Cerpen

Musim Mangga

(Radar Surabaya, 1 Februari 2015)

Setelah mendekam di penjara selama setahun dengan pengurangan remisi satu setengah bulan, Wardi akhirnya menghirup udara bebas. Sebenarnya udara di dalam tembok setinggi empat meter dengan pengaman tambahan kawat berduri dan pecahan beling tidaklah berbeda. Sama dengan udara pada umumnya. Namun saat kakinya pertama menapak di halaman luar penjara, Wardi menghirup udara dalam-dalam. Seolah-olah ingin mengisi penuh paru-parunya dengan udara yang sudah lama dirindukan. Sekonyong-konyong Wardi menyujudkan syukur. Terima kasih atas kerelaan yang lebih luas dari yang dikiranya selama ini. Wardi diberi kelapangan hati menerima cobaan mengerikan yang tak pernah diimpikan.

Gugusan air mata merembes keluar menuruni pipi yang kisut karena keriput. Beban beratnya rontok seketika. Kepalanya menoleh, mengamati perubahan yang terjadi selama dia di penjara. Wardi mengingat nasihat salah seorang penghuni satu sel yang sudah tiga kali menghuni penjara, kamu akan menjadi orang asing, lingkungan akan mulai mengucilkanmu. 

Wardi tidak terlibat korupsi, penyunatan dana, penggelembungan anggaran, atau pembunuhan. Dia hanya menerima nasib kurang bagus karena miskin. Kacamata manusia memang tak bisa dipaksakan untuk tidak menilai manusia dari hartanya. Andai Wardi punya banyak uang kala itu, tentu dia bisa membela diri dan menghindari siksaan penjara.

Ulin sedang hamil sepuluh minggu kala bencana besar itu bermula. Rumah tangga mereka masih belum memiliki pondasi kokoh. Wardi sehari-hari menjual jagung bakar di perempatan belum mampu memberikan kehidupan layak untuk Ulin. Memang Wardi dan Ulin tak sampai kelaparan melilit perut. Tapi banyak hal dasar yang harusnya dimiliki keluarga tak ada di rumah mereka. Televisi yang sudah dikerubuti semut satu-satunya peralatan elektronik warisan mertua Wardi. Kursi, meja, lemari dan dipan tidur Wardi boyong dari rumah orang tua dan mertua.

“Mas, aku kok tiba-tiba pengen makan mangga muda. Terus dicocol sama garam kasar,” ludah Ulin membuncah dan sesekali terdengar dia menelan ludah. Ulin merengek manja kepada Wardi yang sore itu baru mengupasi jagung-jagung muda untuk dijual malam nanti.

Wardi memberi senyuman. “Sedang tidak musim mangga, Ulin. Tidak ada mangga di halaman.”

Musim mangga sudah lewat beberapa bulan lalu. Sebatang pohon mangga kuini di pekarangan belakang rumah menyisakan daun-daun menguning tertimpa senja sore. Pun pohon-pohon mangga di lingkungan rumahnya. Sudah tidak ada penthil ­–bakal buah mangga.

“Ulin, jangan minta yang aneh-aneh. Sore-sore begini pasar sudah tutup,” Wardi memberi alasan. Sebenarnya uang di dompetnya habis untuk bahan dagangan dan membayar tagihan listrik yang mulai merangkak naik.

Ulin meluruskan kaki. Badan diistirahatkan di bangku. Matanya mengamati sinar matahari sore yang menerobos genteng dan membentuk garis lurus.

“Mas, tadi siang aku melihat mangga muda di kebun Pak Kartiko. Mungkin Mas Wardi bisa meminta sebiji mangga di sana,” Ulin menampakkan wajah paling manis agar Wardi luluh. Pak Kartiko tidak seperti kebanyakan orang. Semuanya dinilai dengan rupiah. Andai seekor ulat atau cacing dari kebunnya yang dimakan ayam tetangga bisa diuangkan, pasti akan dilakukan Pak Kartiko. Tapi rasa kemecer karena ngidam membuat Ulin melupakannya.

“Pak Kartiko?” Wardi merasakan akan ada masalah bila berhubungan dengannya.

“Cobalah. Mungkin kali ini Pak Kartiko berubah.”

