Cerpen

Pembunuh Anda

(Radar Surabaya, 25 Mei 2014)

80075-22

Anda (laki-laki; 7 tahun)

Ia tewas di halaman belakang warnet di tepi gang. Tubuh kakunya ditemukan tertimbun tumpukan kardus dan sampah-sampah kering. Darah kering lengket di kepala hingga muka. Sperma kering berceceran di selangkangan hingga dubur. Anda dan anak seusinya memang senang bermain di sekitaran warnet tersebut. Ada halaman luas tempat mereka biasa bermain kartu remi. Apabila warnet kosong, mereka bisa melongok sebentar di bilik komputer atau patungan main game online.

Sebelum ditanam di tanah, mayat Anda diautopsi. Hasil analisis dokter forensik menyatakan: Anda mati 4 jam sebelum ditemukan, ada luka lebam bekas pukulan benda tajam di pelipis bagian kanan, rambut yang rontok secara dipaksa kemungkinan akibat diseret, ada cairan sperma kering di celana Anda. Hantaman benda tumpul menyebabkan Anda mati. Dokter forensik menyerahkan lembar analisis dalam bundel berkas tersegel rapat. Hanya pihak rumah sakit, keluarga, dan polisi yang berhak mengetahui. Dokter forensik sempat berbisik kalau kasus demikian sering terjadi di kawasan kumuh atau daerah pinggiran kota. Kemungkinan Anda adalah korban sodomi lantas disiksa para preman yang menemukan tubuh molek Anda.

“Sersan Norman, sebaiknya anda menutup kasus ini. Sia-sia!”

Tidak! Aku beranggapan lain. Kematian Anda seperti tragedi mencengangkan di tengah kawasan perumahan tenang. Aku sudah merunut dan kuyakini ini tak sesimpel yang disampaikan dokter forensik itu. Perkara membedah mayat memang doter itu ahlinya, tapi pengungkapan kasus aku tetap mengunggulinya.

Aku sempat mencurigai kalau ibu Anda di balik ini. Tapi usai melakukan penyedikan dan mengumpulkan data dan bukti di TKP, ada beberapa orang yang beralibi tidak meyakinkan.

Indiuma (perempuan; 46 tahun)

“Sersan, saya memang membenci anak jadah itu. Tapi aku takkan tega membunuhnya sedemikian kejam.” Wanita dengan kecantikan biasa saja dan dempul bedak tebal mengelurkan sekotak rokok dan menjepitnya di celah bibir mencolok marun darah. Aroma kretek bercampur harum parfum murahan, khas pelacur.

“Dan anda tidak sedih kehilangan anak?”

Indiuma terbahak. Buah dada bergoyang-goyang seperti balon karet diisi air keran. “Kalau boleh jujur, andai saya bisa bertemu dengan pembunuh bocah bengal itu, saya bakal mengucapkan terimakasih. Karena telah melenyapkan anak setan itu.”

“Maksudnya?”

Indiuma seorang pelacur. Anda tiba-tiba ada di rahimnya tanpa rencana. Obat-obat pelenyap janin mental. Indiuma pun sukar melacak sperma siapa malam itu yang memenangkan kompetisi demi sebulat ovarium Indiuma.

“Jadi anda benar-benar ingin Anda mati.”

“Ya, tapi saya tak mungkin tega mendaratkan balok kayu ke pelipisnya. Memang sih, sesekali kalau kesal aku bisa menampar Anda.”

Aku terhenyak. Mengapa Indiuma membayangkan kalau sebatang balok yang menghantam kepala Anda. Aku menyisir rumah Indiuma dan pandangan matanya bertubrukan dengan pengganjal pintu berbentuk balok.

“Itu biasa saya pakai menggebuk anjing kudis yang berak di halaman, Sersan Norman. Dan dua minggu ini saya sedang dibooking pejabat. Jadi tidak mungkin menyempatkan pulang demi membunuh Anda.”

Indiuma memiliki hasrat melenyapkan Anda.

