Cerpen

Laila Memeram Luka

(MAJALAH UMMI, Edisi Juni 2014)

Masjid mulai sepi. Jamaah lelaki dan wanita sudah berjalan menjauh meninggalkan masjid. Yang tersisa hanya Kiai Mukafi khusyuk memutar-mutar tasbih di mihrab imam. Juga Laila, yang dengan nanar memerhatikan gerak-gerik Kiai Mukafi. Laila sudah mafhum, sebentar lagi Kiai Mukafi pasti akan pulang dan berpindah ke masjid kampung sebelah memberi pengajian rutin pekanan.

Laila terus saja mengamati dan berdoa. Berdoa? Bukan. Laila membenamkan rasa galau yang terus bergejolak di dadanya. Sesekali ia meringis. Perutnya melilit kelaparan. Lambungnya seharian tak berisi.  Nenek dan adiknya, Wika, di rumah, pasti lebih kelaparan.

Ditatapnya kotak amal yang catnya mulai kusam, berisi uang logam dan uang kertas hampir penuh. Gerendelnya tak terkunci. Tinggal membuka kotak itu, meraup uangnya. Tetapi mengapa Kiai Mukafi memperlama zikir dan doa. Laila sudah benar-benar kelaparan.

Kiai Mukafi mendeham dan beranjak berdiri, setelah melipat surban dan melingkarkannya di leher. Laila tergeragap kaget. Laila berpura khusyuk berdoa.

“Laila, belum balik?” Kiai Mukafi mendekat. Lampu 18 watt di celah mihrab dimatikan dengan tangan kiri sambil mendekati Laila.
“Belum Kiai. Sebentar lagi,” suaranya bergetar. Laila tak berani menatap mata Kiai Mukafi yang selalu digunakan membaca ayat suci. Laila takut ada binar dosa yang tertangkap matanya. Apalagi Laila tahu, menatap mata lelaki tak berikatan darah adalah tidak sopan bagi seorang perawan.

Kiai Mukafi memutar kepala. Melihat-lihat langit yang mulai menggelap. Kilat sesekali terpenjar seperti blizz kamera digital.

“Ada yang ingin kamu sampaikan, Laila?” Kiai Mukafi menyelidiki, ingin mengetahui.
“Tidak Kiai. Laila hanya ingin khusyuk mendoakan ibu di Malaysia dan kesehatan nenek yang mulai sepuh.” Laila terus menunduk.
Oiya, bagaimana kabar nenekmu. Wah sudah lama beliau tidak hadir di pengajian malam jumat. Sampaikan salam dan doa saya ke beliau. Kalau remantiknya sudah membaik, segera ke pengajian. Teman-temannya sudah kangen.”
“Ya Kiai,” Laila ingin mengikat perutnya yang terus bergejolak.
“Baiklah, terus berzikir. Saya pulang dahulu. Jangan lupa kunci pintu dan matikan lampu. Sekarang sering maling kotak amal masuk masjid. Assalamu’alaykum,” Kiai berlalu meninggalkan Laila.
Wa’alaykumussalam.” Laila merinding. Apa Kiai Mukafi mengerti maksud Laila? Apa wajah Laila sudah tercetak pencuri yang menyantroni tempat suci, masjid?

Laila memaju-mundurkan rencananya. Kotak amal masjid yang tidak pernah dikunci seperti melambaikan tangan kepada Laila. Laila tidak pernah mengerti, mengapa Allah menyajikan jalan mencari uang dengan cara demikian. Laila sudah banting tulang mencari uang. Sehari-hari menjadi buruh jahit hanya akan menambal-menyulam hutang, dan uang bulanan-uang LKS sekolah Wika. Itupun masih kurang. Urusan makan terpaksa dikesampingkan, kalau ada sisa rupiah dibelikannya nasi kucing seribuan, gorengan tempe, dan sesekali cakar ayam bacem seharga lima ratusan untuk bertiga. Tetapi kadang nasib hanya berujung khayalan, tidak jarang perut mereka akan semalaman keroncongan kelaparan.

Laila pernah mengikuti sunah Nabi Muhammad, dengan mengikat sebongkah batu dengan kain di perutnya ketika benar-benar lapar dan tidak ada uang. Laila bisa tahan, tetapi Wika yang baru kelas dua sekolah dasar terus merengek dan tidak mau terpejam meski sudah berkali-kali Laila berkata ,”Kalau tidur laparnya bakal hilang.” Terpaksalah Laila berjalan ke kebun pisang Kiai Mukafi, memetik sesisir pisang susu yang menguning.

Laila juga pernah merebus batu. Laila bukan orang siting, yang bermimpi mengubah batu menjadi bubur gandum. Laila ingin memberi harapan kenyang kepada Wika yang masih lugu. Tetapi batu sama sekali tidak menunjukkan perubahan menjadi bulir-bulir beras atau gandum roti. Juga tidak ada Umar Bin Khattab yang menguping Laila yang sedang merebus batu, kemudian memanggul sendiri sekarung beras untuk Laila. Terpaksalah, Laila kembali ke ladang Kiai Mukafi. Tidak mengambil sesisir pisang, tetapi kali ini mencerabut sebatang singkong. Diparut dan dibulat-bulat digoreng dengan minyak yang sudah lima kali dipakai ulang.

