesai ternyata pohon itu adalah pohon juwet/duwet, yang ketika aku kecil biasa kupanjati. Dari artikel itulah ide cerpen ini bermula.)

(MAJALAH KARTINI, 2395/5-19 Maret 2015)

Di pekarangan depan rumah kami, terdapat sebatang pu tao. Pohon pu tao itu sama tuanya dengan usia rumah kami, warisan almarhumah Ibu.

Aku masih ingat. Ketika kecil dulu, aku gemar memanjat pohon pu tao yang tidak terlalu tinggi itu. Memetik buah pu tao warna hitam keunguan yang bila dikunyah akan meninggalkan jejak biru-ungu di bibir dan lidah. Ibuku dulu menamai buah pu tao anggur jawa, karena bentuk dan warna buah pu tao hampir sama dengan buah anggur. Bedanya harga jauh lebih murah dan rasa tidak semanis anggur betulan. Bila nasib kurang beruntung akan mendapatkan buah pu tao yang sepat dan masam.

Laiknya manusia, kini pohon pu tao itu sudah sangat tua. Terlihat batang-batangnya mengkerut seperti wajah sepuh yang dikerubuti keriput. Andai musim kemarau tiba, pohon pu tao itu begitu payah kepanasan. Bila musim berbuah tiba, daun dan bunganya memang melebat. Tapi tak ada satu pun bakal buah pu tao yang bertahan lama. Semua gugur ke tanah. Seolah-olah pohon pu tao tak mampu lagi mempertahankan bakal buah, tidak bisa menghalau kedatangan codot dan kumbang yang secara ganas menyerang buah-buah pu tao muda. Mungkin karena pohon pu tao itu berusia tua. Benarkah hanya karena usia tua? Atau kamilah yang tidak merawatnya dengan baik, setelaten kami merawat cangkokan mangga manalagi di pekarangan belakang, hingga membuat pohon pu tao itu malas berbuah.

“Jangan ditebang, Mas,” Mandira menolak usulanku untuk merubuhkan pohon pu tao itu.

Untuk apa mempertahankan pohon pu tao tua yang tak lagi berbuah? Menurutku itu hanya akan membuat lelah Mandira yang saban pagi harus menyapu guguran daun-daun pu tao merah tua. Bahkan andai pohon pu tao berbuah sekalipun, kami tidak bernafsu memakannya.

“Kalau pohon pu tao itu ditebang, teras rumah bakal panas,” Mandira menatap emper rumah yang diteduhi rimbun dahan pu tao. Memang rimbun pu tao mampu menghalau terik matahari siang. Hingga angin sepoi-sepoi akan semilir membuat teras adem. Tajuk pohon pu tao mirip bentuk kepala nenek yang mengayomi anak-cucu.

“Akan susah menumbuhkan pohon baru sebesar itu,” tambah Mandira. Mandira selalu menemukan cara positif untuk memandang hal negatif.

Belum sempat aku membela pendapatku, Mandira sudah kembali menyampaikan pembelaan terhadap pohon pu tao. “Memang tidak berbuah. Tapi, aku nyaman duduk di bawah pohon pu tao. Adem.”

Aku mengangguk. Seulas senyuman kuberikan kepadanya sebagai tanda setuju.

“Oke, oke. Nggak bakal ditebang. Pohon pu tao bisa jadi peneduh rumah,” aku meraih gelas teh aroma melati yang disajikan Mandira. Harum dan segar diteguk sore-sore begini. Sinar matahari senja yang lolos di antara cecabangan pohon pu tao membentuk silinder-silinder cahaya yang temaram indah.

“Anak-anak kompleks banyak yang main di sekitaran pohon pu tao itu. Lumayan meramaikan rumah kita.” Mandira senyum bahagia

Aku terdiam. Teh yang semula manis, tiba-tiba hambar mendekati pahit. Kuelus rambut Mandira yang sedikit ikal seperti kembang jagung. Kukecup dahinya. Aku tahu Mandira begitu sensitif bila berbicara urusan keturunan. Mandira selalu merasa bersalah dan terdakwa oleh gunjingan orang. Omongan orang-orang terus memojokkan Mandira sebagai wanita yang memiliki rahim. Aku sebagai suami terus menguatkannya.

