Jurnal

Sarapan

Teman saya berkewarganegaraan Filipina sedang belajar Bahasa Indonesia di INCULS (The Indonesian Language and Culture Learning Service) Universitas Gadjah Mada. Suatu siang dia bertanya, apa arti dalam Bahasa Indonesia untuk breakfast, lunch, dan dinner. Itu pertanyaan yang mudah. Saya jawab, sarapan atau makan pagi untuk breakfast, makan siang untuk lunch, dan makan malam untuk dinner. Teman saya mencatatnya dalam notes kecil setelah memastikan tidak ada huruf yang salah didengarnya. Tak seberapa lama kemudian dia mendongak dan kembali bertanya, apa tidak ada kata khusus dalam Bahasa Indonesia untuk lunch dan dinner, seperti sarapan untuk breakfast?

Siang itu saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Hanya saya sampaikan tidak ada kata khusus untuk keduanya. Memang tidak ada kata khusus yang mewakili lunch dan dinner dalam Bahasa Indonesia, selain frase makan siang dan makan malam. Yang secara pembentukannya dapat ditelusuri karena lunch atau dalam bahasa kita ‘makan siang’ adalah makan yang dilakukan pada siang hari. Makan (di) siang hari. Frase ‘makan malam’ bermakna makan yang ada di malam hari yang orang Barat menyebutnya dinner. Hanya makan (di) malam hari.

Apakah dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah tidak ada satu kata pun yang mampu mewakili lunch dan dinner? Kalau memang tidak ada, mengapa? Atau memang nenek moyang kita hanya mengenal sarapan?

Tradisi Makan di Negara Kita

Sebagian besar nenek moyang kita adalah masyarakat agraris. Hal ini secara langsung berpengaruh terhadap budaya makan di negeri ini. Mereka makan ala kadarnya, dalam porsi yang besar, dan senang makan bersama-sama. Bahkan beberapa daerah masih melestarikan budaya makan seperti ini. Kita masih dapat menemukan tradisi kenduri, sedekah desa, bahkan di beberapa pesantren tradisional di Jawa Timur masih menggunakan makan berjamaah, di atas daun pisang atau nampan, dengan kaki bersila dan tanpa sendok.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan budaya makan di barat. Orang-orang makan dengan piring, sendok, pisau, dan grapu. Porsi sangat minimalis, memiliki aturan di meja makan atau table manner, bahkan memiliki urutan khusus saat makan malam –appertizer, main course, dan desert. Di negara ini hanya ada satu kata, makan, ya makan.

Nenek moyang menjadikan makan sebagai budaya yang tidak terkungkung aturan. Bukan hanya persoalan cara, berapa kali sehari dan kapan waktu pastinya pun dilakukan sesuka hatinya.

Para petani hanya membutuhkan sarapan sebelum mereka berangkat ke sawah dan ladang. Tidak melulu makan nasi dan lauk lengkap, bisa dengan ubi, jagung, atau umbi-umbian lainnya. Waktu makan selanjutnya adalah ketika para petani pulang dari sawah. Tidak selalu antara pukul 12.00-13.00. Kapan pun mereka tiba di rumah, maka waktunya kembali mengisi perut. Itu sudah otomatis. Karena setelah istirahat dan makan, mereka akan kembali ke sawah melanjutkan pekerjaan. Dan makan ketiga adalah sore ketika para petani jam laut atau jam pulang kerja. Sebelum malam tiba, mereka akan makan malam. Budaya makan di kaum agraris lebih tidak mengenal waktu, asal lapar mereka makan. Maka mereka juga mengenal istilah mindo atau makan untuk kedua kalinya di siang hari atau malam hari.

Masa penjajahan membuat bangsa ini didera kelaparan. Sangat susah untuk bisa makan tiga kali sehari. Hanya orang-orang priyayi di lingkungan keraton yang melakukan makan tiga kali sehari. Sedangkan orang-orang biasa, wong cilik lebih banyak menanggung lapar dalam keseharian. Mereka makan apa saja yang lunak dan bisa dikunyah. Mereka makan bambu muda atau rebung, mereka makan daun pakis, aneka dedaunan.

Nenek moyang kita tidak mengenal makan tiga kali sehari, selayaknya kita sekarang.

Pengaruh budaya kolonialisme

Kolonialisme dan kehadiran orang Belanda membuat akulturasi budaya terjadi di mana-mana. Salah satunya dalam budaya makan di negeri ini. Masyarakat mulai mengenal sendok dan mulai mengenal makan tiga kali sehari. Akulturasi semakin kentara ketika kita menengok ke dalam lingkungan keraton. Di Keraton Solo, misalnya, banyak menu kesukaan keluarga keraton yang merupakan hasil penggabungan budaya Belanda dan Jawa. Sebagai contoh Selat Solo yang merupakan hasil akulturasi bistik dengan citarasa masakan Jawa.

Budaya makan tiga kali sehari dengan waktu yang pasti mulai menjalar di kehidupan keluarga keraton dan kelak menular ke masyarakat luas. Mereka mulai mengenal adanya waktu khusus untuk makan siang di sela-sela kerja. Mulai dikenalkan dengan makan di kala malam dengan menu spesial.

Maka sangat wajar ketika kita tidak akan menemukan frasa khusus untuk lunch dan dinner di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Karena nenek moyang kita hanya tahu sarapan sebagai menu wajib dan pasti sebelum mereka bekerja.

Apa perlu kita membuatnya? Mungkin saja.

Tapi setidaknya ketika saya kesulitan menjelaskan mengapa tidak ada frasa khusus untuk lunch dan dinner, saya akan mengingat bahwa nenek moyang dahulu kesulitan makan tiga kali sehari dan hanya membutuhkan sarapan sebelum bekerja. Dan ini juga sebagai pengingat kepada kita, generasi yang bisa dengan mudah makan tiga kali sehari bahkan lebih bahwa makan bukan sekadar urusan mengisi rongga perut yang kosong belaka. Pendahulu kita hanya sarapan untuk bekerja di ladang. Makan sebelum bekerja. Makan untuk kerja.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s