Cerpen

Brengos Mbah Wreku

(KORAN MERAPI, 27 Juli 2014)

IMG (5) - Copy

Setiap menyaksikan brengos Mbah Wreku yang setebal lintah itu, aku teringat brengos Staline. Sama-sama hitam tebal, melintang dan memesona. Tapi Mbah Wreku bukan pemimpin otoriter macam Staline. Dia ketua RT yang suka bercerita panjang lebar tak kenal waktu dan susah diberhentikan kalau sedang dimintai tanda tangan.  Brengos tebal itu menjadi ciri khas Mbah Wreku. Bagi tamu yang belum pernah bersua dengannya dan sedang kebingungan mencari alamat, akan mudah menyebut “Mbah Wreku brengos” atau Mbah Wreku sing brengose depaplang. Kadang saat Mbah Wreku sedang menertawakan dagelan, brengos itu bergetar seperti digoyang gempa. Benar-benar brengos yang menjadi fokus saat berhadapan dengan Mbah Wreku.

Brengos tebal itu bagi Mbah Wreku adalah satu dari sekian hal yang sering dibangga-banggakannya. Selain Mbah Wreku yang hampir tiga puluh tahun menjadi ketua RT, Mbah Rasmi istri Mbah Wreku mantan seorang penari keraton, dan selembar kertas tanda jasa sebagai veteran tentara. Brengos baginya sama berharganya dengan selembar ijazah bagi anak sekolah.

“Brengos ini jimatku,” kata Mbah Wreku membanggakannya. “Berkat brengos ini hidupku mulia.”

Setiap orang yang berhadapan dengan Mbah Wreku selalu terkagum-kagum dengan brengos yang tebal, hitam, dan lebat itu. Apalagi bagi anak-anak muda, selalu tak bisa menjauhkan fokus dari brengos Mbah Wreku. Namun sebaliknya, tatapan anak-anak muda diartikan Mbah Wreku sebagai protes untuknya. Dalam pikiran Mbah Wreku anak-anak muda itu ngrasani keberatan. Seorang lelaki setua Mbah Wreku yang memiliki 6 cucu dan 3 cicit masih saja menumbuhkan brengos. Sangat tidak pas dengan ringkihnya tubuh, keriputnya kulit, dan usianya yang sudah terlalu senja.

Padahal anak-anak muda itu sedang ingin mencari informasi bagaimana Mbah Wreku bisa punya brengos setebal itu. Mereka juga ingin meniru resep menumbuhkan brengos seperti milik Mbah Wreku.

“Bagaimana bisa setebal dan selebat itu, Mbah?”

Baru setelah mendengar pertanyaan itu, Mbah Wreku mengelus brengos seperti mengelus keramik mahal Cina. Gerakan tangannya seperti gerakan tangan seorang kolektor benda mahal sedang meneliti keaslian barang baru yang ditawarkan di pusat pelelangan.

“Apa butuh minyak firdaus, Mbah?”
“Itu bisa benar-benar hitam tanpa ditumbuhi uban, begitu?”
“Apa Mbah Wreku punya minyak andalan sebagai pemulas. Brengos itu kayak terawat.”
“Tidak sama sekali. Hanya kusisir dan kurapikan pakai gunting kalau panjang,” jawab Mbah Wreku.
“Itu saja?”

Mbah Wreku mengangguk. Wajahnya benar-benar sumringah penuh kebanggaan. Andai kulit Mbah Wreku putih cerah tentu akan merona merah.

“Brengos itu seperti katuranggan. Bawaan. Kalau memang jodoh tanpa perlakuan khusus pun bisa setebal ini. Sebaliknya, kalau bukan jodoh kamu olesi pakai minyak firdaus segalon nggak bakal tumbuh. Ini jimatnya orang Jawa.”
“Wah brengosnya keren.”
“Pernah dicukur, Mbah?”

Mendengar pertanyaan itu Mbah Wreku kaget. Bagaimana mungkin anak muda bisa bertanya sedemikian frontal. Seperti menanyakan kapan menikah bagi perjaka yang sudah lebih tua dari usia wajar menikah.