Mungkin begini ekspresi kerinduan kami terhadap kehadiran seorang anak. Hampir lima tahun kami menunggu kedatangannya. Sebagian orang mengatakan lima tahun masih terlalu dini untuk menyerah. Tapi hampir-hampir kami putus asa di tengah segala usaha kami yang belum juga mendatangkan kabar bahagia. Untung Mandira adalah wanita dengan kesabaran air laut yang tidak akan habis diteguk. Mandira selalu menguatkan dan meminta untuk berprasangka baik kepada takdir Tuhan. Mandira selalu mengatakan, Tuhan masih belum yakin menitipkan anak untuk kami. Aku dan Mandira harus terus belajar dan menyiapkan untuk menjadi ayah dan ibu yang baik.

Di tahun pertama, Mandira sempat positif hamil. Tetapi usia janin Mandira hanya bertahan sampai minggu ke sebelas. Janin itu tidak terlalu kuat tinggal di dinding rahim Mandira. Kegagalan kehamilan pertama di tahun pertama disebabkan virus torch yang ternyata sudah diidap Mandira sejak lama. Setelah janin pertama luruh, kami menjalankan saran dokter untuk terapi penghilangan sisa virus di tubuh kami. Bila Mandira terkena virus torch maka sangat mungkin virus itu juga sudah menjalar ke tubuhku. Namun semenjak selesai terapi hingga kini menjelang lima tahun, bakal janin kami selalu terlalu lemah untuk terus berkembang di dinding rahim Mandira.

“Masuk, sudah mau malam,” ajakku pada Mandira yang mulai dihantui rasa bersalah. Aku memecah kekakuan yang mendadak muncul di antara kami. Aku tidak ingin membuat Mandira terlalu jatuh dalam kesedihan. Biarlah takdir Tuhan yang menentukan kapan waktu terbaik kami mendapatkan keturunan.

Sebatang pu tao tua di pekarangan depan rumah masih berdiri tegak dan mampu menghalau silau matahari sore dan asap knalpot yang menyerbu rumah kami. Lebih dari itu, Mandira berhasil menyurutkan niatku untuk menebang pohon pu tao tua itu dengan pikiran-pikiran positifnya.

***

Tetapi sungut-sungut kebencian pada pohon pu tao itu mendadak menguasai dadaku ketika musim hujan berada di puncak-puncaknya Desember lalu. Hujan dijatuhkan dari langit tanpa henti sejak subuh. Seolah Tuhan sedang meloskan kran air dengan sesekali diselingi guntur dan percikan kilat. Hujan begitu lebat, kemudian melemah. Berhenti sebentar lantas lebat kembali. Begitu sepanjang hari. Aku harus menerobos hujan untuk berangkat ke kantor. Hingga pulang menjelang petang, hujan tidak menunjukkan niat untuk reda dan masih terus diselingi petir dan angin. Aku pulang dengan bahas tempias air hujan.

“Hujan hari ini benar-benar lebat. Benar kata orang Desember itu gedhe-gedhene sumber,” aku mengusap-usap rambut yang masih basah.

“Kubuatkan kopi susu, Mas,” kata Mandira sambil menyodorkan secangkir kopi hangat dan handuk untuk mengelap kuyup akibat tertimpa air hujan.

Kuseruput. Hangat kopi susu menjalar di kerongkongan. Aku menutup mata karena begitu nikmatnya. Dingin karena kehujanan mengabur. Kilat terus berpendar seperti blits kamera digital, disusul hentakan petir luar biasa kencang.

“Hujan lebat ditambah petir begini, masih untung tidak mati lampu,” Mandira duduk di dekatku. Telapak tangannya hangat meraih tangannya yang dingin karena hujan.

Tiba-tiba di tengah suara hujan dan hentakkan petir, daun jendela bergerompyangan ditimpa angin lumayan kencang. Angin besar mendadak datang, memusing-musing di pekarangan depan. Angin terus bergerak tak terkendalikan. Sejenak kemudian, kudengar suara gemeretak seperti dahan yang retak dan hampir patah. Aku gegas menarik Mandira dan buru-buru berlari ke luar rumah. Dahan pohon pu tao tua tak lagi mampu menahan goyangan angin, kemudian patah dan menimpa atap rumah kami. Andai kami terlambat beberapa detik saja, pastilah kami terluka tertimpa dahan pu tao atau kejatuhan genteng rumah.

“Mas,” Mandira kelu. Suaranya kalah oleh isak tangis dan deburan hujan. Air matanya merembesi pipi. Kugenggam tangannya menguatkan.

Malam itu kami terpaksa mengungsi ke rumah tetangga. Kurasa tidak aman apabila kami tetap memilih tidur di dalam rumah. Angin besar masih terus menerjang dan bisa saja menjatuhkan dahan pu tao lain.

