Film · Jurnal

After Taste Interstellar

Kalau habis makan makanan enak pasti menyisakan kenangan yang terus berputar di mulut. Misal selesai makan nasi padang, ada rasa santan dan lemak di sela-sela gigi dan tentu rasa bersalah lantaran sudah makan berlemak dan berkolesterol tinggi. Pun dengan makanan-makanan lain. After taste juga bisa dirasakan ketika membaca buku. Misalnya teman saya akan marah pada pemerintahan keji kalau usai menamatkan atau re-reading buku-buku Pramoedya, ada yang mewek abis baca bukunya Winna Effendi, kalau after taste saya adalah saat membaca The Thousand Splendid Suns-nya Khaled Hosseni. Membaca buku itu serasa ada yang bergelombang di dada dan campurannya seperti cocktail. (kayak saya pernah minum minuman mewah itu saja). Kali ini saya ingin menyampaikan after taste saya usai menonton film Interstellar. Bagi yang belum berkesempatan nonton bisa menengok trailernya di sini.

Saya tidak akan membocorkan alur filmnya. Intinya akan ada seorang ayah Cooper, yang harus memimpin ekspedisi ke luar angkasa. Ayah itu harus meninggalkan ladang jagung, mertua, dan dua anaknya -Murph dan Tom. Misi untuk menyelamatkan bumi karena bumi sudah semakin hancur dan tidak keruan. Meski dalam film hanya disebutkan tanaman mulai mati dan badai debu yang sering merenggut nyawa manusia. Intinya bumi akan musnah dan lekas hancur.
Perjalanan luar angkasa dimulai dan menengangkan. Selama adegan saya jujur ingin menangis, karena apa? Pertama meski ini gambaran manusia, tentu dengan riset mendalam, saya bisa merasakan kekuasaan Tuhan yang Mahabesar dan tidak tertandingi. Melihat bentuk kelamnya angkasa, sunyinya saat setting di space, atau sebuah lorong cacing yang menengangkan dan sebuah relativitas waktu yang mengerikan. Ngomong-ngomong relativitas inilah yang menjadi permasalahan film ini. Beda waktu di bumi dan di luar angkasa yang berbeda membuat buncahan emosi makin tidak terkendali. 7 jam di luar angkasa sama dengan bertahun-tahun di Bumi. Maka bisa dibayangkan, selama perjalanan Coop bumi sudah semakin tua, anak-anaknya semakin besar.
Tapi saya jadi bertanya pada adegan begini: beberapa adegan dalam film melayang di dalam pesawat luar angkasa, namun sesekali bisa menapak dengan jelas. Apakah ketika menapak ini memakai gravitasi yang dipakai luar angkasa atau gravitasi pesawat? Mari tanya anak fisika, terutama astronomi.
Seperti yang sudah ditebak, endingnya selalu berhasil mencipakan kehidupan baru.
Lebih dari itu, saya benar-benar menikmati film ini. Sains, keluarga, cinta, dan hero bercampur yang bikin after taste sampai sekarang. Saya menyukai film ini! Lalu saya bertanya: jangan-jangan para pesawat yang menghilang di lubang hitam selama ekspedisi itu masih hidup dan sedang melakukan penelitian. karena dimensi waktu di luar sana berbeda dengan di bumi. Dan mereka sedang mengirimkan morse untuk manusia bumi untuk mawas diri.
Seperti seorang sutradara yang tahu keseluruhan cerita, Tuhan juga tahu atas semua yang ada di bawah kekuasaan-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s