Cerpen

#Cermin Bentang Pustaka

Apa yang menarik dari kompetisi? Pertanyaan itu menggelitik kalau lihat pengumuman info lomba. Hadiahnya? Uji kemampuan? Atau sekadar ngisi waktu luang? Boleh semuanya. Dan setiap hari Sabtu, Bentang Pustaka lewat akun twitternya @bentangpustaka setiap hari sabtu mengadakan kompetisi nulis cerita mini (cermin) maksimal 200 kata dengan tema tertentu, dengan hadiah buku bentang (yang kadang bagus, kadang juga nggak asyik). Sampai hari ini, saya sudah menang sebanyak lima kali.


 

ASPIRASI KERTAS

(April 2014)

Apa benar yang ada di dunia diciptakan tanpa sia-sia. Mungkin itu tak berlaku untuku. Nenek moyangku yang lahir 1955 pun diperlakuan sama. Dalam kekalutan, kadang ada selentingan menggembirakan. Beberapa mengatakan, “Kertas selembar ini menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan.”

Mendengar itu seperti ada yang berkepak di dada. Bangga. Tapi tak sedikit yang menjadikanku barang dagangan.

“Bapak Ibu, kalau masuk bilik, buka kertas suara. Coblos gambar Keledai. Paham?”

Gerombolan di gang kumuh serentak mengiyakan. Ada yang tanya sambil tertawa, “Sawerannya?”

“Seratus.”

Aku yang mendengar seperti disayat belati. Bagaimana mungkin harga penentu nasih bangsa dihargai seratus ribu? Apa sedemikian murah?

Tapi aku masih berprasangka baik, mungkin hanya satu gang kumuh itu saja yang menilai lembaranku sedemikian murah. Keyakinanku ratusan penduduk menegeri ini tidak sedemikian picik.

Nasib selembar kertas tetap saja tak begitu mujur. Aku diciptakan lima tahun sekali. Dilipat-lipat tangan kumuh bau rokok. Ditumpuk. Didesak-desak dalam kotak pengap. Belum lagi harus menerima coblosan paku dari orang-orang yang menghargaiku 50 atau 100 ribu saja. Lebih mengharukan, aku dianggap biang perpecahan. Banyak pembesar saling tuding curang, lalu membawaku dan kawan-kawan sekotak ke persidangan. Demi bangsa? Entah. Yang pasti selesai mereka menang aku dan kawan-kawan disingkirkan. Paling dibakar, lalu abunya ditebar di sepanjang jalan.(*)


 

PUTUSAN

(Maret 2014)

Mungkin ini adalah kasus perceraian paling absurd. Saya sempat menanyakan berkali-kali kepada kuasa hukum kedua belah pihak. Putusan itu harus saya ambil besok pagi, dan saya belum mengerti mengapa mereka ingin mengajukan perpisahan. Biasanya pasangan yang saya sidangkan berpisah karena alasan klasik; perselingkuhan, suami yang tidak lagi kaya, atau istri kegatelan dengan brondong segar. Sedangkan ini.

“Yang Mulia, saya ingin berpisah dari suami saya karena ia terlalu sempurna. Terlalu sibuk bekerja.”

Aneh bukan? Apa wanita ini sedang kemasukan alien dari Mars? Tidakkah rajin bekerja menjamin berlimpah uang?

Karena anehnya kasus ini, saya sempat mengusulkan diadakan beberapa kali mediasi agar perceraian ini tidak harus saya putuskan di meja pengadilan. Mediasi pertama tidak dihadiri pihak suami. Sedang ada meeting klien di Singapura. Gagal. Mediasi kedua yang benar-benar saya sesuaikan jadwal mereka.

Mereka duduk di satu meja. Saling mengamati jam di pergelangan tangan.

“Suami saya tidak punya waktu, saya butuh kasih sayang.”

“Istri saya juga.”

“Suami saya berselingkuh dengan ratusan pekerjaannya. Hanya ada sejam sehari untuk saya.”

Buntu. Besok saya tetap harus memutuskannya di pengadilan. Suami yang dituntut cerai istri karena tidak bisa membagi waktu. Kepalaku bergasing pusing. Aku masih menyimpan surat gugatan dari istriku dengan tuntutan yang sama. Sibuk menyidangkan perceraian.(*)


 

ASMARA RAMADA

(Edisi Januari 2014)

“Ada ikan yang berani tanpa perhitungan. Ada yang selalu ragu tak mau berjuang. Apakah ikan semacam ini bisa hidup, Ramada?”

“Nyimas Dyah Pitaloka, di kolam ini tidak semuanya ikan mas. Ikan impun juga ada. Sekuat apapun ikan impun berjuang, tetap tak seberharga ikan mas, Nyimas.”

“Bisakah ikan impun memiliki cita-cita besar menyerupai ikan mas?”

