Film · Jurnal

Gulai Kepala Ikan, Rembulan, dan Semangkuk Kenangan

Judul ini bukan berkaitan dengan cerpen saya, yang kebetulan dipilih Femina sebagai juara 1 yang kebetulan juga ketiga juaranya hampir semua mengambil tema makanan. Tapi ini berkaitan dengan beberapa film yang saya tonton dalam rangka acara Jogja Asian Film Festival (JAFF) kesembilan. Saat diberi informasi adanya ada festival ini, langsung saya memesan beberapa tiket. Dan film-film yang saya pilih dan saya anjurkan teman-teman, meskipun saya belum pernah menontonnya sekadar trailer dan membaca ulasan orang di dunia maya, yaitu: Miss Granny (Korea Selatan),  The Sun, The Moon, and The Hurricane (Indonesia), Selamat Pagi, Malam (Indonesia), The Raid 2: Berandal (Indonesia), Like Father, Like Son (Japan), dan Tabula Rasa (Indonesia). Entah mengapa kesemua film yang saya tonton ternyata memiliki benang merah yaitu tentang ikatan keluarga. Mungkin juga momennya tepat dengan bulan Desember, hari ibu, dan hujan yang selalu menurunkan kenangan lebih jahanam.

Haru biru seorang Ibu

Miss Granny, jujur saya takut ketika memasuki antrean nonton film Korea Selatan. Takutnya saya disebut kena halyu  atau kegandrungan sama bintang K-Pop. Kebetulan juga salah satu pemainnya adalah penyanyi K-Pop, Jinyoung yang menjadi cucu lelaki si Miss Granny.  Tapi saya yakin sedang mengantre masuk untuk film baik. Film ini dibuka dengan adegan yang sangat lucu, tapi bermain filosofi yang menarik tentang perempuan dan usia. Perempuan usia belasan tahun seperti bola basket, semua cowok yang hendak mendekatinya harus melompat tinggi-tinggi. Laki-laki butuh effort lebih untuk mendapatkan perempuan di usia belasan. Perempuan di usia dua puluhan diumpamakan seperti bola rugby, banyak cowok rela berkorban, banting-bantingan demi mendapatkan perempuan ranum usia dua puluhan. Naik usia 30-an, maka perempuan seperti bola tenis meja yang dilempar-lempar orang dan yang memperebutkan semakin sedikit. Usia setengah baya, mungkin mendekati 40an, seperti bola golf yang dipukul jauh-jauh oleh seseorang lelaki. Dan semakin tua, maka perempuan seperti bola busuk yang dibuang. Itulah yang dialami nenek 70 tahun Oh Mal Soon. Anaknya yang profesor tidak bisa membendung kebencian istrinya kepada Oh Mal Soon. Bahkan hendak memasukkannya ke panti jompo. Terluka? Jelas. Hingga suatu ketika Oh Mal Soon menemukan tanpa sengaja Forever Young Potrait Studio. Yang sejadinya ingin digunakan Oh Mal Soon untuk dipakai di foto pemakaman. Ternyata itu membawanya ke usia 20an. Dan pergolakan dimulai.

Selama penayangan banyak reaksi dari penonton. Ketawa keras, karena di film ini adegan humor berceceran di mana-mana. Seperti film drama menyentuh lainnya milik asal Korea Selatan, si raja drama. Sekadar menyebut contoh Hello Ghost, My Baby and I, dll. Lalu histeris karena kemunculan Jinyoung yang memerankan cucu Oh Mal Soon. Tetapi di akhir-akhir justru terdengar isak tangis banyak penonton. Ketika Oh Mal Soon berhasil menyadarkan anaknya. Itu menyentuh sekali.

Cinta orang tua kepada anaknya memang tidak akan pernah habis. Rela berkorban dan berbuat lebih banyak, lebih sakit, lebih menderita demi kebahagian anaknya.

