Jurnal

Jangan Meniru Kepiting

Ini adalah tulisan refleksi, bukan maksud menghina atau menjatuhkan kelompok tertentu. 

“Akan ada pajak kepenulisan 2,5% ke organisasi setiap karya yang dimuat media massa atau menang lomba.” Kira-kira demikianlah yang disampaikan salah seorang anggota baru Forum Lingkar Pena (FLP) Yogyakarta dengan nada sedikit takjub. Anggota baru FLP tersebut baru saja mau belajar menulis dan hendak mencari komunitas kepenulisan yang bisa diajaknya intens berdiskusi. Mendengar hal itu, saya terhenyak dan mengelus dada. Bagaimana mungkin sebuah organisasi kepenulisan memberlakukan aturan semacam ini? (Meski pasca tulisan ini saya menyadari, setiap organisasi punya wewenang penuh mengatur organisasinya. Seperti bagaimana orang punya otoritas mengatur bagaimana menata desain interior rumahnya. Orang luar tidak punya sekuku hitam pun atas rumahnya sendiri. Saya sadar itu.) Selayaknya organisasi kepenulisan lain, seharusnya yang diutamakan adalah progres kualitas karya anggota bukan justru menarik uang pangkal tiap ada karya dimuat atau menang lomba. Honor media massa atau hadiah kemenangan yang sudah dipotong pajak sebesar 5-6% oleh keuangan setiap media massa dan panitia lomba harus kembali disunat sebesar 2,5% oleh FLP Yogyakarta. Ini saya analogikan seperti seorang guru atau kepala sekolah yang tiba-tiba meminta 2,5% dari besaran gaji bulanan siswanya. Bukankah ini aneh?

Saya yang kebetulan memiliki beberapa teman pengurus FLP Yogyakarta, mencari tahu kebenaran berita tersebut. Dan jawabannya jauh lebih membuat saya mengelus dada, “FLP (saya maknai sebagai persoalan dana) dihidupi oleh anggotanya.” Kemudian dijawab lagi sama teman saya bahwa besaran itu bukan bersifat wajib, sekadar himbauan dan sampai sekarang belum pernah terealisasikan. Bukan masalah besaran 2,5% yang saya herankan, tapi mengapa FLP Yogyakarta harus menganjurkan anggota memberi sumbangan. Ini membuat saya berpikir, apa tidak ada hal lain yang lebih penting selain sumbangan untuk diurus oleh organisasi sebesar FLP Yogyakarta.

Seorang guru sekaligus sastrawan, Umbu Landu Paranggi adalah kontradiktif dari kasus FLP ini. Bukan hanya puisi-puisinya saja yang harum di dunia sastra Indonesia, kisah Umbu yang tidak pernah diketahui dimana rumah aslinya dan bagaimana sikap rendah hatianya juga menghenyakkan mata pembaca. Umbu mengajari banyak sastrawan di sekitaran Maliboro Yogyakarta. Penyair yang digelari Presiden Malioboro itu tidak maruk popularitas. Kita jauh lebih mengenal murid-muridnya ketimbang nama Umbu. Dia tidak pernah menarik honor dari murid-muridnya. Padahal muridnya seperti Emha Ainun Najib, Ebiet G Ade, Linus Suryadi AG tentu akan ikhlas andai Umbu menerapkan hal serupa dengan FLP Yogyakarta. Dan Umbu pun berhak dan pantas ketika menarik 2,5% atau lebih sebagai penghargaan atas ilmu yang diberikannya.

Karena Umbu bukan organisasi yang butuh dihidupi oleh murid-muridnya. Benar. Tapi apa Umbu dan FLP Yogyakarta tidak memiliki kesamaan? Bahwa keduanya sedang menyebarkan semangat menulis dan mendidik anak-anak muda yang sedang mencari wadah. Nafsi-nafsi dalam belajar menulis tentu lebih susah bila dibandingkan dengan memiliki kelompok atau organisasi kepenulisan yang lain. FLP Yogyakarta, sepengetahuan saya, memang memiliki alur kaderisasi dan kegiatan pelatihan menulis yang rutin. Cara menjadi anggota FLP Yogyakarta pun tidak seperti kelompok lainnya. Harus melalui seleksi cukup ketat. Maka sudah bisa dipastikan raw material yang masuk FLP Yogyakarta bukan orang sembarangan. Mereka sudah memiliki kemampuan menulis bagus dan semangat dakwah besar.

