Cerpen

Ibu Sungai

 

(Tribun Jabar, 7 September 2014)

????????????????

 

Nenek marah besar, seolah aku kucing kudisan yang mencuri ikan asin lauk makan siang. Ingatanku yang masih belia kala itu, dapat mengingat jelas bagaimana wajah nenek. Kerut-kerut menempel seperti dilem pada tulang pipi, berlipat-lipat kusut tak pernah disetrika. Gigi merah bekas menyirih menambah seram. Aroma sirih menyembur bersama cipratan ludah. Ucapannya memekik. Aku yang masih basah kuyup hanya menunduk memandang jempol kaki kanan yang lebih besar dari sebelah kiri. Nenek memarahiku karena sore-sore aku langen di Kali Gajah Wong .

Andai aku bukan anak yatim piatu yang tidak kuketahui di mana ayah-ibuku, pasti aku sudah memukul keras nenek atau minimal menghambur mencari perlindungan ke ayah ibu. Sedekat apa pun, nenek tetaplah bukan keluarga inti. Anak ke ibu saja bisa sangat jauh jaraknya, apalagi nenek yang selalu marah ketika aku bersama teman-teman bermain air di Kali Gajah Wong di tengah sawah yang kalau hujan airnya dipenuhi belut dan ikan wader. Anak kecil mana yang tidak suka dengan air?

“Kalau kamu sampai kesapu banjir, bagaimana?” nenek bertanya dicampur menghardik. Nadanya mirip perkataan saat memarahi pemuda-pemuda yang sering membedol singkong tanpa izin di halaman belakang rumah ketika jagong malam-malam ronda perempatan desa. Apa kesalahanku sama besar dengan perilaku mencuri mereka? Aku sekadar bersama kawan-kawan menceburkan badan di derasnya Kali Gajah Wong usai memanjer layangan. Musim panas seterik ini, tentu nyaman kalau badan terus dibasahi air Kali Gajah Wong. Itu saja dan nenek marah.

Memang Kali Gajah Wong mampu menghanyutkan orang. Terlebih saat pasir dan batuan gunung muntahan Merapi terbawa, badanku yang ringkih bisa hanyut terbawa bongkahan batu vulkanik sebesar kerbau itu. Tetapi kenapa hanya nenek yang begitu khawatir? Sedang nenek Topa, ibu Ayu, nenek Ponidi, ibu Kumpil, atau ibu Lamto, teman-teman yang biasa bermain di pinggiran Kali Gajah Wong, tidak marah. Apa begini perilaku nenek kepada cucunya yang tidak diketahui ayah ibunya?

Kabarnya keganasan Kali Gajah Wong bukan hanya dari kemampuannya membawa serta manusia hingga muara, yaitu Pantai Selatan. Kali Gajah Wong juga dihuni berbagai memedi. Kolowewe mampu menghisap nyawa anak-anak langsung dari ubun-ubun. Kolor Ijo memerawani gadis yang mandi tak kenal waktu. Yuyukangkang yang tidak memakan tapi suka menciumi pipi perawan yang mencuci dan meninggalkan bau anyir hingga perjaka tak mau mendekat. Serta hewan mamalia yang masyhur di dunia dongeng, ular berkepala tiga, buaya yang mengendap-endap serta seekor biawak yang suka menculik anak-anak. Tetapi sampai berjuta kali aku main di pinggiran Kali Gajah Wong, aku tidak pernah berpapasan muka dengan kesemua makhluk yang dibikin untuk menakut-nakuti anak-anak. Tidak.

Yang kutemui justru seorang wanita dengan paras ayu dan rambut yang selalu dihiasi kembang kenanga. Pagi hari ketika orang-orang kampung berderet-deret berjongkok membuang hajat sambil menghitung berapa banyak ‘plung…plung’ yang hanyut di Kali Gajah Wong. Atau siang saat aku usai sekolah dan bersama kawan-kawan suka selulup usai main layangan. Atau sore ketika permukaan kali benar-benar menguning bersama matahari yang making angsrub di ujung barat. Wanita itu sering ada di pinggir Kali Gajah Wong memandangi kami lalu mengumbar senyum.

“Re, itu namanya Sirbupati,” kata temanku. “Gadis gila. Anaknya hilang di Kali Gajah Wong saat mencari suami.”

***

Kerti membawa Kyai Dwipangga ke kali yang lumayan dalam. Kali itu dirimbuni berbagai pohon yang sudah berbuah. Nafsu hayawaniyah dari Kyai Dwipangga mulai menggeliat. Belalainya meraih-raih mangga, kelapa, atau rambutan yang menggiurkan. Jadilah Kerti kuwalahan memandikan hewan berbobot ratusan kilogram itu.

“Dasar hewan. Lihat makanan saja sudah blingsatan.” Untuk menghentikan ulah gajah, Kerti merampas dengan golok beberapa buah-buahan dan langsung disuguhkan keapda Kyai Dwipangga yang dengan sigapnya langsung menyorongkan ke mulut dengan belalai.

