Cerpen

Insomnia

(REPUBLIKA, 04 Januari 2015)
Cerpen ini adalah semacam sebentuk doa untuk korban jatuhnya Air Asia 28 Desember 2014 lalu

Ilustrasi Rendra Purnama

“Anda benar-benar terserang insomnia akut. Seminggu tidak tidur itu batas maksimal tubuh manusia. Anda harus tidur,” kata Dokter Kamal. Pendingin udara menggelontorkan udara di suhu 20 derajat dengan pengharum ruangan aroma citrus.

Hamdani duduk termangu mendengar semua penjelasan Dokter Kamal. Tubuhnya lesu tidak bergairah. Wajahnya pucat karena kurang tidur.

“Kalau insomnia ini semakin parah, kesehatan Anda akan terganggu. Yang lebih parah adalah kerusakan organ dalam, saya sarankan Anda mengurangi pekerjaan dan menenangkan pikiran.”
“Sebenarnya saya ingin sekali tidur, tapi saya tidak berani tidur, Dok. Pikiran saya pun tenang, Dok,” Hamdani mengangkat muka dan menunjukkan lingkar hitam di matanya yang melebar.

“Lantas apa penyebab Anda tidak bisa tidur?”
“Saya takut tidur?”
“Takut?” Dokter Kamal mendecap heran. Bagaimana mungkin ada orang waras yang ketakutan untuk tidur? Padahal, banyak orang yang bermalas-malasan dan tidur saja seharian. Hamdani pengecualiannya.
“Bagaimana bisa?”
“Setiap saya tidur saya mimpi buruk. Makanya, saya takut tidur, Dok.”
“Sudah berapa lama?”
“Saya benar-benar takut tidur seminggu ini.”
“Baiklah, saya beri anda vitamin dan beberapa obat penenang. Agar pikiran anda nyaman,” Dokter Kamal menuliskan resep dan menyerahkan kepada Hamdani untuk ditebus di apotek rumah sakit. Dokter Kamal juga menyarankan agar makan dua butir apel hijau sebelum tidur. Kandungan vitamin dan aroma apel akan membuat pikiran tenang dan mudah terlelap ketika tidur.

Hamdani melangkah keluar dari klinik Dokter Kamal dengan santai. Langkahnya tegap, tapi tampak lemah karena lelah menanggung beban.

***

Mimpi-mimpi itu datang seperti bohorok di tengah padang kenyamanan. Mimpi baik datangnya dari Allah dan mimpi buruk datangnya dari setan. Mimpi yang terjadi di alam khayalan, kemudian menjelma menjadi kenyataan di kehidupan sehari-hari Hamdani. Seolah mimpi yang diturunkan kepada Hamdani adalah cuplikan kejadian masa depan yang digratiskan oleh Allah kepadanya.

Mimpi pertama yang tida di tidur Hamdani adalah mimpi bertemu seorang gadis bernama Nurjannah. Hamdani duduk di bangku tunggu kereta. Kaki Hamdani disilangkan di kursi sambil membawa koran pagi hari. Lalu seorang wanita tiba-tiba menubruk kaki Hamdani. Wanita itu terjatuh dan terhamburlah semua isi tas yang ditenteng. Kemudian mereka berkenalan dan saling bertukar nomor telepon.

Mimpi itu menjadi nyata tiga hari kemudian. Hamdani mengambil perjalanan liburan ke Yogyakarta naik kereta dari Gambir. Tanpa disadarinya semua yang dilakukan sambil menunggu kereta berangkat pagi itu, persis dengan yang dilakukannya di alam mimpi beberapa waktu lalu. Lalu kejadian yang pernah dialami Hamdani di mimpi terjadi di hadapan. Dia membaca koran, ditubruk wanita bernama Nurjannah, bertukar nomor telepon.

“Sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini,” kata Hamdani pada Nurjannah saat duduk bersama di bangku tunggu,
“Maksudmu de javu?” tanya Nurjannah.
“Bukan, beberapa waktu lalu aku mimpi kejadian ini. Dan sekarang ini menjadi kenyataan,” Hamdani serius menceritakannya.
“Ah, kamu berlebihan saja. Tapi aku gembira, berarti aku lebih dulu masuk ke mimpimu sebelum kita bertemu.” Hamdani dan Nurjannah saling pandang dan tawanya berderai sepanjang perjalanan ke Yogyakarta. Enam bulan kemudian mereka menikah.