Ayah punya cara sendiri mengungkapkan cinta

Film Like Father, Like Son juga senada dengan Miss Granny. Bertema dengan keluarga dan bahasa kasih sayang antara orang tua dan anak. Dua anak Keita dan Ryusei yang lahir di rumah sakit yang sama tertukar (ini disebabkan karena suster sedang depresi dengan rumah tangganya, hingga bertindak ngaco kepada pasien). Baru diketahui setelah berusia enam tahun hendak masuk sekolah. Bagaimana perasaan seorang ayah ibu yang sudah membesarkan anak selama enam tahun, dan tahu bahwa dia bukan darah daging dan harus ditukar? Itulah problemnya. Bingung. Lebih bingung ketika dua keluarga itu memiliki perbedaan secara status ekonomi. Keluarga satu kaya, Tuan Ryota Nonomiya yang membesarkan Keita Nonomiya, tinggal di apartemen, dan semua fasilitas dicukupi. Keluarga satunya, Yudai Saiki yang memebsarkan Ryusei Saiki adalah penjaga toko, sederhana, rumahnya di pinggiran kota, dan tidak terlalu besar. Namun kebahagiaan bukan berasal dari banyaknya fasilitas mewah yang dilengkapi seorang ayah-ibu, tapi kehadiran fisik seorang ayah. Seorang ayah bukan hanya menyajikan uang, fasilitas, dan kehidupan nyaman bagi anak. Tapi juga hadir secara nyata untuk berbagi cerita lucu, menaikkan layang-layang, main kemah di halaman rumah saat musim panas, memacah semangka, atau memperbaiki mesin robot-robotan yang rusak kabelnya. Ya perlu dicatat! Film ini juga lucu oleh tingkah polah dua anak yang menjadi tokoh utama yang lucu dan comel. Si Keita dan Ryusei memang comel-comel. Kalau boleh pengen kucubiti. >.<

Di film ini ada satu pelajaran berharga kebahagian tidak selalu bersumber dari kekayaan. Bahasa cinta dan sayang lebih kentara dirasakan anak dibandingkan dengan pemenuhan fasilitas namun nihil perhatian.

Bahasa ayah dalam cinta kepada anak juga dirasakan dalam film The Raid 2: Berandal. Meski film ini menonjolkan adegan kekerasan dan bacok-bacokan, tapi ada rule sendiri. Ayah akan selalu memikirkan kehidupan masa depan seorang anak. Dalam film ini saya sangat tidak betah dengan adegan pertengkaran yang tragis. Misalnya, mematahkan kaki, membacok dengan parang, menusuk punggung dengan gagang sapu, bertempur pakai palu, menggoreng wajah di atas wajah restoran China, dll. Saya berteriak, Aissh! Kalau sudah ada adegan itu.

Bulan? Matahari? Badai?

Dua film The Sun, The Moon, and The Hurricane dan Selamat Pagi, Malam, menyinggung kehidupan sosial masyarakat urban modern. Tema-temanya pun agak sensitif.

Film pertama The Sun, The Moon, and The Hurricane (karena kepanjangan kusingkat TSTMTH) bertemakan kehidupan kaum gay. Saya bukan alergi dengan tema ini, tapi menurutku film ini bagus. Memang belum bisa disandingkan dengan film Love is Siam (Thailand) yang berakar lebih kuat dan minim adegan seksual tersurat, namun berhasil membuka mata kehidupan cinta sejenis yang bisa disebabkan karena broken home yang luar biasa. Atau ada film sejenis buatan Vietnam Lost in Paradise, yang berkisah tentang pelacuran gay dan normal di Vietnam.

TSTMTH juga bukan film gay sembarangan. Minimal coba lihat dari judulnya yang menurutku filosofis sekali. Kata sutradaranya ketiganya memiliki makna keadaan kehidupan seseoran. Tokoh Rain dan Kris memiliki kisah bribet. Saat saya menonton saya mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya Rain tidak 100% gay sebelum bertemu Kris semasa SMA. Sedang Kris memang gay, namun seolah normal dengan berlagak normal di depan semua orang bahkan memiliki kekasih Santi di SMA dan menikah dengan Susan. Siapa yang benar antara Rain dan Kris? Normal kemudian gay dan bertahan dengan badai gay-nya seperti Rian. Atau menutupi kegayan dan berlakon seperti lelaki normal, namun menyimpan sekam dan membahayakan hubungan keluarganya. Masa-masa SMA adalah masa-masa yang penuh badai, the hurricane. Masa 20an ketika semua terasa lebih indah, gelora dalam dada lebih bergejolak, itulah the sun. Dan kehidupan dewasa seharusnya menjadi the moon, dunia kebahagiaan. Tapi kehidupan Rain dan Kris, justru bertemu fase the hurricane pada masa-masa ketika seharusnya sudah the moon. Ada bagian-bagian adegan seks yang sangat intim. Lalu hal yang aneh adalah mengapa Rain dan Kris semasa SMA terlalu tua? Apa tidak ada artis muda yang bisa mewakili? Atau tidak ada make up artis yang bisa membuatnya 10 tahun lebih muda.

Film Selamat Pagi, Malam salah satu favorit saya. Film ini hanya bersetting satu malam. Satu malam. Ini mengingatkan saya pada novel Haruki Murakami ­After Dark, yang berlatar 00.00-06.00. Film ini memiliki 3 cerita.