***

Esok paginya, para tetangga bergotong royong membersihkan dahan-dahan yang menimpa atap rumah dan mengotori lantai. Genteng pecah, kuda-kuda atap patah. Masih untung dahan pu tao hanya merusak atap. Pecahan genteng dan potongan-potongan kayu menimpa kursi dan memecahkan meja kaca di ruang tamu. Kami masih bersyukur karena nyawa kami tertolong, dan kerusakan masih tidak terlalu parah.

“Sebaiknya di pangkas saja, Pak,” seorang tetanggaku mengusulkan. Dahan tua pu tao sudah sangat berbahaya bila hujan deras bercampur angin seperti selama. Dan hampir-hampir kuiyakan sebelum Mandira datang dan mengusulkan.

“Jangan, Mas. Pohon pu tao ini kan sebagai peneduh rumah kita. Sebaiknya di potong dahan-dahan yang sudah terlihat tua dan di atas atap rumah saja,” sergah Mandira.

“Mandira, apa tidak sebaiknya dirubuhkan? Aku tidak ingin kejadian malam tadi terulang lagi,” kucoba meyakinkan Mandira. Bagaimana pun kejadian malam tadi membuatku trauma dan benar-benar membenci pohon pu tao tua itu. Sudah tidak berbuah, malahan rubuh dan menimpa atap rumah.

“Mas, kita pangkas saja dahan-dahan yang membahayakan. Selebihnya kita sisakan pokok utamanya, siapa tahu pohon pu tao akan kembali bersemi dan menumbuhkan dahan-dahan baru yang lebih kokoh,” ujar Mandira dengan sangat halus.

Aku selalu tidak kuat memandang cahaya mata Mandira yang tidak sedikit pun menyiratkan binar kebencian. Cerlang bebas dari nafsu hendak curang. Madira kembali menunjukkan kemampuannya untuk selalu positif. Dia berhasil meluluhkan amarahku pada pohon pu tao yang hampir menghabisi keluargaku. Bahkan Mandira merasa tidak apa-apa ketika sepasang giwangnya diserahkan kepadaku untuk tambahan uang renovasi rumah. Kata Mandira, perhiasan istri itu fungsinya di saat-saat seperti ini. Ketika ada pengeluaran mendadak.

Pengerjaan perbaikan atap beserta kuda-kudanya, serta beberapa perabot rumah menelan biaya cukup mahal dan memakan waktu hampir dua minggu. Mandira terlihat sumgringah seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah dirapikan, pohon pu tao kini kehilangan tajuk. Cabang-cabangnya dipotong, menyisakan batang utama dan beberapa ranting yang terlihat masih kokoh. Selama pengerjaan renovasi, pohon pu tao kembali segar dengan beberapa bentuk tajuk baru yang bersemi. Beberapa tuna muda muncul di bekas tebasan parang dan gergaji. Hijau-hijau muda segar.

“Lihat, Mas. Kuncup pu tao kembali berseri. Hijau segar,” kata Mandira.

***

Dua bulan setelah kejadian patahnya dahan pu tao, aku merasa bersalah kepada Mandira. Bukan hanya karena telah membahayakan dirinya. Tapi perihal giwang yang diikhlaskan Mandira. Giwang Mandira yang kupakai untuk tambahan biaya renovasi selalu membayang di pikiran. Seperti tunas pu tao yang terus tumbuh dan membentuk tajuk rimbun. Dalam hati aku berjanji harus mengganti segera giwang Mandira. Maka saat aku menerima bonus akhir bulan dari kantor, hal pertama yang kupikirkan adalah ke toko perhiasan dan membawa giwang baru untuk Mandira. Dengan sekuat tenaga aku mencoba mengesampingkan keinginanku untuk mengganti ponselku dengan smartphone baru yang lebih canggih.

“Mungkin sekarang saatnya aku membahagiakan Mandira,” aku bergumam sendiri di meja kerja. Aku sudah membayangkan betapa Mandira akan bahagia bila diam-diam kuberi kejutan dengan mengganti giwangnya dahulu.

Aku pulang kantor lebih awal. Jam tiga sore. Beberapa toko perhiasan di swalayan masih buka hingga pukul sembilan malam. Kurasa aku masih bisa membelikan sepasang giwang sebelum aku pulang. Kurancang sebuah skenario untuk memberi kejutan kepada Mandira tanpa diketahuinya. Ke toko perhiasan, membeli giwang, membungkusnya dan memberikan kepada Mandira sebagai surprise. Tapi giwang seperti apa yang disukai Mandira? Aku tidak terlalu mengerti urusan fashion dan aksesoris wanita.

