Cerpen

Hari Tanpa Kepala

(Kedaulatan Rakyat8 Februari 2015)
Catatan: Kalau teman-teman pernah membaca Jalan Menikung-nya Umar Kayam, pasti akan dengan mudah mengetahui dari mana sosok Harimurti ini berasal.

Rapat redaksi alot. Semuanya seperti tidak yakin dengan usulan Harimurti. Harimurti menyiapkan topik tentang jenderal berbintang dengan rekening super besar. Bila ini disepakati, Harimurti akan memimpin investigasi dan siaga dengan aneka risiko. Bukankah para jenderal memiliki bedil yang tersarung pinggang? Juga bedil-bedil lain yang siap menjalankan perintah jenderal? Mereka bisa melesatkan peluru ke kepala Harimurti bila dirasa perlu. Sayang, rapat ditunda sampai istirahat makan siang.

“Har, makan bareng yuk?” ajak Barnard, atasan Harimurti.
Njanur gunung, tumben.”
“Sudah lama nggak makan siang bareng,” Barnard mendesak.
“Oke. Dimana?”
“Mau sushi? Sesekali wartawan juga butuh makan enak.”
“Benar,” Harimurti mengakhirinya dengan tawa kegembiraan. Sejenak suasana sengit di tengah rapat mengendur.

***

Lepas makan siang di restoran Jepang, Harimurti benar-benar ingin melepas kepalanya. Melepas kepala kemudian dibungkus kardus, melakban, lantas menguncinya di  dalam gudang. Agar kepala itu tidak kabur, kunci itu akan diguyur air ke dalam kloset. Ternyata memiliki kepala tak selamanya menjadikan berpikir logis. Harimurti merasa kepalanya sudah tidak lagi berguna. Seperti kerbau berbadan besar tapi berotak bebal. Kepala Harimurti tidak bisa diajak kompromi. Selalu menampik apa yang disuarakan hati nurani.

Sepanjang perjalanan balik ke kantor, terus terngiang perkataan Barnard yang sedikit menekan, “Har, ayahku mendapat telepon dari salah seorang jenderal. Bila kita jadi menurunkan berita itu, bukan hanya kepalamu yang menghilang. Tapi kepalaku dan kepala ayahku.”

“Ini ancaman?” tanya Harimurti. “Berita harus disampaikan jujur. Kalau jenderal itu tak bersalah, harusnya berani. Kalau menebar ancaman, berarti ada indikasi.”

Sinar mata Barnard memudar, mungkin sushi isi telur salmon dan unagi bakar memenuhi perut dan membungkam mulut.

“Kalau kamu hendak menghentikanku dengan ancaman seperti ini, kamu salah. Aku justru berapi-api.”

“Har, aku hanya ingin kamu tetap hidup. Aku tak ingin wartawan hebat sepertimu cepat lenyap dari bumi.”

“Bar, bukannya kita harus berkata jujur walau itu pahit?”

Barnard mengangguk. “Tapi harus perhitungkan risiko.”

“Lalu apa kantor akan menolak usulanku?”

Dijawab diam oleh Barnard. Harimurti bisa menebak. Pengambilan keputusan yang ditunda setelah makan siang adalah semacam jeda untuk memperlancar lobi. Keputusan sudah diketok diam-diam. Lalu saat rapat dilanjutkan pasca rehat, pimpinan redaksi akan basa-basi, seolah usulan Harimurti kurang sempurna dengan berbagai alasan. Tema lain akan diangkat. Klise.

“Buat apa punya kepala kalau tidak berpikir logis?” tanya Harimurti dalam hati.

Harimurti izin rapat karena sakit. Ada bagian tubuh yang sakit. Kepalanya mampet. Hatinya ditikam sembilu dari belakang. Sushi yang dimakan lahap berubah menjadi parasit pengunyah organ dalam. Kepalanya dikerubuti kalimat terakhir Barnard sebelum keluar lift.

“Har, aku tahu pekerjaan wartawanmu hanya kamu gunakan sebagai stepping stone. Kamu ingin mendapatkan melanjutkan master. Kalau kamu mau mendiamkan ini. Bapak janji bakal memberangkatkanmu ke US. Sekembalinya kamu, kantor akan tetap menerimamu.”

Harimurti terperanjat. Hatinya memberontak tawaran Barnard yang berbau sogokan. Tapi pikirannya mengiyakan.

“Coba kamu pikirkan. Kalau kamu berteriak, mentok kamu jadi wartawan atau politisi. Itupun kalau lolos dari mati. Tapi bila diam sesaat, karirmu bisa lebih tinggi.”

***

Harimurti menatap bayangan dalam cermin. Harimurti teringat nasihat orang tuanya, menjadi wartawan tak hanya siap berpenghasilan kecil. Tapi juga aneka risiko. Harus berani mempertaruhkan nyawa.

Harimurti berdiri di persimpangan. Hatinya berontak dan mengatakan Harimurti harus berani vokal. Tapi di atas cermin kamarnya, tertulis dengan tebal MASTER OF POLITICAL SCIENCE AND COMPARATIVE DEVELOPMENT. Lembar aplikasi dan paspor tertumpuk rapi di meja. Matanya rembes oleh air mata.

Kepalanya sudah membujuk agar Harimurti menerima saja tawaran Barnard. Bagaimana pun kesempatan bagus takkan kembali untuk kedua kali. Sekali dilepas, maka kemungkinan datang belum pasti. Toh negeri ini sudah sedemikian kacau, masalahnya runyam bak benang kusut tanpa diketahui harus mulai darimana mengurainya. Tangan dan usaha Harimurti takkan mampu mengubah persoalan besar bangsa ini.

Ada suara protes yang merojok-rojok di pojok nuraninya. Sekecil apa pun usahanya.

Harimurti benar-benar merasakan dilema yang jauh lebih kejam dan menyiksa. Hati nurani dan pikirannya tidak bisa mencapai mufakat. Titik-titik air menitik teratur dari ceruk mata Harimurti. Setiap manusia memang memiliki quo vadis-nya masing-masing.

“Mungkin sebaiknya aku tidak punya kepala, karena isi kepala kadang bertolak belakang dengan suara hati nurani. Lebih baik kupelihara hati nurani dan kulepas kepala ini.”

***

Harimurti berangkat ke kantor lebih siang. Menjelang pukul sebelas Harimurti masuk kantor. Kehadirannya mengejutkan seisi kantor. Harimurti datang tanpa kepala. Bagian kepalanya brundul. Seperti bonsai dipangkas habis, menyisakan batang leher kosong tanpa sebundar kepala. Harimurti melenggang kangkung. Tak ada lagi yang menganggu ketika nurani Harimurti berteriak kebenaran. Isi kepalanya sudah tidak akan menjadi pengganjal.

“Harimurti, apa yang terjadi sama kamu?” tanya rekan kerjanya.
Suara Harimurti keluar dari liang tenggorokan, “Aku sudah melepasnya. Pikiran di kepala kadang memusuhi hati nurani.”
“Maksudmu melepas?”
“Ya kulepas saja. Tinggal putar sekrup di pokok leher. Dan lepas.”
“Sekarang aku akan menulis yang diyakini hati nuraniku sebagai kebenaran. Tak bisa disogok!”
“Lantas bagaimana wartawan menulis berita tanpa kepala?”(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s