Resensi

Bipolaritas Dalam Kelir Slindet

(Radar Surabaya, 8 Juni 2014)

Novel ini diawali dengan adegan mengintip dangdut tarling dari musala,. Dua hal yang saling bertolak belakang yaitu, musala dan panggung, dangdut tarling dan kasidah. Dangdut menjadi pusat perhatian dan simbolisasi, terutama dangdut tarling Indramayu.

Novel yang lahir dari pengamatan penulis akan fenomena di daerah kelahirannya, Cikedung, Indramayu, sangat istimewa. Kedung Dharma Romansa yang dikenal publik sebagai penyair kenamaan, menguliti ‘borok’ Indramayu. Kejeliannya menata konflik dan berbahasa yang tidak berpuisi-puisi membuat novel, yang merupakan bagian pertama trilogi Slindet menarik.

Safitri berparas cantik, bibirnya merah buah kepundung. Safitri lahir di keluarga ‘hitam’. Ibunya, Saritem adalah mantan telembuk alias pelacur, ayahnya, yang suka main perempuan. Safitri disukai oleh kakak beradik Musthafa dan Mukimin (Muhaimin) anak dari Haji Nasir, yang ternyata dahulu pernah menjalin asmara dengan Saritem, dan juga tidak ‘putih-putih’ sekali. Haji Nasir digosipkan memakai pesugihan, atau dalam bahasa Cikedung dinamai Haji nyupang.

Safitri bergabung dengan kasidah pimpinan Musthafa, tetapi masih berambisi jadi penyanyi dangdut. Musthafa perjaka tua yang suka menyimpan majalah porno, diam-diam suka Safitri.

Safitri lebih suka Mukimin. Safitri menolak lamaran Musthafa. Penolakan itu membuat Haji Nasir berang. Desas-desus buruk keluarga Safitri diembuskan. Mendengar itu, Saritem melabrak Haji Nasir dan mengata-ngatai dengan kasar. Kemarahan Saritem berujung pada penolakan kedatangan Mukimin yang dicintai dan mencintai Safitri. Safitri terpojok. Dan dangdut tarling menjadi pelampiasannya. Safitri menghilang dan ditemukan ayahnya lima bulan kemudian, sedang manggung di dangdut tarling.

Penulis novel ini sengaja membenturkan dua hal berseberangan. Dangdut vs kasidah, pelacur vs haji, kalau boleh diringkas antara dunia ‘hitam’ dengan dunia ‘putih’. Penyajian dua hal yang bertentangan dan rawan konflik ini dimaksudkan untuk menyampaikan betapa dunia sekarang sudah jungkir balik.

Tetapi penulis tidak menjustifikasi salah satu kutub. Ini tampak dari tidak adanya satu kalimat penghakiman dalam novel ini. Bahkan dalam penokohannya pun penulis tidak membuat yang ‘hitam’ benar-benar kelam dan yang ‘putih’ sangat suci. Safitri sebagai cahaya dari ‘kehitaman’. Pengambilan nama Saritem yang adalah daerah lokalisasi di Bandung, dipertemukan dengan nama Safitri yang sangat nyantri. Sedang Haji Nasir, dikisahkan memiliki hubungan gelap dengan Saritem.

Posisi demikian dijaga penulis hingga akhir. Pun saat diketahui Safitri hamil, penulis tidak ak menyebut siapa yang menumpahkan pejuh di rahim Safitri. Penulis tetap ingin menjadi bagian netral dan berharap pembaca pun demikian.

Siapa yang dibenarkan dan siapa yang disalahkan, tak ada yang tahu. Sebab kebenaran bukan pada pikiran, melainkan kenyataan. Dan terkadang keberanan dibenarkan lewat pikiran, bukan pikiran yang dibenarkan lewat kenyataan. (hal.223)

Novel “Ndeso”

Novel ini sangat ‘ndeso’. Setting dunia agraris sangat detail. Suasana kampung dijelaskan apik. Dirajut dengan konflik dan budaya agraris: pertelembukan, pentas dangdut, goyangan biduanita, orang-orang bergunjing. Bagaimana Saritem melabrak Haji Nasir dan mengata-ngatai dengan cacian kasar adalah gaya ibu-ibu kampung bertengkar dan meluapkan kekesalan.  Lalu kata-kata kasar dan makian yang disajikan tanpa sensor, menambah suasana ‘ndeso’ dalam novel ini. Ke’ndeso’an juga tampak dari banyaknya tokoh yang hadir, seperti menegaskan orang desa grubyak-grubyuk. Banyak sekali tokoh, seperti kehidupan desa.

Selepas membaca ini, pembaca akan dipuaskan akan budaya agraris kita. Negeri ini beragam. Tak mudah menghakimi menjadi jalan paling bijak. Sehingga tak terjebak rumongso benar dan enteng mendakwa orang.(*)

Kelir SlindetIdentitas Buku

Judul          : Kelir Slindet
Penulis       : Kedung Darma Romansha
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan     : Pertama, Maret 2014
Halaman   : 256 halaman
ISBN          : 978-602-03-0356-7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s