Cerpen

Tapai Daun Ploso

(REPUBLIKA, 20 Juli 2014)

Tapai Daun Ploso - ilustrasi

Semenjak pulang dari musala dan selesai melipat mukena, Wahyuni sibuk sendiri di dapur. Tak dihiraukannya Subandi, suaminya sedang mengeraskan bacaan alquran dan zikir pagi hari. Tanah masih gelap dan suara santri tadarus masih terdengar keras. Hewan ternak di kandang masih tidur dengan tenang. Lebaran tinggal empat hari lagi. Semua wajah puasawan tampak lebih berseri.

Wahyuni mengambil lima kilogram beras ketan, yang sore tadi dititipkan kepada tetangga untuk digiling. Sekedok sawah tahun ini hanya menghasilkan sedikit beras ketan. Beras ketan itu harus Wahyuni pastikan bebas dari kerikil, jagung, atau kulit gabah yang kadang terbawa saat proses penggilingan. Dengan hanya diterangi lampu 15 watt di dapur, tangan sepuh Wahyuni terampil membersihkan di atas tampah. Ditapeni, kemudian diputar-putar agar kotoran berkumpul di tengah. Setelah berpusat di tengah,  kotoran mudah untuk diraup dibuang. Kerikil dan kotoran hanya akan memperburuk tapai ketan buatannya. Setelah yakin tidak ada kotoran yang terselip, Wahyuni merendam beras ketan itu. Butuh sekitar satu jam untuk merendam.

“Pakai daun pisang atau daun ploso?” Subandi bertanya sambil lalu mematikan lampu-lampu di teras dan halaman.

“Kalau ada daun ploso. Tapai ketan dengan daun ploso lebih eco enak,Wahyuni menjawab. Tangannya terampil memasukkan beberapa bilah kayu nangka ke mulut tungku batu bata. Asap mengepul menerpa wajah Wahyuni. Bara api membesar usai menerima umpan. Untuk memasak beras ketan akan terlalu lama kalau memakai kompor gas. Apalagi pembakaran dengan kayu memberi aroma khas pada tapai. Itu adalah satu dari alasan mengapa tapai ketan bikinan Wahyuni terkenal kelegitan dan kenikmatannya.

Wahyuni sudah membayangkan betapa kedua anaknya, Kamil dan Mila yang sudah mungkur sukses itu akan senang. Mereka berdua akan gembira menerima jamuan berupa tapai ketan yang dibungkus daun ploso. Tapai itu akan disajikan untuk kedua anaknya di lebaran nanti. Kalau sekarang tapai ketan mulai dibuat, maka tepat di hari pertama tapai ketan itu akan manis sempurna untuk menyambut kedatangan Kamil dan Mila. Semanis perasaan Wahyuni terhadap anaknya.

Tidak digubris penat dan lelah di raga tua Wahyuni. Demi menyambut kepulangan anaknya semua dilakukan dengan gembira. Apalagi ini adalah pertama kalinya Wahyuni dan Subandi akan merayakan idul fitri lengkap bersama Kamil dan Mila. Ibu bapak dengan anak cucu berkumpul merayakan kebahagiaan.

Sejak Kamil menikah dengan wanita asal Banjarnegara dan bermukim di Jakarta sebagai pegawai Angkasa Pura, sudah jarang ia merayakan idul fitri di rumah Wahyuni. Kamil memilih berlebaran di hari pertama hingga ketiga di rumah istri atau mertuanya. Kamil beralasan akan lebih praktis mengadakan perjalanan dari Jakarta ke Banjarnegara, baru ke rumah Wahyuni. Untuk bersafari ke rumah Wahyuni, Kamil lebih memilih di hari keempat hingga ketujuh saat bodo ketupat. Anak lelaki yang sudah beristri kadang lupa kalau pernah punya ibu.

Lain lagi dengan Mila. Sebagai istri seorang polisi, Mila tidak boleh sembarang melakukan perjalanan keluar kota. Mila harus menyesuaikan jadwal suaminya di kepolisian resort Banyumanik. Apalagi di tahun-tahun awal suami Mila bertugas dulu, bisa dipastikan Mila tidak dapat mudik lantaran suaminya bertugas di hari idul fitri. Mila hanya bersungkem lewat telepon dan mengirimkan sejumlah rekening.

