Cerpen

Dengan Kaki Meja, Dia Meremukkan Kepala

NB: cerpen ini kubuat ketika hari lahirku, 26 juli 2014 lalu. Ya, semacam kado untuk diriku sendiri. Cerpen ini berdasarkan kisah nyata tetanggaku yang menjadi gila karena dipulangkan (red:dicerai) suaminya yang orang medan dan tidak diberi izin untuk bertemu kedua anaknya. Dia linglung. Parasnya yang cantik membuat semakin banyak orang yang terenyuh….. 

 

Dengan Kaki Meja, Dia Meremukkan Kepala

(PIKIRAN RAKYAT, 3 Agustus 2014)
Hantu Esmara

Yang Nakum gegas mengepak dagangan –nasi, lodeh nangka, ayam opor, pecel dan urapan. Dia menutup lapak di tengah pasar. Kemudian dengan gerakan kasar, mengumpulkan piring-piring pembeli yang rampung makan. Aneka dagangan yang masih utuh dikemasi dalam dunak dan ditutup dengan kain. Jam masih terlalu pagi untuk laut. Pasar baru akan bubar lepas azan zuhur. Yang Nakum tidak menggubrisnya. Pikirannya sudah fokus pada anaknya, Adimbi di rumah.

Bakri mengabari kalau Adimbi kembali berulah. Membiarkan Adimbi sendiri di rumah, memang bukan pilihan yang tepat.

“Adimbi memukul kepala orang pakai kaki meja,” Bakri menjelaskan sedikit ketakutan. Dia seperti sedang menutupi berita kurang enak bagi Yang Nakum.

“Adimbi kalau mengamuk bisa sekuat Werkudara.”

Bakri berdeham.

“Bakri, kamu cungkli ini,” Yang Nakum menunjuk dunak berisi nasi 6 kg.

Bakri mengangkat dunak ke pundak, lalu beriringan ke parkiran. Yang Nakum menggendong sisanya. Wajah-wajah di pasar tercengang. Bagaimana mungkin Yang Nakum meninggalkan pasar prepegan yang uyel-uyelan, penuh pengunjung. Bisa dipastikan banyak pelanggan Yang Nakum pindah jajan.

Kebanyakan orang hanya berbisik menerka alasan Yang Nakum pulang cepat. Hanya satu dua yang berani menanyakannya langsung. Setiap ditanya, Yang Nakum menjawab ‘anakku!’ dengan gerakan mulut tanpa suara.

Tak semua orang tahu kondisi pasti Adimbi. Orang pasar hanya ingat Adimbi semasa kecil hingga lulus madrasah aliyah. Adimbi sesekali membantu Yang Nakum berjualan. Wajahnya terang seperti sebundar bulan. Ayu dengan rambut ikal sepinggang.

Banyak lelaki menaruh harapan agar Adimbi berkenan menerima lamaran. Perjaka rupawan, duda hartawan, pejabat yang hendak menambah istri, atau tentara yang baru lulus dari pendidikan. Tetapi Adimbi tak buru-buru ingin menikah. Setiap ada yang berhasrat melamar dengan menanyakan Yang Nakum, karena Yang Nakum satu-satunya orang tua Adimbi, selalu dijawab bahwa Adimbi belum ingin menjadi istri. Adimbi ingin memuaskan masa mudanya.

“Apa kamu mau sekolah tinggi sampai sarjana, Adimbi?” tanya Yang Nakum.

Mboten, tidak. Adimbi ingin merantau satu atau dua tahun dulu. Sebelum jadi istri,” Adimbi membantu memotes-motes cabai merah bumbu sayur lodeh.

“Kalau ada yang mau melamarmu?”

“Ibu bilang aku masih kecil. Belum siap kawin,” Adimbi mengumbar senyum.

Yang Nakum membatin, kalau senyum Adimbi semanis itu lelaki manapun akan terjerat. Mungkin pejabat atau konglomerat Jakarta sekali pun akan tunduk dengan senyum madu Adimbi itu.

“Kawan seusiamu sudah kawin bahkan berbocah. Tak apa. Ibu mendukungmu,” Yang Nakum menyetujui.

Lidah orang tua memang semakbul doa. Dua bulan setelah Adimbi berangkat merantau ke Jakarta, dia mengabari kalau bosnya menaruh hati dengannya. Sering diajak makan nasi goreng di malam minggu, nonton bioskop, dan dibelanjakan kaos celana.

***

Bagaimana pun Adimbi satu-satunya keluarga dan teman Yang Nakum di masa tua. Suaminya sudah dipaksa menandatangani surat talak. Buat apa memiliki suami parasit, tak mengayakan hanya minta uang bensin dan mengasapi mulutnya dengan sigaret.

