Cerpen

Lelaki Helium

(Pikiran Rakyat, 16 Februari 2014)

lelaki helium

Berita itu sudah beredar lama. Namun aku tak tertarik untuk mencari kebenaran tentang lelaki helium itu. Masih banyak hal penting yang harus lekas kuselesaikan daripada sekadar melihat berita bualan. Apalagi sekarang di kotaku ini sedang terjangkit fenomena aneh, semua orang ingin terkenal dengan jalan sesingkat mungkin. Siapa tahu berita hebohnya lelaki helium itu hanya satu cara untuk mendongkrak popularitas secara cepat. Kalau sudah terkenal tentu akan mendatangkan rejeki berlimpah: dikontrak iklan produk di televisi, main sinetron kejar tayang, diundang aneka talk show, atau yang diidamkan adalah dipinang partai politik menjadi calon legislatif. Siapa yang tidak mau.

“Don’t make stupid people famous!”

Demikian aku selalu menolak ajakan Pasini, ketika sabtu sore ia merengek minta bersama-sama ke pusat perbelanjaan yang sedang mengadakan ‘meet and greet’ dengan lelaki helium. Aku sedang duduk menikmati pemutaran ulang permainan Novak Djokovic di Australia Open 2014.

“Bagaimana lagi, Clarke merengek terus.”

“Clarke? Tadi ia bobok. Kamu yang bangunkan, ya?” kadang Pasini terlalu licik. Memanfaatkan Clarke yang tidak tahu apa-apa untuk memuluskan hasrat Pasini. Clarke yang belum paham baik-buruk, akan jingkrak-jingkrak kalau dibujuk Pasini dengan iming-iming es krim dan cokelat. Akibatnya Clarke terbujuk dan benar-benar berhasrat.

“Ia dan teman-temannya sudah berjanji, mau foto sama si lelaki helium. Tugas sekolah, pelajaran sains kimia.”

Aku berdeham. Aku tidak mengerti apa hubungan lelaki helium dengan tugas kimia. Meski aku belum pernah bertemu dengan lelaki helium itu, tetapi menurutku itu hanya sebuah nama panggung. Mungkin ia lelaki yang mampu meniup balon karet (yang biasanya diisi helium) dengan hidung. Ya sekadar itu. Dan itu tidak ada kaitannya dengan helium, salah satu unsur kimia ‘He’ hasil peluruhan radioaktif. Bukan. Tentu kita ingat Iis Dahlia yang tidak berkaitan dengan pelajaran biologi meski ada nama bunga dahlia. Atau Ari Tulang, juga bukan berkaitan dengan anatomi meski memakai unsur rangka. Itu hanya nama panggung.

“Bukan, itu benar-benar lelaki helium. Kamu harus datang dan menyaksikan sendiri.”

“Tapi pertandingan tenis baru mulai,” aku menunjuk layar LED 24 inchi yang sedang menayangkan pertandaingan pembuka.

“Kamu sudah menontonnya langsung kemarin. Itu siaran ulang,” Pasini memotong telak. “Kamu bahkan sudah tahu siapa pemenangnya, berapa skornya, dan raket tenis siapa yang bakal di lempar ke penonton.”

“Tapi…,”

“Ayolah. Clarke!” Pasini memanggil Clarke untuk segera menyelesaikan berpakaian.

Meski kesal, aku mengalah. Pasini senyum sumringah. Aku berganti pakaian, tidak mungkin ke pusat perbelanjaan memakai celana komprang yang biasa kupakai tidur dan kaos tanpa lengan bergambar raket tenis. Pasini dan Clarke sudah menunggu di mobil. Pasini menelepon teman-temannya, mungkin membuat janji di arena pertunjukan. Sedang Clarke disibukkan sebatang cokelat pemberian pamannya sepulang dari Jepang.

Aku mencoba menyetir wajar. Berharap perjalanan akhir pekan menuju pusat kota tidak didera kemacetan, yang stagnan seperti tersedak batu ginjal atau koleterol jahanam. Dan berharap menonton lelaki helium tidak lebih buruk dari mengulang pertandingan tenis.

