Cerpen

Menghafal Mahar

(REPUBLIKA, 7 September 2014)

menghafal mahar - Ilustrasi

“Begitu terjaga, dengan mata masih setengah terpejam, seketika aku membaui aroma wangi yang mirip parfum Savitri. Juga aroma segar pengharum ruangan malam itu,” Himam bercerita penuh semangat. Matanya berninar lebih cerah dan wajahnya merona oleh bungah yang membuncah.

“Itu namanya benar-benar jatuh cinta,” Damar menanggapi. Tangan kanannya memutar-mutar sendok di mangkok dawet. Sedang Gunawan menyimak penuh perhatian. Mulutnya menganga seolah hendak menyampaikan rentetan pidato. Damar dan Gunawan terus memerhatikan bagaimana perubahan wajah Himam.

Suasana makan siang benar-benar istimewa, seperti kata Himam ketika membuat janji dengan dua karibnya itu, Damar dan Gunawan.

“Tulang rusukmu sudah ketemu, Himam!” Gunawan mengangkat bicara.

“Bahkan aku masih tidak percaya Savitri menerima khitbah-ku. Rasanya seperti mimpi. Gadis salihah itu mau menerimaku yang begini-begini saja. Tidurku malam itu pun tak bisa nyenyak,” Himam tidak henti menumpahkan rasa gembira.

Setiap lelaki dewasa akan berpolah seperti Himam, kalau lamarannya diiyakan. Rasa bungah tidak berhenti. Seperti ada kepak kupu-kupu di dadanya yang berbunga. Bayangan-bayangan bahagia mendera kepala dan terjiplak jelas di retina.

Damar dan Gunawan pun pernah dalam posisi dan kondisi yang sama.  Memang mereka ditakdirkan untuk menikah lebih dulu daripada Himam. Damar menikah selepas proposal beasiswa S2 diterima. Sedang Gunawan melepas masa lajang di tengah masa co-ass dokter. Himam lebih lama dalam menemukan tulang rusuk. Sebagaimana proses pada umumnya, tidak bisa disamaratakan. Tetapi takkan dipermasalahkan meskipun terlambat, karena bukan urusan tercepat tetapi terbaik dan dipenuhi berkat. Juga karena tidak akan tertukar perkara jodoh itu.

Himam akan menuju pelaminan, bersanding dengan Savitri wanita yang diam-diam disukainya. Damar dan Gunawan sepakat bahwa seenak apapun menu makan siang kala itu, tidak akan melebihi kerenyahan bagaimana cerita Himam menyampaikan maksud meminang kepada keluarga Savitri. Ada degup gugup. Ada genderang penuh riang. Juga ada was-was kalau usaha Himam malam itu kurang sukses.

“Tetapi ada yang harus kukejar,” Himam mengubah mimik wajah.

Damar dan Gunawan mendekatkan wajah, penuh antusias.

“Savitri minta mahar sedikit susah,” kalimat Himam agak pelan. Seperti baru saja mendapat tugas menggeret sebuah truk berisi pasir. Berat.

“Berapa juta?” Gunawan bertanya spontan.

Himam menggeleng.

“Emas dan berlian?” kini giliran Damar.

“Bukan. Savitri hanya minta mahar hafalan surat ar-rahman.”

Tawa Damar dan Gunawan meledak. Tawa itu bukan bermaksud merendahkan. Sekadar tawa pemberi semangat dan implisit mengatakan “Himam pasti bisa!”.

Menghafal bukan perkaran gampang, tetapi tak ada hal yang musykil kalau serius dikerjakan. Memang lebih praktis kalau Savitri meminta mahar berupa cash, perhiasan, atau seperangkat alat shalat dan alquran seperti kewajaran sebuah mahar. Himam bukan perjaka dengan kondisi keuangan memadai. Profesinya sebagai dosen dan pengusaha tempe-tahu, takkan memberatkan.

“Mending dia minta uang,” Himam meraih es jeruk di meja. “Kalian pasti tahu aku tidak punya hafalan banyak. Juz 30 saja masih blekak-blekuk. Grotal-gratul.”

