Cerpen

Bulan Gugur

(Tabloid Cempaka, 29 Maret-4 April 2014)

IMG_0004 - Copy

Badra, apa di pekarangan rumahmu daun-daun memerah kehilangan hijau? Klorofil di kota ini seperti sedang disumba merah bata. Jangan tanya berapa liter sumba yang dibutuhkan. Saat senja menguning, daun-daun merah nampak semakin emas. Ini musim gugur, Badra! Di sini, meski tidak sepanjang tahun dan  sebelum hawa dingin menusuk kulit seperti jarum, sulur-sulur dan tulang-tulang daun merona seperti rambut jagung di sawah-sawah di kanan-kiri  jalan beraspal menuju rumahmu.

Kamu masih ingat jalan menuju rumahku?

Dengan kecepatan laju motor 60 atau 80 kilometer per jam, aku bisa sampai rumahmu yang harus lewat Jalan Godean, lalu menyusuri jalan aspal dengan bingkai persawahan dalam tempo kurang dari tiga perempat jam. Apa ada yang tidak kuingat secara detail? Terlebih wanita istimewa.

Kamu tidak berubah!

Aku berubah. Daun-daun di sini saja setiap tahun bergilir warna. Setelah salju menguap terkena sengat matahari, cabang dan reranting yang semula gundul memunculkan tunas bernas baru. Kecil-kecil dan lucu. Melebat hijau. Musim semi tiba. Lantas bunga sakura bermekaran. Hingga saat memasuki bulan kesembilan, daun memerah hendak luruh. Begitu cepat daun-daun itu memerah dalam masa yang hampir serempak di sepanjang jalanan kota. Jangan kamu pikir, Badra, daun-daun di sini tidak bisa berbuah.

Jangan pernah bayangkan memerahnya daun di sini serupa dengan memerahnya daun-daun melinjo karena tua. Bukan. Ini seperti sebuah proses percepatan menuju masa tua. Daun-daun itu pernah menyampaikan kepada pohon bahwa mereka ingin terus menempel sampai ajal pohon datang. Terus ngrembuyung, meningkup kepala dan badan pohon seragam hijau. Tetapi apa mau dikata. Pohon tentu berpikir dua sampai lima langkah ke depan. Kalau saja pohon-pohon itu memutuskan untuk tetap menjaga rerimbunan daun, dimana situasi zat hara, air, dan mineral berkurang karena memasuki musim dingin, bisa-bisa pohon dan daun akan sama-sama layu dan mati. Keberlanjutan hidup lebih penting dari euforia cinta sesaat, bukan?

Memang tidak ada yang abadi kecuali keabadian itu sendiri.

Aku tidak pernah mengutukmu sebab mengiyakan pilihan keluargamu. Ketika mereka mengajukan lelaki yang lebih siap menjadi suamimu dalam tempo secepatnya. Tetapi apa hanya karena menungguku pulang, kamu tidak bisa berbuat lebih bijak dan berpikir panjang, Badra? Apa wanita selalu takut disebut perawan tua ketika memasuki kepala tiga belum datang lamaran pria? Apa wanita selalu meragukan kesetiaan lelaki? Apa kamu juga termasuk jenis wanita yang demikian, Badra? Apa kamu takut aku kepincut dengan wanita di negeri ini?

Siapa tahu?! Wanita-wanita di tempatmu lebih putih, mulus, dan cantik. Mata laki-laki kan mudah kepincut hal-hal seperti itu.

Dari kalimat itu sepertinya kamu masih mengklasifikasikanku sekolom dengan lelaki hidung belang. Apa kalimatmu itu murni dari hati atau sekadar pembenar atas tindakanmu meninggalkan kesetiaan yang sudah kita sepakati? Jangan diam saja. Aku tidak mau seperti kisah Rara Mendut dan Pranacitra.

“Maaf, kursi ini kosong?”

“Aku tidak sedang menunggu teman. Silakan saja.”

Lihatlah, Badra, wanita muda di depanku ini. Ia sedang memamerkan paha putih mulus tinggi-tinggi, matanya menggoda dengan lensa kontak warna biru. Dimirip-miripkan dengan bola mata para bule. Lehernya jenjang, tentu sangat kenyal kalau aku bisa mendaratkan bibir di sana. Tetapi aku tidak berani menatap blusnya yang transparan. Rambut hijau menyala di tengah kerumunan massa. Mencolok mata. Tidak ada paras ayumu, Badra. Paras ayu wanita Jawa, sederhana dan tidak neko-neko. Kamu harus tahu, Badra. Sulit membedakan mana ayu yang asli dan mana tipu-tipu alias imitasi hasil operasi. Kau harus tahu, hadiah ulang tahun gadis saat berusia 17 tahun di negeri ini adalah voucher operasi kecantikan. Wajar kalau klinik-klinik pembedahan menjamur bak cendawan di negeri ini.