“Mungkin aku bisa tanya kepada penjaga toko nanti,” segera kukemasi barangku yang terserak di meja kerja. Kukirim pesan kepada Mandira. Aku mungkin pulang agak terlambat. Aku beralasan ada bagian dari laptopku bermasalah dan memaksaku untuk mampir ke service center. Aku tidak berbohong, port USB laptop tidak bisa mendeteksi lagi. Mandira tidak membalas pesanku, mungkin dia sedang mandi atau menyiapkan makan malam.

Sesampainya aku di pusat perbelanjaan, Mandira tiba-tiba meneleponku. Aku sudah berdiri menjangkung di depan toko perhiasan. Gerimis masih saja turun, meski sedikit malas.

“Ada apa Mandira?” aku mulai khawatir karena nada kalimat Mandira yang terburu-buru

“Mas, bisa pulang sekarang?” Mandira berbicara tergesa-gesa. Aku yang berdiri di depan lemari kaca berisi aneka perhiasan, mendadak menjadi gusar.

“Kenapa?” aku bertanya penuh khawatir. Musim hujan memang belum usai. Ingatanku kembali pada dahan pu tao yang menimpa atap rumah dua bulan lalu. Apa mungkin Mandira sedang ketakutan karena angin kembali menerjang kencang? Atau lebih buruk lagi, dahan pu tao sialan itu sudah menimpa rumah dan Mandira kebingungan penuh ketakutan?

“Lekas pulang, Mas.”

Pikiranku makin didera kegamangan.

“Pohon pu tao bikin masalah lagi?” aku bertanya, seolah pohon pu tao adalah satu-satunya biang permasalahan di rumah.

“Ya, segera ya!” Mandira menutup telepon tanpa penjelasan.

Aku batal membelikan Mandira sepasang giwang. Dan gegas kupacu mobil pulang. Pikiranku sudah berhamburan terhadap prasangka buruk atas Mandira. Kuderas doa agar Mandira tidak apa-apa. Kalau pun terjadi sesuatu semoga para tetangga berkenan membantu. Aku tidak bisa membayangkan kalau angin musim hujan kembali mematahkan dahan pu tao dan menimpa rumah. Mungkin bila hal buruk itu terjadi, akan kupangkas habis pu tao tua di halaman itu. Sempat aku maki-maki pohon pu tao, seolah pohon pu tao itu penjahat yang duduk di kursi pesakitan di hadapanku. Aku tidak peduli lagi, kalau emper rumah panas. Bisa kutanam pohon lain yang lebih kokoh dari terjangan angin. Keselamatan Mandira jauh lebih penting dari sebatang pu tao yang tua itu.

Sesampainya di rumah, aku tidak melihat hal buruk terjadi karena dahan pu tao. Pohon pu tao itu masih berdiri tegak. Dahannya utuh. Sisa hujan masih tampak di beberapa daun dan batang. Kuncup-kuncup hijau berkilauan tertimpa cahaya oranye senja.

Aku gegas masuk dengan dada yang mebuncah-buncah. “Ada apa Mandira? Aku benar-benar khawatir,” kalimatku teregah-engah. Kuatur napas latas duduk di samping Mandira. Mandira senyum-senyum menyimpan rahasia.

“Aku hamil, Mas.” Mandira menyerahkan selembar kertas berlogo rumah sakit kandungan. Kubaca. Air mataku pecah. Aku memeluknya, kuciumi pipi dan kening Mandira.

“Kukira dahan pu tao kembali patah.”

Mandira nyengir.

“Padahal, baru di toko emas membelikan giwang untukmu.”

“Untuk apa?”

“Ganti giwang yang kamu jual buat renovasi dulu.”

“Mending uangnya disimpan saja. Buat persiapan ini,” Mandira menunjuk perutnya. Kegembiraan menjalar di sela-sela rumah.

“Mas, kuncup pu tao mulai melebat. Mungkin saat anak kita lahir nanti, sudah rindang. Bayi kita akan diteduhi pu tao itu.” Mandira merebahkan kepala di pundakku.

Kini di mataku, pohon pu tao tua itu menjelma menjadi seorang nenek yang sabar dan teduh mengayomi anak dan cucunya.(*)

Catatan: Pu Tao adalah pohon dengan nama ilmiah Syzygium cumini, sering pula disebut duwet, juwet, atau pohon jamblang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s