“Brengos ini tanda kemujuranku.”
“Bagaimana bisa, Mbah?”
“Karena brengos ini aku bisa lulus ujian tentara. Padahal aku tak bisa membaca sandi masa itu.”
“Kok bisa, Mbah?”
“Brengosku yang tebal ini bisa membuat para pengujiku tersirap. Kamu tahu, seorang tentara akan dinilai kurang jantan kalau brengosnya tipis. Apalagi gundul! Dan mereka yakin brengosku akan menambah kegagahan tentara, meskipun aku tidak paham aneka sandi-sandi dan menggunakan senjata.”
“Benar-benar brengos keberuntungan, Mbah.”

“Kalau tidak ada brengos ini hidupku bisa hancur,” Mbah Wreku berkata sambil mengelus brengos. Yang meski rambut, alis, dan jambangnya beruban. Brengos Mbah Wreku tetap hitam. Uban seperti enggan tumbuh di deretan rambut di bawah hidung Mbah Wreku. Atau mungkin di hutan brengos itu ada mandor dan polisi hutan yang menjaga keutuhan brengos Mbah Wreku.

Keberuntungan Mbah Wreku yang berbrengos tebal tidak hanya sukses sebagai tentara. Brengos hitam tebal benar-benar membawa Mbah Wreku menemui keberuntungan-keberuntungan selanjutnya. Setelah lepas sebagai tentara dan bermukim di kompleks warga biasa, Mbah Wreku selalu didapuk memberi sambutan di setiap ada acara perumahan. Di setiap pemilihan ketua RT, semua warga kompleks seperti tidak memiliki pilihan lain selain menyebut nama Mbah Wreku sebagai ketua RT, kalau sudah memandang brengos Mbah Wreku. Para doktor lulusan luar negeri, guru-guru, maupun pengusaha seperti tak pantas dan terpaksa Mbah Wreku terpilih kembali sebagai ketua RT. Konon, Mbah Rasmi si penari keraton waktu itu kepincut dengan Mbah Wreku juga karena brengos.

Brengos hitam tebal seperti membawa daya tarik untuk memberi hormat penuh kepada si empunya, Mbah Wreku.

***

Tetapi lebih dari itu, kadang Mbah Wreku menjadi lelaki tua cerewet perihal brengos. Ingin memaksakan kehendak dan pendapatnya akan brengos ke semua orang.

“Kenapa kamu tidak punya brengos?” Mbah Wreku bertanya saat aku meminta surat keterangan tempat tinggal untuk pembuatan kartu kuning.
“Biar rapi, Mbah?” jawabanku sekenanya.

Mbah Wreku terhenyak. Wajahnya kaget. Jelas sekali jawaban singkatku itu membuatnya kurang nyaman.

“Kamu orang mana?”
“Saya tinggal di Pandega Duta 3, Mbah.”
“Jawa, kan?”

Aku mengangguk.

“Priyayi Jawa itu gagah dengan brengos. Wajahmu kayak babi, kalau tidak ada brengos.”

Belum kutanggapi, Mbah Wreku sudah menambahi kembali. Aku masih memikirkan bagaimana mungkin Mbah Wreku menyamakan wajahku dengan babi, gara-gara aku tidak berbrengos sepertinya.

“Kamu sebagai generasi muda harus mengerti bagaimana sikap dan tampilan priyayi Jawa. Apa jadinya budaya Jawa kalau anak mudanya tak paham? Bisa-bisa musnah kalau anak muda seperti kamu enggan menjaga budaya Jawa. Kamu pernah menonton wayang?”

Aku menggeleng. Karena memang benar. Aku hampir tidak jenek, betah mendengar cerita wayang yang monoton dan berbahasa susah dipahami. Menonton wayang itu membosankan.

“Benar saja. Pantas kamu orang Jawa tidak njawani. Tidak tahu pentingnya brengos bagi priyayi Jawa bukan hanya urusan penampilan, tapi wibawa. Wibawa! Priyayi Jawa itu yang akan menjaga keluhuran budaya dan sikap sebagai orang Jawa. Ibarat seorang pimpinan perang yang lemah dan tidak tegas, tentu akan membuat musuh mudah menyerang.”