Boron (laki-laki; 27 tahun)

“Anda siang itu memang kumarahi. Lebih tepatnya Anda dan kawan-kawannya. Ada delapan anak. Mereka biasa main di halaman,” Boron duduk di meja server warnet menjelaskan. Tangan kirinya menunjuk halaman berlapis paving block segienam dengan sebatang pohon kuini tegak di tengah tanpa pernah berbuah.

“Mengapa anda memarahi Anda?”

“Anda dan kawan-kawannya selalu merengek minta dibukain situs porno.”

“Situs porno? Bocah sekecil itu?”

“Ya, sejak mereka memergoki saya suka membuka situs porno mereka jadi terus-terusan merengek minta lihat lagi. Terang saja, siang itu mereka kubentak. Tak pantas anak kecil keseringan nonton begituan.” Boron meraih gelas teh dingin dengan tangan kiri.

Mataku seketika melotot. Aneh.

“Maaf saya kidal,” Boron menjelaskan.

Boron sangat mungkin menjadi pelaku tunggal atas kematian Anda. Demikian karena beberapa alasan yang sengaja atau tidak sengaja, Boron sampaikan. Anda suka merengek minta nonton situs dewasa di warnet Boron. Bercak sperma bisa jadi itu milik Boron. Lelaki siap menikah tak kunjung menikah, tak jauh-jauh dari pikiran cabul.

“Anda sudah menikah?”

Pertanyaanku tak dijawab detail. Boron hanya menyinggung kalau ia disukai gadis, tentu lekas menikah. Boron sepertinya mengerti ujung pertanyaanku. Lalu gegas menambahi jawaban, “jangan dipikir aku mau melakukan hal-hal yang macam-macam ke tubuh Anda. Aku tidak sehina itu. Aku hanya mengusirnya dan aku tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan.”

Nama Boron masih kutebali pertanda harus dikorek dua atau tiga kali lagi.

Renimia (perempuan; 63 tahun)

Nenek yang satu ini bicara tidak terlalu jelas. Bibirnya keriput. Giginya ompong. Tetapi perlu dicurigai juga. Rumahnya berhadapan langsung dengan halaman belakang warnet Boron. Ia juga menyaksikan ketika rombongan anak-anak yang di dalamnya ada Anda berkumpul mepet dinding warnet.

Menurut Nenek Renimia, Anda bersama beberapa anak sedang merubungi sesuatu yang menarik perhatian mereka. Seingat nenek Renimia, Selen yang memimpin rombongan. Nenek Renimia merasa terganggu ketika mereka cekikikan sendiri dan menertawakan hal-hal yang mengusik Nenek Renimia. Nenek Renimia ingin tidur siang. Dan suara mereka merusak kantuknya. Karena kesal, dengan berjalan tertatih Nenek Renimia mendekati mereka. Pertama diceramahi mereka. Tidak baik menganggu tidur siang nenek. Apalagi siang terik, mereka bukannya tidur siang, malahan main-main. Bukannya mengerjakan PR.

“Reaksi mereka?”

“Ada yang marah, bilang ‘nenek ini apaan sih?’. Ada yang mengunci mulut dan melototi layar benda segiempat.”

“Nenek sempat melihat apa yang mereka tonton.”

“Tidak. Aku sudah keburu marah-marah. Aku memukuli anak-anak. Dan seingatku memang satu pukulan itu mengenai pelipis Anda, tetapi tidak mungkin pukulan nenek-nenek cukup kuat untuk membunuh Anda.”

Benar. Memegang cangkir saja, Nenek Renimia gemetar hebat. Tremor luar biasa. Sangat kecil kemungkinan nenek-nenek renta mampu memukul secara kuat-kuat kepala Anda yang menyebabkan kematian.

Seorang lagi yang sekiranya mampu melengkapi data adalah Selen.

Selen (laki-laki; 17 tahun)

“Benar.” Selen menjawab saat kutanya apa siang itu, ia bertemu dengan Anda. Kalimatnya tegas tidak ragu sama sekali. Remaja pengangguran ini sangat tegas. Kumis tipis yang tumbuh di bawah hidung, menambah kejantanannya. Suaranya bernada alto.