Selepas itu berturut-turut Hamdani memimpikan hal-hal yang akan terjadi hari-hari selanjutnya. Dia tidak jadi naik bus way suatu pagi, karena dia ingat mimpinya bahwa akan ada kecelakaan bus way yang menewaskan semua penumpang. Dan benar, setibanya di kantor, Hamdani membaca portal berita tentang sebuah bus way yang menabrak mobil dan meledak. Semua penumpang meninggal. Tengkuk Hamdani meremang seketika.

“Apakah mimpi-mimpiku ini adalah semacam tanda dari Allah?’ gumam Hamdani seorang diri. “Tapi aku bukan orang salih yang mimpinya bisa diartikan wahyu? Apa ini pekerjaan setan yang mencoba mengusik keimananku?”

Hamdani mencoba menikmati semua hal yang didapat gratis dan sudah tahu lebih dulu apa yang akan terjadi esok hari. Tapi makin lama, mimpi-mimpi itu berubah menjadi gangguan dalam hidup Hamdani. Rasanya menjadi penonton belaka, andai tahu apa yang akan terjadi namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya sebagai penonton. Andai adegan yang akan dilihatnya bahagia, Hamdani ikut bahagia. Sebaliknya, saat adegan mengerikan terpampang Hamdani menjadi orang paling curang di dunia.

“Mengapa harus diberi tahu yang terjadi di masa depan, kalau aku tidak mampu mengubahnya?” protes Hamdani di tengah salat malamnya. “Duh Allah, apa engkau hendak menyiksaku dengan ramalan-ramalam yang menakutkan ini?”

Mimpi-mimpi Hamdani selanjutnya adalah mimpi-mimpi yang mengerikan. Hamdani melihat banjir besar yang menewaskan banyak orang, tanah longsor yang menimpa satu kampung, gunung yang lama mati tiba-tiba meletus dan merenggut banyak nyawa orang, atau ombak besar yang menerjang sebuah Ferry.

Keringat Hamdani membanjiri sekujur badan. Kaos dan celananya kuyup keringat. Dadanya bergemuruh. Pikirannya berkeliaran entah kemana. Menggigil. Apa yang harus dilakukannya dengan mimpi-mimpi yang sedemikian menyeramkan itu?

“Mimpi itu bunga tidur,” kata Nurjannah. “Nggak usah dipikir dalam-dalam. Nanti kamu sakit sendiri,” tambahnya.
“Tampi mimpi itu begitu nyata. Aku bisa mendengar jeritan korban dan merasakan kesedihan mereka.”
“Aku juga bisa merasakan demikian kalau sedang nonton film,” komentar Nurjannah begitu enteng.
“Tapi mimpi-mimpiku sebelumnya menjadi kenyataan,” Hamdani mencoba menenangkan pikirannya. Nurjannah sudah bangun dari kasur dan mengucek-ucek mukanya agar tampak lebih segar.
“Persentasenya?”
“100 persen.”
“Sudah-sudah. Bencana bisa terjadi dimana-mana. Mungkin mimpimu itu akan terjadi di ujung bumi yang begitu jauh dari kita. Tidur dan bangun itu atas penjagaan Allah,” imbuh Nurjannah.

Hamdani mencoba menenangkan pikiran dengan melafazkan doa bangun tidur.

Tapi beberapa bulan kemudian Gunung Kelud meletus, Bandung dan Jakarta banjir, Aceh banjir bandang, Banjarnegara longsor. Hamdani kembali teringat mimpi-mimpinya yang hampir sama. Mimpinya kembali menjadi kenyataan dan membuat Hamdani tidak berhenti menyesali diri.