“Namun ikan mas tetaplah ikan mas dan ikan impun tetaplah ikan impun,” jawab Ramada sedikit berkeluh. Ramada seperti mengaca, dialah ikan impun dan Dyah Pitaloka sang ikan imas.

Itulah percakapan terakhirnya dengan wanita terkasih. Ayahnya, Prabu Lingga Buana  geram saat mendengar putri kenesnya menjalin asmara dengan tukang pahat dinding, Ramada. Ramada diusir dan dijauhkan dari Dyah Pitaloka. Diusir dari Kerajaan Sunda.

Ternyata dipisahkan dari orang terkasih melebihi tersayat seribu sembilu. Mata tajamnya mengarah ke ulu, memutus nalar lalu memerahinya dengan asam. Sakit.

Tetapi sekuat apapun tekadnya, Ramada tetaplah peranakan cina yang merantau ke Kawali, ibukota Sunda. Keahliannya memahat dinding menyelamatkan hidupnya, tetapi juga mengukir luka yang lebamnya tak mudah diredam. Hingga tatkala Ramada menjabat Mahapatih Gadjah Mada, menyerang rombongan pengantar Dyah Pitaloka untuk dipersunting Hayam Wuruk. Karena apa? Dendam asmara? Atau hasrat menaklukkan Sunda demi Amukti Palapa? Sang Mahapatih yang tahu maksud sepenuhnya.(*)


 

MENGITARI MONAS

(November, 2013)

Semenjak ayah berkoar-koar bahwa ia ikhlas digantung di monas andai terbukti korupsi, aku was-was saat melewati monas. Dalam bayanganku monas adalah seorang algojo yang siap mengakhiri umur ayah. Aku yakin seratus persen bahkan seribu persen, ayah tidak memberi makan keluarga dengan uang tidak benar. Ayah dekat dengan agama, ibu bukan jenis wanita yang membuat suami miskin dengan tuntutan kemewahan. Tidak pmungkin ayah korupsi.

“Jogging ke monas, yuk?”

“Ada tempat lain?” kutawar ajakan kakakku.

“Ayah tak akan digantung di monas,” kakak justru menuangkan cuka di kegelisahanku. Kuanggukkan saja. Meski sedikit ragu, kuiyakan juga tawaran kakak itu.

Kulakukan pemanasan ringan dahulu. Kubelakangi tugu monas menjulang.

Putaran pertama, kulakukan bersama ratusan anak muda ramai dan tidak ada hal buruk yang mencemaskanku. Monas masih sama, tegak berdiri di tengah terang pagi. Hingga putaran keenam, nafasku satu-dua. Aku duduk berlambar koran menghadap monas.

“Ini anak koruptor yang rela digantung di monas?” suara itu seperti suara burung nazar.

“Jangan pedulikan,” kakak menenangkan.

Semakin kudiamkan, suara itu bertambah kencang dan siap menulikan telinga.

“Kalau tidak ayahnya, kita gantung saja anaknya.”

Mataku seperti dirayapi jutaan kunang-kunang. Sejak itu aku tak sudi pergi ke monas. Meski ayah tidak terbukti korupsi, atau akhirnya mati digantung orang satu negeri. (*)


 

KURIR

(Menang edisi Juli 2013)

Dengan sedan bak terbuka kususuri jalan beraspal. Menjelang hari raya, banyak bingkisan yang harus diantar. Aku hanya kurir tembak, bermodal SIM A. Usaha mencari tambahan halal.

Masih ada lima paket yang sudah kususun urutan alamat, agar perjalanan efisien. Sekarang kuarahkan menuju dekat terminal lama. Menuju sebuah jalan dan gang yang namanya tidak biasa. Jalan Kali Mambu, Gang Tenang. Tidak masalah, bagi kurir yang penting barang sampai.

Ternyata tidak mudah mencarinya. Berkali-kali tanya dijawab tidak tahu. Mungkin jalan dan gang baru. Semakin siang, aku semakin risau. Masih ada beberapa paket. Kalau tidak lekas aku bisa kena omel. Pukul dua, baru ada tanda-tanda ketemu.

“Gang samping langgar!”

Kusetir sedan pelan-pelan. Mengurutkan nomor rumah. Rumah-rumah selaras khas Perumnas. Tanpa gerbang. Halaman sempit. Tanpa penjaga seperti perumahan elit. Kembali kulihat, nama dan nomor rumah tujuan. Ya sampai.

Rumah yang tidak asing. Pintu, warna cat, krisan di halaman, seperti pernah kulihat. De javu bagi kurir. Kuhalau. Harus segera.

Bel berbunyi. Sekali lagi berbunyi. Ada suara menjawab, ‘iya’. Grendel kunci berputar. Pintu terbuka. Seorang wanita menyapa ramah. Wajah teduh itu! Tiba-tiba kenangan tiga tahun lalu berputar. Tidak salah lagi. Ini bukan ilusi! Ini rumah yang dulu pernah menjadi sasaranku mencuri.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s