“Apa yang kamu kerjakan siang itu?”

“Anda ingin kujawab jujur atau sedikit kamuflase?”

“Sebaiknya jujur.” Sorot mata Selen tajam tidak ada sedikit pun rasa takut. Aku mengamati mikro ekspresi. Banyak hal dapat diteliti dari perubahan mimik muka.

“Aku baru saja mendapatkan video bokep. Aku ingin menontonnya. Anda dan beberapa temannya baru saja dimarahi Boron. Ya kebetulan saja. Aku menawarkan bagaimana kalau menonton video dari hapeku saja. Mereka sepakat dan tampak sangat antusias. Terutama Anda.”

“Kalian menonton?”

“Tentu. Anda menaruh perhatian sangat dalam. Berkali-kali kugampar kepalanya, kalau Anda terlihat sangat bergairah dan berusaha memasukkan tangannya di celana. Lalu datang Nenek Renimia dan memarahi kami. Itu saja.”

Apa sperma itu bukan perbuatan pelecehan seksual, hanya Anda berorgasme melihat video dewasa?

“Anda memukuli Anda?”

“Benar. Tapi apa pukulan itu membunuh Anda?” Selen meraih korek api hendak menyulut kretek di mulut dengan tangan kiri.

“Kenapa dengan tangan kananmu? Kamu kidal seperti Boron?”

“Tidak. Hanya keseleo.”

Sersan Norman (laki-laki; 51 tahun)

Kematian Anda seperti mata rantai atas kasus-kasus sebelumnya. Beberapa anak bau kencur akhir-akhir sering ditemukan tewas tanpa sebab jelas. Di pinggir jalan tol, di bak penampungan air, bahkan terpotong-potong dalam kopor. Beberapa diindikasi korban pelecehan seksual. Vagina rusak. Dubur lecet berdarah. Tapi aku tidak memiliki orang paling mencurigakan.

Keempatnya –Ibu Indiuma, Nenek Renimia, Boron, dan Selen, memiliki peran penyebab matinya Anda. Besar maupun kecil. Langsung maupun tidak.

Indiuma membenci dan ingin menghabisi Anda. Berkali-kali memukul dengan balok pengganjal pintu. Tidak bisa dipastikan Indiuma memukul kepala atau badan.Tapi siang itu, bahkan selama dua minggu, Indiuma tidak ada di rumah.

Boron memukul saat mengusir Anda dari warnet. Apa pukulan sekali mampu menghabisi nyawa Anda? Sepertinya tidak.

Nenek Renimia, berjalan saja gemetar dengan tongkat. Mana mungkin kekuatan sepuhnya cukup kuat membunuh Anda. Tetapi nenek Renimia cukup detail menjelaskan kalau siang itu memang ia memukul Anda karena kesal.

Tetapi Selen? Ia mengakui berulang kali menggampar Anda. Tetapi itu bukan keras. Sekadar mengingatkan kalau jangan berbuat aneh-aneh saat menonton video dewasa. Melebihi itu dilarang agama. Apa gamparan itu meski berkali-kali membuat pelipis kanan Anda terluka parah, remuk, dan akhirnya mati? Kerusakan karena pukulan benda tumpul hingga terjadi pendarahan dalam kepalanya.

Pelipis kanan? Mengapa hanya pelipis kanan?

Kubuka kembali dokumen dari dokter. Pelipis kiri Anda mulus. Siapa yang hanya memukul kepala bagian kanan? Tentu mereka yang punya pukulan tangan kiri lebih kuat dari pukulan sebelah kanan. Artinya pukulan dari tangan kiri untuk tubuh kanan Anda. Bukan tangan kanan untuk tubuh bagian kiri.

Kidal! Ya hanya orang kidal. Tangan kiri orang kidal lebih kuat daripada sebelah kanan. Kidal? Atau orang yang tak bisa mempergunakan tangan kanan karena terluka? Boron atau Selen? (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s