Cerpen

Seluas Gurun

(Tabloid Nova, 28April – 4 Mei 2014)

IMG_0002

Kereta Taksaka tiba di Stasiun Tugu pukul empat pagi. Masih gelap. Aku menghentikan taksi dan mengantarku ke tempat menginap. Sebelum tanah terang, aku bisa istirahat untuk sekadar meluruskan punggung dan menata perasaan.

Perjalanan ke Yogyakarta kali ini seperti napak tilas sebuah kenangan. Hampir sepuluh tahun aku memendamnya. Setelah menikah, semuanya membeku. Hasan Alatas, yang kini masih menjadi suamiku, membujuk agar batal ke Yogyakarta. Aku bergeming. Ia takkan rida istrinya pergi seorang diri. Namun semanis dan sehalus apapun rayuannya, tidak akan memperbaiki hubunganku denganya. Dalam hati kukatakan, aku ingin bertemu Hendri Setianto.

Setengah delapan usai sarapan, aku duduk-duduk di kursi taman penginapan. Kendaraan mulai lalu lalang dikejar waktu. Udara segar menyapu. Kota ini selalu beraroma gudeg dan Kali Code saat pagi hari dan semerbak aroma nasi kucing dan wedang jahe saat sore. Seharum aroma kenangan. Kenangan ketika aku dan Hendri Setianto sama-sama menempuh pendidikan dokter gigi. Tidak ada kenangan melebihi manisnya kisah asmara. Hendri Setianto kini membuka klinik gigi di Jalan Kaliurang, tidak jauh dari tempat menginap. Aku sudah memesan taksi untuk mengantarku menemui Hendri Setianto di kliniknya.

Menyaksikan jalan-jalan kota yang dihiasi barang seni, seketika wajah Hendri Setianto membayang. Senyumnya, wajah yang selalu mengilat karena minyak, daki kering yang menutupi merek kacamata, nada suara bersungut-sungut ketika diskusi dan kecintaannya pada buku. Kenangan akan dirinya belum bisa kueyahkan. Perasaan itu menjalari tubuh dan menekan pikiran, seperti racun yang belum kutemukan penawarnya.

Juga ketika suatu malam Hendri Setianto mengajakku menikah. Meski aku perempuan jamaah, perempuan dengan keturunan Arab. Sedang darahnya 100% Jawa. Perempuan jamaah digelari perempuan syarifah, yang harus dijaga keluhuran nasabnya. Tidak akan diizinkan menikah dengan lelaki ahwal, non keturunan Arab seperti Hendri Setianto. Kemurnian nasab yang bisa dirunut hingga generasi nabi adalah kebanggaan dan keutamaan. Abi dan umi menjunjungnya kemanapun, tanpa peduli ada yang tersakiti, tanpa peduli ada generasi yang menolak dan menyusun gerakan berontak. Tetapi aku tetaplah wanita, yang butuh suara ganda untuk menampik suara lelaki seorang saja. Sekeras apapun berontakku tak bisa mengalahkan keputusan final keluarga besar.

Hendri Setianto tahu itu. Sekadar berteman, abi umi tak mempermasalahkannya. Tetapi untuk menikah. Kalimat larangan mereka titik tanpa koma. Seperti pintu yang terkunci selamanya.

“Lebih afdal menikah dengan lelaki buta tuli dan bisu tetapi jamaah! Hasan Alatas jauh lebih pantas ketimbang Hendri itu! Sekalipun Hendri Setianto itu konglongmerat, selebriti, atau profesor tersohor!”

“Hasan Alatas hanya lulusan madrasah setingkat SMA,” dulu aku masih berani menyanggah. Aku tidak percaya pada tangga-tangga yang membedakan nasab.

“Kurang kaya apa Hasan Alatas?” perkataan umi kadang tidak sehalus namanya. Memang terlihat dari luar, umi wanita dengan penutup kerudung besar. Ketika disinggung urusan nasab ia bakal marah besar.

“Umi,” mungkin itu sepotong kalimat bentuk keputusasaan paling puncak. Aku menyerah. Ketika kudengar nama Hasan Alatas, calon suami yang bakal kunikahi itu seperti kusaksikan laki-laki beraroma minyak misik dengan bulu di sekujur tubuh. Apa masih bisa kunikmati kebebasanku sebagai wanita? Lalu Hendri Setianto? Yang pasti Hasan Alatas melarangku menjadi dokter gigi usai menikah dan cukup menjadi istri di rumah.

