Cerpen

Mukini Pulang Dari Saudi

(KORAN MERAPI, 3 Agustus 2014)

IMG_0002

Lebaran ini Mukini akan pulang ke Soronini, setelah lima tahun menjadi pembantu Tuan Ahmed Shihab di Saudi. Tentu bukan pekerjaan haram, walau memang cukup keras. Terlihat sekali bahagia di wajah Mbok Wedok, ibunya. Terlebih bagi Tiara, gadis cilik yang mungkin sudah lupa bagaimana wajah ibunya. Mukini berangkat merantau ketika Tiara baru seminggu masuk TK.

Kepulangan kali Ini bukan yang pertama. Dua tahun lalu, saat ayahnya meninggal Mukini pulang. Memang Mukini tak bisa menyaksikan penguburan jasat ayahnya. Mukini di Soronini hingga hari keempat puluh. Dia mendapatkan cuti selama dua bulan. Cuti yang terlampau lama, menurut beberapa tetangga. Tak ada yang berani menanyakan mengapa Mukini mendapat cuti begitu lama, karena karyawan pabrik di Jakarta hanya beroleh cuti lima belas hari selama setahun.

Kepulangan pertama itu dimanfaatkannya untuk merenovasi rumah. Genteng diganti baru. Gedeg papan ditambal separuh batu bata. Dia juga memasang keramik. Membeli televisi untuk hiburan Mbok Wedok dan Tiara. Juga seekor sapi untuk raja kaya, simpanan. Keberhasilan Mukini dipuji orang se-Soronini. Baru sebentar di Saudi, sudah bisa berbuat demikian.

Dulu Mukini berangkat ke Saudi karena didera lara. Kemiskinan menjerat terlalu lama. Impian indah di Saudi terus berbuih di mata Mukini. Apalagi suaminya, Gino sudah terang-terangan meninggalkan Mukini. Gino tersireap kemolekan seorang biduanita campursari dan menalak Mukini yang kalau dicermati tak teramat buruk juga.

Menjadi janda adalah petaka. Masih banyak perawan segar yang belum berjodoh. Status janda seperti tembok pejal yang menutup sumber kehidupan. Seperti kelir hitam diturunkan pertanda pagelaran sebentar lagi tutup. Sedang Tiara masih kecil. Mukini tak punya keahlian lain selain bertani. Mau dicari ke mana lagi uang untuk membeli aneka kebutuhan Tiara? Apalagi sakit hati membuat semua lebih muram dan kejam.

“Mbok Wedok, apa benar ibu akan pulang?” tanya Tiara.

“Kabarnya begitu. Kata Pak Carik minggu depan.”

“Pergi lagi?”

“Nanti kamu tanya sendiri sama ibumu.”

Mbok Wedok ingin Mukini di rumah saja. Meski makan seadanya, asal bersama itu lebih bahagia. Sudah empat puasa dan lebaran Mbok Wedok tidak berkumpul bareng Mukini. Dia rindu buka puasa dan sahur bersama anak satu-satunya itu. Mbok Wedok ingin menghabiskan masa tua bersama anak dan cucu. Ada firasat bahwa usianya tidak akan lama lagi selesai.

“Mbok Wedok, nanti Tiara mau dibelikan sepeda dan tas baru.”

“Iya. Ibumu pasti bawa banyak uang dari Saudi.”

“Asyik….” Tiara sangat bahagia.

Mbok Wedok menutup pintu dan selonjoran di bangku. Rematik dan asam urat membuat tubuhnya tak leluasa bergerak. Tangannya ditekuk-tekuk menghitung, “Seminggu lagi Mukini tiba di Soronini. Entog satu-satunya itu akan kupotong untuk Mukini.”

Malam turun bersama lantunan tadarus dan impian bahagia Mbok Wedok.

***

Saat sore bersemburat oranye dan sayup-sayup kasidah dari langgar menenangkan, sebuah sedan hitam berhenti di halaman rumah Mbok Wedok. Mbok Wedok sedang menyiapkan teh di meja makan. Tiara sedang menggelesor di depan televisi menatap acara lawak. Suara klakson berbunyi, Tiara tergeragap berdiri. Langsung berlari keluar sambil memanggil Mbok Wedok.

Sopir turun lebih dahulu. Dari pintu belakang seorang wanita dengan baju kurung warna hijau lembut dan kerudung krem susu melilit. Tiara bingung. Kalau itu ibunya, mengapa sekarang berkerudung lebar seperti itu. Saat wajah Mukini terlihat, Tiara tak bisa membendung bahagianya. Jeritnya mengalahkan suara kasidah dari langgar.

Mukini pulang di antar sedan. Tiara langsung menghambur bersama lelehan air mata. Sudah tak terkira lagi besarnya rasa rindu mereka. Tiara mewek. Mukini tak bisa menahan haru. Mbok Wedok hampi saja pingsan menyaksikan anaknya pulang dalam keadaan utuh. Mereka bertiga tangis-tangisan. Benar-benar pertemuan dan kepulangan yang syahdu. Bahagia yang membuncah membuat tangis mudah pecah. Apa yang lebih membahagiakan daripada berkumpulnya kembali keluarga di hari raya idul fitri. Tetangga ramai datang. Bungah menunggu berbuka puasa sore itu, terasa lebih melankoli.

