Resensi

Pelajaran Pratiotisme Dari Kisah-kisah Fiksi

(Koran Jakarta, 28 Mei 2014)

Kumpulan cerpen “Semua Untuk Hindia” besutan Iksaka Banu tak sekadar bacaan ringan, namun memberi sejumlah pelajaran sejarah. Buku berisi 13 cerpen dengan latar belakang masa Hindia Belanda. Keterkaitan fiksi dengan sejarah diramu menjadi peristiwa utuh dan seperti adegan film pendek. Tema-tema yang diarap oleh penulis kebanyakan berlatar sejarah Hindia Belanda. Di antaranya, Pelayaran Cornelis de Houtman ke Nusantara (1596), pemberontakan Untung Suropati (1680-an), pembantaian orang Cina di Batavia (1740), jatuhnya Batavia dari Belanda ke Inggris (1811), pengasingan Diponegoro ke Manado(1830), Ratu Adil di Banten (1888), Perang Puputan (1906), perkebunan tembakau di Deli dan perkebunan teh di Jawa Barat, atau masa vacum pasca Jepang diusir dari Indonesia di tahun 1945-an.

Secuplik sejarah yang diambil Iksaka Banu adalah kisah yang tidak dikisahkan atau dalam kalimat Nirwan Dewanto di pengantarnya adalah celah-celah kosong yang tak tersentuh oleh sapuan besar. Misal dalam “Selamat Tinggal Hindia”, yang berlatar Batavia jatuh dari Belanda ke Jepang. Seorang perempuan Belanda, Maria Geertruida Welwillend lahir di Gunung Sahari. Ketika terjadi pertempuran, Martinus, yang meski warga negara Belanda namun pro-Nusantara, ingin menyelamatkannya dengan memintanya pergi meninggalkan Hindia Belanda. Ternyata Geertje bukan wanita keturunan Belanda biasa, dia justru mengumandangkan propaganda anti-NICa lewat radio. Ada dugaan bahwa Nona Geertje alias ‘Zamrud Khatulistiwa’ alias ‘Ibu Pertiwi’, yaitu nama-nama yang sering kami tangkap dalam siaran radio gelap belakangan ini, telah berpindah haluan’ (h.11).

Sejak awal Iksaka Banu menjebak pembaca dalam suasana kolosal. Hal ini ditengarai karena bahasa y Iksana Banu bukan bahasa yang imajinatif. Penulis mempergunakan bahasa terang tanpa berniat akrobat. Lebih-lebih pemakaian POV orang pertama “aku” mau tidak mau membuat pembaca terlibat. Misal dalam cerpen “Penunjuk Jalan”, yang seketika menampar dengan suasana sebuah pedati masuk jurang. Mataku kembali terbuka setelah kulit yang tergores dan lebam ini merasakan jilatan matahari siang. Kutemukan diriku tersangkut belukar di tubir jurang (h.117).

Kemampuan memvisualisasikan cerpen didukung ilustrasi Yuyun Nurachman yang menjadi bagian menarik di buku ini.

Cerpen dalam buku ini tetaplah karya fiksi. Maka kehadiran tokoh-tokoh baru, entah itu pernah hidup betulan atau hanya hidup di imajinasi tak perlu dianggap sebagai sebuah fakta. Iksaka Banu tetap memakai imajinasi untuk menghidupkan kisah di dalamnya. Kehadiran sopir Martinus bernama Dullah dalam cerpen “Selamat Tinggal Hindia”, perselingkuhan antara Sarni dengan Adang dalam cerpen “Stambul Dua Pedang”, dll bisa jadi hanya cerita sempalan hasil elaborasi penulis.

Cerpen  dalam buku ini bisa berujung pada kisah pemberontakan, perang, perselingkuhan, cinta, wabah penyakit, atau sekadar kisah penyiksaan tahanan. Tetapi ujung dari cerpen ini adalah pengisahan fragmen sejarah yang hampir terlupa. Mungkin hanya di cerpen “Semua Untuk Hindia” kita dapat merasakan ada kisah cinta antara Anak Agung Istri Suandani dengan prajurit Belanda saat Perang Puputan. Atau kisah seorang prajurti Belgia yang menerima kebaikan Pangeran Diponegoro. Iksaka Banu telah berhasil menyajikan fragmen tersendiri.

Meskipun fiksi tetapi cerpen-cerpen ini memberikan pelajaran, setidaknya dua hal. Pertama adalah mengingatkan kita peristiwa-persitiwa sejarah yang luput ditulis dalam pelajaran sejarah kita. Kedua adalah meningkatkan rasa nasionalisme, karena kebanyakan tokoh dalam cerpen ini berlaku pro-nasionalisme. Iksaka Banu sudah memberikan sebuah pelajaran sejarah lewat buku ini dan mungkin ini adalah semua ini adalah untuk Hindia (baca: Indonesia).

Identitas Buku:

Judul      : Semua Untuk Hindia

Penulis    : Iksaka Banu

Penerbit  : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Cetakan  : Pertama, Mei 2014

Tebal      : xiv+154 halaman

ISBN       : 9789799107107

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s