Wardi masih mengabaikan Ulin dan konsentrasi penuh dengan jagung-jagung, bumbu aneka rasa, dan arang untuk dagangannya.

“Mas,” sekali lagi Ulin merajuk.

Wardi menghela napas. “Ya, ya, ya… Habis ini!”

Ulin tersenyum bahagia.

Selepas menyiapkan dagangan, Wardi menuju kebun mangga Pak Kartiko. Pak Kartiko memiliki kebun mangga yang selalu disuntik hormon hingga berbuah besar dan tidak mengenal musim. Mangga-mangganya dijual ke luar kota dengan rupiah yang cukup besar. Orang kampung tidak pernah menyangka dengan memelihara kebun mangga Pak Kartiko hidup sejahtera. Satu yang dibenci, Pak Kartiko pelit luar biasa.

Wardi melihat buah-buah mangga hijau bulat. Tentu sangat menyenangkan bila dia berhasil membawa sebuah saja untuk memenuhi rasa penasaran Ulin. Pak Kartiko sesore itu sudah kembali ke rumah dan menyerahkan penjagaan kebun mangga kepada dua orang satpam dengan senjata pentungan serta gertakan laiknya seekor anjing penjaga. Wardi masih memikirkan cara bagaimana diizinkan Pak Kartiko dan para penjaga kebun untuk memetik sebuah mangga muda. Mendekati pojokan kebun, dekat bedeng penjaga kebun, Wardi menemukan sebuah mangga muda yang tergeletak di tanah. Naluri Wardi menuntunnya untuk memungut dan mengusap-usap dari kotoran tanah yang menempel. Bongkot –pangkal mangga menghitam, tanda terserang penyakit.

“He! Apa yang kamu lakukan?” gertak salah seorang penjaga kebun Pak Kartiko.

Wardi gugup.

“Kamu maling!”

“Tidak. Aku nemu mangga ini. Jatuh.”

“Mana ada maling ngaku,” suara penjaga meninggi. “Sudah, kubawa ke Pak Kartiko.”

Dari sanalah hari-hari buruk Wardi dimulai. Pak Kartiko melaporkan Wardi ke pihak berwenang dengan alasan berbuat buruk sekecil apapun tetaplah buruk. Bukan perkara sebiji mangga yang dipersoalkan, tapi andai sikap mencuri Wardi dibiarkan maka kampung ini sama saja menyimpan virus maling yang akan mewabah. Apalagi anak-anak muda mudah sekali meniru. Wardi dipolisikan.

Malam itu, Wardi bukannya di perempatan berjualan jagung bakar, melainkan di kantor polisi, dimintai keterangan, kemudian ditahan. Wardi tidak bisa memenuhi ngidam Ulin dengan mangga muda dicocol garam kasar. Wardi juga tidak mampu membela diri dengan pengacara super mahal dan mencoba ikhlas menerima nasib wong cilik yang selalu dikorbankan. Setahun hukuman dijatuhkan pada Wardi.

***

Nasib buruk yang membayangi Wardi tak berhenti sampai di sini. Ulin menanggung nestapa. Matanya tak pernah kering oleh air mata. Dadanya selalu gemuruh memendam duka. Hingga janinnya tidak lagi punya kekuatan menempel di dinding rahim. Lebih parah lagi, Ulin menampakkan tanda-tanda penyakit baru. Dokter syaraf mengatakan Ulin menderita gejala alzheimer. Kesedihan kadang membuat orang merasa menjadi yang paling nestapa di dunia. Depresi hingga lupa doa dan berkah sabar yang dijanjikan Allah. Ulin merasakannya. Suami tercinta di penjara, kemudian calon bayi luntur dari rahimnya. Pecahlah sudah kesedihan Ulin.

Alzheimer yang diderita Ulin memang masih sekadar gejala. Tapi Ulin mulai melupakan segalanya. Mula-mula Ulin hanya melupakan menaruh barang-barangnya di rumah. Keliling desa mencari dandang yang katanya menghilang usai dicuci di sumur. Padahal benda itu teronggok di dekat tungku dengan isi beras ketan yang sudah direndam dua hari. Ulin juga melupakan setumpuk cucian di sumur hampir seminggu. Atau pernah sekali, Ulin hampir mati terpanggang api karena lupa menjarang minyak di wajan. Terpaksalah Ulin dibawa ke bangsal jiwa menerima pengobatan.