Andai namaku bukan Farah Diba Al Habsyi? Andai aku tidak memiliki garis keturunan jamaah? Andai aku adalah Susanti, Dewi Riani, Purwanti, atau siapalah yang bebas memilih Hendri Susianto sebagai suami dan bebas menolak pinangan Hasan Alatas? Andai nasab jamaah adalah menara atau piramida, tentu saat itu juga kuambil kapak untuk menumbangkan mereka.

***

“Kamu tahu cinta butuh pengorbanan, bukan?” kalimat Hendri Setianto penuh tantangan.

Kupandang matanya ditutupi kacamata minus. Alis tebal seperti jejeran semut hitam lurus kaku. Dagu menghijau bekas cukuran. Semua menggambarkan amarah. Meski aku benar-benar mencintainya, aku tak bisa berbuat nekad. Aku tetaplah wanita yang harus taat kepada putusan umi abi. Leherku bisa dipotong dan dihujat seumur hidup.

“Diba, orang tuamu hanya butuh diyakinkan.”

“Sudah kucoba. Dan selalu gagal.”

“Karena materi?”

“Bukan! Ini masalah tradisi dan kehormatan nasab yang seperti tembok besar tanpa jendela. Aku terbentur.”

“Beda karena nasab? Sedang kita tidak bisa memilih dari nasab mana dilahirkan, bukan?”

“Aku terpojok,” jawabanku tidak memberi kejelasan kepada Hendri Setianto. Ia tentu kecewa akan perubahan sikapku. Hendri Setianto paham aku bukan wanita lemah yang bisa dengan mudah dikalahkan ketika adu pendapat. Gigih dan tangguh. Akhirnya aku dipenjara oleh kredo “jamaah-ahwal”.

Aku segenggam pasir gurun dan Hendri Setianto pasir letusan Merapi.

“Lupakan saja aku. Anggap saja kita tidak pernah bersama,” kalimatku terbata. Ada guguran air mata mengairi pipi, meski sekuat tenaga kuhalau.

Aku yakin Hendri Susianto bisa dengan mudah mencari wanita dan melupakanku. Akan kucoba mencintai Hasan Alatas. Mungkin demikian pengorbanan cinta, saling melupakan dan mendoakan bahagia.

“Andai melupakanmu itu semudah mencintaimu,” Hendri Susianto menutup pertemuan itu dengan sisa rasa hangat di sela-sela jari. Kulihat punggungnya menghilang ditelan taksi dan membaur bersama kendaraan. Ini takdir yang harus kuterima.

***

Tanpa kusadari, taksi sudah berada di depan klinik gigi Hendri Susianto. Aku turun. Suasana klinik sepi. Mungkin Hendri Setianto belum tiba. Hanya ada seorang suster dengan pakaian serba putih yang sibuk dengan tumpukan kertas. Angin peralihan musim menggoyang-goyangkan daun mangga di halaman klinik. Kukaitkan jilbab yang melilit leher.

Ada rasa halus yang berkepak-kepak di dada. Bagaimana wajah Hendri Setianto sekarang? Apa sudah menikah? Mungkin sudah bahagia dengan keluarga barunya? Berapa anaknya?

“Maaf klinik belum buka. Jam sebelas. Dokter Hendri masih di rumah sakit,” tutur  kata suster itu lembut. Kubalas dengan senyuman.

“Aku tidak mau periksa. Aku hanya ingin berbincang saja dengan Dokter Hendri. Aku teman kuliahnya,” kuulurkan tangan sambil menyebutkan nama. Mendengar itu suter muda buru-buru menyilakanku duduk. Beberapa dokumen yang tadi diperiksa diletakkan saja. Mungkin dalam benaknya, kehadiranku jauh lebih penting daripada dokumen-dokumen yang bisa ditunda.

“Mau saya teleponkan Dokter Hendri? Beliau pasti senang bertemu teman lama,” ia benar-benar gadis yang manis dan baik hati. Manis. Sepertinya ia luput merawat bekas jerawat hingga membentuk vlek di sekita hidung.