Cerita pertama adalah kisah Naomi dan Anggia. Gia pulang dari US untuk menumui kekash lesbiannya Naomi. Kepulangannya ke Jakarta, membuatnya tidak lagi kenal Jakartanya. Semua perubahan sedemikian pesat. Banyak hal-hal aneh orang Jakarta: adict sama gadget, BBM, Path, dua ponsel, dan kehidupan agama yang mendominasi Indonesia. Adegan yang seharusnya menyindir kaum urban adalah kita lebih peduli sama teman maya, daripada teman nyata kita. Gadget dielus, tapi teman di depan dicuekin. Ternyata Jakarta lebih new york daripada New York, itu kalimat Anggia yang menohok sekali.

Kisah kedua adalah kisah antara Ci Surya yang baru saja ditinggal mati suaminya. Ci Surya menemukan bahwa suaminya (mungkin) punya affair sama Sofia, penyanyi klub malam di hotel jam-jaman Lone Star. Berangkatlah ia ke Lone Star dan bertemu Sofia. Ternyata Ci Surya menemukan fakta bahwa Sofia memiliki suami gigolo. Ci Surya balas dendam dengan menyewa suami Sofia. Balas dendam? Inilah titik ironinya.

Kesan ironi juga sangat kentara di kisah antara Indri dan Faisal. Indri sedang berlagak menjadi wanita kaya dengan menerima ajakan Davit untuk makan malam di restoran mewah. Namanya juga kencan-kencan lewat sosial media, maka ujung-ujungnya adalah ngamar. Tapi terkejut ketika melihat Davit adalah orang super gendut. Indri bertemu dengan Faisal. Dan saya baru sadar bahwa kisah Indri dan Faisal benar-benar lebih new york daripada New York. Bertemu, suka, langsung ngamar. Duh! Tapi saya tetap bersyukur karena sempat menonton film ini, saat ditayangkan di bioskop saya tidak sempat menonton.

Gulai Kepala Ikan Juaranya

Mengapa sih kalau film bagus Indonesia selalu minim peminat? Termasuk film ini. Oktober lalu saya sudah merencanakan nonton, tapi keburu turun dari bioskop. Dan ternyata film ini memang bagus. After taste film ini terus kerasa sampai malam usai menonton yaitu ngidam gulai kepala ikan.

Kisah Hans, pemuda asal Serui Papua yang gagal menjadi pemain bola di Jakarta. Di sana dia bertemu dengan Amak, Natsir, dan Parmanto pemilik rumah makan padang Takana Juo. Disanalah Hans belajar filosofi makanan dan memasak. Hans yang menumpang terpaksa belajar bagaimana Amak memasak menu makanan padang. Hans yang memang memiliki bakat masak bisa dengan mudah meniru bagaimana amak memasak. Permasalahan muncul ketika di depan rumah makan amak didirikan rumah makan Duta Minang yang lebih mewah. Memasak bukan sekadar mengolah makanan mentah menjadi masakan matang. Tapi di setiap makanan ada kenangan dan cinta yang tulus.

Memasak gulai kepala ikan itu ziarah. Dan gulai kepala yang membuat restoran milik amak bertahan.

Film ini bagus. Mengapa? Meski gambar tapi bagaimana suara minyak mendidih dan dicemplungi bumbu, ikan, suara santan mendidih, daging merah segar diiris, cabai hijau digiling bersama bawang merah, rendang matang, rendang lodo mudo, bikin penoton histeris menelan ludah. Film ini juga bagus karena adegan-adegan lucu yang terkesan tidak dibuat-buat. Natsir dan Hans yang benar-benar lucu dan polos. Tapi mengapa di sini tidak dijelaskan filosofi rendang dan gulai kepala ikan? Kelaur bioskop langsung nyusun rencana kapan makan gulai kepala ikan di rumah makan padang? Dan kangen masakan ibu.

Sepertinya yang saya tonton berbau akan kenangan dan manisnya sebuah melankolia. Ada kasih sayang seorang ibu, ayah, hingga hubungan asmara yang ganjil. Seharusnya beginilah sebuah hiburan, terutama film, tidak mengandalkan efek bambimbum yang jueder, tapi kedalaman cerita dan bagaimana menyentuh perasaan penonton. Mas sutradar kapan dong cerpen-cerpenku diangkat film? (Hahahaha, ngayal!). Saya masih nggak percaya kalau film-film bagus terutama yang Indonesia tidak laku di bioskop. Harusnya jangan nonton film-film asing dahulu, sebelum menamatkan film-film bagus buatan anak bangsa. Kalau bukan kita yang menghargai, lalu apa harus mengandalkan pihak asing?

Terimakasih JAFF ke9 dan semua film yang indah gila!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s