Hidung pesek bisa jadi bangir. Pipi tembem yang ginuk-ginuk getuk lindri, akan berubah manis tirus dan mulus. Kegemukan bisa jadi langsing. Gigi berantakan akan dipagari dan menjadi rata. Tak butuh lagi pangur yang sakitnya luar biasa. Wajah bisa disulap sekejap menjadi menawan. Operasi dan dokter bedah kecantikan seperti tuhan, bisa mengubah dan membentuk wajah.

Ada hal lucu yang ingin kusampaikan.

Apa?

Matamu kan belok. Kamu sering diejek kalau matamu bekel seperti burung hantu, kan?

Iya. Dan aku benci kalau sudah dikaitkan dengan burung yang satu itu. Benci.

Kuyakin kamu terbahak jika mengetahui jenis matamu itu, lebar dan terus menyala, favorit operasi permak mata. Gadis-gadis di negeri ini tidak menyukai mata yang segaris. Mereka ingin terlihat seperti mata-mata orang non oriental, terbuka dan menyala. Mata besar menggambarkan dalamnya telaga jiwa. Jadi, kamu tak perlu malu bila orang menertawakan matamu sebesar bekel.

Lantas aku cuma kamu suruh mendengar ceracaumu itu? Suamiku akan marah, bocah-bocahku bisa mewek ditinggal ibunya. Apa yang kamu lakukan sekarang?

Aku hampir terlupa. Berbicara dengan orang yang pernah kita sayangi bisa melenakan waktu. Aku dan semua orang sedang merayakan Tsukimi Dango.

Ketika musim gugur tiba, para petani khawatir akan datangnya hujan atau angin sebelum panen padi atau buah-buahan. Musim gugur bisa mendatangkan badai. Namun sesudah bertiup angin yang kuat, langit menjadi terang dan bulan bercahaya kemilau. Mereka  menikmati terang cahaya purnama September untuk berterima kasih atas hasil panen musim gugur. Pada hari yang bulannya tampak paling indah di sepanjang tahun itu, orang-orang meletakkan susuki (bulir bunga alang-alang), ubi, kastanye, dan dango (kue bola) sebagai sesajen. Selain Tsukimi Dango, ada juga Keirō no Hi, festival menghormati orang tua di Jepang, yang telah banyak berjasa bagi masyarakat dan merayakan panjangnya usia mereka.

Kalau di Jawa, Tsukimi Dango bisa diistilahkan sedekah bumi. Kalau Keirō no Hi, belum kutemukan padanan istilahnya.

Aku melamunkan rupamu di bulan September ini, Badra. Bulan nampak indah, apa kamu menatap bulan yang sama? Tidak! Semua telah berubah.

Seperti daun-daun di sini. Hijau merebak, menguning, kemudian ranggas merah kecokelatan. Apa cinta manusia seperti daun? Tidak abadi. Hanya dalam fiksi semua kisah diakhiri kebahagian abadi. Sekarang kamu sudah gembira bersama suami dan bocahmu. Tinggal di rumah teduh di Godean. Hubungan kita cukup menjadi kenangan. Sekarang aku bisa mengenangnya dalam hati saja.

“Boleh kutemani malam ini?” Badra, wanita yang tadi meminta izin duduk di seberangku, sudah mulai merayuku. Aku tahu ujung pertanyaan ini, check-in di hotel lantas bercinta semalaman dengan temaram rembulan membasuh tubuh.

Dan itu wajar. Kamu sudah 299 tahun sendiri. Apa tidak kamu ingin melupakanku? Usirlah aku dari benakmu! Sekarang waktunya.

“Aku sudah tidak suka wanita.”

“Oooo!” wanita itu kecewa. Ia pindah meja dan mencari lelaki yang bisa diajak saling menghangatkan di puncak perayaan tsukumi ini.

Apa? Kamu menjadi penyuka lelaki sekarang?

Aku menipunya. Aku tak ingin ada wanita lain menggantikanmu. Dirimu akan abadi di hati. Meskipun berdosa, bila aku terus mencintai istri orang.

Sadarlah. Sudah 299 tahun sejak kamu kutinggalkan menikah.

Selamanya. Aku akan tetap mencintaimu. Meski sudah tidak sopan dan berdosa. Sampai kamu terserang glikosuria, miopia, atau  penyakit tua lainnya, aku tetap menempati kapling tersendiri di hatiku.

Lupakan aku segera!

Kubayangkan rembulan adalah Badra yang bercakap-cakap dan membalas semua ceritaku. Ternyata itu hanyalah gema sunyi suaraku sendiri. Bintang terang dan sinar bulan tiba-tiba berubah menjadi sengak dan langit sesak. Sekuat apa saat aku pulang nanti?(*)

Notes:

Tsukimi Dango: festival menatap bulan di Jepang, pada Bulan September.

Keirō no Hi: festival orang tua dilaksanakan pada Senin ketiga bulan September

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s