Cerpen

Lorong Merah

(Riau Pos, 14 September 2014)

page_28

Permintaan terakhir Eyang seperti cangkriman. Sempat terpikir untuk mengabaikannya. Eyang tetap akan meninggal meski permintaan terakhir itu tidak terkabul. Permintaan Eyang meluncur di antara ambiguitas sadar dan igauan koma. Obat dokter tak bisa mengendalikan pitam Eyang yang seperti roller coaster. Lalu merembet ke organ inti lain yang aus. Komplikasi akut.

“Ingin Eyangmu meninggal tidak tenang?” tanya ayah retoris.

Bukan aku tak ingin memberi Eyang hadiah sebelum kami berbeda dimensi.

Siapa tahu dengan itu kematian Eyang dipercepat, seperti katalis dalam reaksi kimia. Aku tahu ayah juga ingin segera merampung urusan Eyang. Sudah hampir dua bulan Eyang koma. Eyang enak-enakan terbaring di ruang VIP rumah sakit, meski mungkin Eyang meredam lara. Sedangkan kita yang masih hidup pontang-panting mencari jawaban teka-teki Eyang. Lampu neon menyapu wajah Eyang, lalu terlihat kerut-kerut menimpa wajah.

“Lorong merah?” aku kembali protes.

Ayah mengembuskan napas. Lalu diraihnya sigaret dari kantong kemeja. Sebelum ayah memantik korek api, aku tunjukkan tanda larangan merokok yang terpajang besar di koridor rumah sakit. Ayah mencecap lidah. Lalu meludah di dekat tong sampah. Sebenarnya meludah sembarangan pun sebuah larangan di rumah sakit.

***

Di tengah-tengah penurunan fungsi organ di sekujur tubuh Eyang, lidahnya mengucap ‘lorong merah’ berulang kali. Pencarian dimulai. Aku ditugaskan mengungkap laiknya detektif. Apa Eyang masih berjanji dengan seseorang di lorong merah? Lalu di mana lorong merah itu?

Eyang tidak gemar mencatat memoar. Maka tidak akan ditemukan tanda-tanda untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan itu di seluruh catatan baik yang ditulis di buku, di dinding-dinding, atau di balik gebyok ruang tengah.

Kutelisik almari-almari di rumah kami, yang sudah ditempati Eyang sejak masih bayi. Kemungkinan ada sesuatu yang bisa menjelaskan maksud Eyang  ada di salah satu almari di rumah. Yang pertama kuperiksa adalah almari pakaian Eyang di kamarnya. Kugeledah. Tidak ada barang mencurigakan. Hanya ada beberapa lembar jarit Eyang  aneka motif, pakaian dalam, kutang, mukena, dan beberapa uang simpanan Eyang dalam sebuah kantung perca. Simpanan Eyang berupa uang-uang rupiah kertas keluaran lama. Juga beberapa koin uang Belanda dan Jepang. Dan selembar foto pernikahan Eyang .

Mungkin ada bagian rahasia dari dipan Eyang. Kubongkar kasur. Tidak ada. Justru aku menemukan sebuah ruangan yang menjorok ke bawah. Ranjang kuno memang dipasangi ruang rahasia untuk menyimpan harta benda saat perang. Kubuka. Aku menemukan harta Eyang yang tidak pernah kudengar. Beberapa tusuk konde yang bermahkotakan mawar terbuat dari emas. Sebuah sampur sutra. Dan selembar surat yang hanya diisi tiga kalimat singkat. Sayang waktu telah melumerkan tinta surat tersebut. Tidak bisa kubaca, apalagi surat itu ditulis dalam bahasa Belanda. Hanya satu kata yang bisa kubaca jelas, “Malini” nama Eyang .

Di grobog tidak ada rahasia Eyang. Ada seperangkat cangkir dan teko minum teh dari porselen buatan Belanda, toples-toples tempat kue kering lawas, cangkir, piring, dan hiasan-hiasan dari porselen yang tertera jelas “Made in Holland” di bokongnya.