FLP sendiri memiliki tiga poros penggerakkan sendi-sendinya, yaitu cakap berorganisasi, cakap menulis, dan cakap dalam dunia islam. Ketiganya memang seharusnya seimbang. Sehingga orang-orang FLP harus adalah seorang penulis yang bernuansa islami dan sekaligus organisatoris.

Di Yogyakarta sendiri menjamur kelompok diskusi kepenulisan dan sastra selain FLP. Sekadar menyebutkan contoh, ada Masyarakat Bawah Pohon, Lesehan Sastra Kutub, Rumah Budaya EAN, Rumah Budaya Tembi, SPSS, Kampus Fiksi DivaPress, dll. Tapi saya sendiri baru mendengar adanya organisasi atau kelompok kepenulisan yang menarik pajak 2,5% baik itu wajib maupun anjuran dari FLP Yogyakarta.

Saya berprasangka positif bahwa ini adalah cara bagaimana FLP Yogyakarta merangsang anggotanya untuk meningkatkan produktivitas. Meski saya belum menemukan kaitan logis antara keduanya. Apakah anggota FLP Yogyakarta akan terpcau semangatnya setelah mengetahu bila tulisannya dimuat akan ada sumbangan 2,5% ke kas FLP Yogyakarta? Kalau ini maksudnya, tentu harus diperbaiki caranya. Cara yang kurang baik meski tujuannya sangat mulia, bisa berimbas buruk.

Seharusnya FLP Yogyakarta lebih fokus terhadap peningkatan kualitas dan kuantitas setiap anggota. Semua orang sadar, honor dari menulis adalah bonus dari kerja keras. Dinamai bonus karena tidak menjadi tujuan utama. Seperti tujuan pertama di FLP adaah dakwah lewat pena. Maka kualitas baik yang diimbangi produktivitas adalah kunci utama eksistensi sebuah kelompok atau organisasi kepenulisan.

Fenomena penarikan pajak kepenulisan 2,5 % ini membuktikan FLP Yogyakarta sedang tidak fokus dalam menggarap anggotanya menjadi cakap dalam menulis. FLP Yogyakarta hanya fokus dalam membuat anggota menjadi seorang organisatoris. Pengurus FLP Yogyakarta terfokus bagaimana menghidupkan kelompok mereka sendiri dan menutup mata terhadap produktivitas anggota. Buat apa dinamakan kelompok kepenulisan kalau orang-orangnya sibuk berorganisasi tanpa pernah menulis.

Saya berharap semoga yang dilakukan FLP Yogyakarta ini bertujuan untuk merangsang, bukannya menjadi hal yang mencoreng eksistensinya. Jangan sampai seperti kawanan kepiting. Tahukah anda apa kebiasaan buruk seekor kepiting dalam satu kawanan? Atau pernahkan anda mengamati bagaimana perbedaan cara orang berjualan kepiting dan lele? Meski sama-sama menjual seratus ekor, penjual lele lebih tenang. Dia hanya meletakkan seratus ekor kepiting dalam wadah ember. Sebaliknya penjual seratus ekor kepiting harus susah payah mengikat capit-capit kepiting satu demi satu. Mengapa? Ketika seekor kepiting hendak memanjat keluar ember, maka kepiting lain bukan mendukung tapi saling menjegal dan menghalangi. Mereka tidak saling mendukung, tapi saling sikut saling dengki. Semoga FLP Yogyakarta tidak bersikap seperti kepiting terhadap anggotanya. Karena saya masih teringat bagaimana Taufiq Ismail mengatakan FLP adalah kepingan surga yang diberikan Allah, kepada para penulis hebat.(*)

Advertisements

4 thoughts on “Jangan Meniru Kepiting

  1. Di paragraf terakhir ada penulisan yang keliru,

    Meski sama-sama menjual seratus ekor, penjual lele lebih tenang. Dia hanya meletakkan seratus ekor kepiting dalam wadah ember.

    Dibeberapa cerpenmu juga masih ada kekeliruan penulisan, semoga bisa menjadi koreksi… Sukses Guh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s