Selepas menjanda, Yang Nakum berubah seperti wanita kesetanan dalam mencari uang. Selain berjualan nasi di pasar, dia juga membuka warung dan katering kecil-kecilan saban ada acara di kantor kelurahan. Hingga dia mampu memperbaiki rumah, membeli beberapa bidang sawah, dan menghiasi leher dan tangan dengan gemerlap perhiasan.

Dalam hati, Yang Nakum ingin sekali Adimbi sekolah hingga sarjana dan menjadi pegawai negeri. Alangkah bahagia menyaksikan anak gadis satu-satunya berangkat kerja berseragam dan bermotor plat merah. Tetapi Adimbi mewarisi keras kepala Yang Nakum. Adimbi ingin merantau ke Jakarta. Yang Nakum diam-diam menyimpan harapan agar bos yang Adimbi ceritakan dulu, benar-benar calon menantu yang diberikan Tuhan.

“Ibu, bosku mau dolan ke rumah. Mau kenalan sama ibu,” Adimbi mengabari lewat telepon.

Yang Nakum senyum. Mungkin mimpinya menjadikan Adimbi pegawai negeri ditukar dengan mendatangkan menantu seorang bos. “Silakan saja,” Yang Nakum menyilakan.

Bos yang diharapkan menjadi menantunya itu tak bisa bahasa jawa. Yang Nakum yang seumur hidupnya tinggal di desa, kagok dan tak banyak bicara. Hanya mengiyakan dan menidakkan. Adimbi yang menjelaskan ini-itu ketika si bos bertanya.

“Saya Amri Saragih.”

“Orang mana?” Yang Nakum tokleh, tanpa basa-basi.

“Medan. Sudah dua puluh tahun pindah Jakarta.”

“Masih perjaka?”

“Ibu tanya apa, sih? Tidak sopan. Amri baru sampai, sudah ditanya macam-macam.” Adimbi menyela rentetan pertanyaan Yang Nakum.

“Aku harus memastikan yang menyukai anakku tidak beristri. Anakku tak boleh merebut suami orang.”

“Saya duda,” Amri menjawab dengan muka tanpa merasa tersakiti sindiran Yang Nakum. “Istri saya meninggal lima bulan lalu, karena pendarahan akut saat melahirkan.”

“Punya anak?”

“Ibu, Amri duda tanpa anak.”

Perkenalan itu diingat Yang Nakum sebagai awal sebuah luka.

Pernikahan digelar meriah di rumah Yang Nakum. Adimbi diboyong ke Jakarta. Beberapa bulan sekali Adimbi pulang menjenguk Yang Nakum. Dan suatu kali membawa perut yang besar dan Adimbi berencana melahirkan di rumah Yang Nakum. Adimbi akan sendirian kalau di Jakarta, tak ada yang membantu merawat bayi.

Bayi mungil itulah awal perubahan nasib Adimbi. Amri Saragih lebih mencintai anak lelakinya ketimbang Adimbi. Mertua Adimbi pun demikian. Seolah Adimbi hanya bertugas melahirkan seorang anak lelaki. Keberadaan Adimbi di tengah keluarga Amri Saragih tak lebih mulia dari perawat anak Amri Saragih.

Hingga suatu hari Amri Saragih memulangkan Adimbi dengan akta cerai dan surat keputusan hukum bahwa hak asuh anak ada di Amri Saragih.

Seorang wanita bisa dengan mudah berpisah dengan suaminya. Contoh Yang Nakum. Tetapi akan menjadi gila kalau dipaksa jauh dengan anaknya. Adimbi permisalannya.

Setelah dicerai Amri Saragih dan dipaksa berpisah dengan anaknya, Adimbi seperti seorang wanita yang tersesat di tengah lorong gelap. Tak tahu arah berjalan. Dan tujuannya hanya satu, keluar dari lorong gelap dan buru-buru mendekap anak.

Adimbi telah dijauhi semua orang kampung. Mereka berpikiran bila Adimbi sangat liar dan beringas karena dia telah kehilangan akal sehatnya. Kehilangan anak menyebabkan kekacauan pada otak. Adimbi pernah dikabarkan membacok seorang pemuda kampung dengan alasan yang tak jelas, saat Yang Nakum masih di pasar. Dan semua itu membuat penduduk kampung menyuruh Yang Nakum memasungnya. Adimbi telah dianggap gila. Dia dianggap sangat berbahaya bila dibiarkan berkeliaran. Kakinya dirantai dan diikat pada tiang rumah. Dikunci rapat agar tak mudah lepas.  Adimbi yang dulu begitu lembut dan ceria telah berubah secepat itu.

