Resensi

Jujur Menulis

Baru-baru ini saya baru memulai membaca kembali cerpen Alice Munro di buku Dear Life (sebagai informasi, buku ini sudah lama kumulai membaca. Tapi selalu berjeda lama saban selesai satu cerpen. Cerpen yang terakhir saya baca adalah Haven. Cerpen itu adalah urutan kelima dari 14 cerpen yang disatukan dalam buku tersebut, berarti saya baru berhasil membaca 5 dari 14 di Dear Life.

Cerpen tersebut menceritakan tokoh aku yang terpaksa dititipkan ke keluarga pamannya Paman Jasper dan Bibi Dawn, lantaran ayah ibunya sedang di Afrika. Di keluarga Paman Jasper itulah tokoh aku banyak mengalami perubahan kebiasaan atau bisa disebut sebagai perbedaan kultur. Keluarga tokoh aku sangat berpikiran modern. Minimal terlihat dari bagaimana kedua orang tua si aku yang rela menitipkan anak ke paman-bibi nya. Mulai dari Paman Jasper yang lebih religius dan anggota tetap sebuah gereja, lihat bagaimana si aku mengungkapkan bahwa di keluarganya tidak pernah berdoa sebelum makan: “I had never bowed my head over a plate of food in my life.”  Sikap Paman Jasper yang anti kemodernan, dan bibi Dawn yang selalu mengalah dan dengan tegas mengatakan bahwa : “A woman’s most important job is making a haven for her man.” Dari cerpen Haven ini juga dapat dirasakan bahwa Alice Munro tidak menjadi manusia yang anti agama. Minimal dari bagaimana dia menyikapi perubahan-perubahan kecil di Keluarga paman Jasper.

Alice Munro, minimal dari lima cerpen yang saya baca tersebut, bercerita dengan sangat jujur. Seperti kita sedang mendengar curhat (meski tidak semua cerpennya berkisah tentang masa lalu Alice Munro) dari kejadian-kejadian yang dialami Alice Munro. Atau dari cerpen Hateship, Friendship, Courtship, Loveship, Marriage yang sudah difilmkan, Alice Munro berkisah dengan jujur tidak direkayasa dan begitu manusawi. Mungkin inilah yang membuat dia diganjar Nobel Sastra 2013 lalu.

Alice Munro yang lahir pada tahun 1931, mampu mengisahkan semua pengalaman hidupnya dalam cerpen-cerpen yang tidak neko-neko dan begitu jujur. Lima tahun setelah Alice Munro lahir, di belahan bumi lain, di negara yang sedang carut marut merebut kemerdekaan, di daerah Semarang, 29 Februari 1936, Nurhayati Sri Hardini lahir. Yang kemudian menggunakan nama Nh Dini di setiap tulisannya. (Baca Sekayu-bagian keempat dari Serial Kenangan untuk tahu alasan perubahan nama tersebut).

Nh Dini menjadi sangat spesial di hati pembacanya. Mungkin tidak salah kalau Nh Dini saya sebut sebagai Alice Munro-nya Indonesia. Dari buku-buku Nh Dini yang sudah saya baca, sangat terasa bahwa Nh Dini tidak berusaha melebih-lebihkan, berkisah dengan jujur, dan pembaca akan merasa seperti sedang mendengar kisah hidup Nh Dini sendiri. Terlebih suara yang hendak dibawakan oleh Nh Dini sangat mewakili dunia perempuan saat itu. Nh Dini remaja SMA yang memberontak karena cerpen pertamanya Dua Dunia, yang dimuat majalah Kisah asuhan HB Jassin dicibir banyak orang (baca Kuncup Berseri- serial kelima dari Serial Kenangan). Nh Dini justru dengan lugas mengatakan: Pada mulanya aku tidak ingin menjawab ‘kritik’ tersebut. Kerjaku menulis, terserah pembaca bagaimana menilai kerjaku. Kalau dia mengkritik, itulah kerjanya pula. Kalau dia pembaca biasa, dia menyukai atau tidak, aku tidak perlu mengindahkannya benar. (Kuncup Berseri – hal.57). Nh Dini juga mengkritik kehidupan seniman masa itu yang hidup dengan ketidakteraturan: gondrong, jarang mandi, tidak berpenampilan rapi. Sebagai seorang wanita, Nh Dini juga menyuarakan feminis. Bagaimana Nh Dini sakit hati ketika suaminya yang seorang diplomat Perancis mulai mengacuhkannya. (baca Pada Sebuah Kapal). Nh Dini juga menyinggung persoalan seks. Tetapi jelas sekali porsi yang disampaikan bukan menjadi dominan.

Kejujuran Nh Dini juga ditulis akan motif menulis Nh Dini, misalkan bagaimana niatan awal Nh Dini menulis. Jika di kemudian hari, lama sesudah itu, ada orang yang berkata bahwa aku menulis tidak untuk uang, itu sama sekali tidak benar. AKu selalu mengarang dengan maksud untuk bisa menarik keuntungan. Selain keuntungan kebendaan, kuinginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum lelaki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikiranku sebagai wakil wanita pada umumnya. (Baca SEKAYU, hal 76). Nh Dini mengakui bahwa menulis tujuan utamanya adalah memperoleh tambahan uang saku, selain Nh Dini berusaha menyuarakan suara perempuan pada umumnya.

Dan Serial Kenangan adalah buku-buku berharga milik Nh Dini favorit saya. Sampai sekarang saya baru bisa mengumpulkan enam dari serial kenangan. Yaitu

  1. Sebuah Lorong di KotakuIMAG0152
  2. Padang Ilalang di Belakang Rumah
  3. Langit dan Bumi Sahabat Kami
  4. Sekayu
  5. Kuncup Berseri
  6. Kemayoran

Yang belum saya dapatkan:

  1. Jepun Negerinya Hiroko
  2. Dari Parangakik Ke Kampuchea
  3. Dari Fontennay ke Magallianes
  4. La Grande Borne
  5. Argenteuil

Setelah saya cermati keenam kepunyaan saya adalah serial kenangan ketika Nh Dini masih berada di Indonesia. Semoga saya masih bisa melengkapi serial kenangan Nh Dini sisanya. Kabarnya di umurnya yang semakin senja, Nh Dini tinggal di panti jompo.

Dari membaca Serial Kenangan Nh Dini dan membaca beberapa cerpen Alice Munro, memang kita harus menulis dengan jujur. Menulis dengan tidak menjadikan kisah sebagai untaian penuh lebay. Sungkem untuk Eyang Nh Dini, semoga engkau tetap sehat walafiat, doakan biar saya bisa melengkapi semua serial kenangan itu.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s