Buka puasa hari itu adalah buka puasa ternikmat bagi Tiara dan Mbok Wedok. Nasi dan oseng-oseng tempe dengan cabai hijau terasa senikmat ayam kecap. Teh hangat sesegar es buah campur sirup frambos dan susu.

“Kalau tahu hari ini kamu datang, tak sembelih entog dan bikin kolak,” Mbok Wedok menyendokkan nasi dan sayur untuk Mukini.

“Ini enak mbok. Mukini kangen masakan mbok.”

“Pak Carik ngabari kalau lusa atau besoknya kamu baru sampai. Besok kita sembelih entog dan masak enak.” Memang Mukini mengirim pesan pendek ke Pak Carik untuk diteruskan kepada Mbok Wedok dan Tiara. Pak Carik-lah penyambung kabar antara Soronini dan Saudi.

“Tiara kamu makan yang banyak.” Mukini mengelus Tiara yang tidak mau beranjak dari pangkuannya.

“Ibumu kesel, capek. Duduk di sini saja.” Mbok Wedok menarik kursi.

Tiara mengikuti ke mana saja Mukini bergerak. Rindu di dadanya tidak ada habis-habisnya. Kalau sedang bahagia, waktu memang beranjak lebih cepat. Azan isyak tiba-tiba sudah berkumandang. Mbok Wedok belum berani menanyakan perubahan drastis Mukini. Mungkin di sana Mukini belajar agama lebih tekun, demikian pikiran Mbok Wedok untuk mengusir aneka firasat jahat.

Mukini menggandeng Tiara berangkat bersama ke masjid. Semua mata menatap Mukini. Lalu menyalami dan bertukar kabar bahagia. Tiara tidak berhenti tersenyum, seolah ingin menyampaikan bahwa hari ini dia kembali memiliki ibu. Dan lebaran nanti akan berpakaian baru, kerudung baru, dan uang saku yang penuh di kantung celana.

***

Mukini mengecat rumahnya. Membenahi kamar mandi. mengganti kasur dan kursi-kursi kuno di rumahnya. Membelikan sepeda dan memenuhi semua permintaan Tiara. Mbok Wedok pun tidak luput dari hadiah-hadiah dari Mukini. Jarit, kebaya. Juga mesin penanak nasi otomatis, pompa air agar Mbok Wedok tidak susah payah menimba air. Kepulangan Mukini membuat hal-hal di rumah Mbok Wedok lebih cerah, lebih baru, lebih bahagia, dan terlihat lebih makmur.

Mukini juga dijadikan sumber pinjaman bagi sanak famili. Silih berganti saudara-saudaranya meminjam uang. Ada yang sejuta untuk menutup utang, ada yang mencicil motor bebek, membeli pakaian lebaran. Mukini antara bersedia dan tidak. Orang-orang hanya berpendapat kalau Mukini membawa uang banyak dari Saudi.

Kebahagian seperti tidak habis-habis dirasakan keluarga Mbok Wedok. Mukini sedang melipat baju-baju lebaran baru milik Tiara dan beberapa lembar pakaian untuk sanak saudara. Mbok Wedok mendekatinya.

“Mbok, lebaran nanti ada tamu yang harus kita sambut lebih mewah.”

“Siapa?”

“Tuan Ahmed Shihab. Majikan Mukini akan berlebaran di Soronini.”

Mbok Wedok merinding total. Apa Mukini sudah dialem sedemikian luar biasa, hingga seorang majikan mau berlebaran di Soronini, desa terpencil di pojok Jawa Tengah. Apa tidak kaget mereka menyaksikan rumahnya yang kotor, airnya yang keruh, dan udaranya yang tidak berpendingin ruangan?

“Maksudmu?” Mbok Wedok masih tidak percaya.

“H+2 nanti Tuan Ahmed Shihab sekeluarga akan datang. Malu kalau kita tidak menyambutnya dengan hidangan istimewa.”

Mbok Wedok mulai memahami mengapa Mukini merenovasi rumah besar-besaran dan mendandani keluarganya dengan pakaian istimewa.

“Tiara kamu belikan ibu gula pasir.” Mukini ingin berbicara dengan Mbok Wedok.

Tiara berdiri dan meraih uang dari Mukini.

“Apa yang sedang kamu sembunyikan, Mukini?”

“Aku hamil Mbok.”

Tiba-tiba ada tombak yang diarahkan ke kepala Mbok Wedok. Air mata tiba-tiba meluber. Sesal seribu sesal. Sedih sesedihnya. Mbok Wedok menangis tanpa ada suara isak. Hanya lelehan air mata yang menuruni pipinya.

“Berapa bulan, Mukini? Nasibmu kok buruk temenan.”

“Empat bulan, Mbok. Maka mereka harus menikahkan Mukini.”

“Apa tuanmu, si Ahmed Shihab itu yang menghamilimu?”

“Bukan. Anaknya. Saifu Razak Ali bin Ahmed Shihab.” Mukini menjawab dengan tangisan dan sesal yang tak terkira.

Kelu. Kini isak mengeras. Perasaan berkecamuk. Sedih karena Mukini menanggung dosa besar. Atau bahagia. Lebaran ini keluarganya berkumpul. Bahkan akan mendapat menantu baru. Meski nasib Mukini tak seburuk nasib TKW lain yang pulang diusung keranda.

“Mereka mau melamarmu?” tanya Mbok Wedok, yang disusul tangisan haru Mukini.(*)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s