Cerpen

Sebatang Trembesi

Catatan: Cerpen ini kubuat sore setelah melayat di pemakanan ayah sahabat saya. Cerpen ini adalah penceritaan ulang atas kisah salah satu sahabat terbaik saya. Kehilangan orang yang kita sayangi, bagaimana pun bentuknya tetaplah menyakitkan.

SEBATANG TREMBESI

(Majalah Femina, 13-19 September 2014)

Sebatang Trembesi (2)

“Ayah tunggu di sana saja,” Ayah menunjuk sebentuk bangku di smoking area Bandara Adi Sutjipto. Ruangan outdoor itu dipayungi rerimbunan pohon trembesi kokoh, tepat di muka pendopo model klasik Jawa tempat mobil pengantar menurunkan koper dan penumpang sebelum melaju ke area parkir. Pohon trembesi yang kutaksir sudah sedemikian tua itu menjulang di tengah pikuk bandara yang tak diam seharian. Makin elok oleh senja yang lolos di sela-sela cabangnya.

Aku mengangguk. Pesawatku lepas landas setengah enam sore. Masih ada tiga puluh menit sebelum pengeras suara mengumumkan kalau boarding gate sudah dibuka. Ayah ingin meluruskan punggung setelah menyetir. Ibu, adikku Trisa, dan tiga sahabatku asyik berlempar gurauan di bangku tunggu. Perlu canda agar perpisahan tak terlalu kentara sedihnya.

Sepintas kusaksikan punggung Ayah bergerak ke kanan-kiri menahan perutnya yang buncit. Kepergianku ke Ternate ini tentu hal berat baginya. Gadis sulungya harus menapak lebih jauh, mengembangkan sayap lebih lebar dan mendulang pengalaman lebih luas. Seperti kata Ayah, bumi ini terlalu luas untuk tidak dijelajahi. Di setiap liter air di laut dan jengkal bumi pasti ada hal baru yang harus diilmui.

Usahaku mendapat restu untuk merantau ke Ternate tak semudah merajuk maaf saat Ayah menemukan lebam di pipi dan tulang hastaku retak jadi dua, akibat jatuh dari motor dengan laju hampir 100 km/jam sepulang kuliah dulu.

“Anak gadis kalau naik motor yang sopan. Enggak usah balap-balapan,” ucap Ayah. Samar wajah Ayah dirundung duka mendalam. Ayah punya cara sendiri untuk mengungkapkan sayang dan menutupi betapa rumpang hatinya. Di sepotong kalimatnya ada cinta, meski terasa begitu kaku.

Ayah sangat mengkhawatirkan pekerjaanku di Ternate. Berulang kali ditanyakannya: Ayah pasti kangen. Ternate itu dimana? Ada sinyal 3G tidak? Ada teman tidak? Rumah kos di sana bagaimana? Apa benar-benar sudah berani hidup sendiri dan jauh? Aku memakluminya. Kepergianku ini adalah kepergian pertama selama 22 tahun hidup serumah dengan Ayah Ibu di Yogyakarta. SD hingga kuliah di Yogyakarta. Aku juga tak pernah menjadi penghuni kos atau asrama.

“Kanina sudah dewasa Ayah. Kanina kini sudah sarjana arkeologi,” kucoba memberi Ayah senyuman, untuk meredakan kekhawatiran.

“Tapi, kamu anak gadis.”

“Kanina pasti bisa jaga diri. Kontrak di Ternate kan cuma setahun.”

Kulirik wajah Ayah yang sendu dikerubuti kerut.

Setelah berbincang sedikit merayu selama seminggu, akhirnya Ayah dan Ibu mengikhlaskanku menerima pekerjaan di penggalian situs candi di Ternate.

“Kanina akan belajar dewasa dan menjaga diri baik-baik,” kalimatku meyakinkan Ayah.

Menjelang keberangkatanku, Ayah terlihat lebih sibuk daripada ibu. Di sela-sela kesibukannya menjadi penyiar radio, Ayah sempatkan untuk mengantarkanku membeli segala yang harus kubawa ke Ternate. Beberapa potong pakaian formal dan pakaian lapangan untuk penggalian.

