Cerpen

Dilarang Merokok di Dalam Mobil

(Tabloid Cempaka, 15-21 Februari 2014)

IMG_0005

Kuteliti senti demi senti wajah wanita di seberang meja. Kami hanya berjarak kurang dari sedepa. Aku risau. Ada rasa yang tidak berhulu: kesal, cemburu, gemas dan kasihan menonjok-nonjok hatiku. Lewat pesan BlackBerry, dia memintaku menemani makan siang (deminya semua janji jadi nomor dua). Kami biasa mencuri-curi kesempatan makan malam dengan temaram lilin yang digoyang angin. Jangan sampai aku, dia, dan Rendi, suaminya, satu meja. Petaka!

Dia bernama Selina. Aku sukar mendiskripsikan wajahnya yang rupawan. Selina wanita fashionista. Selina manis dengan terusan merah pastel, diselimuti cardigan berenda. Kupu-kupu di rambutnya menggoda. Pantas Rendi selalu gembira ketika bersama Selina.

Restoran sepi. Hanya ada seorang wanita duduk di pojokan sambil menggeser-geser tablet layar sentuh. Remaja bergerombol, cekikikan menertawakan entah apa. Selina memesan Salmon Salad dan senampan Rib Eye di atas hot plate bentuk sapi untukku. Alunan musik Depapepe menenangkan pikiran. Kami memesan kursi dekat kolase kartu pos indah dibingkai figura meranti. Ini pojok terindah dari restoran yang sedikit tersembunyi dari jalan provinsi.

“Semoga tidak merusak foodcombining-mu,” Selina menerima pesanan. Sempat kulirik pelayan yang terlihat norak dengan serbet motif kotak-kotak, diikat di leher mirip koboi-koboi Texas.

“Aku bisa libur!” kugigit potongan daging steak pertama. Sausnya –antara saus barbeque dan saus jamur, tetapi sama-sama tidak kuat– lumer dalam gigitan seriku. Mata kelerengnya tak bergeser memandangiku. Pisau dan garpu menunggu jemari halus Selina.

“Masih risih dengan mataku?”

“Banyak orang.”

“Masa bodoh dengan orang lain.”

Kubalas dengan senyuman.

Lima belas menit kami tenang melahap makanan. Kami sepakat untuk tidak menyela makan dengan perbincangan. Rasa makanan kurang sedap apabila tercampuri emosi.

“Tahun ini kamu 31, Raga. Kapan mau menikah?” Selina mengelap sisa mayonaise di ujung bibir bergincu warna dadu. Hidangan salad di restoran ini yang paling nikmat.

“Aku sendiri lupa, Selina,” disodorkan tisuuntuk mengelap bibir. Ada sebaret saus di dekat bibirku. “Kamu sendiri sudah lima tahun menikah, masih saja mencari orang lain di luar rumah.”

Skakmat! Kamu keluarkan kartu AS!”

“Aku lebih suka Uno.”

Haahaa….”

Selina tak tampak gembira mendengar kelakarku. Tak ada gurat ketulusan di dahi Selina. Wanita memang lihai bersandiwara.

***

Enam tahun lalu, aku pun berpura-pura bahagia saat Selina dan Rendi mendeklarasikan pernikahan. Sore itu matahari keemasan melorot ke barat. Indahnya senja buram mendengar berita itu. Aku seperti kurcaci. Kerdil! Aku menyimpan rapat-rapat perasaan melankolia. Jutaan rasa sekonyong-konyong menyesaki diafragma. Menyisakan bindam, yang ngilu. Perih rasanya, disalip karib sendiri.

“Natal besok kami akan menikah,” pipi Selina memarun.

“Kalian?” aku tersedak.

“Benar, Raga!” Rendi menyela dengan bahagia.

Aku tidak bisa memasang kecewa. Tetapi kupastikan senyum dan bahagia yang kupasang adalah hal paling palsu di dunia sore itu. Tidak mungkin aku murung mendengar berita bahagia itu. Di sudut lain, ada sekelompok sesal yang mulai menyampaikan tuntutan.

Sejak itu, Selina dan Rendi mandam dengan aneka persiapan: memesan gaun dan gedung, buket bunga dan katering, bahkan sekadar warna undangan. Dan aku mereka tinggalkan. Hidup harus memilih: kekasih atau sahabat.

***

“Melamun?” Selina menggoyang-goyangkan tangan di depan mata.

“Bagaimana perasaan Rendi, melihat kita berduaan seperti ini?”

“Entahlah!”

“Kamu masih sayang padanya?”

“Tentu, tetapi….”

“Tetapi apa? Tetapi-mu itu membuat Rendi cuek, Selina!” Selina menampik tatapan mataku. Selina menoleh ke arah kolase kartu pos. Pojok terindah di restoran ini.

“Sejak aku keguguran, Rendi menjauh. Mungkin sebentar lagi ada talak.”

Aku bingung harus berkomentar bagaimana. Kupilah perkataanku agar tidak berkesan meremehkan, juga agar tidak banyak memerah limau di lukanya.

“Anak itu kado. Sedang cinta adalah hakikat kalian disatukan.”

“Cinta? Sudah lama kami tak membicarakan itu.”

“Suami-istri butuh quality time, bicara berdua tenang. Aku sayang kalian. Jangan kambing hitamkan aku.”

“Aku ingin kamu mendengarkanku, kali ini saja.”

Selina menitikkan hujan dari ceruk mata, mengairi bukit pipi, dan berhenti di dagunya yang landai.

Aku terdiam. Embusan pendingin udara menggerakkan sekotak tisu di meja. Lambaiannya menyentuh gelas minuman Selina, yang tandas diminumnya. Dia terus minum untuk mengusir kegugupan.

