Cerpen

Perjamuan Serigala

(Pikiran Rakyat, 23 Februari 2014)

perjamuan serigala

Ini adalah ‘Perjamuan Serigala’. Jangan takut. Sekadar makan-makan saja. Kalimat itu diucapkan Bismut terus-terusan seperti sedang merapal mantra untuk meredam kecamuk takut di hatinya. Bagaimana pun undangan makan dari pelanggan kafe bernama Astatia membuatnya tak enak hati. Antara segan dan ketakutan.

Bismut sudah berdandan istimewa, mengenakan kemeja biru lengan panjang dipadukan dengan dasi warna krem lembut motif bulat-bulat, lalu dibebat dengan jas cokelat berbahan beludru. Mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain, tetapi bagi Bismut itu sudah standar seorang esmud. Meski Bismut hanya penyanyi kafe di pinggiran stasiun kota, yang kalau Bismut sedang bernyanyi suaranya sering kali diungguli oleh suara kereta.

Malam nanti, selepas pukul delapan, usai pertunjukan terakhir di kafe, ‘Perjamuan serigala’ dihelat di rumah Astatia. Hanya beberapa orang menurut Astatia yang akan diundang.

“Apa ia teman kerjaku?” Bismut bertanya.

Astatia menjawab, “kamu akan mengenalnya nanti.”

Misterius. Sepertinya makan malam nanti bukan makan malam istimewa nan romantis seperti candle light dinner berdua bersama kekasih, dinner valentine, atau pesta perayaan ulang tahun. Bukan. Astatia menamainya dengan ‘Perjamuan serigala’. Dalam undangan berbentuk selembar kertas ukuran 20×15 sentimeter, yang diterimanya minggu lalu saat Astatia menyaksikan Bismut menyanyi, kalimat ‘Perjamuan serigala’ tercetak sangat tebal dan seperti harus menjadi pusat perhatian bagi penerima undangan, termasuk Bismut.

Dengan sedan, Bismut hanya butuh kurang dari setengah jam menuju rumah Astatia yang berada di pusat kota. Bismut ingin ke kafe terlebih dahulu. Ia harus memastikan panggung kafe dari sore hingga malam tidak kosong. Hiburan kecil-kecilan pagi para pengunjung harus tetap berjalan mulus dengan tidak menyisakan keluhan para pengunjung. Ia bertanggung jawab memastikannya. Bagaimana pun tempat itu menjadi tumpuan hidup bagi Bismut. Dari honor menyanyi di kafe itu, Bismut bisa membeli perabot sederhana dan menyewa sebuah apartemen serta mencicil sebuah sedan. Sudah tidak bisa ditemukan lagi, tempat yang cocok dan mau menerima kualitas suara dan kemampuan musikalitas Bismut yang biasa-biasa saja. Maka penggantinya malam ini harus benar-benar tiba, agar posisi Bismut terjaga.

Pukul enam lebih tujuh belas menit, Bismut sampai di kafe. Kafe itu berhadapan langsung dengan stasiun kereta api. Posisi yang strategis untuk menangkap penumpang kereta api yang baru saja turun dan hendak melepas penat. Menu yang sederhana, minuman yang biasa-biasa saja, juga hiburan dari suara Bismut dengan alunan akapela yang tidak terlalu istimewa. Namun itu sudah cukup menarik para penumpang. Kedekatan dengan pintu keluar membuat kafe tempat Bismut kerja selalu ramai dikunjungi. Maka sangat disayangkan kalau hanya untuk menghadiri undangan makan malam dari Astatia, masa depan kerja di kafe yang selalu penuh bisa hancur.

Di kafe inilah, Astatia pertama kali menghina Bismut. Bismut masih sangat ingat bagaimana kalimat Astatia usai mendengar lagu pertama yang dinyanyikan oleh Bismut. Astatia dengan sangat halus menghina Bismut, “sebenarnya kamu sedang menyanyi atau berpidato. Bahkan presiden paling tolol sekalipun masih bagus dalam hal tata suara dalam pidato. Suaramu mirip auman serigala jalang.”

