Cerpen

Salak Anjing Menggema di Kepala Mereka

(Padang Ekspres, 22 Februari 2015)

Foto diambil oleh Mbak Naqiyyah Syam

Sudah sering diingatkan Tohari, tapi Kabul masih saja abai. Nasihat dari ketua takmir itu dimasukan telinga kanan dan diusir melalui sisi kiri. Hingga tiap melihat Kabul berjalan-jalan pagi bersama anjingnya, banyak mata tetangga memicingkan curiga. Mata-mata itu melontarkan jarum ke dada Kabul, seperti busur yang tidak terkendali.

Sebulan lalu, warga dikagetkan dengan suara salak anjing. Suara mokal dan tak pernah terdengar selama ini. Beberapa orang mengira itu adalah anjing liar yang masuk perkampungan atau mungkin anjing komplek sebelah yang kesasar saat pulang. Namun saat salak itu terus bergaung hingga malam dan kemudian bersahutan dengan gema azan, kegusaran menghantui mereka. Tidak mungkin membiarkan seekor anjing menyalak seenaknya di komplek yang 100% warganya menajiskan hewan berkaki empat itu. Bagi warga, salak anjing sama haramnya dengan sebotol ciu, sebutir ekstasi, atau barang najis lainnya. Lebih bermanfaat memelihara seekor ayam betina daripada seekor anjing. Ayam betina dua bulan sudah bertelur. Sedangkan seekor anjing sebagus apapun dia, hanya menelurkan tahi yang apabila terinjak minta ampun baunya dan membatalkan kesucian.

Purna sembahyang isya, barulah diketahui bahwa Kabul punya anjing baru.

“Kabul?” Tohari kaget.

“Benar, Pak!”

“Bagaimana mungkin bisa? Dia muridku di TPQ. Hafalan surat pendeknya banyak dan suaranya tilawah merdu. Dia pasti tahu najisnya anjing,” wajah Tohari memerah.

“Lalu kita harus bagaimana?”

“Kita lihat saja, andai Kabul membawa anjing itu berjalan-jalan atau bahkan melepaskannya. Kita bakal menegurnya. Tapi kalau dikencang dengan tali di dalam rumah, kita masih bisa menolelir.”

“Suara anjing itu bikin balita saya nangis terus.”

“Betul, Pak. Bahkan istri saya kaget luar biasa. Masak suara alquran bisa disandingkan dengan suara gukguk anjing?”

Tohari membenarkan surban yang melingkar di lehernya. Angin malam membuatnya rentan terbatuk dan masuk angin. Dokter pun sudah menasihatkan agar selalu memakai pakaian tebal ketika berangkat isya atau mengisi pengajian malam. Usia tuanya tidak bisa menipu, meski pitamnya sering muntab .

“Besok akan kutegur Kabul. Sekalian silaturahim.”

Suara-suara miring terkait Kabul mulai berembus seperti jangkrik ngerik di balik batu cadas. Tak tampak si empu suara, tapi nyaring dan menusuk telinga. Orang-orang sekomplek memang gemar memperbincangkan keburukan orang lain. Setiap menemukan keburukan orang sekecil apapun itu, mata mereka menyala seperti seperti sedang menghadapi tumpeng lengkap dengan ingkung menggoda. Mereka tak kuasa menyimpan kabar lebih lama, hingga seolah-olah batu dan dinding rumah turut menjadi biang berita.

Sambil berjalan-jalan pagi, Tohari mengunjungi rumah Kabul di dekat pos ronda hansip. Rumahnya dirimbuni pohon mangga golek yang digelantungi banyak buah. Perdu kenikir kuyup karena embun dingin. Tohari ragu hendak mengetuk pintu. Pikirannya mulai berprasangka, apa gagang pagar rumah itu benar-benar bebas dari najis liur anjing Kabul. Belum lagi kotoran anjing. Bisa saja anjing berak di depan pagar, di halaman, atau di mana sesuka hatinya. Tentu najis bila kakinya menginjak sisa tahi yang menyebar tanpa kejelasan.

Belum sempat dia mengetuk, Kabul membuka pintu pagar hendak mengambil koran pagi.

Eh, Pak Tohari. Janur gunung,pagi sekali.”

“Lagi pingin menghirup udara segar,” mata Tohari menelisik. Dia tak bisa menutupi rasa penasaran yang menguasai pikirannya sejak semalam.

Kabul jongkok meraih lipatan koran pagi. Mereka berbasa-basi sebentar. Lalu Tohari mendengar gonggongan anjing. Ada yang meremang di tengkuk Tohari. Seekor anjing yang meliurkan najis tentu lebih menyeramkan bagi Tohari ketimbang hantu iblis paling seram sekalipun.

“Kamu memelihara anjing, Kabul?” pertanyaan meluncur dengan sendirinya.

“Istri saya dapat undian dari jalan sehat. Hadiahnya seekor anjing. Lucu ternyata, Pak.”

“Lucu? Bagaimana bisa? Hewan najis itu bisa menjilati tubuhmu, rumahmu, kasurmu, dan bahkan tempat salatmu. Najis, Kabul.”

Kabul belum menanggapi, anjing putih berbulu tebal setinggi betisTohari keluar dengan menjulur-julurkan lidah. Tohari memundurkan posisi dan mengesankan jijik. Makin eneg, ketika melihat Kabul mengelus-elus leher anjing itu.

“Lihat, Pak Tohari. Dia tidak bandel.”

“Kabul, aku tak paham jalan pikiranmu. Memelihara anjing dalam agama kita dilarang keras. Najisnya itu loh.”

“Pak Tohari, bukannya anjing ada yang masuk surga?”

