Cerpen

Bantimurung Kuning

(Pikiran Rakyat, 15 Juni 2014)

Bantimurung Kuning

Tiap melihat bantimurung kuning di pekarangan, Giri selalu membayangkan serangga kecil itu berasal dari tubuh bidadari yang sengaja datang menghiburnya. Bidadari seayu pemain film India dengan sayap kuning. Kepak sayapnya seperti sebuah atraksi di taman hiburan. Lincah, indah dan memesona. Noktah bulat mempercantik bentangan sayap di tengah bunga-bunga kertas dan kuning bunga matahari. Mungkin demikian cara Tuhan menghibur anak lelaki yang memiliki ibu terus-terusan mengabsen hewan buas meski tidak jelas: “Anjing! Singa! Serigala! Buaya!”. Giri lahir seperti terlepas dari rahim Juminah dan meluncur ke tanah. Sedangkan Juminah selalu duduk dengan pasungan di kakinya sedari dulu hingga sekarang.

Bantimurung kuning terbang mendekati rumah Giri yang dilingkupi lara. Rumah dari papan randu yang saat musim kemarau muncul rekah-rekah dan saat musim penghujan bisa dengan mudah ditemui lipan dan kalajengking di bawah dipan. Juminah duduk menggelesot di pasungan di pojok rumah. Rambutnya dikuncir dengan kain sobekan selendang. Daster yang dikenakan sudah sedekil gombal mukiyo. Hari-hari Juminah dihabiskan di pasungan. Menanti jam-jam Giri memberinya makan, mengganti pakaian, dan membersihkan kotoran dan air seni yang lengket di badan.

Giri menatap Juminah dengan mata nanar. Ada setitik air yang lolos dari pojok matanya. Tangan kanannya membawa piring plastik berisi nasi dan pindang.

“Ibu mau Giri suapin?” sejelek dan segila apapun, Giri lahir dari darah dan air susu Juminah.

Juminah menggeleng. Suara Juminah lesap oleh nestapa: “Tidak usah Giri. Anakku lanang.”

Meski tak bicara jelas dan suka memaki, Juminah tahu lelaki dengan badan tegap, rambut ikal dan mata bak kejora itu adalah anak lelakinya. Seolah ingin memberi kasih sayang, Juminah diam menjulurkan tangan ingin meraih badan Giri. Giri yang mafhum langsung mendekatkan badannya dan membiarkan wanita itu membelai punggung dan mendesiskan kalimat-kalimat tidak jelas. Giri hanya mengartikan itu sebagai nasihat seorang ibu kepada anak lelakinya yang sudah matang: “Giri, anakku lanang satu-satunya, janganlah kamu menjadi lelaki picik. Kamu harus menjadi lelaki gagah, wibawa, dan bertanggung jawab. Jangan kamu sakiti perempuan seperti dulu lelaki bejat menyakiti ibumu ini.”

“Giri berjanji ibu. Cukup Giri saja yang menderita seperti ini.”

Senyum Juminah terurai.

“Sebelum makan ibu harus cuci tangan. Giri tidak mau ibu sakit. Akan semakin susah kalau ibu sakit.”

Juminah terdiam membiarkan Giri membasuh tangannya dengan air dan sabun. Lalu dilap dengan handuk kecil yang tersampir di bahu Giri. “Aku mengikuti semua caramu, Giri.”

“Giri temani ibu makan, ya?”

Juminah kembali menggeleng. Lalu memberi isyarat Giri untuk makan di meja.

“Baiklah. Giri akan makan di meja.”

Dalam kebisuannya Juminah ingin menyampaikan: “Giri, kamu makan saja di meja. Ibumu saja yang makan di tanah. Makan di tanah itu seperti narapidana, Giri.”

Giri gegas menuju meja. Nasi, sayur dan lauk serta kerupuk di hadapan Giri selalu tak membangkitkan selera. Menyaksikan nasib ibunya yang nestapa. Mengurut sejarah darahnya yang belum ditemukan muasalnya. Juminah melahap makanan grusa-grusu. Remah-remah berceceran. Pulukan tangan selalu lebih besar dari lebar mulut Juminah. Nasi, potongan pindang, dan air dalam gelas tumpah ke tanah.

Di luar bantimurung kuning melompat-lompat di dahan bunga kertas. Menunggu kumbang mana yang paling gagah. Lalu berebutan nektar dari kelopak bunga. Giri tersedak dalam diam.

***

Juminah muda adalah gadis manis yang tak pernah melewatkan hari dengan pujian. Juminah baru saja lulus dari madrasah aliyah dan hendak melanjutkan diploma satu jurusan guru agama. Juminah ingin menjadi seorang guru yang dihormati murid dan keluarganya. Mengajar di depan kelas dengan kapur di tangan kanan dan buku tersangkut rapi di tangan kiri. Menerangkan dengan papan tulis hitam dan pengharis kayu 100 senti.

“Kamu benar mau menjadi guru Juminah?” tanya wali kelasnya.

“Iya, Pak!”

“Kamu memang pantas menjadi guru. Cocok sekali. Kamu cantik. Pintar. Dan pandai bergaul.”

Juminah tersipu. Wajahnya merah terlihat jelas di balut kerudung putih. Hari ini Juminah menerima ijazah dari sekolah dan bersiap merantau di kota demi cita-cita menjadi guru madrasah.

