Resensi

Tetap Optimis dan Berpikir Positif

(Singgalang, 8 Februari 2015)

B9U2QUDCMAAAzeR

Hidup memang tidak selamanya mengikuti hukum logika matematika. Ketika berada dalam posisi lemah, belum berarti akan selamanya didera kekalahan. Sebaliknya yang berada dalam posisi kuat tidak jarang berujung pada kemalangan. Setidaknya pemikiran inilah yang sedang ingin dibangun Malcolm Gladwell dalam buku David and Goliath.

Sesuai judulnya, buku ini terkait dengan kisah David dengan raksasa Raja Jalut. Kisah ini menjadi kisah universal karena diceritakan oleh beberapa agama. Kisah pembuka buku ini adalah kisah heroik Nabi Daud melawan Raja Jalut. Dikisahkan Nabi Daud berperawakan kecil sedangkan Raja Jalut berpostur raksasa dan senjata lengkap. Secara logika, Nabi Daud akan kalah dalam pertempuran. Nyatanya Nabi Daud dengan cerdik mampu menumbangkan Raja Jalut. Pertama Nabi Daud menyerang mata Raja Jalut dengan ketapel, setelah tumbang barulah ditikam dengan pedang. Buku ini seperti kumpulan kisah-kisah orang berhasil di tengah kondisi minimum. Kekuatan kisah dan teori yang ditulis Malcolm Gladwell adalah pada kevalidan data yang dipergunakan. Malcolm Gladwell melakukan riset dalam hitungan tahun, 5 tahun, 10-20 tahun, bahkan memakai data satu generasi atau kurang lebih 40 tahun.

Kisah pertama adalah kisah Vivek Ranadive, pengusaha piranti lunak yang menjadi pelatih bola basket. Ranadive memberlakukan dua prinsip dalam melatih tim basket yang underdog terserbut, pertama dia akan melatih dengan lemah lembut dan tidak berteriak-teriak. Kedua dia tidak akan memakai strategi tim dengan komposisi pemain dreamteam yang lebih suka menyerang. Maka Ranadive memakai strategi full court press –mengadang lawan memasukkan bola. Dan strategi inilah yang membawa tim asuhan Ranadive memenangkan perlombaan. Ranadive mencoba membalikkan logika bahwa ada kekuatan dalam kelemahan, juga ada kelemahan dalam kekuatan. Maka yang diperlukan adalah bagaimana kita memikirkan hal yang perlu saja. Definisi keunggulan sangat terbatas. Kita berpikir itu berguna sebenarnya tidak dan kita pikir tidak berguna sebenarnya berguna. (hal.23)

Dalam buku ini Malcolm Galdwell mengungkapkan kurva U terbalik dalam sistim pendidikan. Teresa DeBrito, seorang guru sekolah dasar membuktikannya. Jumlah siswanya yang semakin menurun. Dalam teori pendidikan yang diterapkan di Jepang, Swiss, Kanada, mengatakan semakin kecil jumlah siswa semakin efektif. Ternyata bukan. Teresa mendapati hubungan jumlah siswa dan efektifitas belajar mengajar mengikuti kurva U terbalik. Jumlah siswa 20 jauh lebih baik daripada 10. Dan jumlah 40 justru semakin buruk. Angka efektif adalah berkisah 20. Semakin sedikit akan membuat siswa kaku dan malu berekspresi. Sebaliknya kelas gemuk akan membuat kegaduhan belaka.

Kurva U terbalik ini juga berlaku dalam kondisi keuangan keluarga. Seorang bintang hollywood dari Minneapolis menyadari bahwa semakin kaya justru pendidikan di keluarga semakin buruk. Posisi ideal adalah di tengah. Kecukupan.

Cara memandang kekurangan menjadi hal luar biasa bisa dirasakan pada , kisah David Boies, seorang pendertita disleksia yang kemudian menjadi seorang pengacara. Dileksia membuat David hanya bisa belajar ketika dibacakan oleh ibunya. Karena itulah David hanya fokus pada perkara hukum dan mencoba menyederhanakan hal-hal yang dipelajari. Berkat sistim belajar ini David menjadi pengacara yang sukses. “Aku harus sederhanakan pelajaran ke intinya. Dan itu berguna di persidangan, hakim dan juri tidak punya waktu menjadi pakar dalam perkara.” (hal.111).

Kelemahan dan kelebihan memiliki batasan yang tidak semua orang pahami. Batasan ukuran itu seolah menjadi garis imajiner yang gampang melebur. Orang yang merasa dirinya lemah akan mengatakan bahwa kesulitannya dikarenakan kelemahannya. Sedangkan orang yang berada pada posisi lebih selalu mengatakan kekuatannya adalah sumber keberuntungannya. Padahal kurva U berlaku dalam segala kondisi.

Malcolm Gladwell mengajarkan kepada kita untuk tidak  memandang segala sesuatu secara berlebihan, baik itu kekurangan atau pun kelebihan. Yang merasa dalam posisi lebih atau posisi goliath tidak perlu merasa dirinya sebagai dreamteam yang selalu menang. Sebaliknya bagi yang kurang beruntung dalam posisi kurang, tetap harus berpikir positif dan optimis. Ada kekurangan di tengah kelebihan, juga ada kelebihan di antara kekurangan. Seperti yang disampaikan Malcolm Gladwell, bahwa raksasa bukanlah seperti yang kita duga. Ciri-ciri yang tampaknya memberi kekuatan, justru sumber kelemahan. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s