Cerpen

Bayangan Mami

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk menteri perempuan idola saya Ibu Susi PudjiastutiDimuat di Kedaulatan Rakyat, 2 November 2014. )

Ilustrasi Joko Santoso
Ilustrasi Joko Santoso

Siapa yang tak gembira bila diangkat menteri? Begitu juga dengan Mami, yang sehari-hari lebih kami kenal sebagai ibu yang tidak terlalu jago bikin nasi goreng. Meskipun di luar sana Mami dipanggil dengan aneka julukan, Ibu Direktur, Ibu Komisaris, Ibu Bos, di rumah tetap kami memanggilnya Mami dan lebih suka kalau Mami sedang belepotan bumbu dapur dan berbau rempah.

Kemarin Mami tiba-tiba begitu sibuk dan tidak bisa makan malam bersama kami. Mami diundang ke istana dan seketika kabar gembira masuk di sela-sela perabot rumah. Mami bakal dijadikan menteri. Kami bertatapan saja menanggapi berita Mami dini hari itu. Pukul tiga kami dibangunkan dengan mata dan kesadaran belum sempurna tergugah. Kami kebingungan harus bagaimana. Haruskah meloncat-loncat atau sekadar mengucapkan selamat kepada Mami. Yang kami ucapkan justru, “Mami ini masih saja merasa kurang.” Lalu kami kembali ke kamar masing-masing. Mungkin sampai pagi Mami akan duduk dengan segelas kopi dan buku catatan kecil di ruang kerja. Hal seperti itu dilakukan ketika di pikiran Mami yang sudah mendekati kepala lima itu dipenuhi rencana-rencana besar. Setiap mendapat tantangan baru, Mami seperti harimau betina lapar yang mengintai kancil gemuk di sawah Pak Tani.

Pagi hari Mami sudah pergi dengan meninggalkan catatan di meja makan bersama menu sarapan. “Mami berangkat pagi. Besok pelantikan, kalian mau ikut? Suruh Pak Redi mengantar kalian membeli batik. Yang bagus.”

Kami menyantap sarapan dalam diam. Sesekali mengomentari ikan koi yang mulai malas berenang karena kegemukan. Dua centong nasi goreng dengan dua ceplok telur setengah matang kami habiskan tanpa membicarakan rencana menghadiri pelantikan Mami.

“Den, nyonya tadi pesan. Kalau saya harus mengantar ke butik langganan. Sudah dipesankan untuk dipakai besok.”
“Mungkin sehabis sekolah, Pak Redi.”

Pagi itu kami melakukan hal yang sama seperti kemarin. Pergi sekolah, membawa tas dan buku. Sepulang sekolah Pak Redi tanpa babibu membawa kami menjajal pakaian pesanan Mami. Aku mendapatkan batik lengan panjang motif Sidoasih dan kakak perempuanku mendapatkan kebaya kutu baru dengan bawahan batik Sidomukti –kata pemilik butik dua motif kain batik tulis itu adalah lambang kemakmuran dan kelimpahan rejeki.

“Apa Mami dahulu sering pakai batik ini?”
“Mungkin itu rahasia uang Mami tidak pernah habis dan kita selalu berlimpahan uang jajan.”
Kami pulang dan menunggu Mami yang sampai pagi tidak juga pulang. Padahal esok Mami akan dilantik menjadi menteri.

***

Esoknya kami berangkat ke istana. Mami memakai dandanan sangat istimewa. Anting bertahtakan mutiara dan kebaya dengan warna senada dengan milik kakak perempuanku. Aku duduk di bangku belakang sambil memainkan telepon layar sentuh. Di istana ternyata sudah ramai oleh tamu dan para menteri yang hendak di lantik. Aku dan kakak perempuanku memilih berdiri di pojokan sambil mengamati mengapa tidak ada anak-anak calon menteri yang ikut. Kami diam sambil menyaksikan Mami mengucap sumpah di atas kitab suci. Lalu kami dijejerkan sambil menerima ucapan selamat. Hingga kami benar-benar lupa sebenarnya kami datang untuk apa. Karena dengkul nyeri berdiri dan perut keroncongan sejak pagi belum diisi. Mami pagi ini tidak sempat menyiapkan sarapan untuk kami.

***

“Pak Redi, Mami sudah berangkat?”
“Iya Den.”
“Pagi ini Mami masak apa Pak?”
“Mbok Narni yang masak soto ayam.”
“Sebenarnya kami rindu nasi goreng bikinan Mami.”

Meski sedikit kecewa tapi kami tetap melahap soto ayam bikinan Mbok Narni yang sebenarnya jauh lebih enak daripada buatan Mami. Tapi setiap melihat Mami masak di dapur dengan celemek dan lelehan keringat karena panas kompor, kami seperti melihat Mami dalam arti sebenarnya. Dan kami melupakan rasa masakan yang kurang sedap. Mami yang tidak perlu dipanggil dengan panggilan kehormatan seperti anak buah dan rekanan bisnis memanggilnya.

Hingga berbulan-bulan setelah Mami dilantik menjadi menteri kami tidak pernah sarapan bersama. Kami memang sudah terbiasa ditinggal Mami, tetapi untuk sarapan pagi, Mami selalu bersama kami dan menyiapkan sarapan sederhana untuk kami.

“Mungkin Mami sibuk mengurus negeri ini.”
“Mungkin.”
“Tapi aku mulai bosan makan sarapan buatan Mbok Narni. Makan enak terus. Sesekali makan buatan Mami yang tidak enak-enak amat.”
“Nggak enak, tapi ngangenin.”

Perubahan lain adalah kami selalu diikuti oleh ajudan yang sengaja Mami perintahkan untuk mengawal kami sehari-hari. Di sekolah, main ke rumah teman, berangkat les, bahkan mengikuti kami saat belanja pakaian di mall.

“Aku mulai bosan. Aku ingin Mami di rumah saban pagi.”
“Aku juga. Kita culik saja Mami.”
“Aneh. Masak seorang anak menculik ibunya.”

Kakak perempuanku mempunyai cara jitu. Kakakku mengusulkan untuk mencuri bayangan Mami. Kami tidak tidur sampai pukul tiga ketika Mami pulang bersama sopir pribadinya. Wajahnya letih sekali. Tas dan selendang di lehernya dihempaskan begitu saja. Kami bersembunyi di belakang piano besar dekat tangga. Mami masuk ke kamar. Lalu terdengar suara air shower mengguyur badan Mami.

“Malam ini kita harus mencuri bayangan Mami.”

Aku mengangguk. Lima belas menit kemudian kami masuk kamar sangat perlahan. Kakak perempuanku membawa pisau dapur dan mengarahkan ke bayangan Mami yang terlentang di samping Mami. Kakak perempuanku mengirisnya. Terlihat sangat alot. Namun akhirnya tangan mungil kakakku berhasil memotong bayangan Mami. Kami tersenyum lega.

***

Paginya, kami sarapan sedikit gembira. Bayangan Mami menemani kami. Meski tidak terlihat apa si bayangan Mami gembira atau justru cemberut karena diculik dari badan Mami. Sedangkan Mami sendiri sudah sedari pagi pergi dan tidak menghiraukan kalau bayangannya sudah raib.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s