Jurnal

Bisa Berbahasa Indonesia?

Sejak September lalu, saya memiliki teman baru kewarganegaraan Filipina yang belajar Bahasa Indonesia di INCULS Universitas Gadjah Mada. Teman Pinoy saya ini salah satu dari sekian banyak mahasiswa asing yang beroleh beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Beasiswa untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia di berbagai universitas ternama di Indonesia dengan pilihan masa belajar enam bulan atau satu tahun. (Teman Pinoy saya ini memilih satu tahun di Yogyakarta.) Dia sejatinya adalah seorang pengajar manajemen dan ekonomi di Notre Dame University. Selain itu dia juga salah satu pegawai di Departemen Perdagangan dan Industri pemerintah Filipina dan bekerja di salah satu di kantor penasihat kepresidenan dalam bidang peace process.

Menarik adalah mengetahui alasan utama dia merelakan satu tahun untuk belajar Bahasa Indonesia, di negara yang sebenarnya tidak jauh beda dengan negaranya. FYI dia adalah salah satu keluarga kerajaan di Filipina Selatan. Dia mendaftar Darmasiswa bukan sekadar ingin menjajal budaya baru dan beroleh sertifikat yang menambah resume pribadinya. Ini perihal ekonomi kedepan. Dia tahu bangsa Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat besar. Dan itu adalah market ekonomi yang sangat besar. Jumlah penduduk yang besar, wilayah yang sangat luas menjadi daya tarik luar biasa secara marketing baik distribusi barang maupun jasa. Maka ketika ASEAN Free Trade Area (AFTA) diberlakukan 2015 mendatang, maka dia menguasai step pertama dalam mengembangkan bisnis. Ingat AFTA mulai diberlakukan tahun depan! 2015! Selain belajar budaya, kultur, suasana baru, alam, teman baru, dll.

Di minggu-minggu pertama dia meceritakan beberapa hal keanehan yang dia lakukan selama belajar bahasa indonesia. Pernah dia berkata kepada guru bahasa Indonesia-nya begini: “Ibu, anda susu sekali.” Saya yang mendengar langsung terhenyak kaget dan memicingkan mata. “What do you mean?” Sambil tertawa dia menjelaskan. Suatu kali dia ke kantin dan melihat menu susu cokelat, dia berpikir bahwa susu itu sama dengan susah. Di lain waktu dia mencoba membikin joke dengan mengatakan sedikit menertawakan menu makanan indonesia. “I will not order lotek. Because I am high-tech. I am not low tech!” saya yang diajak ngobrol langsung tertawa. Tapi you know, dia sangat menyukai belajar bahasa Indonesia. Terbukti di kelas dia termasuk yang memiliki akselerasi cepat dalam bahasa Indonesia. Bukan sombong, karena dia sengaja kuajak nongkrong dan terpaksa ngobrol dengan bahasa Indonesia di berbagai tempat.

Lalu suatu ketika dia bertanya dengan hal-hal yang lebih bahasa Indonesia sekali:

  1. Apa perbedaan ubah dan ganti?
  2. Berubah? Mengubah? Mengganti? Berganti?
  3. Bagaimana imbuhan bisa me-an, me-kan, me-, dan me-i?
  4. Dimana itu dipisah atau digabung? Lalu kemana bagaimana?
  5. Yang benar itu silahkan atau silakan?
  6. Apa arti kok, loh, sih?
  7. Apa beda tidak dengan bukan?
  8. Mengapa tidak ada kata menganjing, mengucing?
  9. Dll

Saya yang tidak pernah belajar bahasa Indonesia lebih mendalam dan bukan pakar dalam menjelaskan asal usul bahasa Indonesia dan form dalam membentuk kalimat dengan imbuhan, saya hanya menjelaskan apa yang saya ketahui sebisa saya. Misalnya apa bedanya ganti dan ubah. Saya hanya bisa menjelaskan sesuai dengan kebiasaan saya memakainya. Berubah itu menjadi seperti. Misalnya dalam kalimat, Ketika bulan purnama dia berubah menjadi anjing. Untuk ganti saya hanya bisa menjelaskan di tengah-tengah proses dia berganti, di awal dia ingin menuju ‘A’ tapi diganti menjadi ‘B’. Seperti dalam kalimat: Dia mengganti baju karena hujan. Entahlah apa penjelasan saya ini berhasil membuatnya memahaminya? Karena dia juga mengatakan, even gurunya sendiri kadang kebingungan menjelaskan suatu bentuk menjadi bentu itu. (Jujur saya baru tahu kalau dalam bahasa Indonesia sendiri ada banyak cabang yang baru kuketahui usai googling: ada fonologi, morfologi, semantik, dan gramatikal. Yang mungkin hanya diketahui anak belajar Indonesia)