***

Benar kata Pasini. Banyak orang tersihir pesona lelaki helium. Parkiran penuh kendaraan hingga membludak dan aku harus memarkir mobil di tepi jalan. Baliho dan spanduk besar-besar dipampang. Dari gambar itu terlihat wajah lelaki dengan rupa yang normal dan biasa saja. Hanya dalam pandanganku kulitnya lebih legam dan kerutannya tampak seperti digaris tebal. Giginya pun kuning kulit pisang, tidak rata. Kepalanya ditutupi surban hitam. Mungkin ini bagian yang disembunyikan sebagai bagian dari kejutan saat pertunjukan.

Clarke menyeret tangan Pasini untuk gegas masuk. Ia takut tidak kebagian posisi duduk strategis. Pasini pun ingin segera duduk di baris pertama. Tapi kupastikan tidak bakal terjadi. Dari penuhnya pengunjung bisa dipastikan posisi bagus sudah diisi. Tetapi Pasini masih bisa menyaksikan secara lebih enak dari lantai dua dengan mengarahkan kamera DLSR ke panggung tempat lelaki helium itu pentas.

Memasuki ballroom lantai satu, kursi penuh. Penonton merangsak mendekat seperti antrean beras miskin. Suara pembawa acara kalah dengan riuh penonton. Lelaki helium itu bakal menampakkan wajah lima belas menit lagi, dengan syarat penonton harus sabar dan tidak terus merangsak mendekat. Bisa-bisa panggung protable setinggi satu meter itu rubuh.

Tiba-tiba punggungku ditabok.

“Maven?”

“Rikas?”

Karibku main tenis, Rikas, ternyata ikut merangsak di barisan penonton. Pasini dan Clarke sudah melaju ke depan. Sepertinya mereka sudah menemukan kepuasan setelah memojokkanku sedari lama.

“Sendirian?”

“Sama istri, tapi mereka sudah melaju ke depan. Mereka pengen duduk paling dekat dengan lelaki helium. Sedang aku malas, aku hanya mengantar.”

Aku tidak bertanya Rikas bersama siapa. Aku sudah tahu jawabannya. Rikas memutuskan tidak akan menikah hingga sekarang usia empat puluh lima. Rikas tak terbersit keinginan mengawini perempuan. Aku pernah berprasangka buruk bahwa ia pemuja sesama jenis, ternyata bukan. Rikas memilih menjadi perjaka seumur hidup karena merasa prihatin dengan jumlah penduduk yang semakin membludak dan terus bertambah andai itu tidak dikendalikan. Dalam teorinya, semakin banyak penduduk akan semakin jahat manusia. Rebutan makanan, rebutan tempat tingal, berseteru masalah pasangan, dll. Itu jauh lebih biadab. Beberapa pendapatnya aku amini, tetapi tidak sedikit yang kudiamkan demi hubungan baik persabahatan.

“Ini benar-benar overload! Masak sekadar nonton orang yang bisa niup balon helium bisa seramai dan seriuh ini,” aku masih menampakkan ekspresi tidak suka diajak Pasini dan Clarke ke pertunjukan lelaki helium ini.

“Katanya ia lelaki dengan bentuk kepala membesar karena dipenuhi helium,” Rikas memberi sanggahan.

“Kok?”

“Ia makan helium,” Rikas memilih memeberi jalan kepada seorang ibu-ibu gembrot yang mencarikan jalan untuk anak perempuannya yang berkuncir kuda.

“Helium dimakan?”

“Ini seperti teoriku, semakin banyak orang semakin rakus. Apa saja bisa dimakan asal masuk mulut.”

Kepalaku pusing. Karena suara orang campur musik, campur suara pembawa acara dan dibumbui berita tak masuk akal dari Rikas. Aku butuh duduk dan minuman segar untuk melancarkan aliran darah di syarafku.

“Kita ngopi saja, di lantai tiga juga ada diskon peralatan olahraga.”

