Resensi

Perempuan Perkasa Mahabharata

(Jawa Pos, 13 April 2014)

Mulanya Kavita A Sharma beranggapan Mahabharata sebagai dunia milik laki-laki. Tetapi penulis, yang juga direktur India International Center (IIC) menyadari bahwa beberapa perempuan Mahabharata memiliki peran kunci. Hal ini sangat wajar, karena sebagian besar penikmat epos terpanjang ini mengingat Mahabharata sebagai kisah peperangan antara lima kstaria pandhawa dan seratus kurawa. Mahabharata dipahami publik sekadar perang puputan sesama saudara antara Pandhawa dan Kurawa, untuk kekuasaan Hastinapura. Tanpa menghiraukan peran kunci perempuan.

Bawah sadar manusia mengakui bahwa perempuan berperan besar dalam kehidupan manusia. Tanpa perempuan proses reproduksi terhenti. Dalam falsafah Jawa, peran perempuan dikerdilkan sebagai konco wingking, yang bertanggung jawab urusan kasur, dapur, dan sumur. Tetapi orang Jawa juga percaya bahwa kekukuhan sebuah negara ditentukan oleh kehebatan perempuan. Hal ini bisa dicermati dari peribahasa jawa, ‘ajining negara saka wanita’.

Dalam buku Perempuan-perempuan Mahabharata, yang diterjemahkan dari The Queens of Mahabharata, Kavita menjelaskan peran-peran beberapa wanita yang luput diperhatikan khalayak umum. Kisah Mahabharata sendiri tidak dapat dipisahkan dari dunia batin masyarakat India, bahkan beberapa tokoh Mahabharata memiliki kuil pemujaan sendiri. Kavita sendiri meyakini epos Mahabharata mampu mempengaruhi tatanan masyarakat hingga situasi politik India. Kisah Mahabharata sendiri, pada dasarnya, merupakan karya sastra kuno yang ditulis Begawan Byasa atau Vyasa. Mahabharata menjadi kisah refleksi perangai manusia. Bahkan beberapa kalangan meyakini bahwa kisah yang tidak ditulis dalam epos tersebut, memang tidak terjadi di kehidupan nyata.

Kavita menyebut secara khusus beberapa perempuan dalam yang memiliki peran besar dalam kisah Mahabharata, Satyawati, Amba, Gandari, Kunti, dan Drupadi. Memang perempuan-perempuan itu tidak dapat bertindak secara langsung menggunakan dua tangan mereka, mereka harus beraksi melalui suami dan putra-putra mereka (hal.3).

Satyawati anak seorang nelayan mampu mengubah garis keturunan generasi Kuru yang kelak memimpin Hastinapura. Bagi Hastinapura, Satyawati bagai badai yang datang menerpa (hal.17). Satyawati mampu mendikte suaminya Santanu, sehingga menetapkan Abiyasa, anak pranikah Satywati menjadi penerus generasi Kuru. Padahal Santanu, sudah memiliki putra mahkota, Dewabrata, anak Santanu dari Gangga. Kekerasan kepala Satyawati inilah yang akan mengubah Dewabrata menjadi Bisma, yang melakukan dharma untuk tidak menikah. Sehingga tidak akan ada setetes darah Santanu di pembuluh darah raja-raja Hastinapura (hal.19). Satyawati menjadi perempuan manis namun berambisi sekali untuk menjadikan anak-turunnya sebagai pemilik Hastinapura. Dan Santanu, sebagai laki-laki yang seolah didikte perempuan.

Amba, yang merasa dikecewakan oleh Bisma diam-diam menanam dendam terlalu dalam. Bisma memboyong tiga bersaudara (Amba, Ambika, dan Ambalika) untuk dinikahkan dengan adiknya Wicitrawirya. Tetapi Amba sudah mencintai Salwa dan minta dikembalikan kepada pujaan hatinya. Amba hanya menjadi bola pingpong Salwa, Bisma, dan Wicitrawirya. Dari sinilah dendam bermula. Merasa bahwa Bisma adalah awal dari kesialan Amba, Amba mengutuk akan mandi darah Bisma. Akhirnya dendam itu terbalas setelah Amba menitis ke Srikandi meski butuh dua kehidupan. Amba dengan kebulatan tekad dan kegigihan mendapatkan kekuatan untuk membunuh Bisma dengan tangannya sendiri. (hal.37)

Sebagai istri Pandu, Kunti dan Madrim bersaing menjadi satu-satunya permaisuri Pandu. Kunti ibu Yudhistira, Bima, dan Arjuna, sedang Madrim ibu Nakula dan Sadewa. Dengan menjadi permaisuri, seorang perempuan dapat mengatur tatanan kerajaan. Kunti akhirnya memenangkan, karena Madrim melakukan dharma bakar diri setelah merasa sebagai sebab kematian Pandu yang melanggar kutukan Brahmana Kamindana yang merayu sebagai kijang.

Rasa ingin menjadi permasuri raja yang berpengaruh, tidak bisa dirasakan oleh Gandari. Setelah menikahi Drestarasta yang buta, Gandari membebat matanya. Tindakan ini ditafsirkan dua hal berbeda. Pertama ini bentuk kesetiaan Gandari. Kedua ini adalah usaha protes Gandari kepada junjungannya. Kepedihan ini membuat Gandari sebagai perempuan yang tegas dan sinis.

Beda dengan Drupadi, yang menjadi simbol seksualitas perempuan mampu menguasai lima ksatria sekaligus. Penelanjangan Drupadi oleh Kurawa memantik dendam yang bakal tuntas ketika berkecamuk perang Bharatayudha.

Kisah-kisah dalam buku Perempuan-perempuan Mahabharata, menegaskan peran perempuan tidak bisa disepelekan. Bahwa di setiap laki-laki hebat selalu ditopang perempuan hebat. Tidak menutup kemungkinan peran hebat laki-laki bisa jadi justru diatur oleh perempuan dibaliknya. Sehingga perempuan harus menjadi perempuan cerdas, terampil, terpelajar, menguasai urusan kenegaraan, cantik, dan jika diperlukan bisa berbalik membangkang, licik dan kejam (hal.1).(*)

Identitas Buku:

Judul               :Perempuan-perempuan Mahabharata
Penulis            : Kavita A. Sharma
Penerjemah   : Dewita Kusuma Hakimi dan Ining Isaiyas
Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan          : Cetakan Pertama, Maret 2013
Tebal               : xvii+179 halaman
ISBN                : 978-979-91-0549-3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s