***

“Hati-hati di Ternate. Jaga salat dan sikap. Tuhan Maha Melihat dan malaikat teliti mencatat.” Ayah memelukku. Kuiyakan. Lalu kucium punggung tangannya. Mendengar nasihat Ayah, mataku terasa perih dan ingin menangis.

Ibuku terisak-isak. Mata Ayah hanya berkaca sebentar, lalu mengalihkan dari tatapanku. Mungkin Ayah malu kalau terlihat cengeng di mata anaknya. Perpisahan memang terlalu melodrama. Terlebih suasana senja yang seolah ikut sedih.

Kulambaikan tangan. Kupanjatkan doa perjalanan. Ayah, Ibu, Trisa, dan tiga kawan melambai-lambai sambil mengumbar senyum kepergian. Kucermati suasana terminal pemberangkatan Adi Sutjipto. Memang bandara itu terdengar sangat gaduh, namun di tiap sisi ada kenangan yang tiba-tiba bersinar seperti emas disepuh.

Dunia luas dan bertebaranlah manusia di mukanya. Kutahan air mata. Sebaiknya kujatuhkan di dalam pesawat saja, tak ingin kutambah kesedihan mereka.

***

Pesawatku transit di Soekarno Hatta. Kuluruskan punggu di ruang tunggu bandara. Sepatu kulepas. Kardigan kubuka. Kutenggak air mineral sambil mengamati suasana bandara. Berbeda sekali dengan Yogja. Soekarnno Hatta lebih ramai dan lebih luas. Pesawatku ke Ternate berangkat tengah malam. Sekarang pukul 19.00. Masih ada waktu panjang sebelum aku kembali boarding. Bisa kupergunakan untuk mengumpulkan tenaga bersiap penerbangan selanjutnya dengan estimasi lama 3,5 jam di langit nusantara.

Besok, saat pertama kali kulihat matahari pertama di langit Ternate, aku akan menjadi Kanina yang baru. Yang memiliki hidup sendiri. Menyetrika sendiri. Mengatur uang gaji dan pengeluaran sendiri. Menyapu, mengepel, dan menanam pohon di pekarangan sendiri. Dan tentu kangen rumah sendiri. Meski Kanina tidak akan berubah. Tetap tomboi, suka kegiatan outdoor, tak memakai tabir surya, dan tak takut menghitam akibat terpanggang matahari di tengah-tengah situs galian tidak akan pernah hilang.

Membayangkannya perasaanku jadi sendu. Syahdu tiba-tiba mengiris perasaan. Sudah kubayangkan betapa besarnya rasa rindu saat jauh dengan Ayah dan Ibu. Setahun nanti tak ada Ayah yang menemani begadang menyelesaikan laporan penggalian, tak ada Ayah yang memberiku segelas kopi di tengah acara bola dini hari, tak ada Ayah yang akan mengajakku makan bakmi Jawa di dekat Gembiraloka. Getaran itu semakin kuat, hingga menjebol air mataku. Perasaanku semakin runyam kalau mengingat Lebaran nanti aku belum tentu dapat cuti liburan panjang untuk pulang.

***

“Kak Kanina sudah sampai bandara?” Trisa bertanya lewat telepon.

“Ya. Lagi rebahan,” kutengok jam di pergelangan tangan, 20.48. “Masih ada 3 jam lagi.”

Suara di ujung telepon diam. Hening.

“Ada apa?”

“Kak Kanina pulang sekarang. Jatung Ayah kumat.”

Lah? Terus bagaimana?” pertanyaanku meluncur otomatis. Tiba-tiba ada perasaan sedih yang berkembang. Aneka macam pikiran berkecamuk. Sedih dan kecewa.

“Ayah kritis.”