Laila melipat mukena. Berjalan ke arah pojok masjid. Laila ingin sekali meminta uang secara halal, tetapi ada rasa malu yang tidak bisa dihilangkan. Meminta-minta hanya pekerjaan manusia paling hina di dunia. Laila terus saja memerah keringat. Kalaupun harus ke ladang Kiai Mukafi, biarlah itu sesekali saja. Sesekali sehari. Ibunya yang pamit bekerja di Malaysia, tidak pernah memberi kabar bahagia. Kiriman uang tak pernah datang. berita kabar juga tak pernah sampai ke gubuk Laila. Laila terus saja berdoa agar tidak terjadi apa-apa, seperti berita-berita di televisi terhadap ibunya.

“Sebentar lagi hujan,” Laila mempercepat langkah. Sebelum hujan turun, tangan Laila meski menggigil berhasil membawa beberapa rupiah kertas dari kotak amal. Laila segera ke warung nasi, Laila ingin membelikan nasi campur untuk nenek dan Wika. Laila berjalan cepat melewati rumah Haji Muhidin yang sudah berkali-kali haji dan umroh. Rumah mereka hanya bersela sebuah ladang singkong, Laila terus saja. Menuju warung makan.

***

Tepat rintik pertama, Laila masuk rumah. Neneknya duduk diam di atas dipan sambil mengelus-elus kepala Wika.

“Makan, Nek. Bangunkan Wika!” Laila meletakkan mukena di kursi jati yang peliturnya mulai luntur. Kemudian mengelap wajahnya yang sempat terkena tempias hujan dengan sajadah.
Nenek menepok bokong Wika, terbangun.
“Dapat dari mana uangnya?” Nenek menggelung rambut putihnya.
“Tadi Bu Kiai memberi Laila uang,” Laila menyodorkan piring berisi bungkusan nasi.

Nenek dan Wika terlihat nanar menyaksikan butiran nasi yang lama tidak tersaji di meja, “Nenek ada simpanan rupiah di bawah bantal. Besok kamu belikan beras dan telur buat makan kalian.”
Laila kebingungan, dari mana neneknya mendapatkan uang?
“Nenek dapat dari mana? Kemarin Bu Kiai juga yang memberi saat aku disuruh mengerok punggungnya.”
Hujan lebat mengiringi mereka yang makan penuh diam.
“Mbak, kalau ibu di rumah pasti kita makan nasi tiap hari.” Wika tiba-tiba berkata usai mejilat sisa-sisa bumbu kuah di jarinya.
“Ibu pergi cari uang. Kalau pulang pasti bawa uang banyak.” Laila mengelus kepalanya dengan tangan kiri, tangan kanan masih belepotan nasi.
“Malaysia itu dekat Jakarta, Mbak?” Wika bertanya.
“Malaysia itu jauh dari sini…”
“Naik pesawat ya, Mbak?”
“Iya, naik pesawat.”
“Ke mana, Mbak?
“Entahlah. Mbak tak tahu. Ke negeri orang yang jauh.” Laila berpura-pura saja.

Wika terdiam usai makan. Tangannya mulai mengelus-elus bau ibunya yang tersisa di seprei dan bantal. Laila merapikan tiga pring kotor yang hanya itu yang dipunyainya. Nenek menggelung rambut pirangnya. Wika mulai mengantuk.

“Kenapa Ibu tak pernah kirim uang, Mbak?”
“Sudah! Jangan pikir macam-macam. Cuci tangan dulu. Langsung tidur.”

Hujan semakin lebat. Laila sudah mengeloni Wika. Laila tersenyum malam ini bisa membuat Wika tidur kenyang. Pastilah semakin nyenyak dengan suasana hujan yang menenangkan. Laila mulai digantungi kantuk. Suara geledek dan percikan kilat menembus sela-sela genting di atap rumahnya.

“Mau ke mana, Nek?” Laila terbangun segar, ketika melihat neneknya beranjak dari dipan.
“Mau ke sumur. Nenek kebelet. Jaga Wika, dia biasa terbangun kalau mendengar geledek.”
“Hati-hati, Nek. Bawa senter, takut mati lampu.”

Dalam hujan yang lebat, nenek jongkok di sumur. Dituntaskan hajatnya. Kemudian cebok dengan air hujan di ember plastik dekat sumur. Cebok terburu-buru hingga kakinya basah. Nenek kembali bangkit dan mulai melangkah. Bukan memasuki pintu dapur, melainkan menuju masjid yang gelap. Cahaya halilintar mengerjap gemerlap. Sesaat. Memberi arah pada  Nenek, di mana  letak masjid. Perempuan tua yang basah itu menggigil, menuju sudut masjid, mendekati kotak amal. Tergagap-gagap membuka tutupnya. Meraup uang di dalamnya.

