Film · Jurnal

Berubah Menjadi Pendekar Tongkat Emas “Hiyah!”

Nunggu PTE dimulai, mengunyah "Aruna dan Lidahnya" Laksmi Pamuntjak
Nunggu PTE dimulai, mengunyah “Aruna dan Lidahnya” Laksmi Pamuntjak

Mengapa saya ingin menonton film ini selagi masih di bioskop? Saya tidak hendak menunggu di DVD, apalagi di warnet secara ilegal kalau memang itu film benar-benar bagus. Saya tidak ingin mengulang ketinggalan saya atas film bagus Tabula Rasa, yang baru saya tonton setelah film tersebut masuk daftar tayang di Jogja Asian Film Festival ke-9 awal Desember lalu. Kemudian alasan lain adalah trust saya pada beberapa orang yang ada di layar maupun di balik layar atas Pendekar Tongkat Emas. Ada pemain-pemain yang bukan sembarangan, Christine Hakim, Landung Simatupang, Slamet Rahardjo, Nicolas Saputra, Reza Rahadian dengan kemampuan akting tidak diragukan. Bahkan aking-akting yang belum terlalu senior seperti Eva Celia, Tara Basro, dan si imut Aria Kusumah yang aktingnya jenaka.

PTE + Aruna & Lidahnya
PTE + Aruna & Lidahnya

Selain itu kita juga tidak meragukan Mira Lemana dan Riri Reza, Ifa Isfansyah yang pernah membikin Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari menjadi nyata. Serta dua penulis cerpen, sastrawan besar Seno Gumira Ajidarma dan Jujur Prananto membuat saya tidak boleh ketinggalan pada film ini. Maka lengkap sudah bahwa film ini bukan sekadar film yang biasa-biasa saja. Apalagi tema yang diangkat lumayan tema fresh dan baru.

Bisa ditengok trailernya yang kece, di mari

Film ini membawa saya pada kenangan masa kecil saya ketika serial laga dan kolosal masih mudah ditemui di layar kaca. Dan ternyata efeknya masih sama. Ketika kecil saya berkhayal menjadi Wiro Sableng dengan 212 dan kapak nagabumi-nya atau menjadi Si Buta dari Gua Hantu dengan membawa tongkat yang kupatahkan dari batang ubi kayu. Selesai menonton saya pengen jadi murid Guru Cempaka atau menjadi murid Merah Dara. (Kalau pengen jadi Elang terlalu mainstream, padahal pengen dapat kejutan akhir antara Elang dan Dara di akhir film.)

Dunia persilatan seperti lorong gua, panjang dan gelap. Banyak ancaman kematian. Tapi di ujung sana akan ada cahaya… disadur kata Cempaka, dengan perubahan. Kalimat ini menjadi pembuka dan akhir dalam film, seperti dijadikan highlight yang harus dikenang penonton. Kalau dicermati hidup juga demikian, bukan? Lorongnya panjang dan ancaman selalu ada, dengan selalu keyakinan bahwa ada cahaya penyelesaian.

Manusia seperti Biru dan Gerhana yang tidak puas dan merasa dirinya paling tinggi akan selalu merebut hak-hak orang lain, melegalkan semua hal agar nafsunya terpenuhi, even itu membunuh gurunya Cempaka atau Pemimpin Perguruan Sayap Merah yang sudah memberinya pertolongan. Sedangkan Dara dan Angin adalah simbol orang benar dan tidak punya kemampuan, yang harus ikhlas ditindas bahkan dibinasakan. Tapi kebenaran, seperti menggenggam bara api, panas tapi akan selalu ada pegangan. Muncullah pertolongan yang sebenarnya adalah orang dekat dari Cempaka. Siapa hayo? Dialah Elang, si Nicolas Saputra, yang pas si doi muncul mandi di sungai, deretan embak-embak di belakangku histeris. (padahal aku ngarep mereka histeris, karena aku duduk di depan mereka). Apa hubungan Cempaka, Dara, dan Elang? Lalu sebenarnya apa kaitannya dengan Tongkat Emas? Tontonlah!

