Cerpen

Janin

(Cempaka, September 2014)

ilustrasi Ibnu Thalhah

Di belakang kemudi setir, Yudi merenungi nasibnya. Matanya lurus mengawasi jalanan. Namun pikirannya berhamburan ke beberapa jam lalu, ketika ia bersama Bidari, istrinya, mendengar penjelasan dokter kandungan.

Meja berbahan kayu olahan memperlihatkan lingkaran tahun palsu. Kipas angin berputar menggelontorkan udara kosong di antara mereka. Laptop di meja ditutup memperlihatkan merek barang elektronik yang berkilauan, sedangkan lampu mouse berkedap-kedip bergantian warna. Dokter Kamal membolak-balik dokumen dalam map bening warna biru berlogo rumah sakit hasil pemeriksaan janin Bidari. Tangan Yudi dan Bidari berpilin. Cemas di dada keduanya saling balap, seperti lintasan sirkuit Formula 1. 

Akhir-akhir ini Bidari memang muntah-muntah tidak normal. Setiap mencium aroma, baik parfum Yudi wangi ataupun aroma minyak lumpia berlemak dan bikin Bidari eneg. Setiap usai makan, Bidari langsung muntah mengosongkan perut. Demam tinggi disertai meler tak kunjung berhenti. Semula Yudi tak menaruh curiga. Dalam pikirannya, itu kondisi wajar di masa awal kandungan. Tapi makin lama muncul prasangka tak enak beranak pinak di benak Yudi. Tubuh Bidari makin lesu, tumbuh totol-totol merah, dan susah makan. Hamil pertama di bulan-bulan pertama riskan dan lemah. Tak hanya ibunya, juga janin yang masih berupa gumpalan darah.

Bidari lebih gusar. Matanya sembab menahan bocornya bendungan di kedua bola mata, yang kata Yudi mirip kelereng -kecil dan bening. Hidungnya terus berair. Bidari lebih takut pada pikiran buruk yang terus menghantui.
“Positif rubella. IgG rubella positif 131,9 Iu/ml,” Dokter Kamal akhirnya membuka suara. Kalimatnya perlahan cenderung lirih, tetapi sudah cukup membuka bidam Bidari.

Pecah tangis Bidari membayangkan betapa sialannya virus rubella akan melumpuhkan calon bayinya. Atau kegururan? Kesakitan kuret takkan mengalahkan kekecewaan yang bakal ia rasakan. Merasa bersalah dengan Yudi. Merasa tidak bisa membahagiakan Yudi.

“Sebenarnya bisa dipertahankan, tetapi akan sangat berisiko dengan kelahiran bayi.”
“Sebaiknya bagaimana?” sebagai suami, Yudi harus terlihat tegar. Meski mimpi bahagia menimang bayi siang itu sudah buyar.
“Seorang bayi dengan infeksi rubella dapat menderita kelainan beberapa organ penting. Mohon maaf, saya menyampaikannya secara langsung. Bayinya harus digugurkan. Rubella sudah akut.”

Bidari sudah tidak bisa menahan sesenggukan. Penjelasan penting dari Dokter Kamal hanya menambah lebam di hatinya. Bidari menghela napas, “apa tidak bisa diselamatkan? Apa harus dibunuh?”
“Nyawa ibu lebih berharga dalam kasus ini.”

Sesal dan perasaan bersalah tiba-tiba sporadis menjajah perasaan Bidari yang sehalus satin. Guguran air mata dan kesedihan bersatu di pipi dan dagu Bidari. Seperti derasnya hujan tergelincir di keramik licin.
Bidari terkulai di jok samping Yudi. Matanya sembab. Riasannya luntur dan menyisakan kuyu yang tak terperikan. Hiasan beruba boneka beruang yang tergantung di atas dasbor, justru seperti mengejek Bidari. Dalam pikiran Bidari, teringat kata-kata mertuanya kalau anak pertama haruslah seorang laki-laki. Sedang sekarang untuk mendapatkan seorang bayi saja susah, apalagi harus laki-laki. Istri tak bisa memberi anak, sebaiknya tak usah lama-lama dipelihara. Sudah selama lima belas tahun mereka menunggu.

“Kamu masih mencintaiku?”
“Apa pun yang terjadi, kamu tetap akan menjadi istriku.”
Kalimat itu justru memerah limau terlalu banyak di hati Bidari.

***

Bidari mengelus perutnya yang kosong. Tangan dan obat-obatan dokter Kamal sudah membenamkan mimpi Bidari memiliki bayi. Mimpi kadang liar dan tak bisa dikekang, bahkan oleh tuannya sendiri. Bidari sedang masa pemulihan. Ia terbaring di ranjang dengan buku-buku kesayangan dan racikan obat di meja, yang harus ia makan tiga kali sehari.

