Resensi

Senandung Bahasa Benny Arnas

(Jawa Pos, 12 Oktober 2014)

Bukti resensi (2)

Setiap ada cerpenis yang mengumpulkan cerpen-cerpen yang sudah tayang di media massa, lalu menjadikan satu dalam sebuah buku kumpulan cerpen, selalu muncul pertanyaan dalam kepala, apa pembaca buku masih membutuhkannya? Bukankah cerpen-cerpen tersebut sekarang bisa dengan mudah dinikmati secara online?

Tetapi, pertanyaan tersebut terbantahkan ketika kita mengingat perkataan begawan sastra Umar Kayam. Kayam pernah menyebutkan, cerpen adalah bentuk sastra tersendiri yang harus dipromosikan sebagaimana layaknya novel dan puisi.

Pembukuan merupakan salah satu metode dokumentasi untuk menjadikan cerpen sebagai konsumsi publik yang lebih luas. Membuat cerpen tidak mudah tua dimakan waktu. Tentu usaha penyatuan cerpen-cerpen menjadi buku harus memuat kejutan tersendiri untuk pembaca yang sejadinya sudah lebih dulu membaca cerpen-cerpen tersebut di media massa.

Nahm kejutan itu yang bisa didapatkan pembaca dari kumpulan cerpen Benny Arnas (B.A.) bertajuk “Cinta Tak Pernah Tua”. Buku dari tokoh muda sastra Jawa Pos 2013 ini, terdiri dari 12 cerita pendek yang pernah tayang di koran-koran besar negeri ini. Kehadiran buku tersebut tidak jadi biasa-biasa saja, karena dihiasi ilustrasi aduhai dari Ibnu Thalhah dan sebuah kejutan mirip kado spesial. Ketika dicermati cerpen-cerpen ini berkelindan menjadi satu cerita panjang yang kompak.

Kisah yang Tak Pernah Tua

Kisah-kisah dalam buku ini berpusat pada keluarga Tanjung Samin, beristri Maisarah dan memiliki tiga anak Musral, Badri, dan Misral. Samin memiliki seorang kawan bernama Mukhlisin. Persoalan keluarga Samin tidak sedamai impian menjadi sentra kisah. Mulai dari kehilangan anak, poligami, jebakan kenangan silam, kecemburuan yang mewarnai kehidupan Samin dituturkan secara apik oleh B.A.

Samin berulang kali disebut sebagai mantan seorang pejuang, yang memiliki kisah silam sebagai seorang lelaki penyuka lelaki. Ini dapat ditengok dalam kisah “Orang Inggris”. Ya, awalnya kisah asmaraku dengan pemuda berkulit merah itu hanya demi alasan pengintaian. Aku tak pernah sadar kalau aku telah menjadi seperti dirinya (hal.36).

Namun di akhir Samin menyadari asasinya sebagai seorang lelaki, aku ingin membangun hidup yang lurus, memiliki istri dan anak-anak, serta membuat mereka bangga pada seorang laki-laki –atau seorang pengembara atau seorang pejuang –sepertiku. (hal.37)

Kehidupan pasutri Samin dan Maisarah pun terus beriak. Samin veteran pejuang yang sudah berusia senja, masih saja kegatelan dengan badan sintal perempuan. Dalam cerpen “Senapan Bengkok”, Samin menemukan dirinya sudah bukan lagi lelaki gagah dan veteran dengan senapan bengkok.

Sejak menikahi perempuan yang berusia dua puluh tahun lebih muda darimu itu, kebanggaanmu sebagai seorang bekas pejuang diinjaknya pelan-pelan (hal.72). Kecemburuan Maisarah atas istri-istri muda Samin dimetaforakan dengan dua ekor tupai dalam cerpen Tupai-tupai Jatuh Dari Langit”. Permasalahan lain yang mendera Samin dan Maisarah adalah saat anak-anaknya meninggal. Rasa putus asa membuat Maisarah mendakwa Samin dengan aneka tuntutan. Lihat cerpen “Muslihat Hujan Panas”.