Aku diam saja. Menanggapi ceramah Mbah Wreku sama saja menambah kerunyaman. Tabiat Mbah Wreku yang kalau ada yang menanggapi –bukan hanya menyanggah, sekadar mengiyakan atau berdeham saja, akan bercerita seperti tidak pernah habis sumber kisahnya. Sedang aku sedang diburu untuk segera menyelesaikan surat keterangan tempat tinggal malam itu juga. Besok batas akhir pengumpulan. Lebih baik kualem saja Mbah Wreku, agar urusanku lekas selesai. Kadang butuh mengalah dan sabar atas semua ketidakenakan untuk memuluskan rencana.

Tetapi pikiranku berkenala kemana-mana. Membayangkan wajah Mbah Wreku yang sejak pertama kutemui sudah dihiasi gagah dengan brengos, itu tiba-tiba tanpa brengos. Brengos Mbah Wreku itu tiba-tiba dicukur habis. Mungkinkah Mbah Wreku menjadi lelaki pengecut? Atau orang-orang akan menertawakan Mbah Wreku?Apa dia akan tetap sewibawa sekarang? Atau justru wajahnya akan menampilkan rupa babi tanpa brengos? Aku mesam-mesem.

***

Tetapi kisah Mbah Wreku sudah tamat. Pagi tadi setelah subuh sebelum berangkat kerja, dari masjid diumumkan kalau Mbah Wreku meninggal. Berita yang cukup mengejutkan memang. Karena baru malam tadi aku mengurus surat keterangan tempat tinggal di rumah Mbah Wreku. Kuingat wajah dan tubuhnya segar. Mbah Wreku tidak menampangkan wajah hendak dijemput malaikat izrail. Tidak menyinggung-nyinggung kematian atau firasat hendak meninggal. Tetapi kematian bukan domain manusia. Jadwal pungkasan manusia diurusi Tuhan.

Kusempatkan taksiyah ke Mbah Wreku dahulu, sebelum menyelesaikan urusan kartu kuning. Secerewet-cerewetnya Mbah Wreku, dia tetaplah ketua RT yang berjasa. Berkat tanda tangan banyak orang bisa mengurus aneka keperluan. Meski semalam aku harus diceramahi lama-lama dan disamakan dengan wajah babi.

Saat sampai di rumah Mbah Wreku, suasana sudah ramai. Banyak pelayat. Para wanita sibuk menata padusan dan ronce kembang untuk dikalungkan di keranda Mbah Wreku. Keluarga besar memasang wajah penuh nestapa. Kehilangan mendadak membuat semua orang harus belajar keras untuk ikhlas. Wajah sendu mereka membuat langit seolah ikut berduka.

Jenazah Mbah Wreku terbujur ditutupi batik kusam. Tangan kaku bersedekap. Ditumpangi sebilah pisau dapur. Katanya untuk senjata melawan setan membujuk Mbah Wreku ke neraka. Di bawah meja tempat Mbah Wreku disarekan ada sebuah uplik, lampu minyak kecil. Cahaya itu yang akan menerangi perjalanan panjang Mbah Wreku ke surga. Cahaya itu akan membuat jalannya lurus dan tidak berbelok-belok atau mampir ke neraka.

Aku tidak menangis karen bukan famili, tetapi ada penyesalan karena semalam aku sempat kesal kepadanya.

“Mbah Wreku, nyuwun pangapunten.” Aku berbisik pelan sambil melafazkan doa.

Kusingkap kain penutup wajahnya untuk menyaksikan muka Mbah Wreku terakhir kali. Ingin kutengok brengos yang menjadi kebanggaan Mbah Wreku yang bakal abadi bersama jasad Mbah Wreku di lahat. Betapa kagetnya, ternyata brengos Mbah Wreku dicukur habis. Kusaksikan wajah Mbah Wreku sudah membiru kaku. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s