Dari mana barang-barang buatan Belanda ini? Apa Eyang pernah berhubungan dengan opsir, dewan jenderal, atau pejabat Belanda? Embah Kakung bukan orang Belanda. Embah Kakung orang Blora asli. Eyang yang guru SD dan pensiun sebagai kepala sekolah, tidak memiliki cukup uang untuk jalan-jalan ke Belanda.

“Tidak ada, Yah!” kutelepon ayah di rumah sakit.

“Coba tanya Yu Parsi. Dia jadi batur sejak Eyang masih remaja.”

Yu Parsi mungkin menyimpan rahasia Eyang. Atau minimal akan ada cerita apa Eyang pernah menjalin asmara di masa muda dengan lelaki Belanda?

Segera kucari di rumah siapa Yu Parsi kini tinggal, setelah pamit pulang dari rumah Eyang. Yu Parsi sudah meninggal lama. Tamatlah sudah usahaku.

Sepertinya aku harus menjelajahi masa remaja Eyang untuk mengungkap rahasia lorong merah tanpa membawa tanda sebuah klu pun. Ada beberapa tempat yang bisa kukunjungi di kota ini. Kutulis dalam daftar. Ada area Jalan Suroto dengan deretan rumah-rumah tua. Di sanalah dahulu orang Belanda bermukim. Ada sekolah SR di mana Eyang bersekolah, lalu menjadi guru. Juga ada sebuah pendopo, di sana Eyang  pernah gladen beksan bersama penari dari Puri Mangkunegaran.

***

Ternyata rencana kadang tidak semanis kenyataannya. Belum sampai pada satu dari beberapa tempat yang kudaftar, ban mobil pecah. Butuh satu setengah jam untuk menggantinya. Lalu jalanan tiba-tiba macet. Kabarnya ada demonstrasi mahasiswa yang membuat jalanan mampet dan dihalangi oleh ban bekas terbakar. Jadilah aku baru sampai jejeran bangunan lawas di kawasan Jalan Suroto setelah lepas bedug asar. Itupun masih harus dijejali oleh mobil-mobil merayap usai pulang kerja.

Sudah kuputuskan untuk rehat sejenak.

Aku masuk Kedai Noni untuk melepas dahaga. Kepalaku benar-benar penat terhimpit. Kutahu Kedai Noni sama tuanya dengan peradaban kota ini. Bagunannya masih dijaga lawas bergaya Belanda. Jendela-jendela besar kaca warna-warni dan atap yang tinggi. Pun perabot-perabotan kayu yang tua. Piano hitam kuno. Lalu toples-toples kaca berisi kue-kue kering. Dan dinging klasik dengan hiasan foto hitam putih. Juga sebuah penanda kalau toko ini berdiri sejak 1936.

Sebenarnya aku suka duduk di dekat jendela. Tetapi sepertinya aku kurang beruntung sore ini. Kursi dan meja biasa kududuk sudah diisi oleh seorang kakek dan wanita muda, yang kemungkinan cucunya. Mereka bercengkerama. Akhirnya aku memilih kursi yang lebih dalam. Kupesan es krim dengan coffee flavour dan sekerat ontbitjkoek, bolu khas Belanda. Andai bisa kumakan semua yang ada di daftar menu. Sudah kupastikan akan kubungkus kue kering speculaas dan koekjes dengan pilihan rasa keju, kacang, cokelat, dan rempah. Kunikmati kudapan sambil mengagumi pemandangan Kedai Noni yang pasti lebih tua dari usiaku. Sebentar aku lupa pada urusan Eyang .

Seorang wanita yang duduk di dekat jendela menghampiriku. “Maaf, apa saya bisa meminta bantuan Anda?”

Aku tercengang. Kupandangi wajahnya. Jelas sekali ada darah Belanda di sana.