Hubungan Samin dan anak-anaknya pun tidak luput dengan persoalan. Orang tua hanya bisa melepas anak-anaknya untuk menemukan hidupnya masing-masing. BA mengibaratkannya sebagai “Pohon Tanjung itu Cuma Sebatang”. Lelaki tua yang hanya bisa menyesali kepergian anaknya merantau dan harus ikhlas menerima kabar kematian anaknya. Maafkan Bapak, Misral. Bapak baru menyadari kesalahan justru ketika kau sudah pergi. (hal.40)

Persahabatan antara Samin dengan Mukhlisin tidak khusnul khotimah. Negara dan Samin telah menelikung Mukhlisin dari belakang. Dalam “Bunga Kecubung Bergaun Susu” dikisahkan bahwa Mukhlisin harus rela menerima nasib tak mujurnya dan aneka berita miring akan dirinya yang menjadi pengepul kayu bakar. Bukan sekadar kenyataan bahwa Negara tak mengakuinya sebagai bekas pejuang atau kenyataan bahwa justru Samin, teman seperjuangannya, yang mendapat tunjangan dari pemerintah setiap bulan, tapi juga kenyataan bahwa mungkin saja ia adalah seorang perjaka paling tua yang pernah ada! (hal.60).

Cinta adalah kisah yang tidak pernah tua. Cinta adalah bahasa Tuhan dalam menciptakan dunia. Cinta seorang Mayang kepada Samin terus saja abadi hingga tua merenggut kesegaran tubuhnya. Kisah masa lalu Samin dengan Mayang dituturkan dalam “Belajar Setia”.

B.A. sedang mengabadikan kisah cinta Samin. Cinta Samin yang mantan pejuang dan memiliki gelora lelaki tak pernah surut. Karena cinta, bahasa Tuhan dalam menciptakan dunia, tak pernah menjadi tua.

Cara yang Tak Pernah Tua

Setiap membaca fiksi B.A., pembaca akan dimanjakan dengan alunan bahasa yang penuh bunga-bunga. Bunga-bunga mendominasi setubuh karya B.A. B.A. selalu mahir meramu kalimat yang sangat bercorak Melayu. Pilihan diksi yang unik dan kiasan-kiasan yang tidak bisa ditemukan pada pengarang lain.

Di kisah “Pengelana Mati dalam Hikayat Kami” B.A. memulai bercerita seperti sedang menjadi seorang juru kisah: Kepada mereka, ingin kukenalkan dirimu. Karena kau adalah mula segala cerita dan hikayat di atas hikayat (hal.6). BA membuat bingkai cerita berisi sapaan juru kisah pada khalayak dewan penikmat. Ini mengingatkan pada bagaimana AA Navis memulai cerpen. Sebagai coontoh dalam “Robohnya Surau Kami” dimulai pula dengan bingkai: Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, …dst. Bahkan di “Senja yang Paling Ibu” BA membuat pembagian mukadimah dan khatimah secara nyata. Gaya seperti ini membuat pembaca dekat dengan penulis karena dilibatkan, seperti seorang kanak yang merangkul nenek sedang bertutur sebelum lelap malam.

Bunga-bunga kata BA dalam buku ini menjadi dominan, menjadi bukti perasaan halus dan penuh filosofi sang penulis. Hanya di fiksi BA ditemukan: waktu meninggikan dan menggemukkan pepohonan, celana kecubung warna labu, penindas berkulit jagung, wajahmu seperti kembang sepatu di dekat api membara, melesakkan jarum ke dadamu, dll. Frasa-frasa BA sangat orisinal dan kental nuansa Melayu.

Kisah-kisah BA dikerubuti asri nuansa pedesaan Melayu. Aroma pedesaan yang tenang dan asri terpampang jelas sepanjang buku ini. BA berkisah tentang betapa suburnya hutan Sumatera: Kadang ia memberi cendawan yang dipungut dari tunggul-tunggul, kadang satu-dua tandan pisang, kadang jantung pisang, kadang beberapa ikat pakis yang ia petik di hutan (hal.62).

Cara BA berkisah yang demikian menancapkan ciri khas miliknya seorang. Setiap penulis mampu mengisahkan peliknya poligami, tetapi yang bisa sememikat “Tupai-tupai Jatuh dari Langit” hanyalah BA. Cara BA menyampaikan gagasan, ideologi, sikap, dan presepsi dengan style tersendiri menjadi modal agar semua kisahnya tak pernah tua di ingatan pembaca. (*)

NB: betapa bangganya ketika seorang Budi Darma membaca resensi saya dan mengatakan ‘sangat bagus’ 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s