Jurnal

Bidan Listrik

“Listrike ampun diminggahke, Mas! Wong alit kados kulo mboten saget mbayar larang.” (Listriknya jangan dinaikkan, Mas! Orang kecil seperti saya tidak bisa membayar.)

“Mboten, Pak.” (Tidak, Pak.)
“Sakniki kabeh minggah.” (Sekarang semuanya naik.)

Percakapan itu muncul ketika 2010 lalu, saya menjadi salah satu surveyor kepuasan pelanggan PLN 2010. Kala itu saya tergabung bersama lima kawan saya untuk melakukan survey kepuasan pelanggan PLN APJ (Area Pelayanan dan Jaringan) Kudus. Saya lupa nama bapak tersebut, tetapi saya masih bisa mengingat dengan jelas apa yang sedang dilakukan bapak tersebut –yang seorang pensiunan guru SMP itu ketika saya mewawancari untuk mengisi lembar kuisioner.

Rumah bapak itu tergolong bagus untuk daerah Todanan, Blora Jawa Tengah, lantai keramik dengan beberapa pot bunga, dan pohon mangga yang belum berbuah karena belum masuk musimnya. Listrik di rumahnya 900 VA golongan rumah tangga. Rumahnya termasuk dalam lingkup APJ Kudus, Jawa Tengah. Selama kurang lebih dua puluh menit saya wawancarai, bapak itu mengisap hampir tiga batang rokok. Maka keisengan saya tumbuh di akhir wawancara.

“Sehari habis berapa bungkus, Pak?”

“Rata-rata sebungkus, Mas.”

Sangat aneh ketika bapak itu bisa menghabiskan satu bungkus rokok sehari, namun masih saja mengeluhkan tarif listrik setiap bulannya. Kita hitung secara kasar, satu bungkus rokok dua belas ribu rupiah. Dikalikan satu bulan maka uang rokok saja bapak tersebut habis tiga ratus enam puluh ribu rupiah. Sangat jomplang bila dibandingkan dengan uang listrik setiap bulannya yang rata-rata seratus hingga seratus lima puluh ribu rupiah.

Di tahun yang sama, ketika Jurusan Teknik Elektro UGM dipercaya untuk melakukan survey kemampuan bayar PLN di warga Kota Yogyakarta, ada fenomena menarik yang saya dapatkan. Penduduk golongan menengah ke atas, yang rata-rata berpendidikan tinggi tentu tidak akan mengeluh atas kemampuan bayar listrik setiap bulannya. Mereka sudah well educated, berani pakai banyak tentu harus berani bayar lebih. Tetapi bagi penduduk kota yang menengah ke bawah –ini bisa ditemukan di sepanjang Kali Code, perkampungan Lempuyangan, yang kebanyakan adalah pedagang kaki lima dan kuli bangunan, mudah sekali mengeluhkan ketika PLN sedikit menaikkan tarif dasar listrik (TDL). Dan cara mereka menggerutukan kenaikan TDL selalu sama: duduk-duduk sambil ngopi dan mengasapi mulutnya dengan asap kretek.

Pun ketika PLN menaikkan TDL,1 September 2014 lalu banyak orang berkeluh kesah. Padahal hanya golongan industri dan golongan rumah tangga 3300-5000 VA yang dinaikkan. Tidak semua.

Selain itu banyak masyrakat desa ketakutan untuk menaikkan daya. Masih bisa ditemui banyak rumah di desa-desa terpasang daya 450 VA padahal di rumahnya sudah ada kulkas, TV 21 inchi, pompa air, dan aneka peralatan listrik di dapur. Mereka lebih memilih harus mematikan beberapa atau modar-mandir ke kWh meter karena tegangan turun. Masyarakat membutuhkan edukasi secara baik.

Kita bergeser dari lapak TDL

Di Kecamatan Todanan, khususnya desa saya sendiri,  Desa Sonokulon hampir susah menemukan pegawai PLN resmi, terutama bagian perbaikan. Ketika ada kerusakan perihal instalasi di rumah, mereka hanya memanggil orang yang mengerti. Mengerti di sini bukan berarti dia seorang sarjana kelistrikan atau anak STM. Bukan. Yang mereka panggil ketika instalasi listrik bermasalah adalah sama-sama petani yang sedikit mengerti tentang urusan sambung menyambung listrik, seri-pararel rangkaian, dan sedikit lebih berani. Mereka memang bisa menyelesaikan permasalahan seketika, tetapi tidak jarang solusi tersebut justru menyimpan permasalahan gunung es selanjutnya. Sebagai contoh, sangat sering dalam menangani kasus seperti sekering putus atau sambungan meledak, ‘si ahli’ tersebut melakukan tindakan ala kadarnya. Mengisolasi, atau mengganti dengan barang-barang yang bukan SNI.