Kata si Angin, saat bertarung dengan Biru dan Gerhana menjadi kunci yang indah di film ini. Yang berjiwa besar, tidak mengharapkan apapun meski mereka mampu mendapatkannya. Sebaliknya, yang berjiwa kerdil berambisi mendapatkan segala padahal sebenarnya tidak mendapatkan apapun. (tentu dengan saduran)

Kehadiran Elang dalam film membuat saya bertanya dua hal. Pertama kalau memang dia dan Naga Putih (siapa Naga Putih? Tontolah filmnya!) bersumpah tidak mau terlibat dalam urusan persilatan dan perguruan silat milik Cempaka, mengapa dia masih saja mendapatkan update tentang dunia Cempaka? (ini kayak mau move on dari mantan tapi masih saja ngepoin timeline dan FB-nya). Pertanyaan kedua, apa sebenarnya efek buruk ketika Elang terlibat urusan Cempaka? Matikah? Dikutuk pada dewakah? (Ini juga belum terjawab secara jelas hingga akhir, atau dijawab secara tersirat, atau mungkin ini disimpan untuk dilanjutkan ke sesi kedua. Pengen tahu? Lekas ke bioskop!)

Masih ragu mau nonton? Saya merasa ini adalah warna sendiri di film Indonesia. Tidak berlebihan dalam memberi efek (saya tidak membayangkan akan jadi ala sinetron-sinetron persilatan di televisi, kalau terlalu berlebihan diefekin), kemudian cerita persilatan yang jarang diangkat film sekarang-sekarang ini. lain itu juga, pertempuran antara Elang dan Biru, Dara dan Gerhana di akhir-akhir adalah part yang tidak boleh berkedip nontonnya. Nggak nyangka mereka bisa berlaga sedemikian keren. (Duh Dik Eva Celia cantikmu makin membuatku luka). Selain itu, panorama settingnya sangat indah. Merinding kalau sudah ditampakkan padang rumput luas, air laut jernih dengan pasir putih, laut senja, atau birunya langit dengan panorama bersih.

Satu hal yang selalu saya amati sepanjang movie adalah kain-kain yang indah para pemain. Eva Celia memakai sabuk dengan motif Sumba yang menarik. Pakaian Biru, Gerhana, dan pendekar lain yang mirip lurik dari Klaten, yang sebenarnya adalah kain tradisional NTT. Kemudian gordin lebar di perguruan Sayap Merah, atau yang dipakai pembungkus tongkat emas juga punya motif yang indah.

Seno Gumira Ajidarma (saya berharap beliau menggubah skenario film ini menjadi novel, pasti lebih seru) dan Jujur Prananto benar-benar membius. Kok bisa? Tidak ada kata yang tiba-tiba terdengar sangat modern, juga tidak terjebak pada dunia ke-kisanak-an. Sehingga pas. Kejelian juga tampak dari penata busana, saya sangat heran bagaimana mereka bisa lebih memilih selop tertutup dengan warna dasar ketimbang pakai sepatu sandal. (Kalau ingat, Wiro Sableng memakai sepatu sandal di serialnya). Jadi ini lebih detail dan nggak terkesan modern. Klasik dan kolosalnya kena banget.

So? Film di penghujung Desember yang bagus dan layak ditonton. Kalau kamu bangga nonton Interstellar, The Hobbit, Mockingjay, atau Big Hero 6, seharusnya kamu juga suka nonton Pendekar Tongkat Emas.

Kemampuan tinggi seseorang bukan untuk sekadar meraih kemenangan, yang itu berarti membunuh lawan. Tapi kemampuan tinggi harus dipergunakan untuk membela orang tertindas.
Love this Pendekar Tongkat Emas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s