“Sebuah surat ar-rahman lebih berharga ketimbang harta. Savitri sedang mengujimu, Himam.” Gunawan menasihati.

“Ini jadi ujian pertamamu. Serius atau tidak?”

Himam terdiam. Damar dan Gunawan saling pandang, merasa kurang enak.

“Atau ini cara Savitri menolakmu. Karena yakin kamu tidak bakal hafal.”

Kalimat itu meluncur untuk meredakan ketegangan. Sekadar guyonan. Kekancan memang butuh guyonan sebagai pengencer. Meski ada nada sindiran.

Himam lalu tertawa, matanya kiyer-kiyer hampir tertutupi kelopak.

“Pasti bisa. Surat Ar-Rahman gampang.”

“Masih ada dua bulan menjelang hari pernikahan. Dan itu pasti bisa.”

Pertemuan siang itu diakhiri dengan saling menyemangati. Damar dan Gunawan siap membantu Himam menghafal. Mungkin menyimak ketika Himam sedang muroja’ah, sekaligus membenarkan kalau Himam terbalik-balik ayatnya. Sedangkan Gunawan masih saja mencandai Himam.

“Himam, kalau nanti kamu tidak hafal. Aku siap menjadi pengganti calon mempelai pria.”

Himam mendaratkan tinju ke bahu Gunawan.

***

Walaupun sibuk dengan aktivitas masing-masing, mereka masih bisa bercengkerama. Makan siang atau minum kopi di kedai kopi langganan mereka. Terlebih mereka disatukan dalam pengajian pekananan yang sama. Saban rabu malam. Kehadiran mereka seperti kulit zebra, belang bentong. Kadang Damar sendiri yang datang. Tak jarang Gunawan merasa kecelik, karena sendirian. Juga lebih sering Himam saja yang hadir. Praktis mereka bertiga jarang sekali lengkap bertiga dalam pengajian pekanan.

Tetapi sejak Himam mengumumkan tanggal pernikahan dan mahar berupa hafalan surat ar-rahman, Damar dan Gunawan punya alasan untuk selalu hadir di pengajian pekanan.

Di sela-sela pengajian itulah, Damar dan Gunawan sering bertanya progres Himam menghafal surat ar-rahman. Di minggu pertama Himam hanya berhasil menghafal lima ayat pertama. Himam disibukkan dengan aneka pekerjaan dan persiapan pernikahan. Apalagi Himam bukan muslim yang rajin menghafal al quran. Himam belum pemanasan menghafal mahar.

“Baru seminggu. Tak apa,”  Damar menanggapi.

“Kalau ketemu fabiayyi ‘alai robbikuma, pasti gampang,” Gunawan menyambar.

“Justru itu bikin susah. Kadang tertukar-tukar.”

“Allahu ma’ana. Pasti Allah mudahkan.”

Mereka bertiga sepakat untuk menjadikan pertemuan di pengajian pekanan untuk setor hafalan dan pengecekan. Mereka bertiga gonta-ganti membaca. Usaha berat akan ringan andai dilakukan bersama. Dengan keterlibatan Damar dan Gunawan, Himam tidak akan merasa sendirian dalam menghafal ar-rahman.

Gunawan menyarankan untuk menghafal sambil membaca artinya. Mengerti arti akan mempermudah mendapatkan pancingan andai lupa teks arabnya. Memang akan bekerja dua kali, tetapi akan lebih lama terekam.

“Savitri memintamu menghafal bukan hanya untuk menikah saja. Dia tentu senang kalau suaminya paham al quran. Sebaiknya sekalian baca artinya,” Gunawan menasihati.

Himam mengangguk mengiyakan. Setelah dua pekan mempergunakan metode yang ditawarkan Gunawan, Himam berhasil menghafal 40 ayat dari 78 ayat ar-rahman. Sebuah kemajuan yang pesat.