Pegawai resmi PLN paling dekat ada di kabupaten dan butuh satu jam perjalanan. Petugas di kecamatan hanya bertugas melakukan pembayaran. Akibatnya ‘si ahli’ tersebut menjadi sangat populer.

Serahkan pekerjaan pada orang yang ahli. Andai tidak?

Akibat paling mencolok setelahnya adalah kerusakan akibat penanganan ala kadarnya dan pemakaian barang non SNI yang dianjurkan PLN. Penggunaan peralatan listrik non SNI ini sangat berisiko tinggi. Bukan masalah kualitas yang berhubungan masa pemakaian saja, tetapi hal ini menyimpan bom waktu. Kebakaran dan konsleting bisa saja terjadi.

Peran ‘si ahli’ ini kadang terlampau jauh. Tahun 2006 atau 2007-an, saya masih ingat, listrik rumah saya sering turun dan jeglek. Setelah di cek ternyata sekering kendur dan minta ganti. Anehnya justru ‘si ahli’ ini menyarankan hal yang kata orang tua saya itu mencuri:

“Pak listriknya di-los-kan saja.”

Maksud di-los-kan adalah menaikkan sekering sehingga daya yang masuk rumah bisa melebihi standar yang tertera di kWH-meter, tanpa harus menaikkan daya. Misal rumah saya yang 900 VA bisa di-los-kanhingga 1300 VA, dengan tanggungan tetap 900 VA. Apa ini tidak perbuatan mencuri? Jelas iya! Seingat saya, orang tua saya tidak mengiyakan karena selama ini 900 VA masih memadai dan tidak hendak menambah peralatan elektronik.

Pencurian listrik dengan modus di-los-kan juga sangat berisiko kebakaran atau meledak. Karena daya yang mengalir terlalu besar melebihi batas maksimum, sehingga apabila ada kebakaran sekering akan kacau dan meledak.

Selain modus di-los-kan, ada modus lain dalam pencurian yang sering ‘si ahli’ tawarkan. Memasang peniti pada kWh Meter, memiringkan kWh Meter, atau sengaja memasang kabel yang langsung pada tiang untuk beberapa peralatan elektronik berdaya besar.

Penduduk desa memang sering mengeluhkan pembayaran listrik, beban tinggi,namun pemasukan kepada PLN rendah. Namun keberadaan dua permasalahan ini perlu dicermati oleh penyedia listrik, yaitu PLN secara umum.

‘Bidan Listrik’

Dalam kasus kesehatan untuk menjangkau daerah terpencil yang jauh dari pusat, ketika warga susah menjangkau rumah sakit besar, maka ditempatkanlah bidan, dokter desa, atau mantri. Mungkin sudah saatnya PLN membutuhkan keberadaan ‘bidan listrik’.

Bidan ini bukan hanya bertugas menjalankan tugas PLN dalam pembayaran setiap bulan. Namun juga melakukan edukasi listrik. Mendidik warga desa terhadap hal-hal yang susah dipahamia hanya lewat iklan layanan masyarakat. ‘Bidan listrik’ ini akan menjelaskan aneka perubahan yang dilakukan PLN, termasuk di dalamnya kenaikan TDL, perubahan dari sistim paska bayar ke pra bayar token, menjelaskan tentang keamanan listrik, dan tentu siap sedia ketika warga membutuhkan bantuan saat terjadi gangguan –namanya juga bidan. Bisa dibayangkan betapa mudahnya melakukan sosialisasi pelayanan listrik dan melakukan edukasi kepada lapisan masyarakat bawah jikalau ada ‘bidan listrik’ yang dikaribi masyarakat seperti mereka familiar dengan bidan, mantri, penyuluh pertanian dan mandor peternakan.

PLN memang sudah mendekatkan diri kepada publik melalui hotline 123 dan jejaring sosial. Tetapi perlu diingat di desa-desa terpencil, seperti Sonokulon tidak semua punya telepon rumah dan berkawan akrab dengan internet. Maka akun @PLN_123 sama saja mubazirnya kalau warga desa yang sering ceroboh terhadap listri tidak pernah memanfaatkannya. Semacam kombinasi antara keduanya. Bagi masyarakat urban menyampaikan keluhan melalui sosial media dan telepon (atau bisa dikategorikan citizen journalism) akan memudahkan. Sebaliknya bagi masyarakat rural, keberadaan ‘bidan listrik’ tentu lebih terjangkau keberadaannya.

Listrik sama pentingnya dengan kesehatan. Keberadaan ‘bidan listrik’ ini menjaga garda paling ujung terhadap kelancaran pelayanan PLN. Sehingga tidak akan ada lagi kebakaran karena salah instalasi, tidak ada orang kesetrum karena berani-berani membuka kWh meter. Bukankah semakin dekat akan semakin baik?(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s