Jurnal

Pembiasaan

Percaya boleh, tidak percaya juga tidak masalah ketika di rumah aku masih memakai bahasa jawa kromo inggil kepada dua orang tua dan orang yang dituakan –simbah kakung, simbah putri, pakde, bude,paklik, buklik. Dipaksa? Tidak! Saya sudah memakainya mungkin sejak pertama kali bisa mengucapkan kata pertama. Pernah sekali saya keceplosan menirukan bahasa “ngoko”, sejenis nama binatang berkaki empat yang kurang sopan di depan ibuku. You know, seketika ibu memukul mulut saya. Bedarah. Tapi sejak itu saya selalu memakai bahasa kromo inggil. Susah? Tidak juga. Karena ini kebiasaan. Ya kuncinya kebiasaan.

Charles Duhigg dalam bukunya “The Power of Habit” mengatakan bahwa kebiasaan itu muncul tanpa kita sadari. Dalam penelitiannya, Dunhigg merekam kerja otak seekor tikus yang dimasukkan dalam lorong ‘T’ yang di salah satu ujungny ditempatkan sepotong keju. Karena tikus baru sekali di lorong tersebut, maka dalam rekaman kerja otak tampak grafik yang lumayan tinggi. Tikus berpikir di mana kejunya berada. Namun ketika diterus-terusin, maka grafik kerja otak sangat kecil dan hampir nol. Maksudnya? Karena sudah terbiasa, otak sampai tidak butuh mikir dalam melakukan sesuatu.

Saya menulis ini karena saya sedang kesal dengan seseorang gadis berjilbab yang duduk di samping saya, di burjo dekat kosan. Selama saya makan intel goreng, itu gadis berjilbab (saya tidak sedang mendiskreditkan jilbab, tapi sebagai tekanan dan hubungan dengan judul) mengucapkan kata-kata yang kurang pantas diucapkan seorang gadis berjilbab dan di tempat umum. Padahal si cowok, yang bersama si gadis berjilbab, justru diam dan terkesan no comment.

“Itu ibu kos terkutuk!” aku yang sedang menyeruput mie, langsung menoleh.

“Itu gadis Rusia, cantik banget. Kayak barbie, tapi suka makan buah.” Kalimat ini tidak masalah, tapi aku mulai terganggu dengan kalimatnya yang terlalu tinggi dan ketawanya tak bisa terbendung. Entah, aku jadi megingat nasihat lama ibu saya kepada adikku yang memutuskan berjilbab saat kelas 3 SMP: jilbab itu mageri awak, ati, dan tumindak. (Jilbab itu menjaga badan, hati, dan perilaku).

Saya tidak bisa memvonis gadis berjilbab salah. Gunung es yang muncul tidak bisa dijadikan parameter untuk mengukur tinggi sebuah gunung es. Tentu dari sikapnya kini, terjejer kejadian-kejadian masa lampau yang membentuknya.

Kita tinggalkan si gadis berjilbab. Saya punya teman Filipina tinggal bersepuluh bersama orang asing western (mulai USA, Eropa Timur, dan daerah pecahan Uni Soviet). Dia sangat tidak nyaman dengan kebiasaan teman lainnya, for your information,temanku Filipina satu-satunya yang berdarah Asia di rumah tersebut. Kebiasaan mengucapkan fucking, even dia sendiri sadar mereka untuk joking, buang sampah sembarangan, ribut hingga jam empat pagi tanpa peduli orang Indonesia yang menjadi tetangga, keluar masuk kamar orang tanpa izin dan tanpa memedulikan si penghuni kamar sedang rehat. Dan yang bikin dia geram adalah sikap mereka individualis yang berujung pada sikap meremehkan budaya Indonesia. saya sendiri pernah sedikit tersinggun mendengar salah satu mereka berkata: “What the fucking Bahasa!” aku dalam hati hanya menimpali: kalau nggak suka bahasa ngapain kalian mendaftar beasiswa belajar bahasa dan budaya Indonesia.

Ini terkait kebiasaan dan pembiasaan. Katanya biasakan benar, bukan membenarkan kebiasaan (yang buruk). T.T

Entah ini buruk atau baik. Saya SD hanya membaca buku selain buku sekolah adalah dongeng bawang merah bawang putih dan kumpulan buku siksa neraka. SMP hanya rajin membaca majalah MOP (ini majalah dulu numpuk di perpustakaan) dan sebuah cerita anak (yang bukunya ternyata belum pernah kukembalikan ke perpustakaan SMP). SMA aku hanya membaca: MAJOI-nya Taufiq Ismail dan AAC-Kang Abik. Tapi sekarang entah mengapa aku lebih menikmati membaca buku apapun. Suntuk saya justru hilang saat membeli buku baru, menciumi aroma buku baru lepas segel, menyampuli, dan membuka halaman demi halaman. Seminggu tanpa baca buku itu rasanya wagu. (Mungkin berlebihan!). Saya bisa membaca sambil nunggu antrean bank, nunggu pesanan maem malam, nongkrong di atas kloset, atau perjalanan dalam bus. Sepertinya buku menjadi kawan paling jujur berbagi, kekasih tanpa perlu diapeli dan dicemburui, bahkan sering ngasih ilmu.

Dan aku tidak bisa berkomentar lebih lanjut. Katanya sikap orang lain terhadap kita bisa menjadi cerminan sikap kita terhadap lingkungan sosial. Jadi, tidak perlu merasa mengungguli orang lain saat melihat hal buruk tampak pada orang lain. Karena bisa jadi itu tanda peringatan agar kita selalu mawas diri dan terus mengoreksi kebiasaan.

“Setiap kali kau ingin mengkritik seseorang, ingatlah bahwa tidak semua orang di dunia ini memiliki kelebihan sepertimu.” –F. Scott Fitzgerald dalam “The Great Gasby”.

*NTMS* >.<

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s