Cerpen

Hantu Esmara

(Pikiran Rakyat, 31 Agustus 2014)

"Salju di Mahkotamu" by Alima Hayatun Nufus
“Salju di Mahkotamu” by Alima Hayatun Nufus

Seperti ada petir menghentak kepala di tengah kemarau. Aku menerima kabar kalau Esmara ditemukan sudah membeku di dalam kulkas(1). Siang itu, aku baru saja pulang dari kelas senam ibu hamil. Kulihat depan rumah Esmara sudah dipenuhi para tetangga dan polisi, dengan wajah antara antusias dan tidak percaya. Teras dan pintu pagar rumah Esmara dibatasi dengan garis polisi kuning tidak boleh masuk. Orang-orang pada berdiri merubung tidak sabar menunggu polisi melakukan olah TKP. Beberapa membludak duduk-duduk di trotoar hingga beberapa mencangkung di depan rumahku.

Tubuh kaku Esmara ditemukan membiru dengan leher tertebas di dalam kulkas dengan seikat kacang panjang mengalungi pundaknya. Semua bahan makanan yang semula segar, menjadi layu dan berlumuran darah. Aroma basin dan cairan busuk menguar saat polisi membuka paksa pintu kulkas yang dilakban. Seolah masih kurang tragis dengan kematian Esmara yang begitu mencekam, beberapa bagian luka Esmara sudah mengeluarkan hewan-hewan kecil menggeliat. Polisi mengatakan kemungkinan Esmara mati dan disimpan dalam kulkas dua hari yang lalu. Di sinilah aku merasakan kebingungan luar biasa. Linglung seperti orang gila di perempatan jalan. Esmara, tetangga rumahku, yang sudah akrab seperti saudara jauh harus meninggal dengan sedemikian tragis.

Aku berada dalam pusara kekacauan emosi, takut, kasihan, ngeri dan tidak percaya. Aku ambruk. Kakiku lemas. Beberapa tetangga menangkapku. Mereka berasumsi bahwa aku yang hamil tidak tahan menyaksikan tetanggaku dibunuh dengan tragis dan mual karena darah cairan kental menetes-netes di jalan.

***

Aku baru pindah dua bulan lalu. Rumah cicilan memang. Suamiku mencicil rumah ini dan baru akan lunas ketika anak pertamaku masuk kelompok bermain, kira-kira empat tahun dari kontrak ditanda-tangani. Rumah sederhana itu cukup asri. Perusahaan properti sudah mendesain sebuah taman mungil di halaman setiap rumah. Dalam pikiranku taman kecil itu akan menjadi oase hijau di antara conblok batako. Aku juga sudah menyiapkan beberapa pot krisan dan lidah mertua untuk taman kecil tersebut. Kupesan rumput jepang untuk mengisi sela-sela pot. Aku juga mengumpulkan kerikil-kerikil untuk mempercantik taman mungil depan rumahku itu.

Aku tengah menata-nata posisi pot, menanam beberapa perdu kenikir dan kembang kertas. Seorang wanita mengucapkan salam. Esmara pagi itu datang mengantarkan sup jagung. Sebagai tetangga yang baru pindah, seharusnya aku yang mengunjunginya. Aku merasa tidak enak.

“Tidak masalah. Aku masak sup jagung banyak. Suamiku sudah berangkat, tidak mungkin kuhabiskan sendirian. Mau kan?” Esmara mengangsurkan semangkuk sup jagung. Aroma manis bercampur gurih menonjok-nonjok lubang hidung. Liurku membanjir. Ibu hamil kadang mudah lapar dan tergiur aroma enak.

Aku mengangguk terima kasih. Esmara, seperti kebanyakan ibu muda lainnya mengenakan terusan selutut dengan model simpel dan rambut diikat karet rambut hitam. Aku mengagumi bagaimana kulit Esmara seputih mirip.

“Berapa bulan kehamilannya?”

Kehamilanku memang sudah membesar dan mudah terlihat.

“20 minggu,” aku mengelus perutku. Pertemuan pertama dengan Esmara sangat kaku. Terlebih aku merasa bersalah, karena Esmara yang lebih dulu mengunjungiku.

“Sudah ikut senam ibu hamil?”

Aku menggeleng.

“Nanti kukasih tahu tempat senam ibu hamil terdekat.”

