Cerpen

Urap Daun Lamtoro

(Tabloid Nova, 12-18 Januari 2015)

Ilustrasi Aries Tandjung

“Mas, musim hujan begini pasti kebun Ibu tumbuh hijau,” Ruwita mengelus tanganku yang menghadapi buku. Mataku menatap garis-garis air yang tercetak di jendela kaca. Begitu lebat. Benar kata orang bulan Desember adalah gedhe-gedhene sumber, musim hujan seperti dimanjakan.

“Kalau musim hujan, kebun di belakang rumah itu bakal sugreng, lebih lebat dan hijau.”
“Sayang sekali, kemarin pas kita ke sana belum hujan ya. Bahkan kemarau.”

Saat aku mengajak Ruwita berlebaran ke rumah Ibu, kebun di belakang Ibu memang tidak sedang rimbun. Beberapa meranggas karena puncak musim kemarau. Pohon jati merontokkan daunnya untuk mengurangi laju respirasi. Tanaman merambat musnah diserbu ulat.

Aku menutup buku dan kutatap wajah manis Ruwita. “Ya, kalau musim hujan banyak tanaman merambat tumbuh. Sulur-sulur hijau seperti warna permen. Menggiurkan. Kecipir, kacang lanjaran dan pohon lamtoro akan menghijau. Belum lagi pohon pisang yang ditanam Bapak. Kalau nasib kita untung bisa menemukan sedompol jamur barat di tengah-tengah kebun.”

Ruwita terdiam. Suara hujan menimpa atap seperti rentetan pukulan ketipung yang bersahutan dengan gemuruh guntur. Gemelegar di atap langit sana seolah memberi tanda bahwa hujan di Desember akan susah berhenti.

“Sepertinya enak hujan-hujan begini makan urap daun lamtoro buatan Ibu.”

Dingin hujan memang memudahkan orang lapar dan mengkhayalkan makanan. Perut yang belum terisi makanan akan mudah berteriak ketika dingin menjalar. Mendengar ucapan Ruwita, pikiranku langsung tertuju pada nasi liwet hangat yang asapnya akan mengembunkan kacamata, urap daun lamtoro, dan bakwan kobis atau mendoan buatan Ibu. Makanan itu, yang kata Ibu masakan ndeso membuat ludahku membuncah. Samar-samar kudengar Ruwita menelan ludah.

“Apalagi kalau Ibu buat pisang goreng, rasanya paling enak sedunia.”
“Ruwita, kamu bikin aku ngiler.” Aku menelan ludah. Sore belum juga gelap. Menu makan malam terlalu dini kalau harus digelar sekarang.
“Tapi urap daun lamtoro Ibu yang bikin kangen.”

Percakapan sore yang tanpa disengaja itu, membuatku kangen kepada masakan Ibu. Serta membuat kami menginginkan urap daun lamtoro Ibu.

Ibu memang jagoan kalau sudah bikin urap sayur. Pucuk-pucuk hijau lamtoro di pekarangan belakang, Ibu petik selagi masih segar. Kalau kebetulan lamtoro sudah berbuah, maka biji-biji lamtoro muda akan dicampurkan sedikit saja. Daun lamtoro dicampur dengan daun sembukan atau daun ubi kayu. Setelah direbus hingga lunak, dedaunan itu akan dirajang lalu dicampur dengan kelapa parut yang sudah dibumbui pedas. Bumbunya sederhana, tapi rasanya tidak bisa kutemukan di restoran mewah sekalipun. Ketika menu itu sudah tersaji di meja makan dengan kepulan nasi liwet, semua lupa akan makanan-makanan enak yang biasa orang lain bayangkan. Sate junjung yang sering lewat saban sore tak diacuhkan. Suara ting-ting penjual bakso tidak dipedulikan. Semua tangan berebut urap daun lamtoro. Ibu akan tersenyum bungah melihat keluarganya lahap menikmati urap daun lamtoro buatannya.