Serigala? Bismut seketika tertegun. Diakuinya suaranya memang pasaran dan hampir semua penyanyi kafe memiliki standar suara sepertinya. Tidak ada hal istimewa dari warna suara. Tetapi sampai hampir enam tahun ia menyanyi di kafe itu, tidak ada satu pun yang secara terang-terangan menghina Bismut. Apalagi menyamakan suaranya dengan auman serigala.

“Kamu penyanyi juga?” Bismut yang masih dipenuhi tanda tanya, berusaha mencari kejelasan. Siapa tahu wanita yang dengan kalimat sengaja menyakiti itu, bermaksud menjadikan Bismut sebagai salah satu murid di kelas vokalnya.

“Tidak harus menjadi penyanyi untuk bisa menilai suaramu bagus atau buruk.”

“Lalu?”

Astatia tak menjawab. Minuman dingin bersoda warna kuning disedot keras-keras. Tidak dihabiskan. Astatia menekuk sedotan warna bening itu. Lalu menuju lantai dansa tanpa menghiraukan Bismut yang mulai gusar sendirian di meja. Musik berdentum, Astatia tampak bahagia dan menguasai aneka gerakan tari. Keringatnya menetes dan menempel di lengan bajunya.

Bismut sebenarnya tidak ingin memikirkan terlalu lama perkataan Astatia. Astatia tak ubahnya pengunjung lain yang suka menyampaikan gerutu. Padahal tak jarang penggerutu itu hanya sekali berkunjung ke kafe. Sekali lagi, kafe tempat Bismut menyanyi tidak lebih dari sekadar tempat transit dan rehat para penumpang kereta api.

Tetapi sepertinya Astatia berbeda. Di hari ketiga usai pertemuan pertama, Astatia kembali duduk di meja yang sama dan mencermati bagaimana Bismut menyanyi. Bismut yang mengetahui ada pengunjung jeli yang mengamati, konsentrasinya buyar. Jatuh berhamburan bersama hujan yang mengguyur jalanan.

“Ternyata caramu bernyanyi tidak berubah. Masih sama dengan suara serigala. Tapi kali ini seperti serigala yang siap ditembak pemburu,” Astatia kembali berkata dengan sinis.

“Sebenarnya kamu siapa?” Bismut memberanikan diri bertanya.

“Aku dulu mantan kekasihmu.”

“Kapan? Kekasihku mati ditabrak kereta.”

“Di kehidupan sebelumnya,” Astatia menyedot minuman soda dan meraih kacang asin di meja. “Dulu aku kekasihmu. Akulah penyanyi kafe sedang kamu hanyalah kasir. Jadi sangat aneh kalau di kehidupan sekarang kamu berganti menjadi penyanyi. Musykil.”

“Reinkarnasi?”

Astatia diam menyimpan misteri.

“Aku memang tidak bisa menyanyi, tapi aku tidak percaya kalau kamu kekasihku dulu. Aku tidak percaya reinkarnasi,” Bismut membela.

Dalam kepala Bismut berputar pikiran jangan-jangan Astatia sedang mabuk dan suka meracau hal yang tidak-tidak. Tetapi wajah Astatia yang putih susu tidak mengekpresikan wajah wanita yang sedang dalam pengaruh alkohol. Dan juga kafe ini tidak menyajikan minuman beralkohol dalam dosis tinggi.

“Akan kutunjukkan suatu waktu,” Astatia benar-benar hemat dalam bicara. “Sekarang aku ingin kamu menyanyi kembali dengan baik. Semoga tidak mirip serigala lagi.”

“Tapi?”