Maka sudah bisa dipastikan lebaran setiap tahun tidak bisa berkumpul bersama. Ketika kesempatan itu kini datang, Wahyuni tidak ingin membiarkannya menjadi momen yang biasa-biasa saja.

Kedatangan mereka seperti sebundar rembulan di malam gelap. Dirindukan saat sendirian. Bukan uang, parsel, atau baju lebaran yang ditunggu Wahyuni dan Subandi. Keceriaan anak cucu yang mereka harapkan menjadi kado setiap idul fitri.

Tetapi sepertinya kesempatan bahagia itu baru akan datang di idul fitri tahun ini. Dua hari lalu, Mila menelepon kalau suaminya tahun ini tidak dapat jadwal jaga di hari idul fitri. Mila memilih salat ied di rumah Wahyuni dan baru ke rumah mertuanya di hari kelima atau keenam.

“Mas Kamil juga akan balik kok Bu,” Mila menyampaikan kabar yang membuat dada Wahyun bergetar lebih cepat. Suara Mila lewat telepon terdengar lebih jelas tidak seperti biasa.

“Kok Masmu nggak ngasih tahu ibu?” Wahyuni bertanya sedikit tidak percaya.

“Mungkin takut kalau rencananya akan berubah. Tapi kemungkinan besar Mas Kamil akan pulang di hari pertama.”

“Syukurlah kalau begitu. Sudah lama kita semua tidak berkumpul. Ibu juga kangen sama cucu-cucuku.”

“Iya,” Mila menjawab sederhana.

“Ibu akan buatkan tapai ketan daun ploso dan rica-rica enthog kesukaan kalian.”

“Nggak usah repot-repot bu. Yang penting jaga kesehatan ibu. Nanti kalau ibu kecapekan justru bisa susah.”

“Ibu sejak muda sudah biasa bekerja keras. Jadi tidak masalah kalau sekadar buat tapai dan rica-rica.”

Percakapan malam itu membuat jiwa muda Wahyuni bangkit kembali. Rasa nyeri dan senut-senut di lutut karena rematik seolah lenyap seketika.

***

Beras ketan sudah sempurna di rendam. Lalu dimasukkan ke panci untuk dimasak terlebih dahulu. Pematangan lima kilogram beras mungkin hanya butuh satu jam. Sambil menunggu beras ketan matang, Wahyuni menyapu dan merapikan ruang tamu.

Figura-figura berisi foto-foto keluarga dilap bersih. Kamil saat diwisuda. Kamil saat duduk di pelaminan dengan busana pengantin Jawa. Mila yang dulu pernah menjuarai lomba MTQ. Mila yang sesenggukan saat sungkem di pangkuan Wahyuni. Semua kenangan itu tercetak jelas. Ada yang berdiri di bufet kayu depan televisi. Ada juga yang tergantung di dinding-dinding rumah. Ada juga yang tertata rapi dalam sebuah album. Tanpa harus diabadikan dalam foto, kenangan akan Kamil, Mila, dan semua adegan penting dalam keluarganya abadi dalam pikiran Wahyuni.

“Kalian ternyata sudah sedemikian cepat dewasa,” gumam Wahyuni.

Kalimat itu keluar bersama jatuhnya air mata. Memiliki dua orang anak yang sudah mentas dan berumah tangga, bukan jaminan bagi Wahyuni akan lepas dari kesepian masa tua.

Saat pertama melepas Kamil untuk bermukim di Jakarta bersama menantu dan cucunya, Wahyuni sadar seorang anak memang harus dilepas seperti kuthuk yang mencari penghidupannya sendiri tanpa seorang induk. Meski dalam hati Wahyuni selalu ingin berdekatan dengan anaknya itu. Masih ada Mila, gadis bungsu yang akan menemani masa tua dan kelak merawatnya. Tetapi harapan itu pun mulai harus Wahyuni kesampingkan saat Mila menerima lamaran dari seorang lulusan kepolisian dan diboyong ke Banyumanik Semarang. Seperti layang-layang, sekuat apa pun benang menahan layang-layang akan mengangkasa sesuai kehendak angin. Segigih apa pun orang tua menahan, anak-anak akan tetap bertebaran mencari muara hidupnya masing-masing.