“Saya Maria. Opa saya sedang ulang tahun. Apa Anda bisa turut memberinya ucapan selamat dan doa. Opa saya pasti bahagia.”

Kusebut namaku, kami berkenalan. “Dengan senang hati,” aku berdiri dari kursi dan menuju meja Maria dan opanya.

Kusaksikan lelaki tua itu begitu rapuh. Kerut menempel di muka seperti pepagan di pokok kayu waru. Tangannya menggenggam erat tongkat. Tatapannya kosong.

“Silakan,” Maria memberi isyarat agar lebih kudekatkan mulut ke telinganya.

Kudekatkan mulut. Kuucapkan selamat ulang tahun. Lalu kupanjatkan agar tetap sehat dan panjang umur. Mungkin kakek ini akan semakin bahagia apabila banyak yang memberinya ucapan selamat ulang tahun. Tiba-tiba wajah Eyang yang kesakitan dengan aneka peralatan dokter timbul tenggelam di mataku. Aku dikepung perasaan berdosa lantaran belum bisa memenuhi permintaan Eyang. Semoga dosaku itu bisa digantikan karena sudah membuat kakek ini bahagia di hari ulang tahunnya.

“Untukmu,” suara kakek agak pelo. Kakek itu menyerahkan sebuah kotak kado. Mungkin ini salah satu hadiah dari ratusan cucunya.

Kuterima. Aku lekas balik ke meja. Kuamati kotak pemberian kakek Maria. Kotak kecil dibungkus kertas kado dengan gambar kacang-kacangan warna cokelat. Kuintip sebuah jepitan rambut dengan kepala sedompol bunga lili. Sebaiknya kado ini akan kuberikan kepada seseorang nanti. Tanpa kuperhatikan jalan, seorang pramusaji wanita menubrukku.

“Maaf, saya tidak sengaja.”

“Tidak masalah. Kamu mau ini? Tadi kakek di sana memberikannya untukku. Sepetinya aku tidak butuh,” kataku kepada pramusaji.

“Kakek yang mana Tuan?” pramusaji bertanya sedikit aneh.

“Itu yang di….,” saat kutoleh kursi dekat jendela itu ternyata kosong. Udar dari pendingin ruangan membuat leherku lebih dingin. Kakek itu? Maria? Tiba-tiba ada yang meremang di tengkuk belakang.

“Tadi ada kakek dan cucunya duduk di sana dan memberikan ini kepadaku,” kalimatku meyakinkan.

“Sepertinya tuan berhalusinasi. Sedari tadi meja di sebelah sana kosong.”

Halusinasi? Jelas sekali adegan itu bukan muncul dalam mimpi. Maria datang menghampiriku. Memintaku memberi ucapan selamat ulang tahun kepada si kakek. Di tengah kebingunganku, teleponku berdering. Pesan dari Ayah: Eyang Malini meninggal.

Kotak di genggaman jatuh. Lalu memuntahkan isi, jepitan rambut dan selembar potret sepia. Seorang lelaki Belanda dan gadis dengan kebaya, jarit, dan sanggul. Dua wajah yang tidak asing. Gadis Jawa itu semanis Eyang Malini. Dan adakah lelaki Belanda di foto sepia itu yang memberiku kado?

Di angkasa, langit menghitam karena mendung datang, ditambah serombongan kelelawar berangkat mencari makan. Di seberang jalan seorang gadis dengan rambut di kepang jatuh dari sepeda. Dengkulnya membentur aspal. Lalu seorang lelaki dengan perawakan kekar gegas keluar dari lorong menolong. Sebentar, apakah mataku tidak salah? Itu lorong dengan warna bata merah.(*)

Keterangan:

Cangkriman         : teka-teki Jawa

Gebyok               : pembatas ruangan dalam rumah Jawa

Grobog                : lemari kayu untuk menyimpan makanan

Batur                    : pembantu

Gladen beksan    : latihan menari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s