Astatia tidak menjawab. Minuman dingin bersoda warna kuning disedot keras-keras. Tidak dihabiskan. Astatia menekuk sedotan warna bening itu. Lalu menuju lantai dansa tanpa menghiraukan Bismut yang mulai gusar sendirian di meja. Musik berdentum, Astatia tampak bahagia dan menguasai aneka gerakan tari. Keringatnya menetes dan menempel di lengan bajunya.

Dan undangan ‘Perjamuan serigala’ itu datang. Astatia seperti mengantar teror halus untuk Bismut. Bagaimana ia mengurai rasa takut itu, tetapi wajah Astatia dan perilakunya tidak terlalu asing bagi Bismut. De javu. Tetapi kapan? Apa benar yang dibilang Astatia, Bismut adalah kekasih lawasnya di kehidupan sebelum ini?

***

Ini adalah ‘Perjamuan Serigala’. Jangan takut. Sekadar makan-makan saja. Mungkin usai ini akan kuketahui siapa yang benar: aku atau gadis aneh Astatia itu. Kalimat itu dideras Bismut seperti merapal doa.

Kabarnya teman-teman yang diundang Astatia adalah mereka yang di kehidupan sebelumnya menjadi kekasih Astatia. Bismut berulang kali mengelap peluh di dahi. Lalu merapal doa. Kepalanya seperti dimartil, syaraf kepalanya berdenging.

Mobil diparkir di halaman. Terlihat belasan mobil aneka merek berjajar. Mobil Bismut kebagian tempat dekat selokan berbau busuk menyengat.

Ada perasaan tidak nyaman sekaligus penasaran. Apa ‘Perjamuan serigala’ itu? Siapa tamu-tamu yang kata Astatia Bismut sudah mengenal sebelumnya?

Di ruangan besar, yang hanya berisi meja makan panjang dengan kursi model kuno. Meja makan ditata rapi. Dilapisi dengan sutra warna merah marun. Lampu-lampu helium merona kekuningan. Di dinding yang dilapisi wallpaper bercorak bunga lili, tergantung beberapa foto Astatia dengan banyak lelaki. Dan Bismut menemukan dirinya. Ia dan Astatia difoto bergandengan, di belakangnya ada sebuah gedung tua yang serupa dengan arena pacu gladiator.

Apa itu bukti kalau Bismut kekasih Astatia di kehidupan sebelumnya?

Para undangan yang semuanya laki-laki tidak banyak berbicara. Jakun naik turun. Kaki diketuk-ketuk mengusir kegalauan. Bibir sesekali berdecap menelan ludah. Satu meja besar dikelilingi enam belas kursi dan menyisakan satu kursi milik Astatia. Bismut sendiri tidak ingin bertanya, kuduknya menegang hebat.

“Selamat datang para kekasihku,” Astatia memulai berbicara yang terkesan bossy. “Senang berkumpul dengan kalian kembali. Jangan takut aku adalah kekasih kalian di kehidupan sebelum ini. Aku harap kalian akan menikmati ‘Perjamuan serigala’ ini.”

“Apa maksud dari ‘Perjamuan serigala’?”

Astatia tersenyum misterius, persis wajah nenek sihir dalam animasi anak-anak. Lalu tertawa terbahak. Giginya tiba-tiba berubah sedikit lebih runcing dan meneteskan cairan kental.

“Kalianlah serigalanya….. dan selamat datang di ‘Perjamuan serigala’. Serigala!”

Aku ingin teriak. Tetapi yang keluar adalah auman serigala di tengah purnama. Lalu terputar episode, aku berubah menjadi serigala dan Astatia menangis setelah kucabik-cabik badan dan keperawanannya. Ah, kenangan buruk itu seperti lumpur yang mengendap dan menunggu hujan untuk kembali mencair. Astatia menuangkan hujan darah di kepalaku dan laki-laki yang disebutnya kekasihnya di kehidupan sebelum ini. Hingga kenangan itu merubah menjadi rajam paling jahanam.(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s