Yang lebih membuat Yang Nakum bersedih hati adalah Adimbi tidak mengingat siapapun kecuali nama anak dan suaminya. Ingatannya kacau. Setiap menyebut nama anaknya Adimbi menangis meronta. acapkali ingat nama Amri Saragih, Adimbi berubah garang dan suka mengayun benda apa pun di dekatnya.

***

Yang Nakum dibonceng sepeda motor Bakri. Sepeda motor penuh muatan. Pohon asam jawa di pinggir jalan berlari mengikuti kecepatan sepeda motor Bakri. Saat sepeda motor berkecepatan pelan menaiki tanjakan tajam dan cukup panjang, Yang Nakum bertanya kembali.

“Bakri, sebenarnya ada apa dengan Adimbi? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu.”

Bakri masih diam berkonsentrasi pada tanjakan dan posisi gas dan rem tangan.

“Bakri…!” Yang Nakum gelisah. Air matanya tumpah. Perasaannya begitu lelah. Di pasar dia harus menampilkan bahwa Adimbi tak apa-apa. Nyatanya setiap hari Adimbi seperti menggerogoti hidupnya.

“Adimbi dibawa ke RSJ sama perangkat desa.”

“Apa?” seketika Yang Nakum meloncat dari sepeda motor. Lalu tergugu menangis. Sayur dan lauk pauk tercecer di jalan. “Bagaimana bisa, Bakri? Mengapa perangkat itu begitu kejam? Mereka minta Adimbi di pasung sudah kulakukan. Minta agar dikunci di rumah saja, kuiyakan. Sekarang mereka membawa Adimbi tanpa izinku. Adimbi, Adimbi, nasibmu kok buruk sekali,” Yang Nakum meraung-raung.

“Adimbi melukai orang.”

“Bagaimana?”

“Tadi pagi orang kampung dikagetkan karena Adimbi meneriaki nama Amri Saragih. Lalu orang-orang mendekati rumahmu. Mereka menemukan Adimbi sudah menggengam kaki meja yang berlumuran darah,” cerita Bakri meluncur gemetar, menahan rasa takut yang bercampur kengerian. Adimbi yang dipasung mampu meremukkan kepala lelaki dewasa lantaran dendam dan sakit hati.

Aneka perasaan membeku di kepala. Mendesak ke kantong air mata. Lempengan kaca rontok di pipi Yang Nakum. Gigi-giginya beradu, menimbulkan suara gemeretak amarah.

“Amri Saragih? Buat apa dia ke rumahku? Benar-benar lelaki kurang ajar. Apa tidak cukup menyiksa anakku?”

Bakri dan Yang Nakum duduk di pinggir jalan. Angin dari pohon asam jawa tidak cukup membuatnya tenang.

“Tenang dulu,” Bakri membujuk.

“Bagaimana bisa tenang, Bakri? Anakku sekarang dibawa ke rumah sakit jiwa. Semua ini gara-gara menantu bajingan, Amri Saragih itu.”

Selesai mengucapkan kalimat itu, Yang Nakum kembali terisak dan memukul-mukul dadanya. Mungkin dia berpikir dengan memukul keras, andesit yang menyumpal dadanya hingga sesak akan hancur terbelah.

“Yang Nakum, tunggu sebentar. Akan kujelaskan,” Bakri mengelus pundak Yang Nakum.

Yang Nakum merendahkan suara isak dan makian kepada Amri Saragih.

“Adimbi tidak meremukkan kepala Amri Saragih.”

“Maksudmu?”

“Lelaki yang mendatangi rumahmu itu bukan memantumu. Tetapi kurir yang mengantar paket dari cucumu. Adimbi mengamuk dan mengira kurir itu Amri Saragih.”

Air mata terhenti. Tiba-tiba sebuah gunting raksasa membuat dua tatu di dada Yang Nakum.(*)

Blora, 26 Juli 2014

 

Catatan:

  1. Dunak : keranjang dari anyaman bambu
  2. Laut : jam pulang kerja
  3. Cungkli : membawa barang besar di pundak.
  4. Prepegan : kondisi pasar sebelum perayaan besar, seperti lebaran, sedekah bumi, satu suro, dll
  5. Tatu : luka. Dalam peribahasa Jawa ‘kesuduk gunting tatune loro’ yang artinya akan ada dua luka kalau tertusuk gunting. Luka berlipat. Semacam mendapatkan ketidakberuntungan berlipat. Kalau di bahasa Indonesia: Sudah jatuh tertimpa tangga.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s