Tanggal pernikahan sebentar lagi tiba. Almanak pun sudah tebal dilingkari. Himam makin disibukkan detail akad dan resepsi.

Damar dan Gunawan mulai khawatir, kalau-kalau sampai deadline Himam belum hafal utuh surat ar-rahman. Maklum Himam tak bertampang anak pesantren, atau wajah hafiz.

Lalu muncullah ide brilian Gunawan. Himam menghafal dalam dua bagian. Bagian ayat yang tidak direpitisi dan bagian fabiayyi alaai robbikuma tukadziban yang diulang 31 kali. Otomastis Himam hanya butuh menghafal 47 ayat yang tidak ada repetisi. Dan sepotong ayat fabiayyi alaai robbikuma tukadziban. Setelah kedua bagian itu lunas, maka Himam hanya butuh mencari tanda penempatan ayat fabiayyi alaai robbikuma tukadziban.

“Betul!” Himam mengiyakan.

Tenyata inilah cara paling tepat Himam menghafal ar-rahman. Terbukti dua minggu sebelum tanggal pernikahan Himam berhasil melunasi hafalan tanpa tersendat. Bahkan mulai sok menggunakan nada-nada yang biasa dipakai dalam MTQ.

***

“Bagaimana kalau di depan penghulu aku kagok?” Himam didera gugup luar biasa, di menit-menit menjelang ijab kabul.

“Bismillah!”

Himam menggumamkan aneka doa buat menenangkan perasaannya. Siapapun yang pernah menikah, tentu paham berada di depan penghulu, bertatap muka dnegan tangan dijabat wali calon istri adalah masa paling mendebarkan sepanjang hidup lelaki. Mengucapkannya kurang dari semenit, tapi tanggung jawab seumur hidup. Dan Himam harus menyetor hafalan ar-rahman sebagai mahar.

“Kamu sudah hafal,” Damar menepuk bahu Himam.

“Apa kalian mau membantuku?”

“Apa?”

“Begini kalian duduk tepat di belakang penghulu. Kalau hafalanku tercecer, kalian memberi pancingan. Aku benar-benar gugup.”

Damar dan Gunawan mengangguk. Lalu menemani Himam berjalan menuju serambi masjid tempat ijab kabul akan dilaksanakan.

Semua tamu sudah datang. Kolega, keluarga, sanak famili, karib dan tetangga berkumpul mendoakan. Savitri ada di barisan perempuan di belakang, terbalut dengan gaun pengantin broken white.

Penghulu dan ayah Savitri sebagai wali bersila satu meja dengan dua orang saksi dan Himam. Jelas terlihat ada butir-butir keringat di kening Himam. Gugup.

Penghulu mengecek kelengkapan dan kesanggupan dua mempelai.

“Berhubung maharnya adalah hafalan, kami persilakan mempelai pria menyetor hafalan sebelum ijab kabul,” penghulu menyilakan.

Himam memulai dengan taa’wuz dan basmalah. Sepuluh ayat pertama lancar. Posisi fabiayyi alaai robbikuma tukadziban tidak tertukar.

Di ayat ke-55, Himam berhenti. Di tarik napas agak lama. Matanya menerawang ke depan. Lalu dilanjut kembali, tetapi itu bukan ayat selanjutnya. Himam justru mengulangi ayat 52. Tertukar.

Mata Himam mencari-cari. Dia ingin mendapatkan pancingan dari Damar atau Gunawan. Tetapi penghulu dengan bahu lebar dan badan gempal itu menutupi semua pandangan. Himam menarik napas sambil mengingat-ingat kembali hafalan.(*)

Catatan: Khitbah : proses melamar; Muroja’ah : mengulang-ulang hafalan;  Hafiz : penghafal alquran

NB: Cerpen ini adalah sebentuk kado sederhana pernikahan untuk Himarosa Rela dan Savitri pada 18 Oktober 2014 nanti. Barokallah semoga dimudahkan hingga akad dan menjadi keluarga pemburu surga. Amin

 

Advertisements

2 thoughts on “Menghafal Mahar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s