Saya jadi teringat peribahasa dalam bahasa menunjukkan bangsa. Mungkin hanya orang Indonesia yang sejak bayi langsung bisa berbahasa Indonesia. seperti guyonan bahwa bagaimana mungkin orang Inggris tidak maju, lha wong sejak precet dari bayi mereka sudah berbahasa Inggris. Bahasa Indonesia seperti anugerah saja bagi orang Indonesia. Kita berbahasa Indonesia dengan lancar, meski kita tidak perlu belajar bahasa Indonesia. Kemampuan membaca, menulis, dan membaca bahasa Indonesia kita sudah mahir.

Tapi pernahkah kita berpikir seperti teman Pinoy saya pikirkan dalam belajar bahasa Indonesia? Bagaimana kata ini bisa beraturan seperti ini dan yang lain tidak? Tentu tidak, karena kita bukan yang berkepentingan dalam bahasa Indonesia. (saya rasa makin ngelantur saja!)

Intinya apa? Sepertinya kita tidak memedulikan bahasa indonesia secara mendetail, kecuali mereka yang benar-benar berkecimpung dalam perbahasa Indonesia –para peneliti Bahasa Indonesia, mahasiswa sastra Indonesia, dosen, dan orang asing seperti teman saya Pinoy. Bahkan kita sendiri tidak tahu seberapa bahasa Indonesia kita. Saya sendiri baru mengetahui bahwa ada TOEFL bahasa Indonesia. Saya yakin mungkin sangat sedikit orang Indonesia yang sudah pernah melakukan test ini.

Saya bisa membayangkan betapa susahnya teman saya Pinoy yang belajar bahasa Indonesia dalam setahun. Coba kita bandingkan dengan lama kita sudah belajar bahasa Indonesia. Kita belajar bahasa Indonesia sejak kelas 1 SD hingga 3 SMA (minimal). Maka teman saya Pinoy hanya punya waktu 1/12 atau sekitar 8.33 % dari masa belajar bahasa Indonesia kita. Maka seharusnya kemampuannya tidak bisa sejajar dengan kita yang sudah belajar 12 kali lebih lama dari padanya. Tetapi saya sendiri bersama dia juga belajar tentang bagaimana kata dan imbuhan dipergunakan. Saya hanya membayangkan betapa malunya saya ketika di akhir nanti kemampuan bahasa Indonesia teman Pinoy saya menyejajarai atau bahkan mengungguli kemampuan bahasa Indonesia saya. Bahasa Indonesia bagi orang Indonesia adalah anugerah. Tetapi anugerah bisa saja lepas kalau kita tidak menjaganya dengan baik.

Saya mau mengucapin kepada tiga guru bahasa Indonesia saya yang luar biasa semasa SMP dan SMA. Pertama kepada Bu Mugi Lestari, beliau adalah guru bahasa Indonesia kelas 1 SMP yang menyenangkan. Dia yang mengajarkan bagaimana membentuk imbuhan,maknanya, dan mengajari banyak term bahasa Indonesia yang baru bagi saya waktu itu. Selanjutnya kepada Ibu Siti Mahmudah, beliau adalah guru bahasa Indonesia kelas 11 yang sangat pandai. Beliau menjelaskan bagaimana memahami kalimat, makna setiap paragraf dengan hati-hati, dan gara-gara beliau saya diajari menulis dengan baik dan dipaksa membaca buku puisi MAJOI-nya Taufiq Ismail dan bukunya Korie Layun Rampan. Dan terakhir untuk Bapak Sukawi, beliau guru bahasa Indonesia kelas 12. Beliau yang mengingatkan saya bahwa matematika, fisika, kimia, bahasa Indonesia sama-sama pelajaran penting yang tidak boleh dipentingkan hanya salah satu bagian. Mereka sama-sama pentingnya. So jangan remehkan bahasa Indonesia.

Saya tidak bisa membayangkan suatu ketika bahasa Indonesia hilang di negeri ini. Digempur oleh bahasa asing, bahasa gaul, bahasa alay. Hingga kelak kepada anak-cucu saya harus bicara apa?

“Dik Malika, hari sudah makan?” tanya saya kepada cucu saya nantinya.
“Diiidada kiadada,” jawabnya dengan bahasa aneh yang karena kita tidak memakai bahasa Indonesia dengan baik dan menganggap bahasa Indonesia nomor sekian daripada bahasa asing lain.

(Kenapa saya menulis ini ya? Kok saya merasa sok peduli banget sama bahasa Indonesia).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s