Resensi

Harum Feminisme dari Papua

(JAWA POS, 8 Maret 2015)

Sastra tentang Papua sama misteriusnya dengan kehidupan alam Papua. Tak banyak sastrawan Indonesia yang serius membicarakannya. Baru ada novel Tanah Tabu karya Anindita S.Thayf. Dan sekarang publik kembali disuguhi roman berlatar Papua berjudul Isinga karya Dorothea Rosa Herliany (DRH). Meski dua novel ini berbeda, tapi sama-sama mengambil fokus kisah perempuan Papua. Dua penulis perempuan lantang menyuarakan kehidupan perempuan Papua melalui roman.

Penikmat sastra Indonesia lebih mengenal DRH sebagai penyair perempuan, maka novel Isinga menjadi pembuktian kepiawaiannya dalam merangkai prosa yang lebih panjang. Novel ini dikerjakan DRH bekerja sama dengan Deutscher Akademischer Austausch Dienst (DAAD), organisasi nirlaba dari Jerman.

Aroma Feminisme

Isinga dalam bahasa Papua berarti mama atau perempuan. Sontak ingatan kita tergiring bahwa DRH ingin melantangkan suara perempuan-perempuan Papua. DRH meminjam kisah hidup Irewa, seorang perempuan Desa Aitubu yang harus menjadi yomine, pendamai pertikaian antara Aitubu dan Hobone.

Nasib Irewa, yang digambarkan sebagai perempuan Papua memesona, tidak ada di tangannya. Tapi diputuskan oleh para tetua dan dukun di rumah yowi, rumah inti terutama perihal perkawinan. Irewa harus menikah dengan Malom, meski Irewa lebih menyukai Meage seorang pemusik tifa. Tapi keputusan para tetua dan dukun mutlak tanpa kompromi. Ia tak bisa menolak saat diminta seluruh penghuni perkampungan untuk kepentingan perdamaian. (hal.52)

Perempuan dan laki-laki Aitubu maupun Hobone memiliki batasan yang cukup jelas. Semua hal-hal penting diputuskan para laki-laki di dalam rumah yowi. Laki-laki hanya bertugas berburu dan bersantai-santai. Sedangkan perempuan memiliki tugas yang luar biasa besar: melayani suami, merawat anak, melahirkan banyak anak terutama anak laki-laki, berladang, memanen sagu, hingga memelihara babi. Perempuan Aitubu adalah wali elae wakeyae, hidup untuk bekerja.

DRH menyampaikan metafora yang menarik, bahwa salah satu tanda kecantikan perempuan Aitubu adalah betis yang besar. Perempuan berbetis besar menjamin kekuatan saat berkebun serta mampu hamil dan terus melahirkan. Anak laki-laki akan digunakan sebagai prajurit perang. Anak perempuan akan digunakan untuk merawat dan menjaga kelangsungan sebuah kehidupan. (hal.57)

DRH menggambarkan Malom dan kebanyakan laki-laki hanya bertugas sebagai pejantan yang menghamili istrinya. Bahkan saat persalinan, banyak mama mengerjakan persalinan seorang diri. Usai melahirkan harus segera ke ladang dan siap memenuhi kebutuhan biologis suami. DRH menggambarkan karena jarak antar kehamilan terlalu dekat, banyak anak Irewa yang mati atau gugur saat masih di kandungan.

Hal ini jelas bertentangan degan Konvensi Seneca Fall (1848) yang menyatakan bahwa “All Man and Women are Created Equal” (semua laki-laki dan perempuan diciptakan sama).

Ketika modern memasuki Papua, banyak pendatang dan membawa penyakit sosial pelacuran, Irewa harus menahan kejengkelan melihat suaminya sering berlama-lama di rumah pelacuran dan membawa sifilis ke rumah. Ketidakberdayaan perempuan tidak berhenti sampai di sini. Mereka harus ikhlas menerima perlakuan dan tidak punya hak menuntut perpisahan. Perpisahan hanya bisa dilakukan bila ada seorang laki-laki lain yang mencintai Irewa dan rela membayar mahal kepada Malom, suami terdahulu.

Harumnya feminisme sangat jelas tercium. DRH hendak menyuarakan perempuan-perempuan yang selama ini masih terjebak pada hukum adat. Tidak hanya di Papua. Karena masih banyak adat istiadat yang menempatkan perempuan pada posisi di belakang laki-laki, terutama suami.

Kesenjangan Budaya

Pendatang melirik kekayaan Papua, pertambangan dan kayu gaharu, dan membawa budaya baru yang jelas berbeda dengan adat. Terutama kemodernan dan penyakit sosial pelacuran. Hal baru lain yang mengagetkan adalah pemerintah. Kosakata baru bagi orang Papua. Keberadaan tentara yang mewakili ‘instruksi presiden’ zaman Orde Baru memaksakan bahkan membanti banyak perdusunan. Kadang tentara melakukan pembantaian dengan tiga alasan; tanah, koteka, dan pemilu.

Pemilu 1977, menjadi pemilu pertama di Papua. Tentara memaksa untuk memilih yang bergambar pohon (hal.107). Padahal banyak orang Papua tidak bisa membedakan ketiga gambar tersebut. Otoriter pemerintahan Orba juga mematikan kelompok kesenian pimpinan Meage karena dicurigai makar.

Urusan politik Orba menjadi selingan lain, saat DRH riuh membicarakan feminisme. Melalui Isinga, DRH bertugas mendedah budaya Papua, penindasan perempuan Papua, kemudian sikap pemerintahan Orba yang menginjak hak-hak orang Papua.

Novel DRH ini bila dicermati masih sangat kaku. Tidak seperti keindahan diksi seperti dalam puisi-puisinya. Bahkan terasa seperti catatan penelitian. Kehadiran bahasa sebagai media penyampai keindahan tidak begitu kentara. DRH hanya menyampaikan apa yang dilihat begitu saja.

Beberapa konflik hadir justru seperti ditempelkan begitu saja. Kehadiran Jinggi –saudara kembar Irewa, Irewa mendirikan LSM, kepergian Jinggi ke Belanda, dan Meage ke Jerman menjadi bagian akhir yang dieksekusi kaku. Akan sangat mendalam andai DRH hanya fokus pada problem-problem Papua lebih dulu. Mendalami konflik Papua dan seperti judulnya, tentang perempuan. Seandainya ingin mengisahkan Papua pasca modern dan saat kesempatan belajar keluar negeri terbuka, bisa dipisah menjadi novel Isinga jilid 2.

Novel ini tidak hanya berhenti pada teks yang berbicara kepada pembaca tentang kondisi Papua pada zaman itu. Isinga hanya sebuah fenomena, di Papua dan di berbagai daerah lain, tentu masih ada praktik penindasan perempuan atas nama adat. Novel ini menimbulkan pertanyaan di benak pembaca, di suku atau daerah mana lagi antara perempuan dan laki-laki diperlakukan berbeda. Kini, pembaca mampu mencium aroma harum feminisme dari Isinga karya DRH.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s