“Hanya satu. Anjing ashabul kahfi. Bukan anjingmu yang menganggu warga.” Kabul terhenyak, lalu berdiri.

“Menganggu? Baru kemarin sore anjing ini datang. Bagaimana bisa anjing ini menganggu mereka?”

“Gonggongan anjing menganggu salat orang.”

Kabul terdiam. Anjing di dekat kakinya terus menjulurkan lidah dan sesekali menjilati kaki. Tohari terus mengamati dengan pandangan jijik kepada seekor anjing yang baru kali ini bisa hidup dengan selamat lebih dari semalam di kompleknya.

“Pak Tohari, saya tidak terlalu paham.”

“Warga memintamu menjaga anjing ini agar tak berkelana sembarangan dan merendahkan gonggongan ketika azan dikumandangkan.”

Kabul berdiri menjangkung. Tatapannya terkaget-kaget. Ingin sekali dia mendebat, bukankah salak anjing adalah bahasa zikir anjing.
***

Tetapi Kabul tidak peduli keluhan warga dan terus membiarkan anjing itu menyalak sebutuhnya si anjing. Kabul berpikir, alau orang-orang komplek bebas bertukar berita yang belum tentu benar, mengapa anjingnya tidak boleh menyalak? Itu hak asasi seekor anjing.

Kabul meyakini yang dilakukannya tidak menimbulkan dosa. Istrinya tak pernah berniat membeli anjing. Ketika mengikuti jalan sehat, istrinya mendapatkan hadiah seekor anjing. Membuang? Lebih tidak berperasaan. Membunuh? Itu berdosa. Perihal najis ketika dijilat. Tidak masalah. Apa susahnya membasuh kaki tujuh kali dengan sisipan memakai pasir. Tapi melihat sikap warga yang begitu membenci anjing, membuat Kabul semakin memanjakan anjingnya dan sering mengajak keliling komplek bahkan sesekali melewati masjid.

Kebencian warga semakin tak terkendali, ketika menyaksikan Kabul sering berjalan-jalan pagi dan sengaja memamerkan anjingnya kepada seluruh warga yang beraktivitas pagi. Berhenti di depan tukang sayur yang membuat para ibu menjerit takut dan jijik. Membarengi Tohari yang lari pagi dan sukses membuat Tohari berhenti, berganti rute, atau lari lebih kencang karena takut terciprat liur anjing. Bahkan sekali pernah Kabul memberi minum anjingnya melalui keran wudhu masjid.

Diam-diam beberapa anak muda merencanakan pembunuhan pada seekor anjing.

“Kampret itu memang perlu diberi pelajaran!”

Mereka mencampurkan arsenik dan kapur barus bersama potongan-potongan jeroan ayam yang akan diumpan kepada anjing Kabul. Sumber permasalahan, anjing Kabul harus dimusnahkan. Mereka mengintai rumah Kabul. Kontan setelah kabul berangkat ke kantor, mereka menyodorkan beberapa potong jeroan ayam yang sudah dibubui racun itu. Mata mereka begitu cerlang membayangkan anjing itu akan menggeletar kelojotan sakaratul maut.

“Makan! Makanlah!”

“Tentu majikanmu jarang memberimu jeroan ayam.”

Tawa mereka berderai. Anjing itu mendekati mereka dengan lidah terjulur bernafsu memamah jeroan yang mereka bawa. Tapi nasib malang tak bisa ditolak. Anjing itu justru meraih tangan kanan si pemuda. Dua buah taring depannya menempel di pergelangan tangan. Teriakan mereka membuat kutilang berkicau ketakutan dan orang-orang berbondong-bondong menghampiri.

“Kurang ajar! Anjing najis!”
Orang sekomplek menangkap anjing, lalu mengikatnya. Andai tidak dihentikan Tohari, tentu mereka sudah menebas leher anjing itu. Tohari meminta agar menunggu Kabul pulang lebih dulu.
***

“Lihatlah, tangan anak saya Pak! Sebaiknya anjing itu dibunuh.”

“Anjing saya tak salah. Mereka mengganggu anjing yang tinggal damai.”

“Pak Kabul, tentu anda tahu penyakit rabies. Itu berbahaya bagi manusia.”

“Anjing saya sehat wal’afiat. Tidak mungkin terkena virus rabies. Anak anda akan lekas sembuh. Tenang saja.”

“Tenang? Bagaimana bisa!”

Suara ketidaksetujuan terus menggema di ruangan tengah rumah Kabul. Usul mereka bulat untuk membunuh anjing itu. Seperti sebutir bisul di pantat yang harus segera dimusnahkan.

“Bunuh saja!”

“Tidak. Saya akan mengurus anjing ini lebih baik,” sergah Kabul.

Tapi suara Kabul tenggelam di antara mereka yang mengangkat parang. Putus asa menjerat leher Kabul. Membuatnya terkulai lemas di kursi. Matanya tidak tega melihat tatapan mata anjingnya yang tidak berdosa harus dibantai dengan kejam oleh warga komplek.

“Nasib anjing memang selalu dikorbankan,” keluh Kabul.

Kabul terus menguping. Menanti suara anjingnya kesakitan menerima kekejaman mereka. Beberapa menit berselang, suara orang bergumam seperti suara lebah.

“Anjing itu menangis.”

Anjing itu terdiam. Matanya berbinar dan berhenti menyalak. Guguran air mata menggaris di dekat moncong anjing. Keraguan menguasai banyak orang yang tadi beringas berniat menebas leher anjing. Salak anjing menggema di kepala mereka bersahutan dengan denting parang gerompyangan terjatuh.(*)

Catatan:
Janur gunung : ungkapan untuk menghiperbolakan tumben.

Advertisements

3 thoughts on “Salak Anjing Menggema di Kepala Mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s