Jurnal

Antre

Apa susahnya mengantre?
Mengantre adalah perihal sederhana, namun serius di negeri ini. Tidak sedikit orang yang kesulitan melakukannya. Meremehkannya hingga menjadi kerak yang seolah susah diangkat di negeri ini. Tengok saja, di setiap tahun bahkan ada saja korban yang terinjak saat pembagian zakat fitrah, daging kurban, atau beras raskin. Terlepas dari hal lain, kemacetan dengan kebisingan klakson dan ugal-ugalan di jalan juga bentuk lain dari tidak bisa mengantre bukan? Seolah banyak orang tidak sabar dan tidak percaya bahwa dengan mengantre itu bisa menjadi lebih baik.Mengantre bisa bikin hidup lebih teratur, mengantre bisa mengendurkan urat syaraf. Saya memang bukan orang yang sempurna dalam mengantre, kadang juga jengkel dan terbersit ingin menerobos antrean dan memotong jejeran orang. Saya ingin berkisah beberapa pengalaman mengantre di negeri ini, yang sudah pernah saya alami.

Dua kali di Indomaret (sorry sebut merek) saya jengkel dengan orang yang tiba-tiba memotong antrean tanpa sopan.
Pertama adalah menjelang lebaran lalu, saya membeli titipan sabun muka adik saya dan memenuhi lapar mata saya, karena waktu itu siang begitu terik dan saya bernafsu membeli beberapa biskuit. Sabun sudah di tangan dan belanjaan saya sudah lengkap. Di kasir masih ada seorang ibu yang menunggu pelayan menyelesaikan pembayaran, sedang di ujung Indomaret ada tiga siswi SMP berlabel muslim sedang cekikikan menertawakan sesuatu. Lalu tiba-tiba mereka memotong antreanku dan menyodorkan beberapa barang belanjaan. Kesal, jelas! Pengen marah, tentu! andai aku tidak puasa tentu sudah kulabrak dengan aneka omelan khas ibu-ibu pasar. heeheee. Sebaliknya aku hanya berkomentar:
“Sekolah di mana, dik?”
Mereka menjawab dengan menyebutkan sekolah SMP berlabel islami di Blora.
“Oooo, emang di sekolah nggak diajari mengantre ya?” cep klakep. Mereka terdiam dan beringsut pergi.

Kedua di Indomaret Point dekat GOR UNY. Saya sedang kegandrungan beli Futami rasa leci, yang hanya ada di beberap indomaret. Saya sengaja pengen nyoba ke Indomaret Point dan ternyata benar. Ada. Hanya ada satu mesin kasir, karena satunya sedang dilabeli “Istirahat”. Saya mengikuti antrean, seorang cowok membeli kopi yang dimasak 78 derajat celcius dingin. Lalu seorang mbak-mbak yang sedang membeli minuman buble di Indomaret point. Hingga si mbak-mbak dengan segelas buble selesai. Namun tiba-tiba dari arah samping seorang mbak lain yang sedikit gemuk, langsung meletakkan dua minuman kaleng di depan mesin kasir. (Ini disebabkan karena si mbak gendut adalah teman si mbak buble). Gadis kasir senyam-senyum agak sungkan. Lalu berkata, “mohon maaf masnya yang itu dulu.” sambil menunjuk saya. Lalu saya dengan sinis, ala Fenny Rose berkomentar “Wah ternyata saya kurang besar, hingga tidak terlihat kalau ada yang mengantre.”
Jelas si mbak gemuk malu dan beringsut menjauhi mesin kasir.

Ada juga kawan saya yang menganter di mesin ATM dengan membaca alquran, atau memanfaatkan kecakapan dalam membangun hubungan baik hingga bisa menitip membelikan karcis bioskop di beberapa orang sepanjang antrean.

Kejadian itu hanya kejadian kecil, memang. Tapi bukankan mengantre adalah cermin sikap orang bersabar dan tidak suka menyerobot hak orang lain? Saya ingat sekali, saat masih kecil, saya suka memanfaatkan tubuh kecil saya untuk menerobos antrean di Pasar Malam atau mendusel-dusel hingga berada di barisan depan konser dangdut. Hahaha… Lebih dari itu, mungkinkah sikap demikian adalah bentuk terkecil dari menyerobot hak-hak orang lain dan berdampak pada sikap korup? Serba mungkin.
Saya tidak sedang mencela sikap orang di negeri tercinta ini, tapi sedang mengaca. Kebiasaan buruk kecil kadang bisa merugikan dan menzalimi orang lain. NTMS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s