Semoga prasangka buruk ini tidak jadi nyata. Semoga Ayah kembali bugar. Kekalutan tiba-tiba muncul tanpa komando. Harus kubatalkankah kepergianku ke Ternate? Tiket? Lalu bagaimana impianku dengan nuansa pantai di Ternate? Kehidupan mandiri?

Suara Trisa seperti sedang menutupi isyarat buruk. Persis adegan sinetron! Bedanya aku jadi tokoh utama dan nyata.

Demi mencari kepastian, kuminta kawanku yang sore tadi mengantarkanku untuk mencari kabar pasti kondisi Ayah. Sambil kuderas doa keselamatan untuk Ayah. Dan bersiap untuk kemungkinan paling buruk. Aku di tengah-tengah serangan rasa gelisah.

Sepuluh menit kemudian takdir datang, “Kanina Ayahmu sedo. Meninggal. Berita itu ditimpakan dari langit. Tepat di kepala lalu meremukkan dada. Seperti hantaman gada yang meluluhlantakkan tubuh. Menghantam seluruh badan hingga kakiku goyah. Aku ambruk.

Guguran air mata tak bisa kubendung. Kakiku lemas. Tulang seolah lolos. Aku menangis sekencang-kencangnya. Aku sudah tak memedulikan anggapan orang. Aku ini gadis yang sore tadi diantar Ayah untuk berangkat ke Ternate menjemput impian, dan sekarang harus kudengar Ayah meninggal. Betapa tragis dan melodramatis episode hidupku ini. Setomboi-tomboinya aku, kehilangan Ayah, meski Ayah tiri, tetaplah kesedihan paling menghunjam.

Kubatalkan tiket perjalanan ke Ternate. Kuhubungi atasanku di Ternate. Kuceritakan kondisiku. Dia terkejut. Ini benar-benar sinetron buatan Tuhan. Kucari tiket kembali ke Yogja. Habis. Harus kutunggu untuk penerbangan paling pagi, jam 5.30? Aku sudah tidak sabar. Travel? Tidak mungkin. Bus… kereta… apalagi.

Paman di Surabaya menghubungiku. Memintaku mencari penerbangan ke Surabaya dilanjut dengan mobil bersamanya ke Jogja. Allah Maha Penolong. Pohon trembesi yang kokoh, mengayomi, rindang, mampu menyimpan jutaan liter air hujan, kini tumbang oleh waktu.

***

Di tengah guyuran hujan air mata, malam yang gelap bak mangsi cina, aku masih tidak percaya mengapa nasibku seklise sinetron. Doa kupanjat untuk Ayah. Apa kata tetangga, kawan, saudara yang kemarin kupamiti hendak ke Ternate? Lalu pekerjaanku?

Turun di Djuanda kembali disambut dengan tangisan kesedihan keluarga paman.

Fragmen-fragmen terakhir bersama Ayah melintas tanpa bisa kukendalikan. Ayah repot menyiapkan barangku. Memasukkan koper di bagasi mobil. Mengingatkan barang-barang kecil takut terselip. Pelukan dan nasihat terakhir Ayah. Meski tak lagi bersuara keras air mataku terus keluar deras tanpa bisa kutahan. Sepertinya baru dua minggu lalu surat penerimaan lamaranku datang. Bersusah minta izin. Tadi sore pamitan di bandara. Sekarang harus kembali ke Yogja, dan Ayah pergi tanpa pamit.

Sepanjang perjalanan, kusaksikan pepohonan menghitam karena malam. Sangat mungkin di antara pohon-pohon di tepian jalan itu ada sebatang pohon trembesi. Trembesi yang giat menyerap air, kokoh besar menjulang. Memberi rimbunan bagi makhluk-makhluk di bawahnya. Kini sebatang trembesi sendiri menjemput takdirnya. Kuingat nasihat Ayah.

“Kanina, kamu tahu lingga-yoni? Begitulah hidup. Selalu komplemen. Nestapa dan bahagia itu berpasangan.”

Kini sebatang trembesi sendiri, dengan kerimbunan dan kemampuannya tegak menjulang.(*)

 

Advertisements

3 thoughts on “Sebatang Trembesi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s