Kalimat Esmara sangat percaya diri. Wajar saja, Esmara mungkin pernah menjadi anggota senam ibu hamil. Melihat perutnya sudah kempes, sangat mungkin anak Esmara sudah besar.

“Sekarang umur berapa anakmu, Esmara?”

“Sayang sekali, sebulan lalu calon bayiku harus dikuret. Ada kelainan. Ini masih dalam masa pemulihan.”

Kalimatku kembali tidak pas. Tidak seharusnya aku bertanya seperti itu.

Mimik Esmara berubah tidak bahagia. Bagi seorang ibu, kesedihan karena kehilangan bayi, meski masih dalam kandungan tidak terperi pedihnya. Tidak bisa disamakan dengan luka paling perih di dunia ini. Aku hanya mengucapkan maaf karena membuat pertemuan pertama dengannya tidak nyaman.

Esmara ternyata bukan wanita dengan sensitifitas tinggi. Memang terlihat raut kesedihan saat kutanya demikian, tetapi sejenak kemudian senyumnya kembali menganak. Esmara justu merasa lebih bahagia sekarang, karena setelah janin pertamanya gugur, dia bisa lebih konsentrasi pada suami dan menyiapkan program kehamilan selanjutnya.

Esmara tinggal berdua dengan Panduri, suaminya. Panduri seperti halnya suamiku jarang terlihat duduk-duduk ngeteh-ngopi santai di rumah. Panduri memiliki bisnis konveksi di Bandung yang mewajibkannya berkeliling kota. Sepertinya Panduri benar-benar pebisnis ulet. Aku tak pernah melihatnya di rumah lebih dari dua hari. Mungkin itu yang menyebabkan Esmara lebih suka bertandang ke rumahku dan berbincang panjang lebar.

Esmara memiliki hobi memasak dan menanam sayuran di kebun belakang. Setiap pagi, saat aku menjemur cucian, Esmara selalu membersihkan gulma di kebun tomat dan ladang bayam di belakang rumahnya. Kalau sedang bekerja seperti itu, Esmara terlihat seperti ibu petani. Memakai topi bambu lebar dan pakaian panjang menutup semua permukaan kulit. Di pertemuan seperti itu, Esmara selalu berbagi berita-berita terbaru seputaran kompleks. Maklum wanita memang paling suka berbagi berita. Apalagi aku baru bisa cuti hamil saat masuk bulan ke delapan. Aku masih harus mengajar di depan kelas. Kesibukan itu membuatku jarang bersosialisasi, untuk menghaluskan bergosip, dengan ibu-ibu.

Aku dan Esmara hidup bertetangga baik-baik saja. Saling tolong menolong, berbagi perasaan, dan bertukar masakan. Kami memiliki kesepakatan tak tertulis untuk memasak lebih dan berbagi. Esmara yang pandai memasak dan punya banyak waktu luang, yang sering mengantarkan olahan.

Hingga kami sangat dekat dan tidak perlu lagi mengetuk pintu untuk masuk ke rumah. Antara rumahku dengan rumah Esmara ada pintu kecil dari kayu jati. Pintu itu menghubungkan halaman belakang rumah kami. Esmara biasa lewat pintu itu saat mengantar makanan ke rumahku. Sebaliknya aku juga sering masuk ke rumah Esmara lewat pintu itu dan ikut belajar memasak dari Esmara.

Suamiku baru saja pulang dari lawatan bisnis ke Medan. Aku hendak memberikan sekotak Bolu Meranti untuk Esmara. Pintu tembusan kubuka dengan mudah. Tanaman tomat dan bayam di halaman belakang Esmara hijau segar. Esmara merendam selimut dan gorden di dua ember besar dekat mesin cuci. Esmara memang membuatku iri, sudah pandai memasak, cantik, pandai bercocok tanam, juga tidak pernah abai pada pekerjaan rumah.

Pintu belakang dapur Esmara hendak kubuka. Tetapi kubatalkan ketika terdengar suara bentakan keras dari dalam. Panduri memaki Esmara dengan nada memekik. Panduri meneriaki Esmara dengan kalimat-kalimat yang sangat tidak pantas keluar dari mulut suami untuk istri. Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu apa permasalahannya, maka kurungkan niatanku memberi oleh-oleh. Saat pintu tembusan kubukan, suara pecahan benda pecah belah mengagetkanku. Lalu Esmara berteriak dan menangis tergugu. Aku buru-buru pergi. Tiba-tiba Esmara keluar lewat pintu dapur dan menangis. Kami saling pandang. Dia menghambur ke pundakku.

