Cerpen

Anoman Gugur

(Pikiran Rakyat, 09 November 2014)

'Musim Pembakaran'-Alanwari
‘Musim Pembakaran’-Alanwari

Aku tak pernah mengira, kalau malam itu terakhir kalinya Bambang memerankan Anoman. Bambang sudah dua puluh tahun langganan sebagai Anoman. Nasib Bambang memang selalu mujur. Berbeda denganku yang bergonta-ganti peran, mulai dari cantrik mentrik, prajurit biasa, dan hanya pernah sekali menjadi Patih Indrajit lawan Anoman di Taman Argasoka. Bambang selalu didapuk memerankan monyet putih pembawa pesan dari Raden Ramawijaya untuk menjemput Dewi Sinta yang diculik Rahwana. Bambang mengakhiri hidupnya di pementasan seperti seorang tentara yang mangkat saat mengokang bedil di medan perang.

Malam itu, kami pentas wayang orang di ballroom Hotel Santika. Pihak hotel sedang menjamu tamu istimewa dari rombongan Kedutaan Jepang bersama atase bidang kebudayaan setelah seharian mengadakan lawatan ke Universitas Gadjah Mada dan Keraton Ngayogyakarta. Hotel bersama panitia menyajikan pentas untuk tamu yang tidak seberapa itu. Kami berkesempatan menari di depan orang penting. Ini berkat Harimurti, pimpinan kami memiliki relasi dengan banyak pejabat, pengusaha jasa perjalanan wisata, juga pembesar hotel melancarkan jadwal pentas kami di berbagai acara penting.

Bambang malam itu menari dengan lihai seperti biasa. Peran dan gerakan Anoman sudah dihafalnya di luar kepala. Loncat sana, loncat sini, meski muka ditutupi cakilan yang tentu menyusahkan gerakan mulut dan muka. Sosok Anoman yang berhasil menyelamatkan Dewi Sinta dengan membakar Alengka melekat pada Bambang. Seperti akan kurang kalau Anoman diperankan selain Bambang. Pernah ketika menari di Istana Negara, maag Bambang kambuh. Terpaksalah pementasan wayang orang di depan presiden dan menteri kabinet tanpa Bambang yang memerankan Anoman. Pengganti Bambang yang tidak seindah Bambang kalau menari diturunkan malam itu. Kalau dilihat saksama sangat berbeda hentakan tangan dan mendak kakinya dengan Anoman peranan Bambang.

Anoman diam-diam mengamati mereka dari balik rimbun kenikir dan kembang padma. Rahwana gagal merayu Dewi Sinta di Taman Argasoka. Setiap Rahwana mendekat Dewi Sinta gegas menjauh. Dewi Sinta terus saja menolak meski Rahwana dengan kasar merayu dan membujuk untuk lekas melupakan Rahwana yang pengecut. Rahwana meninggalkan Taman Argasoka dan Dewi Sinta kembali nestapa. Hanya keajabian dan keberanian Raden Ramawijaya bisa melepaskan Dewi Sinta dari cengkeraman Rahwana.

Anoman melompat-lompat gesit mendekati Dewi Sinta. Wajah Dewi Sinta berubah cerah. Setitik harapan yang tadi sudah hampir dipadamkan kini bersinar kembali laiknya lampu damar. Saat akan membawa lari Dewi Sinta dan telah mengalahkan Patih Indrajit, Anoman yang diperankan Bambang tumbang.

Harimurti kaget di back stage. Kejadian seperti ini memang sudah sering dipikirkan dan mudah diantisipasi. Pengganti Bambang berusia dua puluh satu dan baru saja kawin, masuk menggantikan Bambang. Pagelaran terus berlanjut. Tamu kehormatan bertepuk tangan gembira tanpa harus mengetahui insiden yang sebenarnya bukan bagian dari skenario pementasan. Malam turun dingin dengan bulan melongo di atas hamparan hitam mangsi. Kepuasan penonton adalah kebahagiaan kami.