“Betapa bahagia orang tuamu, Juminah. Mempunyai gadis secantik dan sepintar dirimu. Bahkan tanpa harus melanjutkan sekolah pun, kamu akan menjadi nyonya besar. Minimal polisi atau kepala sekolah akan meminangmu. Kamu memang pantas jadi istri orang besar. Wajahmu sangat tidak pantas jadi ibu rumah tangga biasa.”

Pujian wali kelas itu terlalu berlebihan. Juminah pun tahu wali kelas yang masih perjaka dan berusia dua puluh enam itu, menaruh hati pada Juminah. Tetapi Juminah sudah diwanti-wanti oleh Bu Alimah, guru sejarah yang juga masih muda, untuk tidak menggoda wali kelasnya itu. Juminah tahu, Bu Alimah lebih pantas sebagai pendamping wali kelas Juminah itu.

“Juminah ingin mandiri, Pak. Seorang wanita tidak harus selalu menggantungkan pada suami kan?”

“Aku mendukungmu Juminah.”

“Semoga bapak mau melamar Bu Alimah. Dia sangat ingin menjadi istri bapak. Dan Bu Alimah selalu mencemburui saya.”

Aiiish. Kamu itu benar-benar murid yang paling pintar. Nilaimu bagus. Sekarang jadi makcomblang.”

Juminah dan kepala sekolah itu tertawa hampir bersamaan.

Esok harinya Juminah berangkat ke kota. Berangkat dengan segudang cita-cita, tetapi pulang membawa mala, luka. Keluarganya sangat tidak percaya bahwa Juminah ditemukan tidak sadarkan diri di kamar kos dengan tanpa selembar kain tertempel badan. Dan Juminah terus menceracau:  “Anjing! Singa! Serigala! Buaya!”.

***

Seperti ada tombak yang dilemparkan tepat di dadanya. Giri ingin sekali mencari laki-laki yang menumpahkan pejuh di rahim ibunya, yang membuat ibunya menjadi kehilangan nalar dan terus menceracau.

Dengan suara kesedihan yang hanya didengar oleh Juminah, ada cerita yang ingin disampaikan kepada Giri. “Malam itu adalah malam jahanam, Giri. Malam terasa lebih panas dari biasanya. Bulan benar-benar lebih besar dan memantulkan hawa neraka. Ibu sedang melipat baju yang baru kering dicuci. Angin berkesiur menggoyangkan gorden. Dari jendela ada empat mata yang dipenuhi nafsu binatang. Aku yang menyadari kedatangan mereka, langsung menutup jendela. Secapt kilat. Tetapi tangan mereka sudah menghadang dan menghalangiku. Mereka masuk merangsakku. Mulutku ditutup dengan cakar mereka. Kepalaku dibenturkan ke almari. Mereka menghunjam-hunjamkan senjata. Memasuki tubuhku dengan paksa. Hssssshssss….”

Juminah meraung kembali. Kenangan itu memperparah luka yang sudah bernanah. Membuat luka yang lebam terkorek dan kembali berdarah. Giri melamun di kursi.

“Andai bisa, Giri akan membunuh laki-laki bejat yang membuat ibu jadi begini.”

Juminah mendesis.

“Ibu, sebentar lagi aku akan menikah. Aku belum menjelaskan kepada calon istriku siapa ibu sebenarnya. Aku tidak terlalu yakin dengannya, apa dia mau menerima ibu.”

Juminah paham. Giri sudah dewasa dan harus membuktikan kejantanan dan kedewasaannya. Meski tidak mau melepasnya, Juminah paham Giri akan menikahi gadis pilihannya. Membuat kehidupan baru dan mungkin melupakan dia. Suara Juminah tertahan oleh kesedihan: “Menikahlah kamu Giri. Jangan pedulikan ibumu ini. Hewan-hewan yang lepas dari kerangkeng besi itu sudah merenggut hidup ibu. Hidup ibu sudah habis sejak malam itu. Jadi tidak masalah kalau kamu harus pergi meninggalkan ibu. Biarkan perempuan tua gila ini mati oleh masa.”

“Gadis itu manis ibu. Matanya seperti kejora. Dan suaranya lebih indah dari penyanyi Pantura.”

Juminah diam. Liur menetes-netes hingga pakaian. Tangan dan sisa makanan dijilat-jilat hingga bersih.

“Maafkan Giri ibu. Gadis itu memaksa untuk Giri nikahi. Padahal Giri ingin membahagiakan ibu dahulu. Tetapi….”

Dari pasungan, Juminah memiringkan kepala. Memerhatikan Giri saksama.

“Gadis itu sudah hamil ibu. Hamil dari benih Giri.”

Giri menundukkan kepala. Terisak-isak.

Juminah meraung. Teriak-teriak. Dalam kesedihannya tidak jelas terdengar raungan Juminah: “Anjing! Singa! Serigala! Buaya! Giri, kamu sama jahanamnya dengan mereka. Lebih baik kamu bunuh ibumu sekarang juga.”

Teriakan Juminah membuat seekor bantimurung kuning yang seperti bidadari urung masuk dan menghibur. Sore jatuh bersama penyesalan Giri dan kemarahan Juminah. Bantimurung kuning yang biasa memberi keceriaan Giri, kini perlahan terbang menjauh. (*)

Bantimurung: spesies kupu-kupu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s