Urap daun lamtoro Ibu seperti memiliki kekuatan magis yang tidak diajarkan di sekolah boga manapun. Aku percaya di setiap meja makan keluarga pasti memiliki menu andalan yang tidak bisa ditemukan di meja makan keluarga lain. Masakan Ibu yang lain –lodeh nangka, sayur podomoro, ungkep ayam, buntil wader, bandeng goreng juga tidak kalah enak. Tetapi ketika urap daun lamtoro dihidangkan di meja, seolah makanan itu benar-benar makanan khusus untuk kami berlima. Lalu seperti menyeret kepada kebersamaan paling intim di dalam keluarga.

Kami sekuarga –Bapak, Ibu, aku, dan dua adikku menyadari bahwa hidup kami menetes dari keringat seorang petani. Kakek nenek kami seorang petani utun. Hidup petani yang susah dan memaksa hidup secara wajar dan sederhana. Prihatin, demikian istilah Ibu. Kata Ibu juga, daun lamtoro sebenarnya adalah makanan kambing. Aku pun menyadarinya. Tetapi dahulu, saat banyak orang kelaparan di zaman penjajahan, segala jenis yang bisa dimakan dan mudah dikunyah akan masak. Salah satunya adalah lamtoro.

Weteng marakke peteng,” nasihat Ibu. Menurut Ibu asal muasal semua perkara adalah perut. Perut kosong karena puasa akan membersihkan jiwa. Harus waspada mengisi perut. Bila diisi barang tidak benar akan merusak badan dan pikiran. Nasihat Ibu selalu kami kesampingkan dan kami sekeluarga harus memastikan bahwa masih ada urap daun lamtoro untuk dimakan. Urusan lamtoro di meja makan kala itu lebih penting, meskipun sampai kini aku tidak pernah melupakan nasihat Ibu.

***

Meski sore itu, aku dan Ruwita tidak bisa menikmati urap daun lamtoro buatan Ibu, tapi kenangan akan semerbak aroma bumbu, kelapa muda parut di dapur Ibu menguar di rumah kami. Membuat liur kami membanjir membayangkan kenikmatannya.Padahal Ibu berada jauh di Blora sana. Musim hujan pasti juga sedang turun lebat di Blora. Bisa jadi Ibu sedang bergelut dengan sawah kami yang tidak seberapa. Menyiapkan makanan untuk para buruh tani. Kerutan di wajahnya akan semakin kentara ketika tempias hujan membasahi rambut dan mukanya.

Menemukan urap di Jogja bukanlah susah. Aku bisa menemukan di setiap warung makan. Tetapi tidak ada yang memakai daun lamtoro muda sebagai bahan urap. Urap di kota ini kebanyakan memakai kacang panjang, bayam, dan irisan daun kemangi. Itu jelas berbeda dengan urap daun lamtoro yang dibuat Ibu.

Malamnya, selepas sembahyang Isya, aku menelepon Ibu di Blora. Kuceritakan bahwa aku dan Ruwita sedang merindukan urap daun lamtoro buatan Ibu.

“Ruwita, ngidam?” pertanyaan Ibu seperti terkejut.
“Bukan, kami hanya merindukannya.”

Suara tawa Ibu di ujung telepon berderai. Lalu dengan penuh semangat Ibu menjelaskan resep sederhana membuat urap daun lamtoro.
Lalu Ibu bertanya, “Memang di sana ada daun lamtoro?”

Aku terhenyak sebentar. Sepertinya aku tidak pernah melihat daun lamtoro di komplek rumah.
“Kalau tidak ada, kamu bisa ganti dengan bayam atau daun pepaya. Memang beda tapi rasanya tidak terlalu jauh,” Ibu memberikan solusi.

Percakapan malam itu diakhiri dengan pertanyaan yang menggalaukan.
“Kapan kalian main ke rumah? Ibu kangen sama kalian.”
Kan baru lebaran kemarin aku dan Ruwita ke sana Bu.”
“Tapi Ibu kangen.”

Seorang Ibu memang memiliki keikhlasan yang lebih besar. Rela ketika lama tidak dikunjungi oleh anak-anaknya. Seperti seekor merpati yang merelakan anak-anaknya meninggalkan sarang, membuat sarang baru, dan tidak pernah kembali ke sarang lama.