Rikas menawarkan solusi. Kukirim kabar ke Pasini. Meski kecewa, ia terpaksa menyetujuiku untuk meninggalkan arena pentas lelaki helium. Aku dan Rikas menjauhi kerumunan. Naik lift ke lantai tiga. Kami duduk-duduk sambil memperbincangkan rencana-rencana main tenis dan menonton pertandingan tenis. Memang masih terdengar suara riuh di ballroom lantai dasar. Satu jam setengah aku dan Rikas berbincang macam-macam. Sempat kami melihat-lihat diskon peralatan olahraga. Tetapi aku tidak membawa satu pun peralatan tenis ke kasir, Rikas membawa satu raket, selongsong bola tenis, dan deker untuk tangannya.

Pasini menelepon. Ia dan Clarke menunggu di foodcourt lantai dua. Aku pamit pada Rikas dan berterimakasih telah membuatku terhindar dari pekerjaan sia-sia menonton laki-laki helium itu.

Di perjalanan pulang Pasini dan Clarke bercerita seru tentang lelaki helium. Katanya kepalanya besar sekali, itu berisi gas helium. Yang kalau dalam kondisi panas, akan membuat lelaki itu terbang ke langit. Aku hanya menimpali ala kadarnya, agar cerita mereka tidak timpang. Dengan sedikit kebohongan bahwa aku dan Rikas menonton pertunjukan juga meski dari lantai tiga.

Pasini dan Clarke bahagia karena hasratnya sudah dipenuhi, dan aku tetap tidak tersiksa dengan menonton lelaki helium yang musykil itu.

***

Tetapi sepertinya aku mulai terjangkit karma. Orang kadang dipertemukan dengan hal yang paling dibenci nomor satu. Meski aku tidak bisa memastikan apa benar itu lelaki helium atau tidak, tetapi membuatku merinding.

Mobilku macet. Aku sudah menelepon Pasini untuk menjemput, tetapi hujan berkehendak lain. Deras sedari pagi dibumbui petir dan beberapa ruas jalan tergenang banjir. Memaksaku untuk menyerahkan mobil ke bengkel panggilan dengan mobil derek, dan aku pulang naik taksi.

Taksi datang tidak lama setelah kutelepon. Sopir taksi laki-laki usia lima puluhan dengan bicara sopan dan mengasyikkan.

Di tengah jalan, di tengah suasana padat jam pulang kantor, aku terhenyak oleh pemandangan yang tidak biasa.

“Siapa mereka?” kutunjuk beberapa bocah laki-laki dengan kepala besar sekali. Ingatanku mengudara atas celoteh Clarke tentang laki-laki Helium.

“Mereka pengemis.”

“Kok bisa sebesar itu kepalanya?” aku masih memburu jawaban.

“Mereka makan bohlam-bohlam bekas berisi helium. Gas helium memompa kepalanya hingga sebesar itu.”

“Apa? Makan bohlam helium? Apa mereka manusia helium?” tiba-tiba aku teringat teori Rikas, kalau jumlah manusia semakin banyak kerakusan akan terpupuk makin tinggi.

“Bapak sudah menontonnya?”

Kuanggukan saja. Kepalaku seperti terbentur benda tumpul, sehingga beberapa syaraf logikaku hancur. Apa sedemikian serakah manusia, hingga lupa bahwa manusia makananya benda lunak. Bukan bohlam bekas berisi gas helium. Itu bukan ransum!

“Lalu itu siapa?” kutunjuka bocah dengan mulut selebar velg mobil itu.

“Mereka juga pengemis. Tapi suka makan ban mobil bekas,” sopir taksi menjawab seolah itu fenomena biasa.

“Ban?”

Langit gelap. Kepalaku senyap. Entah kemana harus kutemukan kecerlangan jawaban akan hal-hal yang kulihat. Hanya layar telepon genggamku yang menyala berkedip-kedip. Pesan masuk dari Pasini. Tak kubuka. Aku tak mau Pasini mengajak menonton pentas manusia ban. Aku tidak mau kembali menyaksikan orang miskin, orang yang tak bisa makan yang justru ditertawakan dan dianggap hal yang menggembirakan. Sepanjang perjalanan aku diam. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s