“Mengapa tinggal sedikit?”

Di tutupnya kembali. Dengan tongkat di tangan kanan nenek membelah deras hujan. Langit sedang mengerjap-kerjap seperti sekarat. Kilat terus saja berkedip deras.

Duuuuarrrr!!!

“Duh Gusti…!”

Nenek tersambar petir tengah malam. Uang receh berhamburan di sekitaran tubuh nenek. Tubuh kaku terguyur hujan semalaman. Laila sedang meringkuk mengeloni Wika. Meski hatinya berdebar, matanya tetap terpejam kantuk.

***

Baru saat berangkat subuh, Kiai Mukafi dan para jamaah sembahyang menemukan jenazah nenek yang sudah gosong terbakar. Laila tercekat saat melihat nenek meninggal usai membawa uang jariyah kotak amal masjid.

“Kiai masih mau menyalati mayat orang tua ini?” Haji Muhiddin tiba-tiba berkata sinis. Laila yang menyaksikan seperti teriris kemudian ditetesi ratusan asam.

“Memang, kenapa?” Kiai Mukafi belum menunjukkan reaksi emosi. Padahal beliau tahu siapa yang sering mengambil pisang dan hasil kebunnya.

“Dia jelas-jelas meninggal paska menguras kotak amal, Kiai? Dia suulkhotimal. Mati yang buruk.”

“Baik atau buruk itu urusan Allah. Biar kita tunaikan sunah muakad kita yaitu merawat jenazah.”

Haji Muhiddin terdiam. Matanya terus mencari pembelaan dari warga sekitar. Yang lain tertunduk, menunggu keputusan Kiai Mukafi.

“Kiai Mukafi, siapa yang bakal membayar uang pemakaman? Uang santri? Uang upah penggali kubur? Laila dan adiknya tidak mungkin punya uang. Mengandalkan anaknya? Dia hanya jadi TKW tidak jelas di Malaysia.”

Laila menangis. Ada jutaan sakit yang menyerbu pojok hati. Laila tidak bisa membantah semua kebenaran yang disampaikan Haji Muhiddin. Kiai Mukafi bersedia mengurusi jenazah nenek saja, bagi Laila sudah keberuntungan besar. Apalagi setelah warga mengetahui, yang selama ini mengambil uang kotak amal adalah nenek. Laila mendekap Wika yang tidak mengerti apa-apa.

“Biar aku yang membayar semuanya….” Kiai Mukafi menengahi.

Bergegaslah semua orang meruwat jenazah nenek. Segera membeli kain kafan. Meminta penggali kubur megukur tanah dua kali satu meter buat nenek. Keriuhan mulai terlihat di rumah Laila. Bukan rumah, hanya sebuah gubuk tempatnya meluruskan punggung. Hingga pukul dua siang, nenek dimakamkan dengan prosesi lengkap. Meski sering terdengar cibiran orang, “Sudah tua. Miskin. Tukang curi uang. Biar Allah yang membalas semuanya.”

Laila tidak mengerti sedemikiankah susah mengganjal perut?

Yang tersisa hanya seperongkal kesedihan dan penyesalan. Laila duduk di kursi depan menyaksikan tarub dan kursi yang mulai dirapikan. Para tetangga mempersiapkan selamatan untuk mendoakan nenek di kuburan. Wika justru berlari-larian tidak menegrti arti kematian dan kesedihan. Sudah terpikir oleh Laila esok makan apa, tidak mungkin lagi mencuri kotak amal, mencuri hasil kebun Kiai Mukafi apalagi sengaja mengetuk pintu Haji Muhiddin yang sinis dengan keluarga Laila. Matanya sembab menangisi semuanya.

“Ibu, kapan pulang? Semoga di Malaysia banyak uang yang kau dapatkan.”

Laila mengamati gorden yang bergelombang digerakkan angin. Sinar matahari membuat bulir air matanya mengilaukan cahaya. Tidak berhenti berderai.

“Siapa dia?” Laila seperti mengenalinya. Lelaki yang selalu lewat depan rumahnya dengan seragam dan kendaraan serba oranye.

“Pos! Ada kiriman dari Malaysia,” tukang pos itu mengetuk pintu yang langsung dibuka Laila.

Laila mengira-ngira isi amplop di tangannya. Apakah wesel ratusan ringgit dari Ibu? jika iya, diniatkan Laila sebagai pengganti uang kotak amal, pembayar hutang di warung makan, mengembalikan hasil kebun Kiai Mukafi.

Namun, apakah isinya hanya sekadar kabar? Laila tak bisa menepis selayang ingatan tentang berita kematian para pahlawan devisa di negeri orang. Bagaimana nasib Ibunya di sana, di Malaysia? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s