Bambang yang tak sadarkan diri, kami pindahkan ke ruang transit. Mungkin Bambang kelelahan hingga maag-nya kambuh. Minyak angin, balsem, dan air putih dikeluarkan. Beberapa memijati sela-sela jempol dan jari telunjuk untuk memancing kesadaran Bambang. Beberapa mengoleskan minyak angin di bawah hidung. Bambang belum mau siuman. Kami buru-buru melarikannya ke rumah sakit terdekat. Tanpa sirene agar kejadian itu tidak ditangkap orang banyak. Hanya beberapa dari rekan padepokan wayang orang yang ikut mengantar. Yang lain masih harus bertugas sebelum acara pementasan selesai, yaitu ketika Dewi Sinta kembali diterima Raden Ramawijaya seusai adegan Sinta Obong.
***

“Dia terus mengingau,” jelas Dian, istri Bambang saat kutemui di rumah sakit. Wajahnya benar-benar terlihat sayu karena kurang tidur.
“Maaf. Baru bisa berkunjung sekarang. Setelah pentas, badan seperti digebuki orang satu kecamatan.” Karena aku baru sempat membesuk Bambang lusa setelah malam kejadian di hotel tersebut. Dian mengangguk mengerti.

Suasana kembali canggung. Kebiasaanku melawak dan menertawakan segala hal tiba-tiba lenyap. Hanya ada suara pendingin ruangan dan hentakan sepatu suster dari lorong depan ruangan Bambang. Aku bingung harus berkomentar apa.

“Kata dokter, pembuluh kapiler di otak Mas Bambang pecah. Kemungkinan kecapekan ditambah risiko hipertensi,” Dian mengelus punggung tangan kiri Bambang yang ditancapi selang infus. Terlihat sekali wajah ayu seorang wanita Jawa di wajah Dian.
“Katamu tadi Bambang mengingau.”
“Benar. Semalam, Mas Bambang terus mengatakan minta ampun. Tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan. Seperti dia sedang ditodong perampok di jalan.”

Dian tak bisa membendung keluarnya air mata. Aku bisa merasakan bagaimana kebingungan yang dirasakan Dian. Ketika dia sejadinya harus istirahat, ternyata Bambang justru mengingau. Andai aku yang berada dalam posisi Dian, aku pun akan mengira kalau Bambang sedang berjumpa dengan malaikat pencabut nyawa dan minta ampun agar tidak diapa-apakan.
“Aku takut Mas Bambang tidak lekas sembuh. Bagaimana mewujudkan cita-citanya kalau terbaring demikian?”

Bambang pernah menceritakan keinginannya untuk pensiun dari menari dan membikin sebuah padepokan tari untuk anak-anak di pinggir Kali Code. Mirip usaha Romo Mangun menata perumahan Kali Code. Bambang membuat semacam sanggar yang mewadahi bakat dan jiwa seni diri anak-anak pinggiran Kali Code. Bambang berkeyakinan kalau sudah tiba saatnya menggantung sampur, pensiun sebagai pemeran Anoman dan mengabdikan diri ke publik. Banyak generasi muda mengantre dan lebih oke untuk mengambil peran Bambang sebagai Anoman di wayang orang Harimurti.

Tetapi Harimurti bersikeras tidak setuju. Menurutnya sosok Bambang sudah sangat melekat di balik cakilan Anoman. Bagaimana mungkin sebuah pentas Ramayana tanpa Anoman, atau dengan Anoman yang bukan Bambang? Kuakui kalau alasan Harimurti, pimpinan yang detail dan berpikiran panjang, itu benar. Sampai kini tak banyak yang mau memerankan Anoman. Dari yang sedikit itu pun belum bisa menyamai apalagi mengungguli kebolehan Bambang. Bisa merosot order pementasan kalau dinilai pentas wayang Harimurti tidak sebagus dulu. Banyak mulut hidup dari tangan dingin Harimurti.

Bukan itu alasannya. Bambang lebih percaya kalau Harimurti sedang mengebiri kemampuannya. Dalam kacamata Bambang, dirinya akan menjadi ancaman bahkan saingan Harimurti andai keinginannya dikabulkan. Persaingan tidak bisa dielak. Terlebih Harimurti hanya memiliki kemampuan managerial dan networking. Dan Bambang punya keahlian menari sendiri dan lahan yang hendak digarap Bambang adalah hal unik yang bakal membuat wisatawan mancanegara suka.