“Mungkin akhir tahun ini, insyallah.”
Telepon ditutup.

***

Pagi sekali, Ruwita mengajakku ke Pasar Demangan. Aneka sayuran segar-segar tergelar. Tapi tidak ada satu pun yang menjual daun lamtoro. Aku dan Ruwita keliling dari ujung ke ujung, tetap tidak menemukan daun lamtoro. Akhirnya kami membeli daun pepaya dan bayam untuk dimasak urap. Wajah kami sumringah membayangkan enaknya makan urap saat sore di musim hujan.

Tapi nyatanya urap buatan Ruwita tidak menyembuhkan kangenku pada masakan Ibu. Enak memang, bahkan lebih lengkap dibandingkan punya Ibu. Urap Ruwita diberi ebi goreng dan tauge. Namun tetap tidak bisa memenuhi kerinduan pada urap daun lamtoro Ibu.

“Rasanya beda ya Mas,” Ruwita memasukkan sesendok nasi dan urap. Lalu meraih kerupuk rambak.
“Setiap tangan punya takaran sendiri, Ruwita.”

Ruwita mengangguk, wajahnya belum terpuaskan.
“Nanti kalau ke rumah Ibu, aku mau belajar buat urap daun lamtoro.”

***

Saat kuceritakan kepada Ibu perihal kegagalan kami menjiplak urap daun lamtoronya, Ibu justru tertawa dan menanyakan apa aku dan Ruwita benar-benar merindukan urap daun lamtoro buatannya. Maka kujawab kami hanya ingin meniru resep Ibu, tapi gagal. Ada yang timpang di urap buatan Ruwita.

Nggak mungkin dikirim ke Jogja kan?”
“Tidaklah! Nanti saja kalau kita ke rumah Ibu, biar Ruwita puas makan urap daun lamtoro Ibu.”
“Kapan?”

Pertanyaan kunci yang buntu. Aku sendiri tidak bisa menjanjikan itu. Pekerjaan di kantor terasa tidak pernah surut. Libur akhir pekan disibukkan dengan acara kondangan, ke luar kota, atau kadang Ruwita mengajak liburan. Belum ada waktu longgar untuk ke rumah Ibu.

“Nantilah,kalau ada liburan panjang.”
“Ibu juga kangen.”

Kurasakan ada nada kecewa dari suara Ibu. Tapi sejenak kemudian suara Ibu menggebu mengisahkan kondisi rumah. Ibu menceritakan sawahnya sedang diladoni untuk padi. Pisang di belakang rumah sudah mulai berbuah. Aku juga telah melewatkan panen mangga golek di pekarangan belakang kegemaranku sejak kecil.

Seperti bumi, Ibu memang selalu akan merangkul anak-anaknya.

***

Waktu berlari lebih cepat. Ketika laporan akhir tahun menumpuk, 24 jam di kantor berlari lebih cepat dari semestinya. Capek menjebak lebih ketat. Ruwita sendiri tidak berani mengangguku. Selama itu pula aku masih merindukan urap daun lamtoro Ibu.

Hingga suatu sore, aku pulang agak terlambat. Lima menit sebelum azan magrib. Mobil kuparkir di halaman. Aku berjalan masuk. Kulihat sandal wanita yang berbeda. Ruwita menyambutku dan berkata, “Mas, Ibu datang dan sudah masak urap daun lamtoro.”

Kusaksikan Ibu keluar masih mengenakan mukena bersiap salat. Tidak berubah. Hanya kusaksikan wajah Ibu lebih tua dan bercahaya. Malam ini aku akan menikmati urap daun lamtoro Ibu. Rasa rinduku terbayar tuntas. Mungkin rindu pada urap daun lamtoro atau rindu pada sosok Ibu.(*)

Catatan: Lamtoro (Leucaena leucocephala) di beberapa daerah disebut dengan petai cina atau petet.

Advertisements

9 thoughts on “Urap Daun Lamtoro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s