Jurnal

Nabok Nyilih Tangan

Apa yang salah dengan nama pena?
Penghujung tahun 2013, saya terkena imbas dari keisengan memakai nama pena. Seorang redaksi tabloid wanita di Jawa Tengah “melabrak” saya karena keisengan memakai nama pena berganti-ganti. Tahun 2013 saya mengirimkan banyak cerpen ke tabloid tersebut dengan berbagai nama pena. Akibatnya, cerpen-cerpen saya muncul di tabloid tersebut dengan berbagai nama pena. Namun bagaimana kejahilan saya itu terbongkar? Gara-gara cerpen saya kirim ke koran dengan nama pena, dan sialnya sebulan kemudian cerpen itu terbit di tabloid tersebut dengan nama saya. Ya jelas, redaktur mengusut bagaimana cerpen yang sama persis bisa tayang di dua media yang berbeda dengan nama berbeda? Siapa menjiplak siapa ini? Saya dan redaktur email-emailan. Jelas sekali nada “labrakan”-nya melalui email tersebut. Saya memang salah. Tidak terlalu sabar menunggu kejelasan cerpen di tabloid tersebut, dan cerobohnya saya iseng mengedit dan mengirimkan ke media lain dengan nama pena. Ya itu sudah terjadi. Tapi mari kita ambil pelajaran. Meski masa itu, bulian terhadap saya datang bertubi seperti hujan bulan desember (agak lebai memang). Saya sudah kebal dengan bulian di sosial media.

Selain iseng, saya ingin mendapatkan respon dari pembaca yang tidak pernah tahu siapa saya dan siapa nama pena yang saya pakai. (Meski alasan ini terlalu munafik, karena saya yakin 100% tak ada yang mengetahui siapa Teguh Afandi atau Teguh Affandi). Sehingga pembaca akan dengan enteng menjelekkan atau merujak semua karya saya, yang itu akan bermanfaat ke depannya (sok idealis!). Dan selain itu saya ingin membuktikan kepada teman saya, bahwa baik penulis senior dan junior punya peluang sama dalam pemuatan cerpen di Koran. Even nama penulis yang sebenarnya nama fiksi bagian dari cerita fiksi tersebut. So ketika ada yang tanya kepada saya, tapi sepertinya juga tidak akan ada, apa koran itu memprioritaskan nama-nama besar. Maka dengan contoh saya ini, akan mudah dijawab bahwa tidak! Semua punya peluang sama saat naskah punya kita bagus. Saya sendiri secara tidak sengaja sering menambahkan huruf ‘f’ dalam nama saya. Akta lahir saya “Teguh Afandi” dan di cerpen saya sering memakai double ‘f’ menjadi “Teguh Affandi”. Ini disebabkan secara tidak sengaja. Cerpen pertama saya yang dimuat koran berjudul “Sepertiga Malam di Lempuyangan” yang dimuat Radar Surabaya, 1 April 2012 diturunkan redaktur dengan membubuhi tambahan f. Padahal saya mengirimkannya dengan nama yang sesuai semua dokumen saya. Akibatnya semenjak itu saya suka menambahkan f menjadi affandi. Toh ini tidak berlebihan dan sering dikaitkan dengan nama besar Affandi. (Hahahaha nebeng tenar sama pelukis Affandi) Terima kasih redaktur Radar Surabaya!

Banyak sekali penulis yang memakai nama pena pada tulisan mereka. JK Rowling, Mo Yan, Remy Silado, Seno Gumira Ajidarma, Nh Dini, Sanie B Kuncoro, Adi Zamzam, dll. Seorang penulis bernama Guan More, asal China utara memilih nama pena “Mo Yan” yang memiliki arti jangan bicara! Ini atas penolakan karya-karya awal Mo Yan oleh pemerintah komunis. Mira Sato juga pernah dipakai Seno Gumira Ajidarma dalam beberapa karya cerpen dan fotografi. Jangan tanyakan berapa nama pena yang dipakai Remy Silado. Nh Dini menceritakan perubahan namanya dari Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin menjadi Nh Dini dalam buku “Sekayu”. Adi Zamzam memiliki kenangan dan sejarah atas nama yang sekarang dipakai di setiap karya fiksinya. Bahkan sampai sekarang misteri siapa Ki Panjikusmin yang membuat HB Jassin terseret masuk penjara pun belum terpecahkan hingga kini. Mereka punya alasan sendiri dalam pemakaian nama pena. Nama pena diyakini membawa hoki sendiri. Laiknya nama panggung bagi artis. Siapa yang mengenal Jelita Septriasa? Dia adalah Acha Septriasa. Siapa yang mengenal Jung Ji-Hoon? Tapi penggemar K-Pop atau penyuka drama Korea Full House tahu siapa Rain? Selain mempercantik nama-nama yang dikira kurang menjual nama pena atau nama panggung diyakini sebagai tanda pengenal dan penanda setiap tulisannya. Sangat beda bagi mereka yang sudah memiliki nama-nama cantik untuk tulisan, misalnnya Guntur Alam, Sungging Raga, Seno Gumira Ajidarma, Sapardi Djoko Damono, Bernard Batubara, dll yang dari namanya saja sudah terdengar “kemistisan” yang tersimpan. Maka bagi yang hendak menjadi penulis dan merasa tidak memiliki nama yang menjual, pekerjaan setelah memiliki naskah kece adalah harus punya nama pena keren. Saya punya teman yang memiliki nama Salimun Abenanza (duh pelafalannya aja sudah blibet, bikin lidah tertekuk) untuk nama yang sebenarnya sudah bagus dan cukup menjual. Ada juga yang memakai nama Nafi Nayka padahal dia seorang cowok. Asasnya sah-sah saja memakai nama pena.

Apa itu tumindak yang mau lepas tanggung jawab atas karyanya? Seperti bebasan bahasa Jawa: nabok nyilih tangan, memakai kuasa orang lain untuk bertindak. (Meski sebenarnya nabok nyilih tangan lebih cocok untuk mereka yang memakai jasa ghost writer, ketimbang pelaku nama pena). Mungkin bisa diartikan demikian. Itu kalau ada masalah dalam tulisan yang diturunkan. Tapi kalau tidak? Lihatlah secara obyektif. Apakah tulisannya layak atau tidak layak muat? Kalau memang bagus nilailah secara obyektif. Seperti halnya asas dalam menerima sebuah ilmu: undzur maa qola, walaa tandzur man qola –lihatlah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan.

Toh nama-nama seperti Eka Kurniawan, Ratih Kumala, Ahmad Tohari, Budi Darma, bahkan nama yang katrok seperti Kuntowijoyo pun harum. Nama-nama mereka sebenarnya biasa-biasa saja, tapi menjadi luar biasa karena naskah yang dihasilkannya.

Kesimpulannya apa? Buatlah anak-anakmu memiliki nama yang bagus. Nama yang cocok dan pas bila kelak mereka jadi orang besar, penulis besar, aktivis partai politik, anggota dewan, bahkan kalau mungkin nama yang wangun alias pantas bila didapuk menjadi presiden. Tapi nama apapun itu baik terbaik maupun terburuk tidak akan pantas untuk penggerutu, pengorek keburukan orang, orang yang senang bila orang susah dan susah bila orang lain senang, pun demikian untuk penjahat korupsi. Jeneng pituduh sing jumeneng –nama penanda yang punya.(*)

Advertisements

2 thoughts on “Nabok Nyilih Tangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s