Cerpen

Kuajak Wawan Memancing

(Tabloid Cempaka, 2014)

Liburan sekolah, kuajak Wawan memancing. Kami berhati-hati agar tidak terjatuh. Terhampar lumpur cokelat kental. Kalau saja manis, Wawan pasti bertingkah seperti dalam Charlie and The Chocolate Factory. Ini lumpur panas.

Sejauh mata, hanya terlihat genteng tanah menyembul di antara lumpur cokelat. Sesekali uap panas pecah di udara. Matahari terus memanasi. Kampung yang dahulu ramai sekarang mirip kuburan. Wingit. Tenggelam dalam lumpur. Hatiku disodok-sodok dendam.
***
Siang itu aku berniat ke sawah, mengecek kabar tentang banjir lumpur yang naik ke pematang. Belum sampai, tiba-tiba serombongan orang berteriak. Aku berlari tertatih. Kehidupan desa yang aman, tiba-tiba seperti setampah beras yang jatuh dari pegangan. Buyar dan kocar-kacir.

“Kita gungsi!” aku ngos-ngosan.

Istriku membetot Wawan yang menonton kartun. Cairan cokelat itu membasahi pekarangan dan mengejar kami. Menggenangi parit, dan selokan. Merambat ke dalam rumah, lantai kamar, jalan perkampungan. Tumpah di lapangan tempat Wawan main kasti dan sepak bola. Kami berhenti di gapura desa.

“Mas, kita ke mana?” istriku gugup bercampur lapar.
“Aku juga tidak tahu,” kuhela napas. “Yang penting kita bertiga aman.”

Ratusan orang berjalan terhuyung-huyung. Menjelang magrib, kami sampai barak, pasar setengah jadi. Sudah banyak orang. Semua mulut bicara. Semua bayi nangis. Membuatku benar-benar pusing. Aku duduk leyeh-leyeh, istriku memangku Wawan.

Kembali berhembus isu lumpur akan semakin besar. Beberapa lelaki memeberanikan diri pulang. Mengambil barang-barang yang masih bisa diselamatkan. Tanpa pikir panjang, kuikut rombongan.

Rumah sudah digenangi lumpur setinggi dengkul. Kukais beberapa dokumen penting: surat nikah, surat tanah, akta kelahiran, dan simpanan emas dan uang. Kukimpul dalam sprei beberapa pakaian dan bantal. Peluit ditiup merintih seperti sangkakala di penghujung zaman. Kupandangi rumah; jam dinding di dekat gambar Walisongo, kursi, meja, sepeda Federal Wawan, mesin jahit, perkakas dapur. Semua direndam lumpur.

Barak seperti di tungku raksasa berisi ratusan manusia. Atap kios pasar dari seng memperangkap panas. Kurangkul mereka berdua. Aku tidak ingin hartaku yang tersisa itu ikut hanyut dibawa lumpur. Kami tertidur di tengah dengung nyamuk yang berpesta pora.

***

Selama lima hari pertama, kami saling berbagi seadil-adilnya. Pembagian makan dua kali sehari, berbagi kamar mandi, saling memijiti. Kabarnya rumah kami digenangi lumpur setinggi dada orang dewasa. Beberapa sudah tenggelam.

Barak penampungan sesak. Pengungsi semakin bertambah banyak. Bala bantuan tidak bisa disebut layak. Banyak cerucut dan tikus di sekitar tempat kamu tidur. Nyamuk semakin membabi buta. Dimana-mana pakaian kotor bau tergantung. Penyakit mulai datang seperti teror.

Di hari ketujuh, kami mulai kekurangan air bersih. Anak-anak terus-terusan rewel. Kiriman makanan tidak tetap. Kalau pun datang, tak jarang kurang dan basi, tak bisa dimakan. Sedompol dendam semakin membesar. Tetapi kepada siapa aku tidak tahu harus mengutarakannya. Terus-terusan kami hanya berharap ada bantuan dari siapa saja.

***

Sekarang aku dan Wawan berdiri di tanggul. Wawan sudah kelas 1 SMP, sudah tidak lagi merengek meminta diambilkan mainan. Dia sudah disunat dan mulai pecah suara perjakanya.

“Pak rumah kita sebelah mana?”
Aku menunjuk saja. Aku malas mengingat kenangan.
“Pak, kalau lumpur ini surut apa rumah kita akan kembali?”
“Aku tidak tahu. Dan kapan surutnya juga tidak tahu.”

Wawan melempar pancing. Kalau tidak ingat anakku, pasti aku sudah meratap menangis. Nasib keluargaku seperti dua mata gunting, yang melukai lalu merobek. Janji ganti rumah tidak lekas datang. Ganti harga tanah berhenti. Relokasi hanya mimpi. Bahkan aku sudah mulai lupa, sudah berapa lama kami tinggal di barak. Yang sekarang sudah mirip perkampungan kumuh.

“Pak, melamun?”
“Kamu kalau besar mau jadi apa, Wan?”
“Aku mau jadi guru, Pak.”
“Jangan, kamu jadi tukang sihir saja. Lalu sulap lautan lumpur ini jadi lautan susu dan cokelat seperti di film Charlie and The Chocolate Factory itu. Pasti pada suka.”

Wawan tertawa. Dia sudah lama tidak menonton film. Dia kaget, kailnya bergerak. Aku juga kaget. Setelah berusaha keras, Wawan berhasil membawa ke darat mata kail pancingnya.

“Dapat apa, Wan?”
“Ini.” Wawan menenteng sepatu bot sebelah. Pecah tawanya.
“Tidak mungkin.” Aku melempar pancing ke lautan lumpur.
“Bapak lupa memasang kail.”

Kail? Aku sedang tidak memancing ikan yang membutuhkan kail. Aku juga lupa, sebenarnya aku mengajak Wawan untuk memancing apa? Tak ada yang terpancing. Pun sekadar setipis harapan. Hanya kami yang sempat menertawakan nasib. Terlebih orang yang kuyakini bertanggung jawab atas semua ini, melenggang kangkung hendak menjadi pemimpin negeri ini. Susah bertemu payah. Harapan itu terlepas seperti gugurnya penthil jambu di halaman. Layu sebelum menjadi besar. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s