“Tidak usah. Nanti tidak jadi surprise lagi.”

Suster muda itu justru tertawa. Bahunya naik turun. Ia meminta izin ke belakang sebentar untuk membuatkanku minuman. Aku menikmati suasan klinik yang sunyi namun nyaman. Suara embusan angin dari pendingin ruangan berkolaborasi dengan tik-tok jam dinding. Cat dinding nuansa putih dengan wallpaper bunga lili warna lembut. Poster-poster petunjuk perawatan gigi tergantung besar-besar. Papan berisi nama-nama dokter gigi yang satu naungan di klinik ini. Nama Hendri Setianto ada di lajur ketiga. Beberapa nama tidak asing lagi. Hendri Setianto dan kawan-kawan satu angkatan bekerja sama membangun klinik ini. Hanya ada beberapa nama baru. Nama mereka diletakkan bersama kolom spesialisasi dan jam-jam kehadiran mereka.

Aku duduk di sofa warna biru muda. Di meja banyak majalah-majalah pengusir kebosanan ketika menunggu. Sebuah vas berisi bunga plastik. Kuamati hanya ada sebuah pot anthurium di pojok dekat meja suster.

Suster muda itu datang membawa nampan berisi segelas teh. Setelah menyilakanku minum, kupersilakan ia untuk melanjutkan pekerjaan. Aku tidak ingin menganggunya. Aku ingin mengorek beberapa informasi yang bisa ia jawab sambil terus mengoreksi dokumen.

“Sudah berapa lama klinik ini?”

“Kurang lebih tujuh tahun. Kalau saya baru dua tahun lalu di sini.”

“Ramai ya?”

“Ya, nanti Bu Diba bisa menyaksikan. Dokter Hendri terlalu ramah kepada pasien. Jadi kalau sudah langganan dan cocok, nggak bakal mau ganti dokter gigi.”

Sudah kuduga. Hendri Setianto lelaki yang kehalusannya melebihi kelembutan seorang putri. Tentu itu modal baik untuk menggaet pasien. Dan menggaet wanita.

“Ternyata hampir sepuluh tahun aku tidak bertemu Hendri,” kalimat ini pembuka untuk pertanyaan, “bagaimana keluarga Hendri?”

“Meski menikah agak terlambat, sekarang Dokter Hendri sudah menikah dan anaknya baru dua tahun.”

Aku gembira. Hendri Susianto harus bahagia. Kata orang menyaksikan orang bahagia, apalagi orang terkasih itu bisa melipatgandakan kebahagian kita. Tetapi apa sekarang aku benar-benar sudah siap?

“Itu mereka tiba,” suster itu menunjuk sebuah mobil yang masuk halaman parkir.

Hendri dengan pakaian dokter keluar dari pintu sebelah kanan. Lalu seorang wanita dengan baju kurung besar keluar lalu mengumbar senyuman. Dari wajahnya sudah bisa kutebak. Itu hidung wanita dengan aliran darah arab. Itu wanita yang setipe denganku, yang seharusnya tidak diizinkan menikah dengan lelaki non-Arab. Istri Hendri Setianto wanita jamaah. Wanita syarifah? Perempuan yang seharusnya ditugaskan menjaga nasab. Hendri Setianto  membuktikan bahwa ada wanita keturunan arab yang mau dinikahinya.

Hatiku kecut. Ada suara halus tapi terdengar jelas. Suara mengutuk keangkuhan akan keluhuran nasab. Juga suara sesal. Mengapa aku tidak berani melanggar seperti wanita itu?

Pasir merapi itu kini telah berubah menjadi gedung tinggi, kokoh, dan indah. Sedang pasir gurun itu hanya terserai-cerai tersapu angin. Andai Hendri Susianto tahu bahwa pasir gurun yang dipujanya dulu, sekarang datang menemuinya penuh luka. Luka memar karena Hasan Alatas sudah meminta izin poligami. Sudah jadi takdir, aku akan tersesat di kesedihan seluas gurun pasir dengan angan-angan piramida nasab yang adiluhung semakin menjauh. (*)

Spesial untuk Farrah Dibba.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s