Esmara hanya cerita kalau hanya permasalahan kecil. Seperti riak di tengah perjalanan sebuah kapal. Suami istri kadang tidak bisa lepas dari cekcok. Tetapi saat tangan dan lemparan piring sudah menghiasi sebuah pertengkaran, menurutku itu sudah berlebihan.

“Cemburu.”

Masalah klise.

“Panduri mencurigaimu? Padahal kamu sehari-hari di rumah.”

“Aku yang cemburu,” Esmara menerima segelas air putih.

“Kenapa?”

“Ada beberapa pesan mencurigakan di ponselnya. Aku tanya, dia justru marah besar.”

“Panduri selingkuh?”

Esmara menggeleng. Lalu air matanya gugur seperti daun-daun tomat tua tak kuasa bertahan digoyang angin. Kupeluk dia. Kuelus rambutnya. Kurasakan betapa sakit Esmara.

Sejak saat itu pandanganku kepada Panduri selalu dirubung kecurigaan. Apa mungkin perjalanan bisnis ke Bandung dan Jakarta sekadar penutup kebusukan Panduri? Sedang di sini, Esmara menahan sakit perasaan dan masa pemulihan akibat kuret anak pertama mereka.

***

Kemarin lusa Panduri pulang. Aku memarkirkan sepeda motor, saat klakson mobilnya memekik dan Esmara tergesa keluar membuka pintu pagar. Esmara memasang wajah termanis. Senyum merekah tanpa dibuat-buat.

Aku merinding membayangkan cara hidup Esmara berakhir. Aku tak mengira Panduri ternyata lelaki bengis. Apa yang dilakukan Panduri kepada Esmara hingga mati? Dicekik? Ditusuk lalu digorok? Kalau Esmara mati dua hari lalu, terus siapa yang semalam menangis di rumahku? Apakah itu Esmara dalam dimensi lain? Apa itu hantu Esmara yang ingin menceritakan kisah pilunya kepadaku?

Esmara bercerita bahwa Panduri marah besar. Perselingkuhannya diketahui Esmara. Panduri punya istri muda tanpa sepengetahuan Esmara. Aku bisa mengerti betapa pilu hatinya. Betapa sakit kesetiaannya dan keluguan Esmara dibalas dengan keculasan Panduri.

Aku tidak berani masuk kamar, ke kamar mandi, atau ke dapur. Aku hanya duduk di ruang tamu dengan semua lampu menyala. Suamiku belum pulang. Ponselnya selalu dialihkan saban kuhubungi. Perasaanku tidak keruan. Bisa jadi Esmara masih berkeliling di lingkungan rumahku. Suara gorden digesek angin membuatku merinding. Langkah kucing di dapur, kusangka langkah hantu Esmara. Gerak dan suara kecil menimbulkan suasana berbeda. Menghidupkan kuduk dan membuat pikiranku menerawang kepada hal macam-macam.

Pukul lima suamiku pulang diantar taksi. Aku gegas keluar. Ingin segera kukabarkan perihal Esmara dan kuusulkan untuk sementara pindah. Suamiku keluar dari pintu.

“Dimana mobilmu?” aku bertanya setelah menerima ciumannya. Perasaanku sedikit tenang.

“Mogok. Masuk bengkel,” suamiku menyerahkan tas dan sebuah kotak, lalu berjalan menuju ruang tamu.

“Ini apa?”

“Kue,” suamiku masih fokus melepas sepatu dan mengendorkan ikatan dasi.

“Terima kasih. Kamu selalu repot-repot,” saat di dekat suamiku aku merasa aman.

“Bukan aku yang beli. Tadi Esmara memberikannya kepadaku. Katanya dia mau memberikannya kepadamu.”

“Esmara? Kamu bertemu di mana?”

“Saat aku menunggu taksi, Esmara lewat. Dia ngasih kue itu.”

Aku tiba-tiba seperti dikepung mata yang terus mengawasi.

“Mengapa wajahmu tiba-tiba pucat?” suamiku bertanya.(*)

(1) Adegan korban pembunuhan disimpan dalam kulkas dan dilakban, dicuplik dari film Laddaland.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s