Resensi

Menghilangnya Kiai Semar

(Radar Surabaya, 15 Maret 2015)

Dalam pementasan wayang kulit, punokawan akan dimunculkan sang dalang dalam segmen goro-goro, yaitu ketika suasana konflik sedang memuncak. Punokawan yang dipimpin Semar beserta tiga anaknya Gareng, Petruk, dan Bagong hadir tidak hanya memberi lawakan dan tetembangan segar belaka dalam sesi itu. Punokawan dalam goro-goro juga memberi petuah yang disampaikan secara implisit, sehingga mampu mengurai konflik yang terjadi. Terlebih Kiai Semar diyakini bersaudara dengan Betara Guru, penguasa jagat raya.

Emha Ainun Nadjib menciptakan pembalikan dari kondisi ini. Budayawan nyeleneh ini justru menghilangkan sosok Kiai Semar dalam novel-esai Arus Bawah ini. Dengan gaya main-main dan di luar pakem, Cak Nun menyulap kekacauan Desa Karang Kedempel menjadi kisah menarik yang membuat pembaca merenung.

Ketika suasana politik ekonomi di Desa Karang Kedempel sedang chaos, Kiai Semar tiba-tiba menghilang. Warga Karang Kedempel yang selama ini berkiblat pada epos Mahabarata, meyakini bahwa Kiai Semar muara solusi permasalan. Menghilangnya Kiai Semar tidak hanya membuat kalang kabut ketiga anaknya, tetapi semua warga Karang Kedempel.

Bila dicermati novel-esai ini sedang mengkritik suasana orde baru yang menjemukan. Tentu dengan gaya Cak Nun yang mbeling dan penuh guyonan. Era Orde baru sangat identik dengan ketidakbebasan dalam menyampaikan pedapat. Cak Nun dalam buku ini juga menyindir hal tersebut. Kalau anak-anak muda itu mengajak para tetangga mereka untuk mengobrol kebenaran dan fakta yang memang tak pernah diumumkan oleh para pamong, mereka dituduh menghasut. Kala kerumunan itu diadakan di rumah, pemilik rumah bisa-bisa dibawa ke Balai Kelurahan. (hal.70)

Himpitan ekonomi politik di Karang Kedempel membuat semua orang menggantungkan solusi pada Kiai Semar. Tetapi menghilangnya Kiai Semar di saat sangat diperlukan oleh warga Karang Kedempel, membuat banyak orang berkontempelasi dan memikirkan bahwa warga Karang Kedempel memiliki kedaulatan penuh atas nasibnya.

Novel-esai ini pernah terbit dalam bentuk cerita bersambung di harian Berita Buana tahun 1991. Kritik pada Orde Baru sangat terasa di setiap bagian dalam buku ini. Meski Orde Baru sudah tumbang, tetapi buku ini tetap menggelitik pemikiran kita di tengah carut marut negeri ini. Kiai Semar boleh jadi hanya sebatas simbol dalam pewayangan, sebuah tokoh rekaan yang dimainkan dalang. Namun Kiai Semar sudah lama diyakini orang Jawa hadir sebagai tanda zaman sedang edan, sedang kulminasi persoalan, dan membutuhkan nasihat bijak dari Kiai Semar. Pertanyaannya, di kondisi negeri kita saat ini, haruskah kita memanggil Kiai Semar untuk membantu? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s