***

Sirbupati bukanlah perempuan jahat. Manis dan baik hati. Pernah sekali Sirbupati hendak mandi, aku ternganga menyaksikan tubuh kuning dibalut kebaya dan kain itu lolos dan masuk di tepi Kali Gajah Wong. Seperti sebongkak labu kuning di tengah bening dan transparannya Kali Gajah Wong.

“Sirbupati, nenek melarangku menemuimu. Katanya kamu wanita hantu yang suka makan ubun-ubun anak-anak,” kalimatku konyol.

“Kalau iya, tentu kalian sudah kujadikan sayur asem.”

Aku justru tertawa. Sirbupati menyerahkan pisang susu. “Katakan pada nenekmu, aliran sungai tetaplah aliran sungai. Tak usah dibendung. Sungai tetap bermuara ke segara.”

Aku melumat pisang susu tanpa memahami kalimat Sirbupati. Mungkin nenek bisa menerjemahkannya.

“Sampaikan ini kepada nenekmu,” Sirbupati menyerahkan serenteng bunga kenanga.

***

Sirbupati tidak tega melepas Kerti pergi. Firasat istri kadang ada benarnya. Sinar di wajah Sirbupati tidak sejernih biasa.

“Mas, mbok jangan pergi hari ini.”

“Kalau nggak pergi, Kanjeng Sinuwun bisa marah kalau gajahnya tidak dimandikan.”

“Tapi…”

“Sudahlah, aku akan kembali. Kamu mau apa?”

Sirbupati diam, dalam hati ia menjawab bahwa Sirbupati hanya ingin Kerti kembali tanpa kurang satu pun. Selamat berangkat, selamat kembali.

Andai Kerti hari itu tidak tertimpa sial, tentu cerita ini tidak akan pernah lahir. Kerti menemui maut saat memandikan Kyai Dwipangga di kali. Tiba-tiba gerojokan air seperti ombak pantai selatan bergulung-gulung menyapu gajah dan tubuh Kerti. Tanpa sempat pamit, tanpa sempat meminta pertolongan, dua bongkahan daging dan tulang milik Kerti dan Kyai Dwipangga mengalir hingga segara kidul. Dari sana muncul istilah Kali Gajah Wong, kali yang sempat menenggelamkan gajah dan manusia.

Lalu di mana Sirbupati?

Kesedihan membutakan naluri keibuan. Sirbupati ayu nan molek berjalan menyusuri kali dimana Kerti dihanyutkan. Berjalan terus tanpa henti. Sedih ditinggal Kerti, Sirbupati menyusuri kali dan tiba-tiba di sebuah batu besar lahirlah bayi laki-laki. Sirbupati meninggalkan bayi itu dan kembali menyusuri kali demi suaminya Kerti. Tanpa pernah kembali menemui bayi lelaki itu.

***

“Kamu bertemu Sirbupati?” nenek sudah memasang wajah penuh amarah.

“Itu tadi pesannya agar aku sampaikan kepada nenek. Dan ini serenteng kembang kenanga untuk nenek,” tanpa ragu kukasih serenteng kenanga kepada nenek.

Plak. Gagang siwur tiba-tiba menempeleng kepalaku. Ada cucuran darah. Lelehan itu seperti air hujan. Dan bertemu air mata kesedihanku.

“Redyagulan, kamu tahu. Itu adalah ibumu. Ibu yang tega meninggalkan bayi merah di batu. Hanya hantu yang tega meninggalkan bayi merahnya nangis di pinggir kali. Dan aku bukanlah nenekmu. Aku hanya janda tua tanpa anak yang bahagia menemukan bayi merah tanpa pemilik di batu pinggir Kali Gajah Wong. Ternyata kamu sama nakalnya dengan Sirbupati….”

Sirbupati ibuku? Siang itu aku diusir dari rumah nenek. Dan aku mulai mencari dimana Sirbupati dan Kerti, kedua orang tuaku bermuara. Sudah jadi hantukah mereka berdua?

Kususuri Kali Gajah Wong. Kutengok setiap cabang anak sungai. Kuteliti di mana hantu Sirbupati dan Kerti berdiam. Tak masalah memiliki orang tua hantu daripada dipelihara janda tua yang gemar mengunyah sirih, memaki, dan melempar pukulan di kepala.

***

Sudah ratusan tahun Kali Gajah Wong mengalir. Selama itu pula aku terus mencari hantu ayah ibuku. Tapi aku tidak bisa menemukan di pohon atau batu mana mereka berdiam menjadi hantu. Mungkin hantu Sirbupati dan Kerti migrasi ke kali lain di bumi ini. Tetapi sudah ribuan sungai dan bengawan kususuri; Kali Serayu, Kali Code, Kali Gendol, Kali Porong, Bengawan Solo, dan kali-kali lain, hantu Sirbupati dan Kerti tak menampakkan diri.

Kuyakin sungai-sungai di muka bumi ini bertemu dalam satu muara. Dan di sana Kerti dan Sirbupati bersama. Tapi….

“Apa itu sebabnya kamu menulis cerita ini?” tanya sebuah sungai yang mengenalkan dirinya sebagai Kali Code.

Aku mengangguk. Lalu melanjutkan mengetik kisah berikutnya…. (*)

NB: Kisah ini didasari pada legenda Kali Gajah Wong, di Yogyakarta

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s