Lelah bersedih. Bidari membuka buku sambil memutar frekuensi radio. Tak jarang kantuk menyerang. Dan mimpi itu kembali datang.

Bidari berlarian bersama seorang bocah. Membelikannya cokelat batang dan lolipop. Mengganti pakaian yang basah oleh ompol. Membuka baju dan menyerahkan puting susu untuk si bocah. Mengelus rambutnya yang lembut. Mengecup kening dan mendengarkan aneka pertanyaan lugu.

“Adik kapan dilahirkan?”
Terhenyak. Bidari bangun lantas kembali diliputi sedih yang menhunjam lebih dalam dan menghantam hingga ulu perasaan.
“Andai aku Kunti yang bisa memanggil dewa untuk diberi anak?”

***

Suatu sore, ketika Yudi tak di rumah, Bidari melakukan ritual itu. Bidari menggelar tikar pandan dan bebungaan setaman. Bidari menghadap dan menghaturkan sujud kepada semburat oranye matahari melorot. Mulutnya merapal mantra memanggil Dewa. Ini adalah kali pertama ia mempergunakan mantra dari guru spiritualnya dari Gunung Kawi yang Bidari sering kunjungi usai proses dikuret yang menyakitkan. Mantra itu diajarkan bersama mantra agar Yudi tak pindah ke lain hati dan Bidari terus memendarkan aura. Kali ini ia ingin memanggil Dewa Matahari yang gagah perkasa untuk menanamkan benih di rahim Bidari.

Tak lama angin bergemerisik. Bunga-bunga berterbangan. Lalu munculah sosok itu.
“Bidari, panggilanmu sudah kujawab. Akulah Betara Surya, dewa matahari.”
“Berikanlah berkah kepadaku, dewa.”
“Tentu, mantra itu bukan hanya memanggilku. Tetapi juga mewajibkanku memberimu seorang anak. Jiwaku akan setengah ada padanya.”
Bidari menghaturkan sembah. “Terimakasih.”

Lalu dengan kekuatan simsalabim-abrakadabra sang dewa menurunkan seorang bayi dengan tubuh gempal sehat di tikar Bidari.

“Siapa harus kunamai bayimu ini, dewa?”
Tanpa ada jawaban. Dewa Surya sudah lenyap, pergi ke wanita-wanita yang memiliki mantra sejenis punya Bidari. Bidari sumringah. Lukanya selama ini akan hilang.

***

Saat Yudi sampai rumah, ia terkejut mendengar suara tangisan bayi. Dalam hati mungkin ini bayi Erna, tetangga sebelah, yang baru tiga bulan lalu melahirkan. Lalu Yudi mengajak masuk tamu yang hendak dikenalkan kepada Bidari. Tamu yang bisa memberi solusi persoalan Yudi dan Bidari.

Betapa terkejutnya Yudi, ketika ia tahu bahwa suara itu bukan dari bayi Erna, tetapi bayi milik Bidari yang diakui sebagai anak Dewa Surya. Bidari berusaha menjelaskan tentang mantra ajaib pemanggil dewa dan meminta anak. Yudi tidak menggubris. Ini zaman 2014, zaman android dan smartphone, tidak ada kisah-kisah dongeng seperti itu. Yudi berang seberang-berangnya.

“Kamu mencuri bayi dari mana? Pantas saja kamu dikutuk tidak punya anak.”

Bidari menangis sambil memeluk bayi itu. Sejurus kemudian RT, RW, lurah dan polisi membawa Bidari ke kantor karena tuduhan terlibat dalam jaringan penculikan dan penjualan bayi. Benar atau sekadar dikait-kaitkan terlihat sangat samar. Tuduhan yang kebenarannya masih sangat diragukan. Kisahnya semakin tragis, ketika Yudi menikahi wanita lain. Wanita yang sejatinya sore ketika kejadian itu hendak dikenalkan kepada Bidari sebagai terapis kandungan dan andal sebagai pemijat rahim. Nasib memang selalu tak seindah romansa. Lalu kemana bayi itu? Tak seorang yang tahu, pun si pemanen kisah.(*)

Advertisements

4 thoughts on “Janin

  1. Ralat pak. Yang menandakan infeksi yang masih berlangeung itu IgM Rubella… IgG hanya menandakan sang ibu pernah terinfeksi, bisa sudah sembuh, bisa masih sakit… Tp ga mengurangi keindahan cerita kok….

    Cerpen yang bagus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s