Sejak itulah Hamdani memutuskan untuk tidak tidur. Itu bentuk protes kepada Allah agar tak usah lagi memberinya cuplikan kejadian apapun di masa mendatang. Hatinya begitu rapuh menyaksikan kesedihan lebih dulu dari kebanyakan orang. Tubuhnya tidak kuat. Agar tidak kedatangan mimpi, maka Hamdani tidak mau terlelap. Meski istrinya, Nurjannah terus menasihati agar mengistirahatkan tubuhnya.

***

“Bagaimana, saran Dokter Kamal?” tanya Nurjannah.

Hamdani terduduk. Kemudian menggeleng. Nurjannah menyodorkan segelas teh manis kegemaran Hamdani. Hamdani menyeruputnya sedikit, sebelum ditelakkan begitu saja.

“Aku harus memaksa diriku untuk tidur, begitu kata Dokter Kamal. Itu satu-satunya terapi agar aku bisa lepas dari insomnia menjengkelkan ini.”
“Benar itu, tubuhmu punya hak untuk istirahat,” tambah Nurjannah.
“Tapi, aku tidak mau kedatangan mimpi-mimpi penuh ramalan itu.”
“Berdoa dahulu. Agar tidurnya nyenyak dan tidak diganggu setan,” Nurjannah menyiramkan kata-kata penuh penenangan.
“Aku lebih enak dihantui bayang-bayang masa silam, daripada harus dipertontonkan masa yang akan datang. Itu menyeramkan.”
“Sudahlah, tidurlah sekarang. Kamu harus istirahat, aku akan menungguimu.”

Hamdani mengeluarkan beberapa obat yang dibelinya dari apotek. Vitamin dan obat penenang agar Hamdani mudah terlelap tidur. Segelas air putih diteguk habis Hamdani sambil menelan beberapa pil sesuai anjuran Dokter Kamal.

“Di kamar, ya?” Nurjannah menyarankan Hamdani.
“Tidak usah. Di sini saja. Mungkin kalau di sofa aku tidak akan kedatangan mimpi,” Hamdani kemudian meluruskan kaki dan mengganjal kepala dengan batal kecil. Nurjannah menurunkan suhu pendingin ruangan dan membawakan selimut untuk Hamdani.

“Kamu jangan pergi, ya?” pinta Hamdani. “Kalau mimpi buruk itu datang lagi, aku akan berteriak dan segera bangunkan aku.” Hamdani masih saja mengkhawatirkan mimpi-mimpi itu.

Hamdani menutup matanya. Badannya terus dibolak-balik mencari posisi pas untuk terlelap. Lima belas menit Nurjannah menunggui dan menepok-nepok paha Hamdani seperti seorang bayi. Beberapa menit kemudian dengkuran halus Hamdani mulai terdengar. Nurjannah menghela napas lega.

Lalu Hamdani ditinggal Nurjannah ke dapur menyiapkan menu makan siang.

“Allahu akbar!” teriak Hamdani dan seketika bangun.
“Ada apa?” tanya Nurjannah yang tergesa-gesa berlari dari dapur sampai lupa masih memegang wortel dan pisau.

Hamdani menangis kembali. Air matanya lebih banyak. Hamdani tidak malu harus tergugu di depan istrinya.

“Mimpi lagi?” tanya Nurjannah. Hamdani mengangguk.
“Meludah ke kiri tiga kali dan ta’awuz,” saran Nurjannah.

Segelas air putih diteguk Hamdani.
“Mimpi apa?”

“Aku duduk di kabin pesawat. Sejenak kemudian, pilot memberi informasi pesawat akan berguncang karena melewati gugusan awan amat besar. Penumpang harus bersedia dengan sabuk pengaman. Guncangan hebat terjadi. Sirine meraung di tengah-tengah kabin. Keriuhan dan kecemasan mengudara bersama mata-mata orang yang seolah melihat malaikat maut di hadapan mereka. Lalu gelap. Dan tidak ada suara lagi. Pesawat itu jatuh.”

Nurjannah diam. Hamdani kembali menangisi kekerdilannya karena tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mimpinya. Apalagi mengubah yang akan ditakdirkan Allah.

“Kita harus bagaimana?” tanya Hamdani sambil terisak.

Tidak ada jawaban. Hanya suara berita di televisi yang mengabarkan peristiwa mengerikan menguasai ruangan.(*)

28 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s