Ketika kebebasan sudah direngkuhnya, Wardi hanya ingin lekas menemui Ulin. Memeluk dan membisikkan namanya di telinga Ulin. Membangkitkan memori kebahagian. Biarlah keburukan dan nestapa lenyap segera.

“Pak Wardi, Bu Ulin ada di bangsal seruni nomor enam,” kata seorang perawat rumah sakit.

Wardi mencoba tegar. Wajahnya kuyu seperti mi instan yang lama terendam. Wardi akan berjumpa Ulin yang hampir setahun tak ditemui. Seharusnya hari ini menjadi hari paling bahagia karena Wardi lepas dari penjara. Tapi bertemu dengan Ulin di rumah sakit, membuatnya sedih. Wardi meloncat dari lara satu ke lara baru.

Wardi membawa bungkusan plastik untuk Ulin. Tangannya menggenggam erat. Basah oleh keringat. Semakin dekat dengan ruangan Ulin, mata Wardi makin berkaca. Rasanya seperti ditarik sebuah medan yang terlalu perih.

Bangsal seruni di depannya. Tulisan besar dan daftar nama pasien dipajang di depan. Pintu tertutup rapat. Hanya seorang perawat laki-laki yang kebetulan mendapat jadwal jaga. Wardi membungkuk minta tolong ditunjukkan di mana Ulin berada.

“Bu Ulin ada di taman belakang. Kalau sore minta dibawa ke taman belakang.”

Wardi ambruk,kakinya gemetar hebat.

“Anda tidak apa-apa, Pak?” tanya perawat.

“Boleh saya diantar ke tempat Ulin. Saya suaminya,” Wardi membiarkan mukanya kuyup oleh air mata.

“Mari, saya antar.”

Perawat itu memapah Wardi. Mereka berjalan menuju taman belakang bangsal seruni. Beberapa pasien gangguan jiwa sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Wardi melihat punggung Ulin yang duduk menghadap matahari sore oranye. Setelah mengucapkan terima kasih, perawat itu meninggalkan Wardi bersama Ulin.

Ulin berdiri menghadapi semburat oranye di depannya. Tangannya dilipat di dada. Rambutnya hitam lemas diikat ala kadarnya. Tak ada yang berubah, hanya Wardi merasakan badan Ulin semakin kurus. Matanya semakin basah.

“Sedang apa, Ulin?” tanya Wardi.

“Aku menunggu suamiku. Dia janji membawakanku mangga,” jawab Ulin tanpa membalikkan badan.

Wardi mendongak agar Ulin tak menangkapnya sedang mewek. Matanya diusap.

“Suamiku adalah suami terhebat. Dia belum pulang hingga sekarang untuk mencari mangga muda. Mas Wardi memang juara,” Ulin berbicara tanpa menoleh kepada Wardi. Nadanya begitu membanggakan Wardi. Ada getar kerinduan yang bergema. Tapi lemah, menggapai-gapai tepian yang belum kesampaian.

“Ulin,” Wardi menyebut nama Ulin begitu lembut. Seolah ingin mengatakan yang sedang dibicarakannya ada di hadapannya.

Ulin menoleh. Matanya mengerjap-kerjap seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah. Tidak ada tanggapan dari Ulin. Matanya menerobos pandangan Wardi.

“Anda siapa? Perawat baru?” tanya Ulin.

Wardi tergugu menangis. Air matanya semakin besar.

Kok nangis? Anda menangisi siapa?” pertanyaan Ulin membuat hati Wardi menciut.

“Ini manggamu,” Wardi menyerahkan bungkusan plastik kepada Ulin.

“Apa sekarang sudah musim mangga?” Ulin bertanya. Wardi menggeleng.

“Apa Pak Kartiko sudah tidak pelit lagi sekarang?” Wardi kembali menggeleng.

“Ooo, pasti Mas Wardi menitipkannya pada anda, ya?”

Wardi ambruk dan tergugu seru sekali. Senja menjadi buram karena tangisan Wardi.

“Ulin, kamu nggak mengenaliku? Aku suamimu, Mas Wardimu,” kata Wardi menahan isakan tangis.

Ulin berdiri dan menjatuhkan seplastik mangga yang Wardi beli di gerobak buah depan rumah sakit tadi.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s