“Ini daun plosonya!” suara suaminya mengembalikan Wahyuni dari dunia kenangan.

“Sebentar, nunggu ketannya matang.”

Setelah satu jam penuh di atas dandang, ketan sudah matang. Dengan telunjuk dan jari tengah Wahyuni mengecek kelengketan. Ketan yang masak punya kelengketan pas. Lengket tapi tidak raket seperti lem. Harus masih bisa dipisahkan per butir ketan.

Ketan masak diturunkan dan digelar di atas pinggan. Harus ditunggu dingin sebelum ditaburi ragi dan dibungkus daun ploso. Di sinilah masa penentuan masam dan manisnya tapai ketan. Terlalu buru-buru ditaburi ragi saat masih panas, akan membuat tapai ketan masam dan cepat busuk. Sebaliknya kalau dibiarkan hingga dingin betul, manisnya akan benar-benar sempurna.

Subandi mengelap daun-daun ploso untuk membungkus. Biting dari lidi untuk mengaitkan bungkusan tapai. Sebuah dunak dengan dilapisi daun pisang dan daun jati.

Subandi dan Wahyuni saling membantu. Mereka melakukannya untuk menyambut kedatangan Kamil dan Mila. Setelah semua terbungkus dan ditata rapi dalam dunak, lembar demi lembar daun jati dan pisang silih berganti menutupi. Untuk membuat tapai semakin manis, diletakkan sebuah cobek tanah diatas dunak untuk mencegah penutup daun terbuka.

***

Keponakan Wahyuni diminta membantu Subandi untuk mengecat rumahnya. Semua harus tampak sempurna untuk Kamil dan Mila yang datang besok pagi. Selain memastikan proses pematangan tapai berjalan sempurna, Wahyuni juga harus merapikan kamar kedua anaknya untuk istirahat para menantu dan cucu.

Wahyuni duduk di kursi meluruskan kaki, setelah hilir mudik mengepel. Telepon berdering.

“Maaf Bu, Kamil tidak bisa datang. Malika, sakit.”

Sebentar Wahyuni terdiam. Kerut di wajahnya semakin tercetak jelas. Matanya menerawang jauh dengan fokus tidak jelas. Kenapa cucunya harus sakit di saat berbahagia begini? Ingin sekali Wahyuni protes, tetapi kini Kamil bukan lagi seorang anak saja. Kamil seorang bapak yang wajib menjaga Malika.

“Sakit apa cucuku?”

“Malika terkena DB. Kemungkinan hanya berlebaran di Jakarta. Tidak bisa ke Jawa. Maafkan Kamil dan keluarga ya Bu?”

Wahyuni mendesah. “Yo wis ra masalah. Sing penting Malika cepat sehat. Adikmu lebaran kali ini akan pulang.”

“Titip salam buat bapak, ya Bu.”

“Insyallah.”

Wahyuni menutup telepon. Wajahnya terlihat sangat lelah. Tertatih Wahyuni berjalan ke dapur. Bedug buka nanti, saat takbir kemenangan berkumandang, tapai ketan daun ploso itu akan dibuka dan matang sempurna. Tetapi mungkin akan berkurang manis karena ketan itu hanya akan dinikmati Mila tanpa Kamil. Wahyuni ingin memastikan peraman tapai ketan aman.

Telepon kembali berdering. Wahyuni bergeming di dapur.

“Siapa?” Subandi dengan belepotan cat mengangkat telepon.

“Mila, Pak. Ada ibu?”

“Sebentar.”

Subandi memanggil-manggil Wahyuni.

“Wahyuni, ada telepon dari Mila!”

Tetapi, tidak ada balasan dari Wahyuni. (*)

 

Catatan:

  1. Daun ploso (Butea monosperma) disebut juga plasa atau palasa, di Jawa sering dipergunakan sebagai pembungkus tapai ketan.
  2. Kuthuk: anak ayam.
  3. Dunak: keranjang dari anyaman bambu untuk memeram tapai.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s