Resensi

Orang Jepang Berbincang Tentang Islam

(Singgalang, 8 Maret 2015)

Islamophobia masih terjadi di berbagai negara, tak terkecuali Jepang. Kedekatan agama Islam dengan isu teroris selalu menjadi dalang ketakutan akan Islam, terutama di negara Barat. Tapi di lain sisi, gencarnya isu teroris justru membuat banyak orang yang sejatinya bukan beragama Islam ramai-ramai meneliti Islam. Termasuk Hisanori Kato, profesor bidang sosiologi antropologi Islam asal Jepang.

Buku Islam di Mata Orang Jepang lebih serupa catatan harian Kato selama bersinggungan dengan Islam di Indonesia. Kato yang beragama Buddha menyampaikan prespektif sendiri terhadap suasana keislaman yang didapat selama berhubungan dengan tokoh-tokoh muslim penting di Indonesia.

Tahun 1991, ketika mendapatkan tugas mengajar selama tiga tahun di sebuah sekolah internasional Jakarta, Kato menyaksikan serombongan anak kecil berpakaian serba putih dan menenteng obor malam-malam. Ternyata mereka sedang takbiran menjelang idul fitri.

Fenomena ini membuat Kato terheran-heran. Bagaimana mungkin anak-anak sudah terbiasa dengan ritual kegamaan? Sedangkan di Jepang, agama adalah hal tabu diperbincangkan. Agama hanya ada dalam teks sejarah. Keheranan ini membuatnya tertarik untuk meneliti Islam. Agama Islamlah yang mulai mendapat tempat di hati saya. Pertanyaan yang terus memenuhi benak saya adalah kenapa mereka berpuasa, satu hari sembahyang lima kali, tidak makan babi, juga tidak minum minuman keras. (hal.5)

Tumbangnya era Orde Baru membuat Kato mekain gencar mendekati kelompok organisasi islam. Era reformasi membuat kehidupan beragama semakin bebas. Liberalisme dan kebebasan beragama berkembang pesat. Termasuk kelompok fundamentalis yang pada era Orde Baru dipangkas.

Bismar Siregar salah satu tokoh yang diwawancarai Kato, menyampaikan kebencian kepada Soeharto seharusnya sudah lenyap di dada umat Islam. Karena agama Islam berfungsi sebagai sistim yang mengubah emosi negatif menjadi emosi positif. (hal.21).

Fundamentalis dan Liberalisme

Kato juga mencoba mencari pencerahan terhadap isu fundamentalis yang dikaitkan dengan terorisme. Kelompok fundamentalis yang selama ini ditampilkan kepada publik mereka yang memakai kekerasan demi tegaknya syariah Islam. Kisah kehidupan Eka Jaya, salah satu orang penting FPI yang begitu humanis membuat kesadaran kita hidup. Kato mengemukakan alasan di balik penyerangan kafe-kafe di Kemang. Bahwa itu merupakan usaha Eka Jaya untuk melindungi Islam dan budaya Betawi, dua identitas Eka jaya.

Fundamentalis diartikan sebagai usaha menjalankan syariat Islam secara murni, sesuai nash dalam alquran dan hadist. Sikap Ismail Yusanto dalam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menegakkan negara khilafah adalah sebuah ijtihad (penafsiran) terhadap alquran yang dibenarkan dalam Islam.

Kato juga mengungkapkan bagaimana usahanya bertemu dengan ketua Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) Abu bakar Ba’asyir. Isu bahwa Abu bakar Ba’asyir adalah orang yang susah dengan penjagaan ketat, dibantah oleh Kato. Bagaimana kehidupan sehari-hari Ba’asyir dijelaskan dengan sedikit lucu dan sangat manusiawi. Bagaimana Ba’asyir menjamu Kato di rumahnya di Solo, di sela-sela kesibukannya. Bahkan dengan nada bercanda Ba’asyir menggoda Kato.

“Saya akan menjelaskan seberapa pun banyaknya yang ingin Anda ketahui karena itu kewajiban Muslim. Saya ingin Anda menjadi seorang Muslim.” (hal.128)

Tokoh JIL yang ditemui Kato adalah Uli Abshar Abdalla. Pemikiran Ulil secara tidak langsung terpengaruhi pemikiran terbuka Gusdur. Menurut Ulil penjalanan syariat Islam harus dibedakan mana yang syariat atau budaya Arab. Budaya Arab merupakan tempat lahirnya Islam pertama kali, sedikit banyak memengaruhi pelaksanaan syariat Islam. Menurut Ulil pemakaian jilbab, hukum potong tangan adalah budaya Arab yang akan tidak cocok bila diterapkan di Indonesia.

Hal sensitif lain yang dipelajari Kato adalah posisi perempuan dalam Islam. Dalam budaya Jepang, wanita menduduki layer kedua setelah laki-laki. Kebanyakan wanita Jepang akan memilih meninggalkan karier setelah menikah. Pertemuan Kato dan Lily Munir membuatnya sadar bahwa Islam memosisikan wanita dalam kedudukan istimewa. Tetap menjadi ibu rumah tangga dan istri. Namun bisa berkontribusi sebagai aktivis dan pemikir. Islam mempunyai peran dalam mengembalikan kedudukan kaum perempuan dan menyelamatkan dari penindasan. (hal.95)

Catatan Kato ini seperti sebuah catatan orang luar (outsider) yang sangat bermanfaat bagi orang dalam (insider) orang Islam di Indonesia. Sehingga akan bijak dalam memandang perkembangan Islam di Indonesia. Kato saja mampu mengambil sebuah hikmah dari keberagaman pelaksanaan agama Islam, mengapa masih saja mengangkat senjata bila ada yang berbeda dalam urusan agama? Kata Kato, hanya orang Islam sendiri yang akan membuat Islam di Indonesia bisa menggerakkan manusia mempunyai kekuatan besar dalam masyarakat, mulai dari menjaga etika individu, mereformasi masyarakat, sampai memengaruhi gaya hidup. (hal.167)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s