“Kamu masih mau mendengarkanku?”

Berbeda dengan Selina, Rendi bersikap seperti tidak terjadi hal membahayakan dalam rumah tangganya. Dia sekantor denganku. Saat break siang, kami biasa membicarakan rumah tangga masing-masing sambil menghabiskan sebatang rokok di halaman foodcourt. Rendi tertarik dengan bola dan mobil tua. Cerita Selina seperti sebuah geledek di terik kemarau. Apalagi selama ini mereka adem-ayem penuh kemesraan.

“Raga, apa lelaki mudah bosan dengan istrinya? Apa anak bagi lelaki hal yang krusial?”

Sebelum kujawab, kusedot minuman dalam gelas. Bibir Selina bergetar.

“Kalian pasangan serasi. Kamu cantik, Rendi tampan. Karir sama-sama matang. Kurang apalagi coba?”

Selina mengeringkan air mata di pipi, kemudian menandaskan minuman di dalam gelas. Setelah itu dia melambai kepada pelayan meminta air dingin.

“Selama istri tidak selingkuh, apa itu bukan pengabdian utuh? Menjadi istri adalah wujud wanita utuh. Apa Rendi lelaki hidung belang?” Selina sesenggukan. Seperti ada reruntuhan luka.

Hati Selina selalu rapuh oleh pikiran buruk. Suami pulang malam dikira check in dengan wanita lain. Suami berdandan lebih rapi dan wangi, disangka punya simpanan. Tugas kantor keluar kota, setiap jam melakukan pengecekan. Apa pikiran wanita selalu dipenuhi prasangka buruk?

“Setahuku Rendi lelaki setia. Kami bersahabat lama. Dia hanya butuh sendiri.”

“Apa ini tanda kami akan bercerai sebentar lagi? Rendi sedang menimbang untuk berpisah dari wanita mandul sepertiku?”

Aku kembali salah ucap.

“Selina, curiga boleh tapi pada tempatnya.”

“Raga, kamu seharusnya tahu bagaimana polah Rendi di kantor. Atau jangan-jangan kalian menyembunyikan wanita lain di belakangku? Benar kadang kejahatan perlu dikompromikan.”

Selina berlinang. “Pasti Rendi suka menginap di rumah pacarnya, dan bermesaraan di sana. Ah bodohnya aku?”

“Selina, cemburu jangan berlebihan”

Selina berhenti sejenak menarik napas. Dilanjutkan kembali ceritanya. “Kalau Kamu menginginkan keluarga kami langgeng, aku minta tolong carilah tahu bagaimana hati Rendi.”

Kini Selina benar-benar menangis sesenggukan. Kubiarkan saja. Selina tidak akan bisa diam, kalau keinginannya tidak dipenuhi. Kuiyakan saja. Bagaimanapun keberadaan Selina menjadi penting dalam persahabatan kita bertiga. Aku di posisi tengah. Tak jarang pula Rendi bercerita panjang lebar kepadaku bagaimana perasaan setelah lima tahun berumah tangga dengan Selina. Aku seperti didera malakama, tidak boleh menceritakan kepada Selina apa yang dikeluhkan Rendi. Pun sebaliknya.

Kusaksikan Selina bingung dengan sikapnya sendiri. Selina menarik napas melegakan tangisan.

“Kalau harus dimadu karena aku mandul. Aku rela. Tetapi aku tidak mau Rendi menjadi lelaki pengecut, mengendap-endap di belakang. Lalu menyimpan seorang wanita.”

Selina seperti orang gila. Restoran mulai riuh dengan kedatangan beberapa pasangan bergandengan. Pramusaji dengan serbet norak semakin wira-wiri keliling meja, mengantarkan penganan. Selina kubiarkan puas menangis.

“Aku masih ingin mengabdi menjadi istri Rendi. Separuh jantungku ada padanya.”

Selina lelah. Matanya sayu dan lembap oleh air mata. Gurat-gurat cantik masih terlihat meski dibanjiri air mata. Bedak tipis Selina luluh tersapu bah dari bola matanya. Rendi beruntung beristrikan Selina. Cantik, mandiri dan lincah. Meski menurut Selina, kekurangannya adalah selesai kuret, masih ada terapi agar rahimnya kembali subur.

“Aku pulang dulu. Sampaikan kepada Rendi, aku sangat mencintainya.”

Derit kursi keras digeser Selina. Selina ke kasir membayar bill meja kami. Dari punggung Selina, kulihat bagaimana rasa cintanya begitu memaha kepada Rendi. Menyisakan kegelisahan dan kemurungan dalam hatiku. Pojok hatiku berucap, mengapa kalian harus menikah kalau bahagia semakin jauh. Keluarga bukan hanya sekadar pelengkap kolom status di kartu identitas, keluarga muara semuanya. Cinta menjadi kekuatannya. Bahagia menjadi tujuan pokoknya.

Sudah menjelang pukul dua. Dua puluh menit lagi, ada meeting dengan klien. Kusapu area restoran. Restoran sesak. Beberapa orang terlihat lahap makan, bercakap-cakap, dan terus berkelakar.

Seseorang berjalan ke arahku. Jalannya begitu memesona. Langkahnya lebar-lebar.Dia lama bersembunyi di kamar mandi. Kasihan!

“Sayang, maaf lama,” kukecup pipinya. “Istrimu cengeng.”

Rendi tak merespon apapun. Hanya tersenyum dengan lesung pipi yang masih sama dengan sebelum menikahi Selina. Rendi masih memiliki ratusan kilah. Kami berjalan sejajar. Dia menyorongkan sekotak rokok. Kutolak, di dalam mobil tidak boleh menyalakan rokok. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s