Harimurti sangat takut, kalau cita-cita Bambang mengurangi omzet Harimurti. Masuk akal memang, tetapi aku tidak pernah berpikir kalau Harimurti sedemikian pendek dalam berpikir. Apa seni dan budaya hanya dibarter dengan rupiah? Apa dia tidak berpikir sebagai seorang budayawan yang hendak mengekalkan budaya leluhur sebelum ludes di-buldozer budaya asing?

Beberapa kali memang Harimurti dan Bambang terlibat adu pendapat. Harimurti lebih ingin lekas-lekas terbang dan mengepak ke luar negeri. Tetapi Bambang lebih ingin menanamkan budaya yang tidak sekadar budaya lisan. Hanya selesai di indera pendengaran dan penglihatan. Aku masih ingat ketika mendapat tawaran menari di Swiss, Harimurti sangat bersemangat meski harus rela melakukan swadaya dana dan mengajukan proposal ke berbagai instansi. Bambang berlainan pendapat. Menurutnya kalau mereka mengundang untuk belajar seharusnya mereka yang mengurus semuanya atau datang kemari untuk belajar. Bukannya kita yang harus repot mendanai program yang dimaksudkan untuk promosi kebudayaan, kalimat Bambang keras tanpa koma. Semalaman mereka terus berdebat, anak buah dan orang-orang muda tidak berani memihak. Tetapi akhirnya kami tetap berangkat ke Swiss, karena sokongan dana dari pemerintah.

“Apa Harimurti sudah ke sini?”
Dian menggeleng. Apa lelah usai pementasan berhasil menghilangkan kekancan antara dia dan Bambang?
“Nanti biar kuhubungi. Mungkin dia mengira Bambang tidak separah ini.”
Tidak ada jawaban iya atau menolak dari Dian. Dia masih saja sibuk mengelus tangan Bambang.
***

Pecahnya kaliper di otak Bambang berhasil menutup usia Bambang. Dua hari setelah menjenguknya, kabar duka datang lewat pesan berantai juga telepon langsung dari Dian. Suara isak Dian keras sekali. Seperti tidak percaya kalau usia Bambang harus berhenti di tiga puluh enam. Seolah Bambang belum layak untuk diwartakan di lembar obituari koran. Misi dan impiannya masih segudang. Cita-cita membikin padepokan tari di pinggit Kali Code pun sama sekali belum disinggungnya.

Pemakaman dihadiri insan budaya, perwakilan pemerintahan, dan seluruh anggota wayang orang. Harimurti berdiri di sampingku. Semua pelayat kelu, seperti sedang merasakan hal yang tidak mungkin. Kami bersalaman dengan Dian. Sesekali Dian menghambur ke pelayat yang dia akrabi.
***

Tiga hari setelah Bambang dimakamkan, Dian memintaku beserta istri ke rumah. Ada hal penting yang ingin dia ceritakan.

“Malam sebelum dia meninggal, Mas Bambang terus mengingau agak menakutkan. Sepengetahuanmu, apa suamiku punya musuh?”
Aku menggeleng, belum paham duduk perkara. “Memang bagaimana dia mengingau?” aku bertanya.
“Demam Mas Bambang tinggi. Tangannya membiru. Badannya kuyup keringat. Dia mengingau: Ampun tuan. Ampun tuan. Aku bukan Anoman. Aku Bambang. Aku bukan Anoman yang membakar negaramu, Tuan Rahwana.”

Aku semakin tidak paham. Apa benar Rahwana yang selalu kalah oleh Anoman, malam itu datang menghajar Bambang hingga meninggal? Apa Rahwana menaruh dendam kepada Bambang? Mengapa tidak kepada pemeran Anoman yang lain?

“Apa mas Bambang pernah cerita sesuatu ke kamu? Mungkin masalah dengan orang?” Dian menelisik.
“Sepengetahuanku tidak,” karena memang aku tidak tahu.

Dian menarik napas. Istitriku yang duduk di sampingnya merangkul dan menahan Dian terisak di bahu. Dengan suara tersendat karena tangisan Dian berkata, “Kamu tahu aku merasa Rahwana datang di pemakaman Mas Bambang.”
“Maksudmu?”
“Aku melihat jelas sosok Rahwana ada di wajah Harimurti. Wajah dengan sepasang mata yang memancarkan api dendam dan amarah. Dua hal yang menakutkan selain kehilangan Mas Bambang.” (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s