Resensi

Dunia Surealis Kafka

Kafka On The Shore adalah novel kelima dari Haruki Murakami yang saya baca. Saya sudah membaca Hear The Wind Song, Norwegian Wood, After Dark, dan tentunya 1Q84. Ketika membaca novel ini, aneka pertanyaan dalam kepala saya tidak lagi protes seperti ketika membaca novel sebelumnya. Istilahnya saya sudah terbiasa dengan dunia aneh-aneh yang disajikan Haruki Murakami.

IMAG0180

Sepertinya Haruki Murakami gemar sekali membuat dua plot yang berbeda kemudian disatukan menjadi kelindan cerita yang sejadinya adalah satu. Di 1Q84 juga demikian, kisah Aomame dan Tengo yang seperti tidak berkaitan (bagaimana bisa kisah seorang guru di sanggar kebugaran yang disewa membunuh seorang pemuka agama bisa berkaitan dengan seorang penulis yang membidani lahirnya sebuah novel fantastis). Demikian pula dalam novel Kafka On The Shore, yang diterjemahkan oleh dalam bahasa indonesia menjadi Dunia Kafka, terbitan Alvabet, perjalanan hidup Kafka Tamura remaja pria 15 tahun yang melarikan diri dari rumahnya di Nakano, Tokyo ke Tamatsu ternyata berkaitan dengan kisah seorang kakek Satoru Nakata yang bisa berbicara dengan kucing, tidak bisa membaca, dan selalu merasa bodoh dan kosong. Dalam 1Q84 pengaitnya adalah sebuah kepompong yang bisa menghubungkan dunia konsep dengan dunia mereka dan juga kisah cinta Tengo dan Aomame saat masih SD yang belum tuntas. Sedang dalam novel ini, pengaitnya adalah sebuah batu masuk dan pembunuhan seorang laki-laki yang mengumpulkan jiwa kucing untuk memanggil jiwa manusia.

Kafka Tamura merasa hidupnya akan hancur apabila terus di Nakano hidupnya akan hancur. Dia tidak ditinggal ibunya dan kakaknya saatu berusia 4 tahun, tidak ada nama ibu dan kakak dalam kartu kelaurga, bahkan sekelebat kenangan pun tidak ada. Dia pergi begitu saja ke Tamatsu, alam bawah sadar membawanya ke Tamatsu dengan tujuan pasti yaitu Perpustakaan Tamoru. Dalam kereta dia bertemu dengan Sakura (ada adegan lucu antara Kafka dan Sakura, adegan dewasa memang). Lalu Kafka menginap di hotel dengan harga diskon karena Kafka mengarang cerita sedang melakukan penelitian di Perpustakaan Tomaru. Hingga suatu ketika, Kafka tiba-tiba terbangun di semak-semak dengan baju berlepotan darah. Lalu Kafka menginap di ruangan pribadi di Perpustakaan Tomaru dan disanalah kisah antara Nona Saeki, Oshami dan kenangan lukisan dan lagu “Kafka di Tepi Pantai” menjadi pembuka kisah silam Kafka pribadi. Bahkan teka-teki serta pembuktian akan ramalan ayah Kafka bahwa kelak Kafka akan membunuh ayah dan meniduri ibu dan kakak perempuan.

Di lain sisi, ada pengisahkan Nakata. Mengapa dia tiba-tiba dia menjadi bodoh dan tidak bisa membaca. Semasa kecil ada kejadian agak ganjil dan ada hubungannya dengan dunia surealis yang menyebabkan semua kepintaran Nakata lenyap. Dan pasca kejadian itu Nakata memiliki kelebihan bisa berbicara dengan kucing. Dan mulailah semua itu. Nakata membunuh Johnie Walker, kemudian dia lari kemana-mana. Kemudian menyasar ke Tamatsu dan menemukan batu pembuka. Lalu semua kisah absurd bermunculan. Lalu akan terjawab (meski samar) siapa sebenarnya membunuh Johnie Walker yang sebenarnya adalah ayah Kafka? Lalu apa hubungannya dengan Batu Pembuka? Ada banyak absurd.

Haruki Memang pandai mengubah kesepian dan kegundahan masing-masing manusia modern menjadi hal yang surealis. Kafka sejak kecil tidak mendapatkan kasih sayang ibu dan Nakata dikucilkan oleh keluarga karena tidak sepandai kakak-kakaknya. Dua tokoh ini secara eksplisit memang oke-oke saja, tetapi ketika dirunut alasan mereka melakukan tindakan-tindakan “absurd” dapat dijelaskan kalau efek depresi bisa sedemikian mengerikan.

Di novel ini banyak sekali kejadian absurd. Dimulai dengan Bocah Bernama Gagak, berbicara dengan kucing, hujan makerel, hujan sarden, hujan lintah, batu pembuka, tidur selama 34 jam, roh manusia yang masih hidup, dll. Tetapi jujur, banyak yang belum bisa kumaknai secara implisit. Hanya kumaknai sebagai kejadian surealis yang memang tidak membutuhkan penjelasan sevara logis (namanya juga surealis) yang sejadinya adalah gambaran kegelisahan manusia-manusia modern.

Dalam novel ini, satu hal yang berbeda dari beberapa novel yang sudah kubaca, Haruki menyisipkan hal-hal konyol yang menurutku lucu.

Misal ketika dia menjelaskan pakaian Oshima: As always,a couple of strands of hair have fallen over his face (mengapa Oshima memakai kata ganti his bukan her? Ini ada penjelasan yang agak konyol. Oshima perempuan homoseksual.) The hands of electric clock on the wall behind him tick soundlessly on. Everything around him is silent and clean. I doubt the guy ever sweats or hipcups.

Kehadiran ‘hipcups’ di tengah-tengah suasana tenang yang digambarkan membuat saya terbahak. Seperti guyonan kita, bagaimana ya cara berak Alisya Soebandono, Titi Kamal, atau Raisa (sekadar mengambil contoh wanita cantik)? Kentutnya bagaimana? Yaa lucu memang.

Seperti biasa Haruki Murakami memang bermain-main dengan filosofi dalam karya fiksi. Meski dengan aneka bahasa yang lancar dan tidak bermaksud menggurui.

That things in life are fated by our previous lives. That even in the smallest events there’s no such thing as coincedence. Kisah Kafka ternyata adalah sebuah buah dari kisah Nona Saeki dan Tuan Tamura di masa silam.

My grandpa always said that asking questions is embrassing for a moment, but not asking’s embrassing for a lifetime. Bertanya hanya bikin malu sekali, tidak bertanya sesat seumur hidup.

Anyone who falls in love is searching for the missing pieces of themselves. So anyone in love gets sad when they think of their lover. Haruki sudah merumuskan bagaimana galau menerpa kekasih.

Selesai membaca ini, selain menghibur juga merasakan ternyata orang Jepang mudah sekali kesepian. Sepertinya aku suka novel ini. surelaisnya tidak perlu dikasih motif secara logis tetapi menghibur dan menggelitik.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s