Resensi

Beberapa Ciri Manusia Madura

(Radar Surabaya, 21 September 2014)

Madura merupakan entitas tersendiri yang berbeda. Selat Madura yang memisahkannya dengan Pulau Jawa, membuat Madura memiliki kebudayaan dan ciri tersendiri bila dibandingkan dengan Jawa. Secara bahasa dan kultur, Madura jelas memiliki perbedaan mencolok dengan Jawa.

Badrul Munir Chair (BMC) dalam debut novelnya Kalompang mendedah beberapa ciri manusia Madura. Penulis mengambil kisah keluarga Mattali dan Rofiqah di sebuah Desa Kalompang, Sumenep Madura. Kisah keluarga dan masyarakat Kalompang bisa dijadikan acuan untuk memahami sebagian kecil ciri manusia Madura. Novel perdana BMC ini diganjar juara 1 dalam kompetisi Tulis Nusantara 2013 oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Kalompang adalah kampung pesisir, berjarak hanya beberapa langkah dari garis pantai. Bahkan diceritakan ketika gelombang pasang maka dinding depan rumah Mattali akan terkena sapuan air laut. Nenek moyang orang Kalompang dahulu membangun rumah tidak sedekat garis pantai seperti sekarang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena abrasi bibir pantai dan perubahan iklim global. BMC yang sejadinya adalah orang Sumenep asli, mencoba mengabarkan kepada dunia bagaimana kehidupan orang Kalompang lewat novel ini.

Orang Madura itu Keras

Kepribadian keras menjadi ciri khas orang Madura. Kehidupan sehari-hari di lautan lepas menempa kekuatan orang Kalompang. Kalau tidak keras lautan lepas akan menelan dan menghempaskan kapal mereka. Kekerasan orang Kalompang dapat dicermati dari tekad kuat Mattali menjadi nelayan dengan alam pancaroba tidak menentu serta membahayakan.

Istilah Bajing begitu dekat dan ditakuti orang Kalompang. Bajing atau preman selalu mengedepankan kekerasan. Bajing selalu berhubungan dengan kekerasan dan tindakan kriminal: berjudi, merampok, bahkan tak segan membunuh. Kelompok Bajing dikenal sangat angkuh, kasar, sombong, dan suka membuat keonaran. Memiliki ilmu kanuragan, kebal bacok, ilmu hitam. (hal.53)  Juga bahwa orang Kalompang sendiri tidak terlalu percaya pada bajing, janji bajing tidak bisa dipegang (hal.99)

Orang Madura itu Religius

Mayoritas agama di Madura adalah islam. Kehidupan masyarakat di Kalompang tidak bisa lepas dari kentalnya religiusitas. Orang Kalompang yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan memiliki tingkat kepasrahan tinggi kepada Pangeran (red: Tuhan) mereka. Kehidupan keras sebagai nelayan yang abhantal ombak asapo’ angin, berbantal ombak berselimutkan angin, meyakinkan orang Kalompang bahwa tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan Maha Pencipta laut dan ombak. Bahkan dalam bahasa Madura terdapat istilah abhantal syahadat, asapo’ iman, apajung Allah, berbantalkan syahadat, berselimutkan iman, dan berpayungkan Allah. Sebuah ungkapan yang menandakan keprasahan secara total para nelayan Kalompang saat melaut secara khusus dan orang Kalompang pada umumnya.

Kehidupan sehari-hari orang Kalompang pun tidak bisa dipisahkan dari aneka ritual agama. Keberadaan masjid, kiai, dan guru ngaji menjadi sumber kebijakan orang Kalompang. Setidaknya dapat dicermati dari potongan kalimat berikut,

Ketika jamaah salat magrib telah usai, anak-anak kecil mulai membentuk setengah lingkaran, menghadap Mbah Maimun. Secara bergantian mereka akan menyetorkan hafalan surat-surat pendek yang telah ditugaskan. (hal.13-14)

Masjid bagi orang Kalompang bukan sekadar tempat berkumpul saat jam peribadatan semata, tetapi tempat belajar agama dan tempat sosialisasi bagi orang dewasa. Selain itu ritual keagamaan yang dibungkus dengan ritual tradisional pun tidak asing bagi masyarakat Kalompang. Ketika Adnan (ipar Mattali) hendak merantau ke Malaysia, mereka sowan dan minta saran kepada Kiai Karnawi, melakukan acara kenduri saat keberangkatan Adnan, atau mendoakan perahu baru Mattali. Orang Kalompng juga memiliki acara tahunan rokat tase’ atau di Jawa disebut sedekah laut. Melarungkan aneka sesajian untuk kekuatan kosmis lebih besar yang memiliki laut dan memberi rejeki orang Kalompang lewat hasil laut. 

Laut dan Orang Madura

Keadaan geografis Madura memaksa orang Madura bersahabat dengan laut. Laut bagi orang Madura bukan lagi bagian dari tumpah darah tetapi darah mereka. Pun demikian dengan orang Kalompang, apalagi keberadaan Kalompang yang hanya beberapa meter saja dari bibir pantai. Dalam keseharian laut bagi orang Kalompang adalah tempat tinggal kedua setelah rumah.

Kehidupan penduduk Kalompang hampir tidak bisa dipisahkan dari laut. Rumah-rumah di pinggir laut, tinggal tak jauh dari lautan, mencari makan di lautan, bahkan tak jarang nelayan-nelayan Kalompang yang mengembuskan napas terakhirnya di tengah lautan. (hal.85)

Orang Kalompang dan juga penduduk pesisir lainnya, menjadikan laut sebagai bagian dari hidup, hingga membuat perayaan terimakasih untuk laut. Laut tetaplah memiliki kekuatan besar di luar jangkauan manusia, maka ketika laut menunjukkan keganasan kepasrahan menjadi tameng utama. Cobaan orang melaut tenggelam, cobaan orang naik mobil tabrakan (hal.217). Ancaman utama atas keserasian hidup antara orang Kalompang dan lautan mulai diganggu oleh kedatangan pemodal yang hendak mendirikan pabrik pengolahan ikan di Kalompang. Keserakahan pemodal memang selalu merusak keharmonisan manusia dan alam.

Kearifan lokal Kalompang yang dikisahkan BMC sedemikian apik dan menggambarkan beberapa kharakteristik manusia Madura, bahwa orang Madura yang keras dan religius mampu hidup berdampingan dengan lautan. Keharmonisan manusia dengan alam selalu mengajarkan untuk saling menghargai dan menjaga, sebagaimana orang Kalompang menjaga lautan yang telah memberi kehidupan dan sesekali merampas kehidupan pula.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s